4 Juli 2019


June Struggle, Berakhirnya Era Kediktatoran Korsel



Polisi Korsel yang sedang menembakkan
granat gas air mata. (Sumber)

Korea Selatan (Korsel) adalah nama dari sebuah negara yang terletak di bagian selatan Semenanjung Korea. Bagi mereka yang tinggal di Indonesia, negara ini bukanlah negara yang asing karena negara ini produktif mengeluarkan aneka serial televisi & grup musik kondang yang memiliki banyak penggemar. Korsel juga dikenal sebagai negara maju dengan iklim pemerintahan yang cukup liberal. Namun Korsel sendiri baru bisa memiliki iklim sosial politik seperti sekarang setelah sebelumnya harus berjibaku melalui periode penuh kericuhan.

Periode penuh kericuhan yang dimaksud di sini adalah "June Struggle" (Perjuangan Bulan Juni; 6 Wol Minju Hangjaeng), sebutan untuk gelombang aksi protes yang terjadi pada bulan Juni 1987 di seantero Korsel. Diperkirakan ada sekitar 1 juta rakyat Korsel yang ikut serta dalam aksi protes pada bulan tersebut. June Struggle sendiri merupakan titik puncak dari gelombang demonstrasi yang sudah terjadi sejak permulaan tahun 1987. Akibat gelombang aksi protes ini, rezim militer Korsel yang sudah berkuasa selama puluhan tahun terpaksa melakukan perubahan konstitusi supaya presiden Korsel bisa dipilih langsung oleh rakyat.



LATAR BELAKANG

Sejak pendiriannya di tahun 1948, Korsel sudah beberapa kali mengalami kudeta & diperintah oleh rezim militer. Masih tegangnya hubungan antara Korsel dengan negara tetangganya Korea Utara (Korut) menjadi satu dari sekian banyak penyebab mengapa militer bisa memiliki peran begitu besar dalam sejarah pemerintahan Korsel. Sebagai contoh, antara tahun 1961 hingga 1979, Korsel dipimpin oleh Park Chung Hee yang berasal dari golongan militer.

Chun Doo Hwan. (Sumber)
Di bawah kepemimpinan Park, Korsel mengalami modernisasi pesat. Namun di saat yang sama, Park juga menggunakan gaya pemerintahan tangan besi & tidak segan-segan menggunakan metode kekerasan untuk melenyapkan pihak-pihak yang berani menentang dirinya. Masa pemerintahan Park berakhir di tahun 1979 setelah ia tewas ditembak di tahun tersebut. Pada awalnya rakyat Korsel berharap kalau tewasnya Park bisa menjadi pintu gerbang menuju Korsel yang lebih terbuka & demokratis.

Demi mengupayakan terwujudnya hal tersebut, mahasiswa Korsel beramai-ramai menggelar demonstrasi & meminta perbaikan di sektor kebebasan berpendapat serta perlindungan hak-hak sipil. Saat jumlah orang yang mengikuti aksi ini semakin lama semakin banyak, Jenderal Chun Doo Hwan akhirnya memutuskan untuk beralih ke metode ekstrim & menjalankan hukum darurat militer sejak bulan Mei 1980. Aksi-aksi penggrebekan juga dilakukan ke tempat-tempat yang diduga menjadi tempat berkumpulanya para mahasiswa & aktivis demokrasi.

Pasca diberlakukannya darurat militer, demonstrasi yang terjadi di kota-kota Korsel dengan cepat berhenti. Namun di kota Gwangju / Kwangju yang terletak di selatan, demonstrasi masih tetap berlanjut sehingga militer pun kemudian diterjunkan ke kota tersebut. Alih-alih takut, para demonstran di Gwangju justru memilih untuk melawan sehingga pecahlah bentrokan selama 1 pekan lebih yang kelak dikenal dengan istilah "Pemberontakan Gwangju" (Gwangju Uprising). Saat Pemberontakan Gwangju pada akhirnya berhasil diredam, sebanyak lebih dari 150 warga sipil tewas & lebih dari 1.700 lainnya ditangkap oleh aparat Korsel.

