Anzhi Makhachkala, Elang Rusia yang Gagal Terbang Jauh



Logo Anzhi Makhachkala.

Pernahkah pengunjung mendengar nama Icarus? Dalam kisah mitologi Yunani Kuno, Icarus adalah putra dari seorang pengrajin yang bernama Daedalus. Akibat memburuknya hubungan antara Daedalus dengan tokoh raja setempat, Daedalus & Icarus pun dijatuhi hukuman penjara. Supaya keduanya tidak bisa melarikan diri, mereka disekap di puncak menara yang tinggi.

Namun Daedalus tidak mau menyerah pada nasib. Ia kemudian membuat sayap yang terbuat dari bulu & lilin. Dengan sayap itulah, ia & Icarus terbang melarikan diri keluar dari menara. Sebelum terbang, Daedalus menasihati Icarus supaya tidak terbang terlalu tinggi. Namun karena terlalu girang dengan kemampuan barunya, Icarus malah nekat terbang setinggi mungkin.

Hal yang ditakutkan Daedalus akhirnya benar-benar terjadi. Karena terbang terlalu tinggi, lilin yang ada pada sayap Icarus mulai meleleh akibat terkena sinar matahari. Akibatnya, Icarus pun tidak bisa lagi terbang & kemudian jatuh ke laut. Di masa kini, kisah Icarus tersebut kerap dijadikan perumpamaan mengenai apa jadinya jika suatu pihak berhasil meraih kejayaan dengan amat cepat, namun kemudian jatuh terpuruk dalam rentang waktu yang tak kalah cepatnya.

Kalau untuk ranah sepak bola, kisah Icarus bisa dijadikan perumpamaan mengenai fenomena yang menimpa Anzhi Makhachkala. Anzhi / Anji adalah nama dari klub sepak bola yang berasal dari kota Makhachkala (baca : ma-haj-ka-la), sebuah kota di Rusia selatan. Kurang dari 1 dekade lalu, klub berlambang tameng burung elang ini sempat menyita perhatian publik sepak bola dunia setelah klub ini mendatangkan pemain-pemain kelas dunia seperti Samuel Eto'o & Roberto Carlos.

Jika itu masih belum cukup membuat pengamat sepak bola terpukau, Anzhi pada periode yang bersamaan juga sempat menunjuk Guus Hiddink sebagai pelatihnya. Hasilnya, Anzhi pun sempat mendominasi papan atas Liga Premier Rusia pada paruh awal dekade 2010-an. Namun bak kisah Icarus yang terbang tinggi hanya untuk jatuh secara tragis, periode kejayaan Anzhi juga tidak berlangsung lama. Sejak tahun 2020, klub ini harus bermain di kasta ketiga Liga Rusia dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan.


Peta lokasi Makhachkala, kota asal Anzhi.


LAHIRNYA MUTIARA DI TEPI LAUT KASPIA

Anzhi tergolong sebagai klub yang berusia muda karena klub ini baru didirikan pada tahun 1991. Klub ini didirikan oleh mantan pemain Alexander Markamov & pebisnis Magomed-Sultan Magomedov. Nama "Anzhi" pada klub ini dalam bahasa lokal Kumyk memiliki arti "mutiara". Klub ini bermarkas di kota Makhachkala, kota pelabuhan yang berbatasan dengan Laut Kaspia di sebelah timur.

Anzhi didirikan saat Uni Soviet masih berdiri. Namun klub tersebut tidak menghabiskan waktu lama sebagai peserta Liga Uni Soviet. Saat Uni Soviet akhirnya runtuh, Anzhi kemudian melanjutkan kiprahnya di Rusia sebagai peserta Divisi Dua, turnamen kasta ketiga Liga Rusia. Di musim perdananya, Anzhi berhasil menempati peringkat ke-5. Semusim kemudian, Anzhi berhasil menjuarai Divisi Dua. Namun karena federasi sepak bola Rusia melakukan perubahan format kompetisi, Anzhi tidak jadi promosi & tetap bermain di Divisi Dua.

