Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir yang Disegani Dunia



Gamal Abdel Nasser. (tribune.com.pk)

Gamal Abdel Nasser adalah nama dari tokoh yang pernah menjabat sebagai presiden Mesir dari tahun 1956 hingga 1970. Selama menjabat sebagai presiden, sepak terjang Nasser senantiasa menarik perhatian dunia. Pasalnya di bawah pemerintahannya, Mesir pernah terlibat sengketa internasional yang turut melibatkan negara-negara besar seperti Inggris, Amerika Serikat, hingga Uni Soviet.

Kendati Nasser sudah meninggal pada tahun 1970, dampak dari aktivitas & hasil pemikirannya masih dapat dirasakan hingga sekarang. Sebagai contoh, Mesir sekarang bisa menjadi negara dengan bentuk pemerintahan republik berkat kudeta militer yang dulu pernah dilakukan oleh Nasser & rekan-rekannya pada tahun 1952.

Nasser pulalah yang mempopulerkan penggunaan bendera berwarna merah-putih-hitam sebagai bendera negara-negara Arab yang berbentuk republik. Kemudian pada tahun 1961, Nasser juga menjadi salah satu tokoh yang mempelopori berdirinya Gerakan Non Blok sebagai alternatif bagi negara-negara berkembang yang tidak ingin terjerumus ke dalam Blok Barat atau Blok Timur.



NASSER SEBELUM MENJADI PRESIDEN

Nasser lahir pada tanggal 15 Januari 1918 di kota Alexandria / Iskandariyah. Ayahnya bekerja sebagai petugas kantor pos. Saat Nasser lahir, Mesir pada waktu itu masih berstatus sebagai daerah bawahan Inggris. Nasser kecil kemudian dikirim ke ibukota Kairo untuk tinggal bersama pamannya supaya bisa mengenyam pendidikan di sana.

Di Kairo pulalah, Nasser mulai menumbuhkan sentimen nasionalis & anti-Inggris. Kebetulan paman Nasser memang pernah memiliki pengalaman buruk dengan Inggris karena ia dulu pernah dipenjara oleh aparat Inggris.

Peta lokasi Alexandria & Kairo. (premiumtimesng.com)

Pada usia 15 tahun, Nasser muda sudah ikut terlibat dalam aksi demonstrasi menentang campur tangan Inggris di Mesir. Pada tahun 1935, Nasser bahkan sempat terluka di bagian kepala saat timbul kerusuhan dalam demonstrasi yang diikutinya. Namun peristiwa tersebut sama sekali tidak membuat Nasser muda merasa jera.

Saat sudah lulus dari sekolah menengah, Nasser sempat menempuh kuliah di jurusan hukum selama beberapa bulan. Sesudah itu, ia banting setir & bergabung dengan akademi militer. Kali ini Nasser menempuh pendidikannya sampai tuntas. Selama berada dalam angkatan bersenjata, Nasser giat menjalin kontak dengan tentara-tentara Mesir yang memiliki kesamaan pemikiran dengannya.

Tahun 1948, timbul Perang Arab-Israel antara Israel melawan Mesir, Yordania, & Lebanon. Dalam perang tersebut, Mesir & sekutunya gagal membubarkan Israel. Merasa frustrasi atas kegagalan tersebut, Nasser lantas menyalahkan pemerintah Kerajaan Mesir yang menurutnya tidak mempersenjatai militer Mesir secara layak. Maka, Nasser & sejumlah tentara Mesir kemudian mulai berkomplot untuk melakukan revolusi & menggulingkan raja Mesir.



TERLIBAT DALAM REVOLUSI MESIR

Tanggal 23 Juli 1952, sebanyak 90 personil militer Mesir - termasuk Nasser - melakukan kudeta untuk melengserkan raja Mesir, Farouk. Peristiwa ini sekarang dikenang sebagai Revolusi Mesir & menjadi penyebab mengapa Mesir memiliki bentuk pemerintahan republik hingga sekarang. Dalam revolusi itu pulalah, untuk pertama kalinya bendera merah-puth-hitam dikibarkan sebagai bendera kebangsaan Mesir.