Pasca tamatnya Pemberontakan Gwangju, tidak ada lagi kericuhan berskala besar yang terjadi di Korsel hingga beberapa tahun berikutnya sehingga nampaknya posisi rezim militer tidak akan bisa digoyahkan. Namun kenyataannya, ambisi rakyat Korsel untuk mewujudkan demokrasi di negaranya tetap belum pudar. Ambisi tersebut utamanya dipedam oleh golongan mahasiswa karena banyak dari korban sipil dalam Pemberontakan Gwangju yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Supaya mereka bisa melanjutkan aktivitasnya tanpa ditangkap oleh aparat, mereka pun melakukan pertemuan secara sembunyi-sembunyi.



MENINGKATNYA TENSI DI TAHUN 1987

Peta lokasi Gwangju. (Sumber)
Satu dari sekian banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan menentang pemerintah adalah Park Jong Chol, aktivis sekaligus mahasiswa dari Universitas Nasional Seoul. Sepak terjang Park sayangnya tidak berlangsung lama setelah aparat Korsel berhasil mengendus gerak geriknya & kemudian menangkapnya. Saat berada dalam tahanan, pemuda berusia 21 tahun tersebut disiksa habis-habisan dengan cara dicelupkan kepalanya ke dalam air. Park akhirnya meninggal pada bulan Januari 1987, namun penyebab asli kematian Park tidak dirilis ke publik.

Di lingkungan pemerintahan sendiri, masa bakti Chun selaku presiden dijadwalkan bakal berakhir pada penghujung tahun 1988. Kubu oposisi & rakyat Korsel pada awalnya berharap kalau berakhirnya masa jabatan Chun bisa dimanfaatkan untuk memilih pemimpin baru Korsel lewat metode pemilu langsung. Namun Chun ternyata masih belum rela melepas tongkat kekuasaannya begitu saja.

Dengan alasan bahwa Korsel membutuhkan stabilitas menjelang digelarnya Olimpiade di ibukota Seoul pada tahun 1988, Chun pada bulan April 1987 mengumumkan bahwa Korsel tidak akan melakukan perubahan konstitusi hingga sosok penggantinya sudah naik menjadi presiden yang baru. Chun sendiri diketahui berencana menunjuk Roh Tae Woo yang memiliki hubungan dekat dengannya sebagai penerusnya. Rencana yang jika berhasil terwujud bakal membuat Chun tetap memiliki pengaruh di pemerintahan dari balik layar.

Pasca keluarnya pengumuman dari Chun mengenai ditundanya perubahan konstitusi, spanduk-spanduk besar yang mengecam Chun bermunculan di kampus-kampus besar Korsel. Namun Chun tetap tidak bergeming & bahkan bertindak lebih jauh. Untuk menyambut datangnya Olimpiade, ia memerintahkan supaya warga sipil yang tinggal di sejumlah kawasan di ibukota Seoul digusur secara paksa.

Sebanyak 3 juta warga sipil yang menjadi sasaran penggusuran jelas tidak terima, namun Chun langsung menanggapinya dengan menerjunkan polisi, gerombolan preman, & buldozer. Ketika kerusuhan timbul, seorang anak menjadi korban tewas akibat tertimpa reruntuhan tembok. Supaya prosesi pemakamannya tidak dijadikan momentum oleh warga sipil Korsel untuk menggelar aksi protes besar-besaran, mayat anak tersebut dibawa kabur oleh polisi sebelum sempat dimakamkan.