Penantian panjang Anzhi akhirnya terbayar setelah pada tahun 1996, klub tersebut berhasil promosi ke Divisi Satu. Tahun 1999, Anzhi akhirnya berhasil menapakkan kakinya sebagai peserta Divisi Utama Rusia (sekarang bernama Liga Premier Rusia). Hebatnya, kendati baru pertama kali tampil di kasta teratas liga Rusia, Anzhi sama sekali tidak demam panggung. Dalam perhelatan Divisi Utama Rusia di musim 2000, Anzhi secara mengesankan berhasil menempati peringkat ke-4 liga.

Keberhasilan menempati peringkat ke-4 menyebabkan Anzhi berhak mewakili Rusia dalam turnamen Piala UEFA (sekarang bernama Liga Europa) musim 2001/02. Yang menjadi lawan Anzhi dalam turnamen tersebut adalah wakil Skotlandia, Rangers. Karena Dagestan selaku negara bagian lokasi markas Anzhi berada dalam kondisi mencekam akibat imbas Perang Chechnya, Anzhi tidak bisa menjalani pertandingan melawan Rangers di stadion kandangnya.

Anzhi (baju kuning) saat bertanding melawan Rangers di Piala UEFA. (Sumber)

Sebagai solusi atas masalah keamanan yang menimpa Dagestan, pertandingan antara Anzhi melawan Rangers tidak digelar dalam format kandang-tandang, melainkan hanya digelar 1 kali di tempat netral. Stadion di kota Warsawa, Polandia, menjadi tempat netral yang dipilih untuk menggelar pertandingan. Pertandingan tersebut berhasil dimenangkan oleh Rangers dengan skor 1-0 sehingga petualangan Anzhi di kompetisi Eropa pun harus berakhir begitu dini.

Sementara itu di Divisi Utama Rusia sendiri, Anzhi mengalami penurunan performa yang tajam karena harus mengakhiri musim 2001 di peringkat ke-13 dari total 16 peserta. Meskipun babak belur di liga, Anzhi tidak benar-benar terpuruk. Di musim yang sama, mereka berhasil melaju ke babak final Piala Rusia. Sayang keberuntungan Anzhi sesudah itu tidak berlanjut. Di babak final, Anzhi mengalami kekalahan dalam babak adu penalti melawan Lokomotiv Moskow setelah menyelesaikan pertandingan dengan skor 1-1.

Anzhi akhirnya benar-benar terdegradasi dari Divisi Utama pada tahun 2002. Sesudah itu, Anzhi sempat berkubang cukup lama di divisi bawah. Baru pada tahun 2010, Anzhi akhirnya kembali bermain di Divisi Utama yang sekarang sudah berganti nama menjadi Liga Premier. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, Anzhi siap memasuki periode keemasannya yang bergemilang uang.



MENJADI KLUB SUPER KAYA

Bulan Januari 2011, Anzhi dibeli oleh Suleyman Kerimov, konglomerat Dagestan yang juga berstatus sebagai salah satu orang terkaya di Rusia. Sejak itulah, Anzhi menjelma sebagai salah satu klub terkaya di Rusia & mungkin juga dunia. Salah satu langkah pertama Kerimov sejak membeli Anzhi adalah merenovasi stadion Anzhi Arena. Saat Anzhi Arena masih direnovasi, Anzhi melakukan pertandingan kandangnya di stadion Dynamo yang juga terletak di kota Makhachkala.

Suleyman Kerimov. (Sumber)

Meskipun Anzhi kini dikaruniai oleh pemilik baru yang bergelimang uang, bukan berarti mereka tidak akan mendapatkan kesulitan saat hendak merekrut pemain baru. Stadion Dynamo selaku markas Anzhi terletak di negara bagian Dagestan, negara bagian yang kondisi keamanannya tidak stabil akibat letaknya yang bersebelahan dengan Chechnya.

