FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Spanyol-Amerika, Duel Mantan Adidaya versus Calon Adidaya




Lukisan mengenai pertempuran di Teluk Manila, Filipina,
antara armada AS melawan armada Spanyol. (Sumber)

Jika ditanya mengenai siapa negara adidaya di dunia sekarang ini, maka orang-orang secara serempak akan menjawab Amerika Serikat (AS). AS sendiri baru menyandang predikatnya sebagai negara adidaya pasca keberhasilan memenangkan Perang Dunia II. Kalau di abad ke-16 hingga 18, salah satu negara yang kerap disebut sebagai negara adidaya pada masanya adalah Spanyol. Predikat yang muncul karena Spanyol pada masa itu merupakan salah satu negara terkaya & terluas di dunia. Bagaimana jadinya jika 2 negara adidaya dari 2 periode berbeda ini diadu ketika sama-sama sedang tidak berstatus sebagai negara adidaya? Perang Spanyol-Amerika adalah jawabannya.

Perang Spanyol Amerika (Spanish-American War; Guerra Hispano-Estadounidense) adalah konflik bersenjata antara Spanyol melawan AS yang terjadi pada tahun 1898 di daerah-daerah koloni Spanyol di Kuba, Puerto Riko, & Filipina. Dalam perang ini, AS juga mendapat bantuan dari milisi-milisi lokal yang ingin mengupayakan kemerdekaan daerahnya dari tangan Spanyol. Ketika perang berakhir, Spanyol kehilangan sisa-sisa daerah koloninya di Amerika & Asia. Sementara AS mulai merajut status sebagai calon kekuatan dunia yang patut diperhitungkan di masa depan.



LATAR BELAKANG

1. Munculnya Pemberontakan di Kuba

Di abad ke-17, Spanyol memiliki wilayah bawahan yang membentang dari Benua Amerika hingga Asia. Namun seiring berjalannya waktu, kekuatan Spanyol mulai tergerus sehingga wilayah-wilayah bawahannya pun melepaskan diri 1 demi 1. Terhitung sejak tahun 1825, tidak ada lagi wilayah di daratan utama Benua Amerika yang masih dikuasai Spanyol. Namun Spanyol tidak benar-benar kehilangan pijakan di Benua Amerika karena pulau-pulau di sekitar benua tersebut seperti Pulau Kuba & Puerto Riko masih berada dalam genggaman Spanyol.

Peta lokasi dari Kuba. (Sumber)
Kekuasaan Spanyol di Kuba sendiri sudah mulai goyah akibat mulai munculnya gerakan perlawanan di pulau penghasil gula tersebut. Tahun 1868, pecah konflik bersenjata antara pasukan gerilyawan Kuba melawan pasukan pemerintah Spanyol. Perang itu sendiri timbul karena pemerintah Spanyol menetapkan pajak yang terlalu tinggi kepada penduduk Kuba & menolak mengabulkan permintaan penduduk asli Kuba supaya mereka mendapat hak yang setara dengan penduduk kelahiran Spanyol. 10 tahun berlalu, perang berakhir dengan kemenangan pihak Spanyol. Namun impian rakyat Kuba untuk mendapatkan kemerdekaan atau setidaknya otonomi daerah masih tetap belum sirna.

Tahun 1895 pemberontakan kembali meletus di Kuba. Kali ini kelompok pemberontak Kuba mengggunakan taktik membakar lahan-lahan pertanian di Kuba dengan harapan pemerintah Spanyol bersedia membiarkan Kuba merdeka karena merasa pulau tersebut tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Namun yang terjadi justru adalah pasukan Spanyol menggunakan taktik yang tidak kalah keras untuk meredam pemberontakan. Pembunuhan & eksekusi massal timbul di mana-mana. Penduduk Kuba dipaksa pindah ke kompleks pemukiman yang dijaga ketat tentara Spanyol.

Pemberontakan baru yang meletus di Kuba sejak tahun 1895 ternyata juga sukses menyita perhatian AS karena banyak pebisnis AS yang memiliki lahan pertanian & partner dagang di Kuba. Ketika media-media AS semakin sering mengangkat berita seputar perang di Kuba & sepak terjang pasukan Spanyol yang terkesan brutal, sentimen negatif rakyat AS terhadap Spanyol pun meningkat. Situasi yang kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah AS sebagai pembenaran untuk ikut campur secara langsung dalam konflik di Kuba (serta daerah-daerah koloni Spanyol yang lain).


