FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang 5 Hari yang Membakar Ossetia Selatan




Kendaraan lapis baja Rusia yang sedang melintas di dekat
rumah milik etnis Georgia yang terbakar. (Sumber)

Kaukasus adalah nama untuk wilayah daratan kecil & bergunung-gunung yang diapit oleh Laut (Danau) Kaspia serta Laut Hitam. Karena letaknya yang strategis sebagai penghubung antara daratan Timur Tengah di selatan dengan Eropa di utara & etnis penduduknya yang beragam, wilayah Kaukasus pun dalam sejarahnya kerap diwarnai oleh aneka konflik. Kalau dulu pihak Republik pernah membahas soal konflik Nagorno-Karabakh yang mengambil tempat di Kaukasus, maka artikel kali ini akan membahas konflik lain yang juga berlokasi di Kaukasus : Perang 5 Hari.

Perang 5 Hari adalah konflik bersenjata yang berlangsung selama 5 hari pada tahun 2008 di Ossetia Selatan, negara Georgia, Kaukasus, antara militer Georgia melawan milisi-milisi Ossetia Selatan yang dibantu oleh militer Rusia. Dengan merujuk pada pihak-pihak yang terlibat & waktu serta lokasi pertempurannya, perang ini juga kerap disebut dengan nama "perang Rusia-Georgia" atau "perang Ossetia Selatan". Akibat perang ini pula, relasi antara Georgia dengan Rusia menjadi tegang hingga sekarang.

Kisah mengenai Perang 5 Hari juga pernah diangkat dalam film fiksi "5 Days of War" yang dirilis pada tahun 2011 lalu & dibintangi oleh aktor senior Val Kilmer. Inti cerita dari film tersebut adalah mengenai sekelompok wartawan yang terjebak di tengah-tengah konflik Ossetia Selatan. Mungkin ada yang sudah pernah menonton film tersebut & penasaran apakah hal-hal yang diangkat dalam film tersebut benar adanya. Jika ya, maka berarti para pengunjung sudah ada di tempat yang tepat. Silakan lanjut ke paragraf berikutnya untuk masuk ke topik bahasan utama dari artikel ini.



LATAR BELAKANG

Peta lokasi dari Ossetia Utara (North
Ossetia) & Ossetia Selatan. (Sumber)
Sejak permulaan abad ke-19, wilayah Kaukasus - termasuk Ossetia & Georgia - menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Menyusul tumbangnya rezim kekaisaran di tahun 1917 yang digantikan oleh rezim republik komunis Uni Soviet, wilayah Ossetia lalu dibagi menjadi 2 : wilayah utara yang menjadi bagian dari negara bagian Rusia & wilayah selatan yang menjadi bagian dari negara bagian Georgia. Kebijakan pembagian tersebut juga diikuti dengan pemberian status otonomi khusus kepada wilayah Ossetia di mana orang-orang Ossetia diperbolehkan menggunakan kultur & bahasanya sendiri.

Menyusul kemunduran yang dialami oleh Uni Soviet pada akhir dekade 1980-an, gerakan nasionalis Georgia yang selama ini aktivitasnya dibatasi oleh rezim komunis Soviet pun mulai mendominasi panggung politik Georgia. Salah satu keinginan dari mereka adalah menghapuskan otonomi khusus yang selama ini dimiliki oleh Ossetia Selatan. Keinginan kelompok nasionalis Georgia tersebut lantas diikuti dengan pendirian partai Ademon Nykhas (Front Populer) di tahun 1988 oleh komunitas Ossetia dengan tujuan mempertahankan otonomi khusus yang selama ini dimiliki oleh daerah Ossetia Selatan.

Tahun 1989, relasi antara komunitas Georgia dengan Ossetia Selatan semakin tegang menyusul kebijakan pemerintah lokal Georgia untuk menjadikan bahasa Georgia sebagai bahasa satu-satunya yang diperbolehkan & melarang partai-partai berbau kedaerahan. Merasa bahwa pemerintah Georgia telah mengabaikan hak-hak orang Ossetia, daerah Ossetia Selatan pun memerdekakan diri secara sepihak pada bulan September 1990 & bersiap menggabungkan diri dengan wilayah Ossetia Utara, Rusia. Tindakan tersebut lalu direspon dengan pengiriman tentara Georgia ke wilayah Ossetia Selatan di tahun 1991 & pecahlah perang antara milisi pro-Ossetia melawan pasukan Georgia.

