FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Pathet Lao, Sekutu Komunis Vietnam dari Tanah Laos




Bendera Pathet Lao yang sekarang menjadi
bendera negara Laos. (Sumber)

Indocina adalah sebutan untuk kawasan di sebelah selatan Cina yang mencakup negara Vietnam, Laos, & Kamboja. Di pertengahan hingga paruh akhir abad ke-20, wilayah ini cukup terkenal bukan karena kemakmurannya, tapi karena perang besar yang melanda wilayah tersebut & melibatkan negara-negara besar peserta Perang Dingin (Cold War). Dalam perang di kawasan Indocina pada periode tersebut, salah satu pihak yang sebenarnya cukup menonjol tapi kalah pamor dibandingkan AS atau kelompok milisi Viet Kong adalah Pathet Lao.

Pathet Lao (bahasa Laos dari "negeri Laos") adalah sebuah kelompok berhaluan nasionalis komunis dari Laos. Awalnya dibentuk untuk mengusir Perancis dari tanah Indocina, dalam perkembangannya kelompok ini kemudian juga ikut terlibat dalam perang di Laos & Vietnam. Menyusul berakhirnya Perang Vietnam di tahun 1975 dengan kemenangan pihak komunis, Pathet Lao pun menjadi penguasa baru Laos tak lama sesudahnya. Kini, Pathet Lao adalah kelompok paling dominan di tanah Laos lewat sayap politiknya yang bernama Phak Pasason Pativat Lao (Partai Revolusioner Rakyat Laos) & sayap militernya yang sekarang telah dirombak ulang menjadi tentara nasional Laos.



LATAR BELAKANG & PEMBENTUKAN

Sejak abad ke-18, wilayah Indocina - termasuk Laos - dikuasai oleh Perancis. Namun ketika Perang Dunia II pecah, Perancis sempat kehilangan kontrol atas wilayah Indocina & sejak tahun 1940, wilayah Indocina berada di bawah kekuasaan Jepang. Menyusul jatuhnya bom atom di tanah Jepang pada bulan Agustus 1945, Jepang mengaku kalah di akhir Perang Dunia II & kemudian meninggalkan kekosongan kekuasaan di wilayah-wilayah bekas jajahannya, termasuk di Laos. Merespon hal tersebut, pada bulan Oktober 1945 sebuah gerakan nasionalis setempat yang bernama "Lao Issara" (Laos Merdeka) muncul di Laos & mengklaim dirinya penguasa baru negara tersebut.

Peta dari Laos. (Sumber)
Usai berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945, Perancis yang dulu menguasai wilayah Indocina berniat menguasai kembali wilayah yang berlokasi di sebelah selatan daratan Cina tersebut. Namun, keinginan Prancis tersebut tidak berjalan mulus karena mendapat penolakan dari sebagian rakyat Laos yang pro-Lao Issara sehingga sebagai akibatnya, pecahlah perang antara pasukan Perancis melawan pasukan Lao Issara yang dipimpin oleh Pangeran Souphanouvong. Dalam perkembangannya, pasukan Perancis yang dari segi kekuatan & pengalaman memang lebih unggul berhasil menduduki kembali seluruh wilayah Laos pada tahun 1946.

Pasca kegagalan menghentikan pasukan Perancis di Laos, sebagian anggota Lao Issara yang masih tersisa & enggan bekerja sama dengan Prancis kemudian melarikan diri keluar Laos. Organisasi Lao Issara lantas dibubarkan pada tahun 1949 & setahun sesudahnya, sebagian anggotanya yang ada di Vietnam Utara lalu mendirikan kelompok bersenjata baru bernama Pathet Lao (Negeri Lao) yang berhaluan komunis. Sejak pendiriannya, Pathet Lao memiliki cita-cita mendirikan rezim republik komunis di tanah Laos menggantikan rezim kerajaan buatan Prancis. Karena faktor kedekatan ideologi, Pathet Lao dalam perkembangannya juga kerap bekerja sama dengan kelompok Viet Minh pimpinan Ho Chi Minh yang bermarkas di Vietnam Utara.