Mahasiswa Korsel yang sedang
berparade. (Sumber)
Upaya tersebut nyatanya tetap tidak berhasil meredam gelombang aksi protes terhadap rezim Chun. Justru kini semakin banyak pihak yang ikut serta dalam gelombang aksi protes. Pada tanggal 22 April, sebanyak lebih dari 4.000 orang yang berasal dari 18 organisasi & instansi berbeda beramai-ramai menggelar aksi duduk di jalanan selama 2 minggu. Sementara di lingkungan kampus, Kementerian Pendidikan Korsel mencatat kalau ada lebih dari 450 insiden yang terjadi di kampus-kampus Korsel sepanjang bulan Maret hingga April.

Bulan April sekaligus menjadi bulan di mana jumlah aksi protes yang digelar di Korsel mengalami lonjakan drastis. Tercatat ada setidaknya 425 aksi protes yang melibatkan 119.000 peserta sepanjang bulan April 1987. Sebagai perbandingan, pada bulan Januari & Februari 1987 hanya ada sekitar 114 aksi protes yang tercatat dengan jumlah total hanya 5.000 orang peserta. Namun apa yang terjadi di bulan April ternyata hanyalah puncak gunung es dari gelombang aksi protes berskala jauh lebih besar yang siap menerjang.

Tanggal 18 Mei, informasi mengenai penyebab asli kematian Park Jong Chol akhirnya terungkap ke publik. Dengan bermodalkan bocoran informasi yang didapat dari petugas penjara tempat Park ditahan, Kim Sou Hwan selaku pemimpin umat Katolik Korsel mengumumkan kalau Park aslinya meninggal akibat disiksa memakai bak air. Bak petir di siang bolong, pernyataan Kim tersebut langsung menimbulkan kehebohan di kalangan publik. Koran-koran beramai-ramai memuat kasus kematian Park di halaman depannya. Tekad rakyat Korsel untuk mengakhiri rezim diktator yang berkuasa di negaranya kian menggelora.

Bulan Mei 1987 kebetulan juga bertepatan dengan peringatan 7 tahun terjadinya Pemberontakan Gwangju. Momen tersebut lantas dimanfaatkan oleh para golongan penentang rezim Chun untuk merencanakan gerakan perlawanan baru. Sadar akan hal tersebut, rezim Chun pun lantas kembali beralih ke metode tangan besi untuk membungkam paksa bibit-bibit perlawanan terhadap dirinya. Di Kuil Wongak yang terletak di kota Gwangju misalnya, polisi yang dilengkapi dengan tongkat pemukul & gas air mata menyerang komunitas Buddha setempat yang sedang memperingati Pemberontakan Gwangju. Polisi juga menangkap 13 orang dalam penyerangan tersebut.

Sementara itu di Seoul, pemuka agama Oh Choong Il beserta 2.000 orang lainnya menggelar pertemuan di Gereja Hyang Lin pada tanggal 27 Mei. Sebelum pertemuan digelar, Oh juga sudah menghubungi wartawan untuk memastikan kalau isi pertemuan tersebut bisa tersiar ke publik. Ketika hari pertemuan tiba, Oh mengumumkan pendirian organisasi pejuang demokrasi yang bernama Kukbon. Oh juga meminta kepada seluruh rakyat Korsel untuk menggelar demontrasi & rapat akbar secara serentak pada tanggal 10 Juni, tanggal di mana Chun berencana menunjuk Roh Tae Woo sebagai presiden penerusnya.

Lee Han Yeol (depan). (Sumber)
Oh & para peserta rapat akbar langsung ditangkap oleh polisi di hari yang sama. Namun seruan dari Oh supaya rakyat Korsel beramai-ramai menggelar aksi protes pada tanggal 10 Juni sudah terlanjur menyebar. Untuk memastikan supaya aksi protes yang dimaksud tidak sampai terjadi, pada tanggal 8 Juni Kementerian Dalam Negeri Korsel menyatakan kalau mereka yang nekat mengikuti anjuran Kukbon untuk menggelar demonstrasi pada tanggal 10 Juni bakal menerima hukuman berat. Kemudian pada tanggal 9 Juni, aparat Korsel melakukan penangkapan besar-besaran kepada 5.000 orang & melarang 7.000 orang lainnya untuk keluar dari rumahnya.