Para pelaku revolusi pada awalnya ingin supaya Farouk dihukum mati. Namun berkat campur tangan Nasser, Farouk & orang-orang dekatnya diperbolehkan pergi ke luar negeri selama mereka tidak mencoba kembali ke Mesir. Muhammad Naguib selaku pemimpin kudeta kemudian naik menjadi pemimpin pertama Mesir di era republik.

(Kiri-kanan) Gamal Nasser & Muhammad Naguib. (en.wikipedia.org)

Naguib tidak menempati posisinya tersebut dalam waktu lama. Akibat konflik dengan sesama tokoh revolusi, Naguib terpaksa mundur dari jabatannya pada tahun 1954. Salah satu alasan kenapa Naguib terpaksa mundur adalah karena adanya tuduhan kalau ia terlibat dalam upaya pembunuhan Nasser di tahun 1954. Akibatnya, seusai mundir dari jabatannya, Naguib dijatuhi hukuman tahanan rumah hingga tahun 1970.

Pasca lengsernya Naguib, Nasser kemudian naik menjadi pemimpin baru Mesir. Untuk mengukuhkan posisinya tersebut, referendum pun digelar pada tahun 1956. Salah satu poin utama dalam referendum tersebut adalah mengenai apakah Nasser diperbolehkan tetap menjabat sebagai presiden Mesir.

Sebanyak lebih dari 99 persen pemilih menyatakan dukungannya dalam referendum yang digelar pada tanggal 23 Juni 1956 tersebut. Hasilnya, Nasser pun sejak itu menjadi presiden Mesir atas dukungan rakyat. Lewat referendum yang sama, Mesir secara resmi berubah menjadi negara republik dengan sistem partai tunggal, di mana partai Arab Socialist Union (ASU; Serikat Sosialis Arab; Al-Ittihad Al-Istiraki Al-Arabi) menjadi satu-satunya partai politik yang diperbolehkan beroperasi di Mesir.



DISANJUNG RAKYAT MESIR, DISEGANI NEGARA ADIDAYA

Nasser terpilih sebagai presiden saat dunia tengah dilanda Perang Dingin antara Blok Barat (dipimpin oleh Amerika Serikat) & Blok Timur (dipimpin oleh Uni Soviet). Supaya memiliki militer yang lebih kuat untuk mengimbangi Israel, Mesir di bawah Nasser kemudian membeli stok persenjataan baru dari Uni Soviet.

Tindakan Nasser tersebut jelas tidak disukai oleh negara-negara Blok Barat. Maka, AS & Inggris pun menolak mendanai pembangunan bendungan Aswan di Sungai Nil. Nasser lantas membalasnya dengan cara menasionalisasi Terusan Suez secara paksa. Kendati Terusan Suez terletak di wilayah Mesir, yang mengelola Terusan Suez pada waktu itu adalah perusahaan gabungan Inggris & Perancis.

Peta lokasi Terusan Suez.

Sumber pemasukan Terusan Suez berasal dari uang pungutan yang ditarik dari kapal-kapal yang melewati Terusan Suez. Nasser ingin memanfaatkan biaya pungutan tersebut untuk membiayai proyek bendungan di Sungai Nil. Namun di luar Mesir, tindakan Nasser tersebut langsung mengundang amarah Inggris & Perancis. Maka, mereka pun kemudian mengajak Israel untuk bersama-sama menginvasi Mesir & menduduki Terusan Suez.

Invasi yang dimaksud akhirnya benar-benar terjadi pada bulan Oktober 1956. Karena dikeroyok oleh pasukan 3 negara sekaligus, pasukan Mesir pun mengalami kekalahan. Pada saat itulah, Uni Soviet memutuskan untuk ikut campur. Pemerintah Uni Soviet mengancam akan menembakkan nuklirnya ke Eropa Barat jika Inggris & Perancis tidak segera menarik mundur pasukannya.

Di lain pihak, kendati sama-sama berstatus sebagai negara anggota Blok Barat, AS justru meminta agar Inggris & Perancis segera menarik mundur pasukannya dari Mesir. Pasalnya AS khawatir jika situasi ini bakal membuat Mesir menjadi negara anggota Blok Timur seutuhnya. Untuk menunjukkan keseriusannya, AS bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Inggris, Perancis, & Israel.