Untuk mengatasinya, Anzhi pun menggelar sesi latihannya di dekat Moskow, ibukota Rusia. Namun setiap kali hendak melakukan pertandingan kandang, barulah para pemain Anzhi akan pergi ke kota Makhachkala dengan menaiki pesawat. Untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan selama berlangsungnya pertandingan, Stadion Dynamo selalu dilengkapi dengan penjagaan yang amat ketat di hari pertandingan.

Roberto Carlos menjadi salah satu pemain asing pertama yang setuju untuk bergabung dengan Anzhi sejak dibeli oleh Kerimov. Pada bulan Februari 2011, bek kelahiran Brazil tersebut resmi menjadi pemain baru Anzhi. Carlos yang saat itu sudah berusia 38 tahun kelak bakal pensiun di Anzhi & melanjutkan karirnya sebagai bagian dari staf kepelatihan Anzhi.

Memasuki pertengahan tahun 2011, Anzhi hanya semakin merajarela di bursa transfer. Penyerang Samuel Eto'o dikontrak dari Inter Milan dengan gaji senilai 350 ribu poundsterling per pekan. Gaji tersebut sekaligus menjadikan Eto'o sebagai pemain dengan gaji tertinggi di dunia pada masanya. Selain Eto'o, Anzhi juga mendatangkan bek sayap Yuri Zhirkov dari Chelsea & penjaga gawang berbakat Vladimir Gabulov dari Dynamo Moskow.

Tahun berganti, Anzhi semakin serius dalam memperkuat skuadnya. Bek Christopher Samba dibeli dari klub Inggris, Blackburn Rovers. Sementara Guus Hiddink - pelatih yang berhasil membawa tim nasional Rusia lolos ke semifinal Euro 2008 - ditunjuk sebagai manajer baru Anzhi pada bulan Februari 2012. Berkat masuknya para pemain & pelatih bertaraf dunia tersebut, performa Anzhi di liga pun turut terdongkrak. Anzhi berhasil mengakhiri Liga Premier Rusia musim 2011/12 di peringkat ke-5.

Guus Hiddink & Roberto Carlos. (Sumber)

Sukses mengakhiri liga di peringkat ke-5 menyebabkan Anzhi berhak untuk tampil kembali di turnamen Eropa, tepatnya Liga Europa. Untuk menyambut datangnya musim baru, Anzhi pun kembali melakukan belanja besar-besaran. Mereka mendatangkan gelandang bertahan Lassana Diarra dari Real Madrid, pemain sayap Willian dari Shakhtar, serta penyerang jangkung Lacina Traore dari Kuban Krasnodar.

Di Liga Europa, Anzhi tidak bisa menggunakan stadion Dynamo sebagai stadion kandangnya karena stadion tersebut tidak memenuhi standar UEFA. Kondisi keamanan di Dagestan juga dianggap tidak cukup aman untuk dikunjungi oleh tim-tim dari luar Rusia. Sebagai gantinya, setiap kali melakukan pertandingan kandang di Liga Europa, Anzhi bakal menggunakan stadion yang ada di kota Moskow.



DIMUSUHI OLEH PENDUKUNG TIM IBUKOTA

Momen di mana Anzhi terpaksa menggunakan stadion di kota Moskow sebagai markasnya lantas dimanfaatkan oleh para suporter klub-klub rival Anzhi untuk menunjukkan kebenciannya pada Anzhi. Saat Anzhi bertanding melawan klub asal Belanda, AZ Alkmaar, pada bulan Agustus 2012, para suporter klub-klub kota Moskow sengaja ikut menghadiri pertandingan tersebut supaya bisa mencemooh para pemain Anzhi.