2. Munculnya Pemberontakan di Filipina

Milisi pemberontak Filipina. (Sumber)
Bukan hanya Kuba yang dilanda pergolakan. Kepulauan Filipina yang terletak jauh di kawasan Benua Asia & sudah dikuasai Spanyol sejak abad ke-16 juga sudah mulai menunjukkan riak-riak perlawanan. Adalah Jose Rizal - anggota keluarga kaya dari golongan mestizo / darah campuran - yang menjadi pionir dari gerakan perlawanan di Filipina. Alasan kenapa Rizal berinisiatif melakukan perlawanan terhadap otoritas Spanyol adalah karena dia tidak menyukai dominasi orang-orang kelahiran Spanyol di tanah Filipina. Maka, pada tahun 1892 Rizal & para pengikutnya pun membentuk kelompok bernama "Liga Filipina" (LF) dengan tujuan memperjuangkan perubahan sosial politik di Filipina secara damai.

Pemerintah Spanyol mencoba membungkam aktivitas LF dengan cara mengasingkan Rizal ke Pulau Mindanao, Filipina selatan. Namun yang terjadi kemudian adalah para pengikut Rizal mendirikan kelompok baru yang bernama "Katipunan" supaya bisa mengakhiri kekuasaan Spanyol di Filipina lewat jalur perjuangan bersenjata. Tahun 1897, Emilio Aguinaldo selaku pemimpin Katipunan berhasil ditangkap oleh aparat Spanyol. Setelah berhasil meyakinkan pemerintah Spanyol kalau dirinya tidak akan kembali ke Filipina, Aguionaldo lalu dibiarkan meninggalkan Filipina hidup-hidup. Aguinaldo lantas memanfaatkan kebebasan yang ia dapat untuk melakukan pertemuan dengan perwakilan AS supaya AS mau membantu perjuangan Katipunan.


3. Adanya Kepentingan AS di Kepulauan Karibia & Filipina

Tahun 1823, presiden AS, James Monroe, mengeluarkan pernyataan terkenalnya yang kelak populer dengan istilah "Doktrin Monroe". Berdasarkan doktrin tersebut, jika negara-negara Eropa terlibat dalam perang di Benua Amerika, maka AS akan ikut melibatkan diri secara langsung dalam perang tersebut jika dirasa perlu. Tujuan dari doktrin itu sendiri adalah untuk membatasi kekuasaan negara-negara Eropa di Benua Amerika supaya AS tetap aman dari ancaman & dominasi mereka. Doktrin inilah yang nantinya menjadi salah satu alasan tidak langsung mengapa AS ikut terlibat dalam perang di Kuba & Puerto Riko.

Tebu adalah salah satu komoditas
pertanian andalan Kuba. (Sumber)
Jauh sebelum Kuba dilanda pemberontakan, AS sudah menaruh ketertarikan pada Kuba karena lokasinya yang dekat dengan pantai selatan AS & tingginya produksi gula tebu serta tembakau di daerah tersebut. Pada awal dekade 1850-an, AS sempat mengajukan tawaran 100 juta dollar untuk membeli Kuba, namun ditolak. Tahun 1854, AS kembali mengajukan tawaran di mana kali ini nominalnya meningkat menjadi 130 juta dollar. Lagi-lagi tawaran tersebut ditolak oleh pihak Spanyol.

Tahun 1890, dengan merujuk pada tulisan A. T. Mahan yang berjudul "The Influence of Sea Power upon History, 1600-1783" (Pengaruh Kekuatan Laut atas Sejarah, 1600-1783), AS kembali menjadikan Kuba & Puerto Riko dalam pantauannya. Menurut tulisan tersebut, AS harus membangun kanal / terusan di Amerika Tengah supaya memiliki jalur penghubung yang singkat antara Samudra Atlantik & Samudra Pasifik. Masih menurut tulisan yang sama, AS sebaiknya mendirikan pangkalan militer di Hawaii, Karibia, & Filipina untuk melindungi kepentingan dagang AS di dunia internasional.