AKTIVITAS PATHET LAO

Bersatu Melawan Perancis

Walaupun sudah berdiri sejak tahun 1950, Pathet Lao baru menunjukkan keberadaannya di medan perang pada tahun 1953. Di tahun itu, Pathet Lao yang dibantu oleh puluhan ribu prajurit Viet Minh melakukan penyerbuan ke wilayah Laos utara & kemudian mendirikan semacam pusat pemerintahan rahasia berhaluan komunis di sana. Tidak lama kemudian, pasukan gabungan Viet Minh & Pathet Lao melakukan serangan-serangan susulan untuk menguasai wilayah Laos tengah, namun upaya mereka berhasil digagalkan oleh pasukan Perancis yang dibantu oleh pasukan Kerajaan Laos yang anti-komunis.

Suasana dalam pertempuran di
Dien Bien Phu. (Sumber)
Kegagalan memperluas wilayah taklukannya tidak membuat kubu Pathet Lao & Viet Minh patah arang. Di awal tahun 1954, pasukan gabungan keduanya kembali melakukan serangan ke wilayah Laos dari balik perbatasan Vietnam. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil mendesak mundur pasukan Perancis & memutus suplai logistiknya. Puncaknya adalah ketika pada bulan Mei 1954, pasukan Viet Minh berhasil menduduki pangkalan militer Prancis di Dien Bien Phu yang berlokasi di perbatasan Laos-Vietnam. Usai jatuhnya pangkalan militer Dien Bien Phu ke tangan pasukan Viet Minh, Perancis yang merasa tidak sanggup lagi meneruskan perang melawan Viet Minh akhirnya mulai terlibat perundingan dengan perwakilan-perwakilan dari wilayah jajahannya di Indocina. Perundingan itu juga diikuti oleh negara-negara besar lainnya seperti Uni Soviet, Cina, & AS.

Bulan Juli 1954 alias sebulan sesudah kekalahan pasukan Perancis di tanah Indocina, sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai "Kesepakatan Jenewa" (Geneva Accords) akhirnya berhasil dicapai. Beberapa poin penting dari perjanjian tersebut adalah wilayah-wilayah jajahan di Prancis akan segera dimerdekakan & sebuah zona bebas militer dibentuk di wilayah tengah Vietnam (zona ini kelak menjadi batas antara Vietnam Utara & Selatan). Laos sendiri kemudian dimerdekakan sebagai negara dengan bentuk pemerintahan kerajaan konstitusional, sementara para anggota Pathet Lao yang disokong oleh Viet Minh masih mengontrol sebagian wilayah utara Laos. Sebagai akibatnya, wilayah Laos pun saat itu ibarat terbelah 2 antara wilayah kerajaan di selatan & wilayah komunis di utara.


Datangnya Musuh & Kawan Baru

Tahun 1956 alias 2 tahun usai dicapainya Kesepakatan Jenewa, Pathet Lao mendirikan partai politik baru bernama Neo Lao Hak Sat (NLHS; Front Patriotik Lao) sebagai sayap politiknya. Setahun berikutnya, sebuah pemerintahan koalisi akhirnya dibentuk di mana kubu Pathet Lao menguasai 1/3 dari total jatah kursi di pemerintahan. Namun, pembentukan pemerintahan koalisi itu tidak lantas menandakan akhir dari perpecahan di Laos. Perbedaan pendapat dengan kubu berideologi netral & sayap kanan yang pro-Kerajaan membuat aktivitas pemerintahan di Laos masih belum dapat berjalan. Situasi semakin panas ketika di tahun 1958, kubu Vietnam Utara yang berhaluan komunis mengklaim sejumlah desa di Laos utara sebagai bagian dari wilayahnya. AS yang berusaha menekan pengaruh komunis di Indocina lantas mulai menyokong Kerajaan Laos secara diam-diam.

Tentara Vietnam Utara & Pathet Lao
yang sedang mengoperasikan
meriam anti udara. (Sumber)
Tahun 1959 setelah masing-masing kubu dalam pemerintahan gagal menemukan titik temu, pemerintahan koalisi Laos akhirnya runtuh. Runtuhnya pemerintahan koalisi tersebut lantas diikuti dengan pecahnya perang sipil di tanah Laos antara pihak Pathet Lao yang disokong Vietnam Utara (Viet Minh), Kerajaan Laos yang disokong oleh AS, & pihak netral. Di tahun yang sama, kubu Vietnam Utara juga mulai memakai wilayah Laos sebagai jalur rahasia untuk menyelundupkan suplai logistik dari wilayah utara ke milisi-milisi komunis Viet Kong yang beroperasi di Vietnam Selatan. Jalur tersebut kelak dikenal dengan nama "jalan kecil Ho Chi Minh" (Ho Chi Minh trail). Setahun kemudian, perang sipil di Laos mengerucut menjadi perang antara 2 kubu setelah pihak netral memutuskan untuk bersekutu dengan Pathet Lao.

