SEJARAH        FAUNA         HIBURAN          Cari Artikel  →

Sejarah Kemerdekaan & Perang Saudara Finlandia



Pasukan komunis Finlandia yang sedang berlatih. (Sumber)

Finlandia adalah nama dari sebuah negara yang terletak di Eropa Utara. Sebagai akibat dari letaknya yang dekat dengan Kutub Utara, Finlandia pun memiliki iklim yang dingin & kepadatan penduduk yang rendah. Namun hal tersebut tidak lantas menjadikan Finlandia sebagai negara yang terbelakang. Berkat kegigihan yang ditunjukkan oleh penduduknya, Finlandia kini menyandang status sebagai negara makmur yang kualitas pendidikannya banyak diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun sebelum bisa menyandang predikat yang membanggakan seperti sekarang, Finlandia di masa lampau sempat harus bergelut dengan perpecahan yang menimpa negaranya.

Perpecahan yang dimaksud di sini adalah perang sipil yang terjadi pada bulan Januari hingga bulan Mei 1918. Perang ini bermula ketika kelompok komunis setempat melakukan kudeta hanya sebulan pasca deklarasi kemerdekaan Finlandia. Tindakan kudeta tersebut lantas memicu perlawanan dari kubu anti-komunis sehingga pecahlah perang sipil yang berakhir dengan kemenangan kubu anti-komunis. Walaupun perang ini hanya berlangsung selama beberapa bulan, perang ini sempat menimbulkan sentimen kebencian di antara sesama rakyat Finlandia hingga puluhan tahun berikutnya.



LATAR BELAKANG

Peta lokasi Finlandia. (Sumber)
Sejak tahun 1809, menyusul berakhirnya perang antara Swedia & Rusia, wilayah Finlandia yang awalnya berada di bawah kendali Swedia berpindah tangan ke Rusia. Oleh pemerintah pusat Rusia, Finlandia lalu dijadikan daerah otonomi yang memiliki badan pemerintahan lokalnya sendiri. Beberapa abad berlalu atau tepatnya pada tahun 1914, pecah Perang Dunia I di mana Rusia ikut terlibat di dalamnya.

Akibat timbulnya krisis pangan di Rusia & rentetan kekalahan demi kekalahan yang harus diderita oleh pasukan Rusia di medan perang, pamor tsar / kaisar Rusia semakin menurun sehingga ia terpaksa turun dari singgasananya pada bulan Maret 1917. Badan pemerintahan baru yang berhaluan republik kemudian didirikan tak lama berselang. Pada bulan Juli, badan pemerintahan tersebut mengeluarkan perintah supaya Finlandia segera menggelar pemilu parlemen.

Finlandia sendiri pada masa itu komposisi masyarakatnya terbagi ke dalam 2 kubu utama : kubu non-komunis (Putih) yang umumnya berasal dari golongan pengusaha & pemilik lahan luas, serta kubu komunis & sosialis (Merah) yang umumnya berasal dari golongan buruh kasar. Menyusul keluarnya perintah tadi, konflik antara kedua golongan tadi lantas mulai timbul ke permukaan. Karena pemerintah pusat Rusia cenderung lepas tangan terhadap memanasnya situasi di Finlandia, kondisi domestik Finlandia pun menjadi semakin kacau & aksi saling bunuh di antara kedua belah pihak menjadi semakin sering terjadi.

Saat pemilu di Finlandia akhirnya benar-benar dilaksanakan, kubu non-komunis berhasil keluar sebagai pemenang. Awalnya kubu komunis memilih untuk menerima hasil pemilu & mencoba memperjuangkan kepentingan mereka melalui jalur parlemen. Namun menyusul timbulnya revolusi komunis di Rusia pada bulan November 1917, kubu komunis Finlandia kini merasa terinspirasi untuk melakukan revolusi serupa di negaranya. Maka, dengan memanfaatkan maraknya kesenjangan sosial & kemiskinan di Finlandia, kaum komunis berhasil menarik simpati kaum pekerja & buruh tani untuk ikut serta dalam perjuangan mereka.