Mikheil Saakashvili. (Sumber)
Konflik di Ossetia Selatan antara milisi Ossetia & militer Georgia berakhir di tahun 1992. Menyusul memorandum kesepakatan damai yang dicapai di tahun 1996 & keinginan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan sengketa Ossetia Selatan tanpa kekerasan, konflik di Ossetia Selatan tampaknya tidak akan timbul lagi di masa depan. Namun, situasi mulai memanas kembali setelah pada tahun 2003, Mikheil Saakashvili selaku presiden Georgia yang baru terpilih menyatakan keinginannya untuk mengembalikan Ossetia Selatan & Abhkazia - wilayah di Georgia barat yang juga menjadi arena konflik separatisme - di bawah kendali pemerintah pusat Georgia.

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan keinginan tersebut, Georgia mendekatkan diri kepada AS & menambah anggaran militernya. Sikap Georgia yang semakin dekat dengan AS tersebut menimbulkan rasa tidak suka dari Rusia - tetangga Georgia di utara - yang khawatir bahwa Georgia kelak bisa menjadi negara satelit AS yang bisa digunakan oleh "Negeri Paman Sam" untuk mengganggu Rusia dari dekat. Rusia juga memiliki kepentingan di Ossetia Selatan karena banyaknya orang-orang etnis Ossetia berkawarganegaraan Rusia yang tinggal di sana & adanya pipa gas dari Azerbaijan di Georgia yang mengarah ke Eropa sehingga negara-negara Eropa bisa mengurangi ketergantungan minyaknya dari Rusia.

Rasa tidak suka Rusia terhadap perkembangan politik terbaru Georgia pada akhirnya berbuntut pada menegangnya hubungan antara Georgia dengan Rusia & Ossetia Selatan. Bulan April 2008, Rusia menuduh Georgia berencana menginvasi Ossetia Selatan & Abkhazia karena bertambahnya jumlah tentara Georgia di dekat kedua daerah tersebut. Tuduhan yang dibantah oleh pihak Georgia. Bulan Juni 2008, otoritas Ossetia Selatan juga menuduh Georgia menembakkan artileri ke wilayah Ossetia Selatan. Aksi saling tuduh tersebut terus memanaskan tensi di Ossetia Selatan hingga akhirnya perang di kawasan tersebut benar-benar pecah.



BERJALANNYA PERANG

Meriam-meriam artileri milik
pasukan Georgia. (Sumber)
Di malam hari tanggal 7 Agustus 2008, pasukan Georgia mulai menembaki Tskhinvali - ibukota dari Ossetia Selatan - beserta desa-desa di sekitarnya dengan meriam artileri. Keesokan paginya, iring-iringan pasukan Georgia yang berjumlah sekitar 11.000 personil mulai bergerak memasuki wilayah Ossetia Selatan untuk merebut Tskhinvali. Dalam serangan tersebut, pasukan Georgia juga dibantu oleh tank, meriam artileri, & pesawat tempur.

Sebagai langkah awal untuk merebut Tskhinvali, pasukan Georgia menduduki jalan-jalan yang mengarah ke Tskhinvali untuk mengisolasi kota tersebut. Tak lama kemudian, pesawat tempur & meriam artileri Georgia mulai membombardir Tskhinvali & tank-tank Georgia mulai bergerak memasuki kota tersebut. Pertempuran berat sebelah antara pasukan Ossetia Selatan yang hanya memiliki persenjataan seadanya melawan pasukan Georgia yang bersenjatakan lengkap pun tak terhindarkan.

