Perang Punisia Pertama, Dimulainya Persaingan Romawi & Kartago



Kapal perang Kartago.

Kartago (Carthage) adalah nama dari suatu negara dari masa Sebelum Masehi (SM) yang pusat pemerintahannya terletak di kota Kartago (sekarang termasuk dalam wilayah modern Tunisia). Itulah sebabnya di masa kini, timnas sepak bola Tunisia menggunakan nama "Elang Kartago" (Les Aigles de Carthage) sebagai nama julukannya. Saat negara Kartago masih berdiri, negara ini pernah memiliki daerah kekuasaan yang mencakup wilayah modern Spanyol & pantai utara Benua Afrika.

Kartago juga terkenal karena di masa lampau, kekaisaran ini pernah terlibat konflik dengan Republik Romawi Kuno. Konflik antara Romawi dengan Kartago ini dikenal dengan nama "Perang Punisia" (Phoenician Wars) atau "Perang Punik" (Punic Wars). Nama "Punisia" digunakan untuk menyebut perang ini karena Kartago didirikan oleh suku bangsa Punisia, suku bangsa yang menghuni wilayah sekitar Laut Mediterania & terkenal akan keterampilannya dalam berlayar.

Total, Republik Romawi & Kekaisaran Kartago pernah terlibat perang sebanyak 3 kali. Rentang waktu dari awal Perang Kartago Pertama hingga akhir Perang Kartago Ketiga mencapai lebih dari 1 abad. Dan sesuai dengan judulnya, artikel kali ini akan fokus membahas Perang Kartago Pertama yang terjadi pada tahun 264 - 241 SM. Dalam jangka panjang, perang ini berdampak pada menguatnya hegemoni Romawi di Laut Mediterania & sekitarnya.



LATAR BELAKANG

Di abad ke-3 Sebelum Masehi (SM), wilayah Romawi mencakup Semenanjung Italia bagian tengah & selatan. Di seberang selatannya, terdapat Kerajaan Kartago yang wilayahnya terbentang di pantai utara Benua Afrika. Selain pesisir utara Afrika, wilayah Kartago juga mencakup pulau-pulau kecil di sebelah barat Romawi seperti Pulau Korsika, Sardinia, & Sisilia bagian barat.

Keberhasilan Kartago menguasai wilayah-wilayah tersebut tidak lepas dari angkatan lautnya yang superior. Berkat angkatan lautnya pulalah, Kartago bisa mendominasi aktivitas perdagangan yang berlangsung di Laut Mediterania. Hubungan Kartago dengan Romawi sendiri pada masa itu bisa dibilang harmonis. Namun semuanya berubah saat kedua negara tersebut terlibat perebutan pengaruh di Pulau Sisilia.

Peta wilayah Romawi & Kartago menjelang timbulnya Perang Punisia Pertama. (Agata brr / wikipedia.org)

Pada tahun 288 SM, kelompok tentara bayaran Mamertini (Mamertines) yang berasal dari Semenanjung Italia menduduki kota Messana yang terletak di sebelah utara Pulau Sisilia. Tindakan Mamertini tersebut lantas menuai rasa tidak suka dari Syracuse, negara yang terletak di Pulau Sisilia tenggara. Maka, Hieron II selaku raja Syracuse kemudian mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Messana.

Berada dalam kondisi terdesak, pada tahun 265 SM Mamertini kemudian meminta bantuan kepada Kartago & Romawi. Permintaan tersebut langsung disanggupi oleh Kartago yang kemudian mengirimkan pasukannya ke Messana. Sementara itu di lain pihak, Romawi akhirnya turut menyatakan kesediaannya untuk mengirimkan pasukan ke Messana. Romawi berharap dengan mengirimkan pasukan ke Messana, Romawi bisa mengimbangi pengaruh Kartago di Sisilia.

Saat Mamertini menerima kabar kalau Romawi setuju untuk mengirimkan pasukannya, Mamertini langsung mengusir keluar pasukan Kartago yang sudah lebih dulu berada di Messana. Merasa tidak terima dengan peristiwa tersebut, Kartago pun kemudian menjalin persekutuan dengan Syracuse untuk bersama-sama memerangi Romawi & Mamertini, sekaligus menandai dimulainya Perang Punisia Pertama.