Bagaikan gayung bersambut, situasi sosial politik di Kuba, Filipina, & Puerto Riko sendiri sedang memanas. Spanyol berhasil meredam gejolak di Puerto Riko dengan cara membiarkan penduduk daerah tersebut memiliki pemerintahan demokratisnya sendiri. Namun Spanyol masih gagal mengandalikan situasi di Kuba & Filipina. Dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan dari rakyat AS supaya pemerintah negaranya melakukan sesuatu untuk meredakan konflik di Kuba, AS pun mulai melibatkan diri dalam konflik antara Spanyol dengan daerah-daerah koloninya. Pada bulan Januari 1898, AS mengirim kapal perang USS Maine ke Havana, ibukota Kuba, dengan dalih menjamin keselamatan warga AS di Kuba.



BERJALANNYA PERANG

Front Karibia (Kuba & Puerto Riko)

Tanggal 15 Februari 1898, kapal Maine tenggelam di pelabuhan Havana setelah sebelumnya mengalami ledakan dahsyat. Akibat peristiwa tersebut, semua awal kapal Maine yang berjumlah lebih dari 260 orang harus tewas. Peristiwa tersebut juga membuat sentimen negatif rakyat AS kepada Spanyol semakin membara. Apalagi kemudian media-media AS terkesan memanas-manasi situasi dengan mempopulerkan slogan “Remember the ‘Maine,' to hell with Spain!” (Ingat Maine, terkutuklah Spanyol). Semacam seruan tidak langsung agar pemerintah AS segera mengambil tindakan tegas kepada pihak Spanyol selaku penguasa resmi Kuba, termasuk lewat jalur perang.

USS Maine sebelum tenggelam. (Sumber)
Tanggal 24 April 1898, pasca keluarnya ultimatum dari pemerintah AS beberapa hari sebelumnya, pemerintah Spanyol menyatakan perang kepada AS sekaligus menandai dimulainya Perang Spanyol-Amerika secara resmi. Di Kuba, Spanyol menempatkan 150.000 tentara reguler & 40.000 tentara non regulernya. Spanyol bisa memiliki jumlah tentara sebanyak itu karena Spanyol menerapkan kebijakan wajib militer di mana golongan petani & warga kelas bawah di kawasan perkotaan menjadi sasaran utamanya. Walaupun kelihatannya kurang terdidik, mereka sudah sangat familiar dengan kondisi alam Kuba & sudah berpengalaman dalam taktik anti gerilya.

Di pihak yang berseberangan, jumlah total tentara AS awalnya hanyalah 26.000 personil. Namun pasca keluarnya Keputusan Mobilisasi (Mobilization Act) pada tanggal 22 April 1898, jumlah total tentara AS membengkak menjadi 65.000 tentara reguler & 125.000 tentara sukarela yang perlengkapannya tidak sebaik tentara reguler. Sebagai contoh, jika tentara reguler menggunakan senapan mutakhir Springfield Krag-Jorgensen, tentara sukarela hanya dibekali dengan senapan usang Springfield "Trapdoor". Sementara dalam hal pakaian, jika tentara reguler menggunakan seragam berbahan tipis, tentara sukarela menggunakan seragam berbahan wol yang kurang cocok untuk iklim tropis Kuba

Walaupun Perang Spanyol-Amerika sudah resmi meletus pada bulan April, baru pada bulan Juni kontak senjata di front Karibia antara pihak-pihak yang bertikai benar-benar meletus. Pada tanggal 11 Juni, pasukan AS yang beranggotakan 17.000 tentara dikirim ke Kuba. Mereka baru tiba di Daiquiri, Kuba tenggara, pada tanggal 20 Juni. 2 hari kemudian, ketika semua tentara AS yang dikirim ke Kuba sudah tiba di Daiquiri, mereka memulai penyerbuannya ke arah barat. Menuju kota penting Santiago yang berjarak 18 mil di sebelah barat Daiquiri. Pasukan AS tidak sendirian karena bersama mereka, ada 5.000 milisi lokal anti-Spanyol yang dipimpin oleh Calixto GarcĂ­a.