Masih pada tanggal 9 Juni, pecah kerusuhan di Universitas Yonsei, Seoul, antara polisi dengan mahasiswa setempat. Dalam kericuhan tersebut, salah seorang mahasiswa yang bernama Lee Han Yol terkena hantaman granat gas air mata di kepalanya & kemudian kehilangan kesadaran sebelum akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 Juli di rumah sakit. Foto Lee dengan kepala yang bersimbah darah kemudian beredar ke publik & menyulut amarah rakyat Korsel sehingga kian banyak yang menaruh simpati pada aksi protes yang bakal digelar pada tanggal 10 Juni.



DEMONSTRASI 10 JUNI & KELANJUTANNYA

Hari yang penting tersebut akhirnya tiba. Pada tanggal 10 Juni pukul 6 pagi waktu setempat, sebanyak 5.000 mahasiswa berkumpul di dekat alun-alun kota Seoul. Polisi yang sejak awal sudah disiagakan di sejumlah titik di kota Seoul langsung menyerang kerumunan mahasiswa tersebut. Saat posisi mereka kian terdesak, kerumunan mahasiswa tersebut langsung membubarkan diri & menyebar, namun kemudian berkumpul kembali di lokasi lain untuk melanjutkan aksi protes.

Saat para mahasiswa berparade, para pegawai kantoran beramai-ramai meninggalkan kantornya sejenak untuk menyaksikan jalannya aksi protes & memberikan dukungan kepada para demonstran. Namun hanya sedikit di antara mereka yang bergabung dengan para demonstran karena mereka enggan ditangkap oleh polisi. Sementara itu di sekitar alun-alun kota Seoul, mobil-mobil yang melintas beramai-ramai membunyikan klaksonnya sebagai bentuk dukungan spontan terhadap para demonstran.

Polisi (atas) saat berhadapan dengan para
demonstran di Shinsegae. (Sumber)
Saat matahari semakin tinggi, semakin banyak pula jumlah demonstran yang ikut serta. Memasuki pukul 8 pagi, jumlah orang yang mengikuti aksi protes sudah mencapai 45 ribu orang. Saat jumlah demonstran semakin banyak, bentrokan antara polisi & demonstran juga berlangsung kian sengit. Saat polisi melepaskan tembakan gas air mata, demonstran membalasnya dengan cara melempari polisi memakai batu & bom molotov. Sementara di dekat pusat perbelanjaan Shinsegae, massa beramai-ramai melucuti perlengkapan yang dipakai polisi anti huru-hara & membakarnya.

Seoul bukanlah satu-satunya kota yang menjadi lokasi digelarnya aksi protes. Demonstrasi serupa juga terjadi di 21 kota lainnya di seantero Korsel. Total ada 400 ribu orang orang yang ikut serta dalam aksi protes pada tanggal 10 Juni. Sebanyak lebih dari 3.800 orang ditangkap dalam kerusuhan di hari tersebut. Namun gelombang aksi protes masih tetap tidak surut & terus berlanjut hingga beberapa hari berikutnya. Sebanyak ribuan orang pegawai yang pada awalnya merasa ragu kini beramai-ramai ikut serta dalam aksi protes.

Memasuki tanggal 18 Juni, aksi protes di seantero Korsel sudah berkembang begitu besar. Di Seoul & Busan, polisi sampai kehabisan persediaan gas air mata saking besarnya skala kerusuhan yang terjadi. Massa di Seoul lantas memanfaatkan situasi tersebut dengan menyerang 12 kantor polisi & membakar 3 bus angkut polisi. Sementara di Busan, sebanyak kurang lebih 2.000 unit taksi beramai-ramai menuju stasiun kereta Busan & membiarkan bensin mereka digunakan sebagai bahan bom molotov. Di Daejeon, seorang polisi tewas setelah demonstran menabrakkan bus menembus garis pembatas yang dipasang polisi.