Memasuki siang hari pada tanggal 8 Agustus, pasukan Georgia menghancurkan pangkalan milik pasukan perdamaian Rusia di Ossetia Selatan. Serangan tersebut lantas kemudian dijadikan alasan oleh Rusia untuk ikut terjun ke medan perang. Rusia juga menginstruksikan seluruh anggota pasukan perdamaiannya yang masih tersisa untuk bekerja sama dengan pasukan Ossetia Selatan. Pertempuran pun berjalan semakin sengit, terlebih setelah di malam hari pesawat tempur & meriam artileri Rusia mulai membombardir pasukan Georgia yang ada di Ossetia Selatan.

Milisi-milisi Ossetia Selatan yang
sedang berpatroli. (Sumber)
Memasuki tanggal 9 Agustus, sebagian besar area kota Tskhinvali sudah berubah menjadi puing-puing akibat pertempuran sengit antara pasukan Georgia melawan pasukan Rusia & Ossetia Selatan sejak sehari sebelumnya. Konflik juga mulai merambat ke Gori, kota di Georgia yang dijadikan markas oleh pasukan Georgia untuk menyerbu Ossetia Selatan. Terhitung sejak sehari sebelumnya, pesawat-pesawat tempur Rusia beberapa kali melakukan serangan ke sejumlah bangunan & kendaraan tempur milik Georgia yang berlokasi di kota Gori & sekitarnya.

Kembali ke Ossetia Selatan. Pada pagi hari tanggal 9 Agustus, pasukan Rusia mengklaim bahwa mereka sudah berhasil membebaskan Tskhinvali dari tangan pasukan Georgia. Untuk mencegah kota tersebut jatuh kembali ke tangan pasukan Georgia, Rusia sempat mengirimkan tambahan pasukan ke Tskhinvali via jalur darat. Namun di tengah jalan, pasukan tersebut langsung diserbu oleh pasukan Georgia yang menguasai daerah sekitar Tskhinvali. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan. Pasukan Rusia akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Georgia, namun dengan menanggung kerugian & korban tewas yang tidak sedikit.

Perang terus bergulir & memasuki tanggal 10 Agustus, pasukan Georgia akhirnya berhasil merebut kembali Tskhinvali dari tangan pasukan Rusia & Ossetia Selatan. Namun keberhasilan pasukan Georgia tidak berlangsung lama setelah pasukan gabungan Rusia-Ossetia Selatan melancarkan serangan balik besar-besaran untuk mengusir pasukan Georgia keluar dari Tskhinvali. Tidak sanggup menghentikan laju pasukan Rusia, pasukan Georgia akhirnya memilih untuk mundur dari Tskhinvali. Di tanggal yang sama, pesawat-pesawat tempur Rusia juga mulai membombardir Tbilisi, ibukota dari Georgia.

Peta lokasi dari Gori. (Sumber)
Tanggal 11 Agustus, pasukan darat Rusia yang awalnya hanya beroperasi di daerah Ossetia Selatan mulai memasuki wilayah Georgia tengah dengan dalih mencegah serangan balik Georgia ke Ossetia Selatan. Akibat aksi pasukan Rusia tersebut, aktivitas transportasi antara wilayah Georgia barat dengan Georgia timur pun menjadi lumpuh. Pesawat-pesawat tempur Rusia juga semakin sering melakukan pemboman di atas kota Gori. Merespon situasi tersebut, Georgia lantas memerintahkan para tentaranya yang masih ada di Gori untuk meninggalkan kota tersebut.

Pasukan Georgia yang meninggalkan Gori lantas diperintahkan untuk berkumpul di ibukota Tbilisi karena pemerintah Georgia khawatir, pasukan darat Rusia akan menginvasi Tbilisi tak lama kemudian. Terlebih tidak lama setelah pasukan Georgia meninggalkan Gori, pasukan Rusia langsung menduduki kota tersebut. Namun faktanya, pemerintah Rusia justru memerintahkan pasukannya untuk berhenti berperang dengan alasan mereka berperang hanya untuk melindungi Ossetia Selatan dari ancaman pasukan Georgia. Dengan demikian, perang yang membakar kawasan Ossetia Selatan pun berakhir setelah berlangsung selama kurang lebih 5 hari.