Lukisan mengenai pasukan AS dalam
pertempuran di Kuba. (Sumber)
Ada 2 basis pertahanan utama yang harus ditaklukkan oleh pasukan AS & pemberontak Kuba supaya bisa mencapai Santiago : kota El Caney yang dijaga oleh 500 tentara Spanyol & Bukit San Juan yang dikawal oleh 1.200 tentara. Tanggal 1 Juli, pasukan AS melakukan penyerbuan secara serempat ke 2 tempat tersebut. Dengan bantuan senjata artileri & senapan Gatling, pasukan AS berhasil merebut El Caney & San Juan hanya dalam kurun waktu 2 hari. Namun kesuksesan tersebut bukan tanpa tumbal karena AS harus kehilangan 1.475 tentaranya dalam penyerbuan ke 2 tempat tersebut.

Admiral Cervera selaku pemimpin pasukan Spanyol di Kuba mencoba melarikan diri keluar Santiago dengan memakai kapal. Namun armada AS berhasil mengendusnya & terjadilah aksi saling tembak serta saling kejar antara armada Spanyol dengan armada AS. Adalah armada AS yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang setelah mereka berhasil menenggelamkan semua kapal Spanyol & menewaskan 600 tentara Spanyol di dalamnya. Pasca keberhasilan memenangkan perang di Kuba, pasukan AS lalu bertolak menuju Pulau Puerto Riko & tiba di pulau tersebut pada tanggal 25 Juli. Pasukan AS nyaris tidak mengalami kesulitan berarti saat menguasai Puerto Riko akibat minimnya perlawanan di pulau tersebut.


Front Filipina

Pasca keluarnya pernyataan perang resmi dari pihak Spanyol, armada AS pimpinan Komodor George Dewey yang sedang ditempatkan di Hong Kong mengangkat sauhnya untuk bertolak menuju Filipina. Tanggal 1 Mei, armada kapal perang AS memasuki Teluk Manila & langsung terlibat pertempuran dengan armada Spanyol yang ada di sana. Karena AS memiliki kapal perang yang lebih modern, armada AS berhasil mengalahkan armada Spanyol dalam waktu singkat. Dalam pertempuran tersebut, 380 awak kapal Spanyol gugur di tempat, sementara AS hanya menderita 1 korban jiwa.

Armada Spanyol di Teluk Manila. (Sumber)
Walaupun sudah berhasil mengalahkan armada Spanyol, AS tidak memiliki pasukan untuk merebut kota Manila dari arah darat. Maka, Dewey pun meminta pemerintah AS segera mengirimkan pasukan darat ke Filipina. Sambil menunggu datangnya bantuan yang ia minta, armada pimpinan Dewey melakukan blokade di lepas pantai Manila. Sementara itu di daratan Filipina sendiri, pasukan Spanyol sedang terlibat pertempuran dengan pasukan Katipunan. Situasi makin sulit untuk Spanyol setelah pada tanggal 19 Mei, Aguinaldo tiba di Filipina sambil membawa bantuan persenjataan untuk Katipunan.

Tanggal 25 Juli, pasukan darat AS yang berjumlah 11.300 personil akhirnya tiba di Filipina. Sadar kalau Manila tidak akan bisa lagi dipertahankan, otoritas Spanyol di Filipina pun menyatakan kesediaannya untuk menyerah. Namun mereka hanya mau menyerahkan Filipina ke tangan AS, bukan ke penduduk lokal Filipina, karena Spanyol khawatir kalau penduduk Spanyol di Manila akan dibantai oleh penduduk pribumi Filipina. Syarat tersebut disetujui oleh pihak AS & AS kemudian meyakinkan Katipunan supaya mereka tidak perlu melibatkan diri dalam invasi ke Manila.

Tanggal 13 Agustus, pasukan AS melakukan penyerbuan ke Manila. Pertempuran antara pasukan Spanyol & AS di Manila sebenarnya dilakukan secara bohong-bohongan untuk menjaga gengsi pihak Spanyol & mengesankan dunia internasional kalau Spanyol kehilangan Manila bukan tanpa perlawanan. Alasan lain kenapa kedua belah pihak harus merekayasa pertempuran adalah untuk mencegah Katipunan tahu kalau Spanyol sebenarnya sudah setuju untuk menyerahkan Manila ke tangan AS sejak jauh-jauh hari. Terhitung sejak tanggal 14 Agustus, kota Manila secara resmi berada di tangan AS.