Sadar kalau polisi tidak bisa lagi diandalkan untuk meredam para demonstran, presiden Chun bersiap memerintahkan militer untuk terjun ke lapangan. Ia juga sudah mulai mempertimbangkan opsi hukum darurat militer. Namun rencana tersebut batal terlaksana karena adanya penolakan dari dalam militer Korsel sendiri. Di luar Korsel, presiden AS meminta kepada Chun supaya ia menghindari opsi militer & mengedepankan opsi dialog dengan kubu oposisi. Lembaga Olimpiade juga mulai mempertimbangkan opsi mengganti tuan rumah Olimpiade 1988 jika kondisi Seoul tidak kunjung membaik.

Tanggal 29 Juni, pemerintah Korsel akhirnya memutuskan untuk menuruti keinginan para demonstran. Pada tanggal tersebut, Roh Tae Woo yang bertindak sebagai perwakilan pemerintah mengumumkan kalau Korsel bakal segera menggelar pemilu presiden yang kandidatnya bisa dipilih langsung oleh rakyat. Roh juga berjanji kalau pemerintah Korsel bakal melonggarkan sensor atas media, membebaskan para tahanan politik, & tidak lagi ikut campur terlalu jauh dalam urusan internal kampus. Keluarnya pernyataan tersebut sekaligus menandai berakhirnya gelombang aksi protes June Struggle dengan kemenangan para demonstran.

Roh Tae Woo. (Sumber)
Saat kondisi domestik Korsel berangsur-angsur membaik pasca berakhirnya gelombang aksi protes, peristiwa tak terduga muncul di luar Korsel. Pada tanggal 29 November 1987, pesawat Korean Air yang sedang mengangkut 115 penumpang & awak pesawat meledak saat sedang terbang di atas Laut Andaman, sebelah barat Myanmar, di tengah perjalanan menuju Korsel. Belakangan diketahui kalau pemboman tersebut dilakukan oleh 2 agen asal Korea Utara / Korut, di mana keduanya berhasil ditangkap pada awal Desember di negara Bahrain.

Salah satu alasan kenapa mereka melakukan pemboman tersebut adalah untuk menganggu jalannya pemilu presiden langsung yang bakal digelar pada tanggal 16 Desember 1987. Namun pada akhirnya pemilu presiden Korsel tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana awal. Bak berkah terselubung, aksi pemboman yang didalangi oleh Korut tersebut secara tidak langsung justru malah mendongkrak pamor golongan militer menjelang digelarnya pemilu. Pasalnya kini rakyat Korsel menganggap kalau hanya golongan militer yang bisa memberikan mereka rasa aman pasca terjadinya aksi pemboman pesawat.

Ketika pemilu presiden pada akhirnya benar-benar digelar, Roh Tae Woo yang memiliki latar belakang militer berhasil keluar sebagai pemenang pemilu dengan perolehan suara 36 persen. Sesuai dengan janjinya dulu, Roh menjalankan Korsel sebagai negara demokrasi dengan kebebasan berpendapat yang luas. Namun bak mendapat karma atas keterlibatan mereka dalam masa pemerintahan yang penuh darah, pada tahun 1997 Chun & Roh dijatuhi hukuman penjara atas tuduhan korupsi. Keduanya memang langsung menerima pengampunan hukuman dari presiden berkuasa Korsel di tahun yang sama, namun sebagai gantinya keduanya harus membayar uang ganti rugi kepada negara yang jumlahnya mencapai milyaran won.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Aviation Security International - The Bombing of Korean Air....
The Chosun Ilbo - Ex-President Roh Tae-woo to Pay Remainder....
The Korea Herald - Chun regime sought political gains from terror
The New York Times - Seoul Student's Torture Death Changes....
B.H. Hahn & Y.I. Lew. 2008. "Korea, South". Encylopaedia Britannica, Chicago, AS.
Katsiaficas, G.. 2012. "Asia's Unknown Uprisings Volume 1" (hal. 277-305). PM Press, AS.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.