BERJALANNYA PERANG

Dimulai di Sisilia

Pasukan darat Romawi akhirnya tiba di Messana pada tahun 264 SM. Sesudah itu, pasukan Romawi bergerak ke arah selatan & berhasil mendesak mundur pasukan Syracuse. Supaya wilayahnya tidak dicaplok oleh Romawi, Hieron II pun terpaksa menyerah & menjalin persekutuan dengan Romawi. Dengan tunduknya Syracuse, Romawi kini bisa mengalihkan fokusnya ke laut.

Romawi sadar bahwa kalau mereka ingin memperkuat kedudukannya di Sisilia, mereka harus bisa menghentikan pasukan laut Kartago. Namun permasalahannya adalah jika Kartago merupakan salah satu kekuatan maritim terkuat pada masanya, pasukan Romawi pada waktu itu belum memiliki pengalaman tempur di laut.

Peta Sisilia semasa Perang Kartago Pertama. (Jbribeiro1 / wikipedia.org)

Untuk mengatasi masalah tersebut, Romawi lantas membangun 20 kapal trireme (kapal dengan 3 baris dayung) & 100 kapal quinquereme (kapal dengan 3 baris dayung, namun dengan jumlah pendayung lebih banyak) hanya dalam kurun waktu 60 hari dengan memakai kapal Kartago yang terdampar sebagai patokan desainnya. Sambil menunggu kapal-kapal tersebut selesai dirakit, pasukan Romawi melakukan simulasi pertempuran laut di atas barisan kursi yang ditata di atas daratan.

Romawi juga membuat perangkat khusus bernama "corvus", sejenis jembatan kecil yang bagian bawahnya dilengkapi dengan duri pengait. Rencana Romawi adalah saat kapalnya sudah berjarak cukup dekat dengan kapal musuh, pasukan Romawi bisa mengaitkan corvus ke kapal musuh & kemudian menaikinya untuk menyeberang ke kapal musuh.

Sesudah itu, pasukan Romawi bisa memanfaatkan keterampilan mereka dalam pertempuran jarak dekat untuk mengalahkan pasukan musuh & merebut kapalnya. Sebelum Romawi menggunakan corvus, taktik yang lazim digunakan dalam peperangan di Laut Mediterania pada masa itu adalah dengan menabrakkan haluan kapal ke badan kapal musuh (ramming) supaya kapal musuh oleng & penumpangnya berjatuhan ke laut.

Penggunaan corvus terbukti sebagai inovasi jitu. Dalam Pertempuran Mylae di tahun 260 SM, armada Romawi yang berkekuatan 145 kapal berhasil mengalahkan armada Kartago yang berkekuatan 130 kapal. Selain karena faktor penggunaan corvus & keunggulan jumlah kapal, alasan lain kenapa pasukan Romawi bisa keluar sebagai pemenang adalah karena pasukan Kartago cenderung menganggap remeh lawannya & tidak mencoba menata kapal-kapalnya dalam formasi tempur yang rapi.

Tren kemenangan pasukan Romawi di laut terus berlanjut dalam Pertempuran Ecnomus (256 SM), salah satu pertempuran laut terbesar dalam sejarah pra-Masehi. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 330 kapal perang Romawi berhadapan dengan lebih dari 300 kapal perang Kartago. Untuk memecah belah formasi pasukan Kartago, Romawi memecah armadanya ke dalam 4 kelompok tempur berbeda. Hasilnya efektif. Pasukan Romawi berhasil menenggelamkan 100 kapal Kartago & hanya kehilangan 24 kapal.


Ilustrasi pasukan Romawi (kiri) saat menyeberang ke kapal musuh dengan memakai corvus.


Berlanjut ke Afrika

Sukses mengalahkan Kartago di laut, pasukan Romawi kemudian melancarkan invasi langsung ke Afrika & berhasil menduduki ibukota Kartago pada tahun 255 SM. Namun peruntungan Romawi tersebut tidak berlanjut lebih jauh setelah pasukan Kartago yang diperkuat oleh 100 ekor gajah perang mendapat bala bantuan dalam wujud belasan ribu tentara bayaran (12.000 infantri & 4.000 pasukan berkuda).