KONDISI PASCA PERANG

Sekretaris Negara AS, John Hay, saat
meratifikasi Traktat Paris. (Sumber)
Tanggal 10 Desember 1898, perwakilan Spanyol & AS yang melakukan pertemuan di Paris, Perancis, berhasil merumuskan kesepakatan dalam wujud "Traktat Paris". Berdasarkan traktat tersebut, Spanyol setuju untuk untuk membiarkan Kuba merdeka, menyerahkan Guam (pulau kecil di Oseania) serta Puerto Riko ke tangan AS, & menjual Filipina ke AS dengan harga 20 juta dollar AS. Traktat tersebut juga meminta AS & Spanyol melakukan pertukaran tahanan perang. Dengan diresmikannya Traktat Paris, Perang Spanyol-Amerika pun secara resmi berakhir dengan kemenangan pihak AS.

Akibat Perang Spanyol-Amerika, AS harus kehilangan hampir 3.000 tentaranya. Ironisnya, mayoritas dari korban tewas tersebut bukan akibat terbunuh di medan konflik, tapi akibat serangan penyakit mematikan seperti malaria, tifus, & disentri. Fenomena yang timbul akibat kurang higienisnya lingkungan tempat pasukan AS berkemah. Belajar dari fenomena tersebut, militer AS lalu melakukan perombakan di bidang sanitasi & penyediaan perbekalan. Sistem komando dalam ketentaraan AS juga dimodifikasi supaya mereka yang menjadi pengambil keputusan di lapangan adalah mereka yang memang paling memahami kondisi di medan konflik & pasukan yang dibawahinya.

Sementara itu di Filipina, pasca beredarnya kabar kalau kepulauan tersebut kini berada di bawah kekuasaan AS, konflik bersenjata langsung pecah antara pasukan AS dengan milisi-milisi lokal yang ingin menjadikan Filipina sebagai negara merdeka. Aguinaldo yang dulunya bersekutu dengan AS kini berbalik menjadi musuh karena merasa dikhianati oleh AS. Aguinaldo akhirnya berhasil ditangkap oleh pasukan AS pada tahun 1901, sementara perang antara pasukan AS melawan milisi Filipina berakhir setahun kemudian di mana 200 ribu rakyat Filipina menjadi korbannya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
     - Waktu : April - Agustus 1898
     - Lokasi : Kuba, Puerto Riko, Filipina

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Amerika Serikat
    (Grup)  -  Katipunan, milisi nasionalis Kuba
            melawan
    (Negara)  -  Spanyol

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak AS
    - Kuba menjadi negara merdeka di bawah pengawasan AS
    - Filipina, Puerto Riko, & Guam menjadi milik AS
    - konflik susulan berlanjut di Filipina

4. Korban Jiwa
    - AS : 2.910 jiwa
    - Kuba : 10.665 jiwa
    - Spanyol : sekitar 3.500 jiwa



REFERENSI

GlobalSecurity.org - The Spanish-American War - Lessons Learned
GlobalSecurity.org - The Spanish-American War in Cuba
GlobalSecurity.org - The Spanish-American War in Puerto Rico
GlobalSecurity.org - The Spanish-American War in the Phillipines
Library of Congress - The World of 1898 - Chronology
Library of Congress - The World of 1898 - Introduction
Wikipedia - Spanish-American War
- . 2008. "Aguinaldo, Emilio". Encyclopaedia Britannica, Chicago.
- . 2008. "Maine, destruction of the". Encyclopaedia Britannica, Chicago.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

6 komentar:

  1. Agan Master Tawon, artikel sejarah selanjutnya lanjutan dari artikel ini aja gan (konflik AS vs milisi Filipina).

    Btw, salam kenal gan, penggemar blog agan sejak 2013.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih buat usulnya & salam kenal juga. Tapi kalau untuk artikel sejarah berikutnya sih saya sudah punya bayangan lain.

      Hapus
    2. Ok gan. Sukses terus untuk Koloni Tawon.

      Hapus
  2. boleh usul gak, tentang asal usul katipunan terutama jose rizal, emilio aguinaldo, dan andres bonifacio

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh. Usulnya saya tampung dulu ya.

      Hapus
    2. ok kalau begitu dan terima kasih usulan saya diterima

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.