Kaum pekerja di Finlandia saat
menggelar aksi protes. (Sumber)
Tanggal 14 November 1917, kaum pekerja di Finlandia beramai-ramai melakukan aksi mogok kerja & terlibat bentrokan dengan personil Garda Putih (sayap militer dari faksi non-komunis Finlandia). Aksi mogok massal tersebut akhirnya berhenti pada tanggal 20 November menyusul keluarnya imbauan dari petinggi Partai Sosial Demokrat (PSD) yang berhaluan kiri. Namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Peristiwa ini membuat kubu non-komunis merasa semakin curiga & tidak mau lagi melibatkan faksi komunis saat hendak mengeluarkan kebijakan.

Tanggal 6 Desember 1917, pemerintah Finlandia mendeklarasikan kemerdekaannya di mana deklarasi tersebut diakui oleh pemerintah Rusia pada akhir tahun yang sama. Namun deklarasi tersebut ternyata tidak direstui oleh golongan komunis Finlandia yang ingin mempertahankan daerahnya sebagai bagian dari Rusia atas faktor kesamaan ideologi. Rasa tidak suka mereka terhadap pemerintah Finlandia semakin menjadi-jadi setelah pada tanggal 9 Januari 1918, Garda Putih dijadikan aparat resmi negara Finlandia. Khawatir kalau Garda Putih nantinya malah dimanfaatkan untuk menyingkirkan mereka yang tidak sejalan, kubu komunis lantas membentuk sayap militernya sendiri dengan nama "Garda Merah" (Punakaarti).



BERJALANNYA PERANG

Tanggal 27 Januari 1918, para anggota Garda Merah menyerbu gedung pemerintahan pusat di ibukota Helsinki pada malam hari & mengumumkan terjadinya revolusi. Mereka juga mendirikan badan pemerintahan sendiri dengan nama Delegasi Komisaris Rakyat (Kansanvaltuuskunta). Namun peristiwa tersebut tidak sampai mengakhiri riwayat pemerintahan Finlandia karena para tokoh pemerintahan kemudian mengungsi ke kota Vaasa & menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahan sementaranya.

Pasca terjadinya revolusi di Helsinki, wilayah Finlandia kini terbelah menjadi 2. Jika wilayah selatan dikuasai oleh kubu komunis sebagai akibat dari banyaknya kompleks industri di wilayah tersebut, maka wilayah utara berada di bawah kekuasaan kubu non-komunis. Dari segi jumlah personil, kubu komunis lebih unggul karena jumlah tentara mereka mencapai  lebih dari 100.000 personil. Wilayah mereka juga berbatasan langsung dengan Rusia sehingga di atas kertas mereka tidak akan memiliki masalah soal pasokan logistik & persenjataan.

Pasukan Garda Putih. (Sumber)
Kubu non-komunis di lain pihak hanya bisa menerjunkan paling banyak 90.000 prajurit. Meskipun kalah dalam hal jumlah, mereka unggul dalam hal strategi karena mereka dipimpin langsung oleh Carl Gustaf Emil Mannerheim yang sudah sangat berpengalaman karena pernah menjabat sebagai jenderal pasukan Rusia. Dalam hal komposisi pasukan, pasukan Garda Putih juga turut diperkuat oleh 1.200 bekas tentara Jerman & 1.000 relawan asal Swedia. Lalu untuk urusan persenjataan, begitu kubu komunis mengumumkan terjadinya revolusi, pasukan Garda Putih langsung merampas stok persenjataan milik pasukan Rusia yang masih ditempatkan di Finlandia.

Di bulan-bulan pertama perang, pasukan Merah awalnya berada dalam posisi unggul karena mereka unggul jumlah personil & mereka sedang menguasai kota-kota besar Finlandia. Selama menguasai kawasan ini, pasukan Merah juga melakukan penyisiran & pembunuhan massal kepada orang-orang dari golongan menengah ke atas dengan alasan mereka adalah bagian dari golongan kelas penindas. Diperkirakan sebanyak lebih dari 1.600 warga sipil tewas akibat menjadi korban pembantaian sistematis yang juga dikenal dengan sebutan "Teror Merah" ini.