Ditekan oleh negara-negara adidaya dunia, ketiga negara tersebut akhirnya setuju untuk menarik mundur pasukannya dari Terusan Suez. Di masa kini, rentetan peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan "Krisis Suez" (Suez Crisis). Pasca berakhirnya Krisis Suez, pamor Nasser di dalam & di luar Mesir langsung meroket. Pasalnya ia berhasil memaksa negara-negara kuat Eropa untuk melepaskan kekuaasaannya atas Terusan Suez.


Nasser saat berpidato di hadapan rakyat Mesir. (historycollection.com)


PROYEK AMBISIUS NASSER DI LUAR MESIR

Dengan memanfaatkan pamornya yang tengah membubung, Nasser kemudian mengumumkan bersatunya Mesir & Suriah sebagai 1 negara dengan nama "Republik Arab Bersatu" (RAB; United Arab Republic) pada bulan Februari 1958.

Pendirian RAB merupakan bagian dari ambisi Nasser untuk mewujudkan penyatuan seluruh wilayah Arab di bawah 1 pemerintahan (pan-Arabisme). Nasser berharap kalau ke depannya, akan ada lebih banyak lagi negara Arab yang menggabungkan diri ke dalam wilayah RAB.

Ambisi Nasser tersebut sayangnya harus hancur berantakan. Pasalnya hanya berselang 3 tahun sesudah pendirian RAB, terjadi kudeta militer di Suriah. Pasca kudeta, wilayah Suriah kemudian melepaskan diri secara sepihak dari RAB. Wilayah Mesir & Suriah pun sejak itu kembali beroperasi sebagai 2 negara yang terpisah.

Nasser tidak mau hanya membatasi pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Pada tahun 1955, ia melakukan kunjungan ke Bandung, Indonesia, untuk mengikuti Konferensi Asia-Afrika. Kemudian pada tahun 1961, ia menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai berdirinya Gerakan Non Blok (GNB; Non Aligned Movement) di Beograd, Yugoslavia.

GNB didirikan supaya negara-negara berkembang di seluruh dunia tidak ikut terseret dalam arus perpecahan yang ditimbulkan oleh Perang Dingin. Selain Nasser, pemimpin negara lain yang juga ikut mempelopori berdirinya GNB adalah Josip Broz Tito (Yugoslavia), Sukarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), serta Kwame Nkrumah (Ghana).


Sukarno & Nasser. (antaranews.com)


PERANG 6 HARI YANG MENJADI PETAKA

Kembali ke Timur Tengah. Selain memiliki ambisi menyatukan negara-negara Arab, Nasser juga bertekad melenyapkan negara Israel karena menurutnya negara Israel didirikan di atas wilayah yang sudah lebih dulu ditempati oleh bangsa Arab. Maka, Nasser pun mencoba memperkuat militer Mesir dengan cara membeli persenjataan baru dari Uni Soviet. Pada bulan Mei 1967, Mesir juga membuat kesepakatan militer dengan Yordania.

Melihat perkembangan situasi tersebut, Israel berkesimpulan kalau mereka harus menyerang lebih dulu sebelum diserang duluan oleh negara-negara Arab tetangganya. Maka, pada tanggal 5 Juni 1967 pesawat-pesawat Israel melakukan serangan mendadak ke pangkalan udara Mesir. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya Perang 6 Hari antara Israel melawan Mesir, Yordania, & Suriah.

Tidak lama seusai melakukan serangan udara, pasukan darat Israel melakukan serangan besar-besaran ke Semenanjung Sinai, Mesir timur. Hasilnya, seusai perang wilayah Mesir mengalami penyusutan karena wilayah Semenanjung Sinai kini berada di bawah kekuasaan Israel. Kondisi serupa juga turut dialami oleh Suriah & Yordania yang masing-masingnya harus kehilangan sebagian wilayah akibat diduduki oleh Israel.

Para tentara Mesir yang menyerah semasa Perang 6 Hari. (commons.wikimedia.org)

Kekalahan Mesir dalam Perang 6 Hari menyebabkan Nasser merasa begitu terguncang. Maka, ia pun menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden pada tanggal 9 Juni 1967. Namun respon yang ditunjukkan oleh publik ternyata sungguh di luar dugaan. Tidak lama setelah Nasser mengumumkan pengunduran dirinya, jutaan orang Arab di dalam & luar Mesir beramai-ramai turun ke jalan & memohon supaya Nasser membatalkan keputusannya.