Intensitas perang sipil di Laos semakin panas setelah di akhir tahun 1959, Uni Soviet memutuskan untuk mulai mengucurkan bantuan persenjataan ke Vietnam Utara & Pathet Lao. AS lantas meresponnya dengan membagi-bagikan senjata kepada milisi-milisi dari etnis Hmong yang pro-Kerajaan & mengirimkan bantuan pesawat tempur untuk pihak Kerajaan Laos via Thailand sejak tahun 1961. Para agen rahasia AS (CIA) juga mulai disusupkan ke wilayah Laos untuk melatih para penduduk di kawasan-kawasan perbukitan Laos untuk menjadi pasukan milisi anti-komunis. Sebagai akibatnya, aksi jual beli serangan antara pihak Kerajaan & pihak komunis pun semakin sengit. Selama perang, wilayah-wilayah yang dikuasai oleh pihak komunis terkonsentrasi di sebelah utara & timur Laos.

Hingga beberapa tahun berikutnya, situasi perang di Laos tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Menanggapi situasi tersebut, AS pun lantas memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Sejak tahun 1964, pesawat-pesawat tempur mereka melakukan pemboman ke pangkalan-pangkalan militer & jalur rahasia yang digunakan oleh pasukan komunis. Tidak hanya itu, AS juga merekrut sekitar 21.000 orang Thailand untuk dijadikan tentara bayaran sebagai bantuan bagi pihak Kerajaan Laos. Sebagai akibatnya, aktivitas perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh kubu Pathet Lao sempat menurun pada periode ini, namun aliran bantuan dari Vietnam Utara & sekutunya membuat Pathet Lao bisa tetap bertahan.


Tamatnya Riwayat Kerajaan Laos

Pesawat AS saat membom Laos. (Sumber)
Hingga tahun 1972, konflik yang terjadi di Laos umumnya berupa aksi tarik ulur antara pihak komunis & pihak Kerajaan di mana kedua belah pihak secara bergantian menguasai wilayah utara Laos. Pertempuran yang berlangsung pada periode ini didominasi oleh konflik-konflik yang berskala kecil, namun dengan intensitas yang sangat sering. Di luar Laos sendiri, tekanan yang begitu kuat dari rakyat negaranya sendiri membuat AS mulai melakoni negosiasi dengan pihak Vietnam Utara & secara bertahap mulai mengurangi bantuannya kepada pihak-pihak anti-komunis di Indocina. Hal tersebut tidak disia-siakan oleh pasukan gabungan Pathet Lao & Vietnam Utara yang memasuki tahun 1973 berhasil menguasai 2/3 wilayah Laos.

Semakin dominannya pihak komunis memaksa pihak Kerajaan Laos untuk mengajukan gencatan senjata & melakukan perundingan dengan pihak Pathet Lao. Hasilnya, pihak Kerajaan & Pathet Lao sepakat untuk kembali mendirikan pemerintahan koalisi di tahun 1973. Kendati demikian, ketegangan antara pihak Kerajaan & Pathet Lao tidak lantas menghilang karena pasukan Vietnam Utara selaku penyokong utama Pathet Lao selalu menolak saat diminta angkat kaki dari Laos oleh pihak Kerajaan. Ketika situasi semakin berlarut-larut, para anggota Pathet Lao yang dibantu oleh Vietnam Utara pun mulai melakukan aksi-aksi penyerangan ke benteng-benteng milik Kerajaan.

Situasi semakin tidak menguntungkan bagi pihak Kerajaan setelah Vietnam Utara berhasil memenangkan Perang Vietnam di bulan April 1975 sehingga kini Vietnam Utara yang berhaluan komunis pun menjadi pihak adidaya baru di kawasan setempat. Merasa bahwa meneruskan perlawanan bersenjata terhadap pihak komunis takkan ada gunanya, pihak Kerajaan akhirnya mengalah & membiarkan Pathet Lao menguasai Laos. Maka tanpa kendala berarti, Pathet Lao pun kemudian membubarkan Kerajaan Laos & menggantinya dengan republik berhaluan komunis dengan nama resmi Sathalanalat Paxathipatai Paxaxon Lao (SPPL; Republik Demokratik Rakyat Lao). Dengan berdirinya negara komunis di tanah Laos, riwayat perjuangan Pathet Lao selama puluhan tahun pun berakhir dengan kesuksesan manis di pihak mereka.