Peruntungan pasukan Merah di medan perang sayangnya tidak berlanjut. Tidak adanya tokoh kharismatik di kubu Merah menyebabkan banyak prajurit Garda Merah yang menolak untuk bertempur jika kebetulan lokasi pertempurannya berada jauh dari kota tinggalnya. Dan karena para personil Garda Merah pada dasarnya adalah pekerja biasa yang diberi senjata & pelatihan seadanya, mereka pun memiliki tingkat kedisplinan yang rendah. Sebagai akibatnya, sejak bulan Maret pasukan Garda Putih berhasil mencegah pasukan Merah melaju lebih jauh & kini mulai bersiap melancarkan serangan balik ke arah selatan.

Tanggal 15 Maret, pasukan Putih memulai serangannya & berhasil menembus garis depan pasukan Merah. Secara perlahan tapi pasti, mereka semakin dekat dengan kota Tampere, kota industri yang strategis karena memiliki jalur rel yang terhubung langsung dengan kota-kota besar Finlandia lainnya (termasuk Helsinki di sebelah selatan). Selain menyerang dari arah utara, pasukan Putih juga melakukan serangan dari arah lain. Tanggal 24 Maret contohnya, pasukan Putih berhasil menguasai Lempaala sehingga jalur logistik yang menghubungkan Helsinki dengan Tampere menjadi terputus. Dua hari kemudian, giliran stasiun kereta api Siuro di sebelah barat Tampere yang berhasil dicaplok oleh pasukan Putih.

Peta invasi pasukan Putih ke
kota Tampere. (Sumber)
Tanggal 3 April, pasukan Putih akhirnya memulai serangannya ke kota Tampere dengan cara menghujani kota tersebut memakai tembakan artileri. Sesudah itu, pasukan Putih mulai mengalir masuk ke dalam kota dari arah timur. Supaya konsentrasi pasukan Merah terpecah, pasukan Putih juga melancarkan serangan dari arah barat. Hasilnya, setelah melalui pertempuran hebat selama berhari-hari, kota Tampere akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Putih pada tanggal 6 April. Akibat pertempuran di Tampere ini, sebanyak 800 prajurit Putih harus kehilangan nyawanya. Namun jumlah tersebut tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan jumlah korban tewas di kubu Merah yang mencapai lebih dari 1.000 jiwa.

Jatuhnya Tampere ke tangan pasukan Putih sekaligus membuat kekalahan bagi kubu Merah hanya tinggal masalah waktu. Situasi makin runyam setelah pasukan Jerman ikut membantu kubu Putih dengan cara menyerbu wilayah Finlandia selatan & menaklukkan Helsinki pada tanggal 13 April. Kubu Merah tidak bisa mengharapkan bantuan dari Rusia karena pada bulan Maret, Rusia melalui perjanjian Brest-Litovsk sudah terlanjur sepakat untuk membiarkan Jerman menguasai wilayah sebelah barat Rusia (termasuk Finlandia).

Saat wilayah-wilayah yang awalnya dikuasai oleh kubu Merah berhasil ditaklukkan oleh Jerman & Putih sepenuhnya, perang sipil Finlandia dinyatakan berakhir pada tanggal 16 Mei dengan kemenangan kubu Putih. Seusai perang, Finlandia awalnya hendak dijadikan negara kerajaan yang dipimpin oleh orang Jerman. Namun menyusul berakhirnya Perang Dunia I dengan bubarnya Kekaisaran Jerman, rencana tersebut batal dilaksanakan sehingga Finlandia kemudian mengadopsi sistem pemerintahan republik hingga sekarang.