KONDISI PASCA PERANG

Perang 5 Hari yang berlangsung di Ossetia Selatan membawa kerusakan yang amat serius bagi wilayah setempat. Kerusakan paling jelas bisa dilihat di ibukota Tskhinvali yang semasa perang berlangsung menjadi ajang pertempuran sengit antara pihak-pihak yang bertikai. Kubu Rusia & Ossetia Selatan mengklaim bahwa jumlah korban jiwa dalam Perang 5 Hari mencapai 2.000 jiwa lebih, namun belakangan diketahui bahwa jumlah tersebut tidak akurat & pihak Rusia meralatnya dengan menyatakan bahwa jumlah korban tewas di Ossetia Selatan aslinya tidak sampai 200 jiwa.

Penduduk Ossetia Selatan sedang
mengibarkan bendera Rusia (paling kiri)
& bendera Ossetia Selatan. (Sumber)
Walaupun perang sudah berakhir sejak pertengahan Agustus, Rusia baru menarik mundur seluruh pasukannya dari Georgia pada bulan Oktober & tetap menempatkan ribuan pasukannya di Ossetia Selatan. Rusia mengklaim bahwa pasukannya berada di Ossetia Selatan atas permintaan dari pemerintah Ossetia Selatan sendiri. Namun Georgia yang tidak mengakui keberadaan pemerintah Ossetia Selatan menyebut pasukan Rusia di Ossetia Selatan sebagai pasukan penjajah sebagian wilayah Georgia.

Tanggal 26 Agustus alias hanya beberapa hari setelah Perang 5 Hari berakhir, Rusia mengakui Republik Ossetia Selatan yang dibentuk oleh orang-orang etnis Ossetia setempat sebagai negara merdeka. Tindakan Rusia tersebut langsung memancing kecaman dari Georgia & negara-negara Barat yang menolak mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan. Adapun selain Rusia, negara-negara berdaulat lain yang juga mengakui kedaulatan Republik Ossetia Selatan adalah negara-negara sekutu Rusia seperti Nikaragua, Venezuela, & Nauru.

Hingga sekarang, baru ada 4 negara yang mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan. Mayoritas negara lainnya tetap mengakui Ossetia Selatan sebagai wilayah sah dari Georgia. Namun Georgia sendiri tetap tidak mampu mengontrol wilayah Ossetia Selatan karena masih adanya pasukan Rusia di sana & adanya kekhawatiran kalau tindakan keras hanya akan meletupkan konflik baru. Kondisi Ossetia Selatan sendiri sekarang bisa dikatakan damai, namun masalah-masalah seperti status politik internasionalnya & nasib para pengungsi etnis Georgia yang dulunya bermukim di Ossetia Selatan masih belum terselesaikan hingga sekarang.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 7 - 11 Agustus 2008
    - Lokasi : Ossetia Selatan (Georgia)

2. Pihak yang Bertempur
    (Daerah)  -  Ossetia Selatan
    (Negara)  -  Rusia
          melawan
    (Negara)  -  Georgia

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak Ossetia Selatan & Rusia
    - Rusia mengakui Ossetia Selatan sebagai negara merdeka

4. Korban Jiwa
    Antara 162 - 224 jiwa



REFERENSI

GlobalSecurity.org - South Ossetia Background
GlobalSecurity.org - South Ossetia Daily Chronology
Wikipedia - 2008 South Ossetia war
Wikipedia - International recognition of Abhkazia and South Ossetia
Wikipedia - Timeline of the 2008 South Ossetia War


        

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

22 komentar:

  1. Akibat ulah pemerintah Georgia sendiri yang terlalu memaksakan kehendaknya. Coba kalau otonomi khusus Ossetia tidak dikutak-katik, mungkin tidak akan terjadi perang, dan Ossetia Selatan pun tidak akan bergabung dengan Ossetia Utara.

    Artikel yang sangat bagus!