Akibat serangan balik dari pasukan Kartago tersebut, sebanyak 12.000 prajurit Romawi gugur di medan perang. Sementara sebanyak 2.000 lainnya yang masih hidup terpaksa melarikan diri keluar Afrika. Namun akibat timbulnya pemberontakan di wilayah Libya, Kartago terpaksa harus menunda niatnya untuk menginvasi langsung wilayah Romawi. Bentrokan antara pasukan Romawi & Kartago baru timbul kembali sejak tahun 254 SM di Pulau Sisilia & perairan sekitarnya.

Perang dalam fase ini didominasi oleh kemenangan pasukan Romawi di darat & kemenangan pasukan Kartago di laut. Terpaan cuaca buruk & bertambahnya berat kapal akibat keberadaan corvus menjadi penyebab kenapa pasukan laut Romawi tidak sesuperior tahun-tahun sebelumnya. Melemahnya kekuatan Romawi di front laut lantas dimanfaatkan oleh pasukan Kartago pimpinan Hamilcar Barca untuk menyerang kota-kota di pesisir Italia.

Titik balik bagi Romawi akhirnya tiba pada tahun 242 SM. Berkat uang pinjaman dari orang-orang kaya Romawi, Romawi kini memiliki 200 kapal perang baru. Pada tahun 241 SM, armada laut tersebut berhasil mengalahkan armada Kartago di Kepulauan Aegate / Aegadia, sebelah barat Pulau Sisilia. Akibat kekalahan tersebut, Kartago yang kini dilanda krisis keuangan terpaksa meminta perundingan damai kepada Romawi.

Berdasarkan kesepakatan damai, Kartago terpaksa membiarkan Romawi menguasai seluruh Pulau Sisilia. Bukan hanya itu, Kartago juga diharuskan membayar uang ganti rugi perang sebesar 3.200 talent perak kepada Romawi dalam kurun waktu 10 tahun (talent adalah skala unit timbangan yang banyak digunakan pada masa Sebelum Masehi). Peristiwa ini sekaligus menandai berakhirnya Perang Punisia Pertama dengan kemenangan Romawi.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



DAFTAR PERANG PUNISIA

-  Perang Punisia I (artikel ini)
Perang Punisia II
Perang Punisia III



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 264-241 SM
-  Lokasi : Pulau Sisilia, Tunisia, Laut Mediterania

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Romawi
       melawan
(Negara)  -  Kartago, Syracuse (264 SM)

Hasil Akhir
-  Kemenangan pihak Romawi
-  Pulau Sisilia berada di bawah pengaruh Romawi

Korban Jiwa
Sekitar 400.000 jiwa



REFERENSI

 - . 2008. "Carthage". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Cartwright, M.. 2016. "Carthaginian Naval Warfare".
(www.worldhistory.org/Carthaginian_Naval_Warfare/)

Cartwright, M.. 2016. "First Punic War".
(www.worldhistory.org/First_Punic_War/)

GlobalSecurity.org. "Punic Wars".
(www.globalsecurity.org/military/world/war/punic-wars.htm)

Mark, J.J.. 2018. "Punic Wars".
(www.worldhistory.org/Punic_Wars/)

Souza, P.. 2016. "Quinquereme".
(oxfordre.com/classics/view/10.1093/acrefore/9780199381135.001.0001/acrefore-9780199381135-e-5485)

White, M.. 2011. "Body Count of the Roman Empire".
(necrometrics.com/romestat.htm)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



2 komentar:

  1. tumben min sering upload artikel sejarah.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, cuma kebetulan saja kok. Saya awalnya mau posting artikel Perang Punisia sebagai 1 artikel. Tapi karena ada banyak detail dari Perang Punisia Kedua yang terlalu sayang kalau tidak dibahas, akhirnya artikelnya saya pecah jadi beberapa artikel sekalian supaya tidak terlalu panjang.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.