KONDISI PASCA PERANG

Perang sipil Finlandia memiliki dampak amat serius bagi Finlandia mengingat Finlandia hanyalah negara kecil dengan jumlah penduduk yang terbatas. Jumlah korban tewas akibat perang ini dilaporkan mencapai 38.000 jiwa atau lebih dari 1 persen dari jumlah total penduduk Finlandia. Dari sekian banyak korban tewas tersebut, sebanyak 28.000 di antaranya berasal dari kubu Merah. Selain korban tewas, perang ini juga berdampak pada hancurnya kota-kota yang menjadi lokasi perang. Di Tampere misalnya, sebanyak 504 keluarga setempat harus kehilangan tempat tinggalnya seusai pertempuran.

Kondisi kota Tampere seusai
pertempuran. (Sumber)
Dampak jangka panjang yang paling terasa dari perang ini adalah memburuknya hubungan antar golongan. Karena semasa perang pasukan Merah giat melakukan eksekusi massal kepada mereka yang berasal dari golongan kaya, terjadi aksi balas dendam sistematis yang dikenal dengan sebutan "Teror Putih". Pasca deklarasi kemenangan pasukan Putih, sebanyak lebih dari 8.000 bekas tentara Merah tewas dieksekusi secara massal. Sementara 80.000 orang lainnya dipenjara di kamp-kamp tahanan yang kondisinya tidak layak.

Karena para tahanan tersebut seringkali tidak menerima makanan & pengobatan yang layak, sebanyak 12.000 di antara mereka meninggal dalam tahanan. Untuk memastikan kalau kubu Merah tidak akan bisa lagi menjadi ancaman di masa depan, pemerintah Finlandia menggelar pengadilan massal terhadap 67.000 orang untuk menentukan apakah mereka yang diadili memang terbukti bersalah. Mereka yang dianggap bersalah kemudian dijatuhi hukuman mati atau dicabut kewarganegaraannya. Diperkirakan sebanyak 10.000 warga Finlandia mengungsi ke Rusia seusai perang.

Puluhan tahun sesudah perang sipil, Finlandia kembali terseret dalam perang menyusul pecahnya Perang Musim Dingin pada tahun 1939 antara pasukan Finlandia melawan pasukan Uni Soviet. Namun berkat perang ini pulalah, sentimen kebencian antara golongan komunis dengan non-komunis Finlandia mulai memudar. Rakyat Finlandia yang awalnya terbelah kini bersatu untuk memerangi pasukan Soviet bersama-sama. Warga dari golongan kelas menengah beramai-ramai meletakkan lilin sambil berdoa di pemakaman tentara Garda Merah.

Ketika Perang Musim Dingin berakhir di tahun 1940 dengan keberhasilan Finlandia menahan invasi Soviet, Mannerheim selaku komandan pasukan Putih semasa perang saudara mengumumkan kalau tanggal 16 Mei tidak akan lagi diperingati sebagai perayaan kemenangan, tapi sebagai peringatan berkabung atas gugurnya ribuan orang dalam krisis domestik Finlandia. Lalu sejak tahun 1944, partai berideologi komunis yang awalnya dilarang kini diperbolehkan untuk kembali beroperasi di Finlandia. Menyembuhkan luka & dendam akibat perang memang bukan pekerjaan mudah. Oleh karena itulah, perang sebisa mungkin harus dihindari jika masih ada cara lain yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan perbedaan pendapat.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Perang
    - Waktu : Januari - Mei 1918
    - Lokasi : Finlandia

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  Garda Putih
    (Negara)  -  Jerman
          melawan
    (Grup)  -  Garda Merah
    (Negara)  -  Rusia

3. Hasil Akhir
    Kemenangan Garda Putih

4. Korban Jiwa
    Sekitar 38.000 jiwa



REFERENSI

Country Studies - Finland - Finland and the Swedish Empire
Country Studies - Finland - The Cold War and the Treaty of 1948
Country Studies - Finland - The Establishment of Finnish Democracy
Country Studies - Finland - The Finnish Civil War
Country Studies - Finland - The The Winter War
International Encyclopedia of the First World War - Finnish Civil War 1918
International Encyclopedia of the First World War - Tampere, Battle of
This Is Finland - How Finland Found A Road to Reconciliation After....





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Download PDF

1 komentar:


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.