    BalasHapus
  2. abis nonton film 5 days of war... tp kok keliatan nya pemerintah russia yak yg salah... ato gmn ini..hehhe tapi menurut saya sih mending rusia nya juga gak ikut2x dan negara uni eropa dan amerika mjd penengah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yalah, kan yg bikin filmny orng pro Georgia. Rusia bukanny mau ikut campur, klo orng perang d depan rumah lu ap lu bisa diam aj? Terus di ossetia selatan tu ad pangkalan militer rusia yg kena bom sama pasukan Georgia, mana mungkin negara sebesar dan sekuat rusia bisa diam aj klo pasukanny d bom sama negara lain. Klo mau komen tu yg agak masuk akal dikit bro.heheheh

      Hapus
    2. Menurut kamu, kalo pangkalan negara kamu diserang kamu diamond saja? Kemudian korban di pihak mu berjatuhan disuruh mundur? Rusia sudah berkomitmen untuk membantu teman teman nya seperti Tajikistan tahun 1990 diserang jihadist apa mereka mundur? Tidak mereka tuntaskan tugas mereka sampai selesai yaitu menjaga perdamaian (kalau pecah perang ya harus terjun).

      Hapus
  3. makasih artikelnya,,,menambah wawasan dan pemahaman saya tentang perang 5 hari di ossetia selatan y saya tonton di film 5 days of war....yah karena film itu buatan AS..maka Rusia jadi penjahatnya....Georgia+UE+USA jadi pihak baiknya....he he he

    BalasHapus
  4. nambah wawasan..karena penasaran filmnya..n info yg berimbang..ya setiap kebijakan pasti ada resikonya...

    BalasHapus
  5. rusia salah karena menyerang negara berdaulat,, apapun alasan nya..!!!
    rusia dengan amerika gak ada beda nya,, sama2 penjajah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya georgia nya lah yang salah...markas pasukan rusia pake diserang segala....rusia juga negara berdaulat boss....menyerang tentaranya ya sama aja menyatakan perang.....rusia negara besar yang punya harga diri...masa tentaranya diserang diem aja....pikir dong, apalagi yang nyerang negara kecil......

      Hapus
  6. harusnya rusia mencontoh amerika di irak,mumpung ada alasan untuk menginvasi georgia, tumbangkan pemerintahannya, ganti dengan pemerintahan boneka rusia, tangkap presiden georgia dengan alasan kejahatan perang, plus gantung seperti sadam husein he he he.

    BalasHapus
  7. kalau film hollywod sih jangan dijadikan acuan, asal tahu saja, jika jalan cerita filmnya mencitrakan tentang kehebatan dan kebaikan pasukan amerika, maka produser filmnya bisa mendapat bantuan dari departermen pertahanan amerika berupa pinjaman pesawat tempur tank dan bahkan bisa syuting di kapal induk, jika ceritanya memojokan, maka proposal akan ditolak, ujung ujungnya harus sewa peralatan militer dari negara lain dengan kocek sendiri.

    BalasHapus
  8. buat yang berpikir amerika itu harus dibela terus, dalam kasus ini ga ada alasan lagi, rusia dan amerika sama sama bukan negara komunis, dan sama sama negara beragama, ga usah membabi buta bela amerika terus.

    BalasHapus
  9. masih banyak ya yg suka ama amerika ,negara yg selalu menerapkan standar ganda alias munafik..

    BalasHapus
  10. Rusia harus menginvasi total Ukraina dan Georgia agar Amerika tambah stres

    BalasHapus
  11. Go amerika.. Jaya slalu

    BalasHapus
  12. Film "5 days of war" udah di buat antidotnya, "August eighth". Ini film lbh proposional di banding "5 days of war" yg ketara bgt propaganda dari US.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantab Bang... makasih infonya
      buat balance pengetahuan (Y)

      Hapus
  13. Rusia memang hebat
    Zamam unit soviet d beri otonom
    Pasca perang malah d akui negara merdeka
    Dan tetap dengan kultur dan budayanya
    Dan tetap memberi keamanan agar tidak d serang lagi

    BalasHapus
  14. semakin menambah pengetahuan, terlebih setelah menonoton film nya...



    BalasHapus
  15. artikel menarik..
    masing2 pihak merasa paling benar dan punya alasan untuk melakukan tindakan,film nya sdh sy liat,baik yng versi barat 'perang 5 hari' ataupun versi rusia '8 agustus'.
    klo punya sumber bisa dibuatin juga seputar konflik abkhazia versus georgia di thn 90an.

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.