Merasa tersentuh karena ternyata masih banyak rakyat Mesir yang mendukung dirinya, Nasser pun membatalkan keputusannya untuk mundur dari kursi Presiden. Nasser sesudah itu mendedikasikan waktunya untuk membangun kembali militer Mesir & mencopot tokoh-tokoh yang menurutnya memiliki andil dalam kekalahan Mesir.



NASSER DI TAHUN-TAHUN TERAKHIRNYA

Di luar Mesir, keretakan juga mulai timbul antara pemerintah Yordania dengan kelompok PLO (kelompok pejuang kemerdekaan Palestina yang saat itu menggunakan wilayah Yordania sebagai markasnya). Saat konflik antara keduanya akhirnya memuncak menjadi perang terbuka, Nasser pun memutuskan untuk turun tangan dengan menggelar pertemuan di kota Kairo pada tanggal 27 September 1970.

Lewat pertemuan tersebut, perwakilan Yordania & PLO setuju untuk berhenti berperang. Namun kabar baiknya harus berhenti sampai di sana. Pada tanggal 28 September, Nasser secara tiba-tiba terkena serangan jantung. Kendati Nasser sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya sudah tidak bisa lagi ditolong. Nasser pun dinyatakan meninggal dunia dalam usia 52 tahun.

Peti mati Nasser yang dibalut oleh bendera Mesir saat dikerubungi oleh para pelayat. (ahram.org.eg)

Kabar mengenai wafatnya Nasser langsung menimbulkan kegemparan di seantero Mesir. Saat ia dimakamkan pada tanggal 1 Oktober, ada setidaknya 5 juta pelayat yang menghadiri upacara pemakamannya.

Mereka beramai-ramai berseru "Nasser adalah orang yang dicintai Allah" serta "kami adalah Nasser". Akibat begitu banyaknya pelayat yang ingin melihat peti mati Nasser dari dekat, polisi sampai harus menghalau para pelayat dengan memakai pecut & bambu.

Di negara-negara Arab selain Mesir, warga setempat beramai-ramai membuat upacara pemakaman memakai peti mati kosong untuk mendoakan kepergiannya. Di Beirut, Lebanon, sebanyak 14 orang bahkan sampai meninggal dunia karena warga setempat menangisi kepergian Nasser dengan cara meledakkan dinamit & menembakkan senapan ke udara. Sekarang, Nasser dikenang sebagai salah satu tokoh Arab paling kharismatik yang pernah ada di abad ke-20.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama lengkap : Gamal Abdel Nasser
Tempat, tanggal lahir : Alexandria, 15 Januari 1918
Tempat, tanggal wafat : Kairo, 28 September 1970
Terkenal sebagai : presiden Mesir (1956 - 1970)



REFERENSI

 - . 2008. "Arab-Israeli wars". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 - . 2008. "Naguib, Muhammad". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 - . 2008. "United Arab Republic (U.A.R.)". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Egypt Today. 2021. "Why did Egyptians refuse Nasser’s step down after the 1967 war?".
(www.egypttoday.com/Article/4/104830/Why-did-Egyptians-refuse-Nasser’s-step-down-after-the-1967)

Esfandiari, G.. 2012. "What Is The Nonaligned Movement?".
(www.rferl.org/a/nonalignment-movement-explainer/24685623.html)

History.com. 2009. "Suez Crisis".
(www.history.com/topics/cold-war/suez-crisis)

History.com 2010. "Gamal Abdel Nasser elected president of Egypt".
(www.history.com/this-day-in-history/nasser-elected-president)

History Learning Site. 2015. "Gamal Abdel Nasser".
(www.historylearningsite.co.uk/modern-world-history-1918-to-1980/the-middle-east-1917-to-1973/gamal-abdel-nasser/)

St. John, R.. 2008. "Nasser, Gamal Abdel". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Smith, W.. 2008. "Egypt, flag of". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Time. 1970. "World: Nasser's Legacy: Hope and instability" (1).
(www.time.com/time/magazine/article/0,9171,942325-1,00.html)

Time. 1970. "World: Nasser's Legacy: Hope and instability" (2).
(www.time.com/time/magazine/article/0,9171,942325-2,00.html)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.