Kebencian para suporter bukan hanya ditunjukkan setiap kali Anzhi bertanding, tetapi juga saat tim nasionalnya sendiri yang bertanding. Saat tim nasional Rusia melakukan pertandingan persahabatan melawan Serbia di bulan yang sama, suporter timnas Rusia mencemooh Yuri Zhirkov, pemain timnas Rusia yang juga berstatus sebagai pemain Anzhi. Zhirkov bahkan sempat dilempari dengan kotak rokok saat ia berada di dekat pojok lapangan.

Menurut pakar sepak bola Rusia Igor Rabiner, sikap negatif yang ditunjukkan oleh para suporter tersebut merupakan cerminan dari pandangan negatif golongan nasionalis Rusia terhadap segala hal yang berasal dari Kaukasus, daerah di Rusia selatan yang mencakup Chechnya & Dagestan. Kebetulan sejak melepaskan diri dari Uni Soviet pada tahun 1991, Rusia memang memiliki pengalaman buruk terkait segala hal yang berkaitan dengan Chechnya.

Peta lokasi Chechnya & Dagestan. (Sumber)

Saat terjadi pemberontakan di Chechnya misalnya, jumlah tentara Rusia yang tewas dalam perang tersebut mencapai ribuan orang. Kemudian pada tahun 2002, sebanyak ratusan orang tewas setelah sejumlah milisi separatis Chechnya menyerang teater di kota Moskow & menyandera orang-orang di dalamnya. Dua tahun kemudian, sebanyak 39 orang tewas setelah seorang ekstrimis Chechnya melakukan serangan bom bunuh diri di stasiun kereta bawah tanah Moskow.

Kembali ke soal Anzhi & petualangannya di Liga Europa. Sebelum mencapai fase grup Liga Europa, Anzhi harus melewati babak kualifikasi terlebih dahulu. Tanpa kesulitan berarti, Anzhi berhasil menyingkirkan Budapest Honved (Hongaria), Vitesse Arnhem (Belanda), serta AZ Alkmaar (Belanda). Hebatnya lagi, gawang Anzhi tidak pernah kebobolan selama menjalani babak kualifikasi.

Di fase grup, Anzhi harus berada 1 grup dengan tim-tim kuat seperti Liverpool (Inggris), Udinese (Italia), serta Young Boys (Swiss). Anzhi sekali lagi menunjukkan keperkasaannya. Mereka berhasil lolos dari grup dengan rekor 100 persen kemenangan di partai kandang. Laju Anzhi di Liga Europa baru terhenti di babak 16 besar setelah mereka disingkirkan oleh wakil Inggris, Newcastle United, dengan agregat tipis 0-1.

Gagal meraih trofi di Eropa tidak membuat performa Anzhi di Liga Rusia lantas melorot. Pada akhir musim 2012/13, Anzhi berhasil menempati peringkat ke-3 Liga Premier Rusia. Posisi tersebut sekaligus menjadi posisi tertinggi Anzhi selama mengikuti Liga Premier Rusia. Sementara di Piala Rusia, Anzhi juga berhasil melaju hingga babak final untuk berhadapan dengan CSKA Moskow. Namun Anzhi lagi-lagi gagal mengakhiri puasa gelarnya setelah mereka mengalami kekalahan dalam fase adu penalti.


Para suporter / pendukung klub Anzhi. (Sumber)


JATUHNYA SANG ELANG DAGESTAN

Jika kegagalan meraih gelar bisa diumpamakan sebagai awan mendung bagi para suporter Anzhi, maka rentetan peristiwa yang terjadi sejak pertengahan tahun 2013 bisa digambarkan sebagai badai. Pada awalnya, Guus Hiddink mundur dari jabatannya sebagai manajer pada bulan Juli 2013. Sebulan kemudian, Kerimov mengumumkan kalau Anzhi bakal memangkas dana transfernya hingga lebih dari 50 persen.

Beragam spekulasi pun muncul mengenai kenapa Kerimov mengubah kebijakannya secara drastis. Menurut salah satu kabar, Kerimov tidak mau lagi mengucurkan uang terlalu banyak untuk Anzhi karena kondisi kesehatannya tengah menurun. Sementara kalau menurut kabar lain, kebijakan baru Kerimov ini muncul karena Kerimov terlibat cekcok dengan pemerintah daerah Dagestan.