PATHET LAO USAI PERANG

Monumen yang menyimbolkan
kemenangan Pathet Lao atas
negara-negara Barat. (Sumber)
Usai berdirinya SPPL, rezim komunis yang menguasai negara tersebut melakukan sejumlah perubahan. Selain mengganti nama resmi & sistem pemerintahan Laos, mereka juga mengganti bendera nasional negara tersebut di mana bendera Pathet Lao yang berwarna merah-biru-merah dengan lingkaran putih di tengahnya dijadikan bendera nasional Laos yang baru. Negara komunis Laos yang baru berdiri juga menjadi semacam negara boneka bagi Vietnam karena "negeri Paman Ho" tersebut memiliki hak-hak istimewa untuk menempatkan pasukan & penasihat politiknya di Laos. Dominasi Vietnam atas Laos semakin kuat setelah menjelang dekade 1980-an, Vietnam berhasil memaksa Laos memutus hubungan dagangnya dengan Cina sehingga Laos pun jadi semakin terkucilkan di dunia internasional.

Berakhirnya perang sipil Laos dengan kemenangan Pathet Lao juga diikuti dengan kaburnya ribuan rakyat Laos dari etnis Hmong ke Thailand & AS. Mereka yang memilih tetap tinggal di Laos di lain pihak harus mendapatkan tekanan & perlakuan diskriminatif dari rezim komunis Laos. Sebabnya adalah karena semasa perang sipil berlangsung, etnis Hmong adalah salah satu etnis yang gigih memerangi pasukan komunis. Buntutnya, mereka yang masih ada di Laos pun memutuskan untuk melakukan perlawanan bersenjata. Aktivitas perlawanan serupa juga muncul dari sisa-sisa anggota Kerajaan Laos & simpatisan sayap kanan. Namun, minimnya persediaan makanan & persenjataan yang mereka miliki membuat aktivitas pemberontakan yang mereka lakukan tidak pernah berkembang menjadi ancaman yang serius bagi rezim komunis Laos.

Menyusul berakhirnya Perang Dingin & mundurnya Vietnam dari Laos sejak akhir dekade 1980-an, rezim komunis Laos secara perlahan tapi pasti mulai membuka diri. Arus investor asing mulai memasuki Laos & sektor-sektor perekonomian seperti pariwisata juga mulai menggeliat. Di tahun 1997, Laos juga menjadi anggota baru organisasi multinasional ASEAN. Namun lepas dari semua kemajuan itu, standar hidup rakyat Laos masih termasuk sebagai yang terendah di kawasan Asia Tenggara. Kondisi sosial politik negara tersebut juga masih sangat tertutup. Pada akhirnya, hanya waktu yang akan membuktikan seberapa jauh Pathet Lao bisa membawa Laos menuju kemajuan setelah berhasil menguasai negara tersebut sejak puluhan tahun yang lalu.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Pathet Lao
Tahun aktif : 1950 - sekarang (berganti nama sejak tahun 1975)
Area operasi : Laos, Vietnam
Ideologi : komunisme, nasionalisme Laos



REFERENSI

Country Studies - Laos - The Pathet Lao
Country Studies - Laos - The Secret War
GlobalSecurity.org - Pathet Lao Uprising
Wikipedia - Insurgency in Laos
Wikipedia - Laos
Wikipedia - Laotian Civil War
Wikipedia - Pathet Lao
Wikipedia - Vietnam War
- . 2008. "Geneva Accords". Encyclopaedia Britannica, Chicago.
- . 2008. "Lao Issara". Encyclopaedia Britannica, Chicago.


         

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. Cuma Lonely Planet yg bisa membuka 'dalamannya' Laos

    BalasHapus
  2. sip gan infonya... tambahan informasi

    BalasHapus
  3. Ini juga bisa buat referensi lainya gan
    http://retria.blogspot.co.id//

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.