Kalau menurut spekulasi yang lebih banyak dipercaya, berkurangnya anggaran Anzhi mungkin ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di sektor bisnis yang dikelola oleh Kerimov. Pada tahun 2013, perusahaan bahan baku pupuk tempat Kerimov memiliki saham menghentikan kerja samanya dengan perusahaan asal Belarus. Akibatnya, Kerimov dikabarkan mengalami kerugian hingga ratusan juta poundsterling. Jika itu masih belum cukup, polisi Belarus sesudah itu juga berniat melakukan penangkapan pada Kerimov.

Dampak dari peristiwa tersebut langsung terasa pada aktivitas transfer Anzhi. Pemain-pemain Anzhi yang bergaji mahal seperti Samuel Eto'o, Lassana Diarra, Lacina Traore, hingga Aleksandr Kokorin beramai-ramai dijual sepanjang musim 2013/14. Ironisnya, Kokorin dijual oleh Anzhi pada bulan Agustus 2013 kendati pemain tersebut baru saja dibeli oleh Anzhi sebulan sebelumnya.

Para pemain Anzhi di tahun 2012. (Sumber)

Lepasnya pemain-pemain tersebut tidak diikuti dengan masuknya pemain-pemain pengganti dengan kualitas sepadan. Akibatnya, Anzhi pun tampil amat buruk pada musim pada musim 2013/14 & harus mengakhiri liga di posisi 16 alias juru kunci. Dampaknya, Anzhi pun terdegradasi & harus menjalani musim berikutnya di kasta kedua liga Rusia.

Anzhi hanya menghabiskan waktu selama 1 musim di kasta kedua. Namun sejak kembali ke Liga Premier Rusia, Anzhi tidak pernah lagi menjadi kandidat serius dalam perebutan gelar juara liga Rusia. Sekarang Anzhi hanyalah tim papan bawah yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjuang menghindari degradasi. Sementara Kerimov tidak mau lagi mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk menopang Anzhi.

Musim 2018/19, Anzhi kembali terdegradasi dari Liga Premier setelah mengakhiri musim di peringkat ke-15. Namun mimpi buruk bagi Anzhi ternyata masih belum berhenti sampai di sana. Akibat hutang yang menggunung, Anzhi tidak diperbolehkan bermain di kasta kedua liga Rusia & harus bermain di kasta ketiga untuk musim 2019/20.

Kasus yang menimpa Anzhi ini sekaligus menjadi contoh mengenai apa jadinya jika suatu klub tidak memiliki rencana jangka panjang yang matang & terlalu bergantung pada pemiliknya sebagai sumber dana. Akibatnya, saat pemilik klub tidak mau / tidak bisa lagi mengucurkan dana, klub yang dibawahinya pun bakal turut terdampak. Bak Icarus yang terbang tinggi, namun kemudian jatuh tenggelam karena terlalu jumawa akan kemampuannya sendiri.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

BBC Sport - Anzhi Makhachkala : Why are big-spending Russians cutting back?
BBC Sport - Europa League: Anzhi Makhachkala's Russian revolution
BBC Sport - Yuri Zhirkov booed by fans in Moscow after move from Chelsea
Futbolgrad - Anzhi Makhachkala and Suleyman Kerimov
GlobalSecurity.org - Second Chechnya War
Greeka - Icarus
Reuters - Timeline : Major Chechen attacks in Russia
These Football Times - Anzhi Makhachkala's fleeting moment in the sun
Wikipedia - 2012–13 FC Anzhi Makhachkala season
Wikipedia - 2019–20 FC Anzhi Makhachkala season
Wikipedia - FC Anzhi Makhachkala
Yahoo News - Belarus charges Anzhi owner in potash probe

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.