Delman & Aneka Macam Taktik Penggunaannya di Medan Perang



Pasukan delman Mesir (kiri atas) saat berperang melawan pasukan delman Hittite. (weaponsandwarfare.com)

Delman / kereta kuda (chariot) adalah kendaraan berupa gerbong yang ditarik oleh kuda. Jauh sebelum teknologi mesin ditemukan, delman menjadi wahana transportasi andalan manusia untuk beragam keperluan.

Kuda bukanlah satu-satunya hewan yang digunakan oleh manusia sebagai penarik gerbong delman. Selain kuda, manusia diketahui juga pernah memanfaatkan keledai, unta, hingga gajah untuk menarik gerbong. Namun kuda merupakan hewan yang paling lazim digunakan sebagai penarik delman karena kuda mudah dijinakkan, memiliki tenaga yang perkasa, & bisa diperintahkan untuk melaju kencang.

Seringnya delman digunakan oleh manusia lantas turut dirasakan di sektor militer. Pada masa Sebelum Masehi, delman banyak digunakan sebagai kendaraan perang di Eropa, India Timur Tengah, & Cina. Namun saat jumlah kuda yang sudah dibiakkan & dilatih oleh manusia semakin banyak, penggunaan delman secara berangsur-angsur digantikan oleh penunggang kuda / kavaleri.

Delman yang mengangkut prajurit pemanah. (gordondoherty.co.uk)

Alasan lain kenapa penggunaan delman perlahan-lahan ditinggalkan adalah karena 1 unit delman biasanya terdiri dari kusir, prajurit, & kuda. Jika dikombinasikan, biaya untuk memberi makan mereka semua tidaklah sedikit. Padahal biaya tersebut bisa dialihkan untuk memberi makan prajurit lainnya.

Gerbong delman juga amat mudah mengalami kerusakan pada bagian rodanya. Kalau sudah begitu, pemilik delman lagi-lagi harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki delmannya. Saat teknologi kendaraan bermotor semakin maju, peran delman sebagai pengangkut barang & prajurit digantikan oleh kendaraan transportasi modern, misalnya truk.

Delman pertama kali digunakan sebagai kendaraan perang pada tahun 2500 SM di Mesopotamia, Irak. Seiring berjalannya waktu, penggunaan delman kian meluas & teknik penggunaannya di medan perang juga semakin beragam. Berikut ini adalah aneka macam fungsi & taktik penggunaan delman di bidang militer.



SEBAGAI KENDARAAN PENGANGKUT TENTARA & LOGISTIK

Delman terdiri dari gerbong / kereta di bagian belakang & kuda penarik di bagian depannya. Jumlah kuda yang digunakan untuk menarik delman bermacam-macam. Ada delman yang hanya ditarik oleh 1 ekor kuda. Namun ada juga delman yang ditarik oleh kuda berjumlah 2, 4, & bahkan lebih.

Semakin banyak kuda yang digunakan, maka beban yang bisa ditarik oleh kuda pun semakin besar. Dengan begitu, delman yang bersangkutan bisa digunakan untuk mengangkut beban yang berat. Misalnya bekal makanan, senjata, hingga tentara yang mengenakan peralatan lengkap.

Bangsa Sumeria / Irak Kuno diketahui sebagai bangsa pertama yang menggunakan delman sebagai kendaraan pengangkut pasukan. Gerbong delman yang digunakan untuk keperluan transportasi militer berukuran besar & memiliki 4 buah roda.

Lukisan Sumeria berusia lebih dari 4.000 tahun yang menampilkan gambar delman & prajurit. (Alonso de Mendoza / wikipedia.org)

Satu gerbong delman biasanya diisi oleh 1 orang kusir & 4 orang prajurit. Saat delmannya sudah tiba di tempat tujuan, para prajurit tersebut kemudian akan turun dari delmannya & berperang layaknya prajurit infantri biasa.

Delman bukan hanya digunakan untuk mengangkut prajurit biasa, tetapi juga untuk mengangkut komandan, panglima, & raja supaya mereka tidak perlu berjalan kaki / menunggang kuda saat hendak pergi menuju medan perang.

Delman yang dinaiki oleh komandan juga didandani semewah mungkin supaya nampak menonjol & mudah dikenali oleh prajurit lainnya. Supaya delman yang dinaiki oleh komandan aman dari serangan musuh, delman tersebut selalu dikelilingi oleh rombongan prajurit bersenjata lengkap.

Sebagai bentuk perlindungan lebih jauh, gerbong delman tersebut juga dinaiki oleh pengawal. Dengan begitu, jika delman yang dinaiki oleh sang komandan kebetulan sedang terpisah dari rombongannya, pengawal tersebut bisa membantu melindungi komandannya hingga delman mereka tiba di tempat yang aman.

Patung terakota perak dari masa Cina Kuno yang menampilkan delman pengangkut kaisar. (chinadaily.com.cn)

Delman bukan hanya bisa digunakan untuk mengangkut manusia, tetapi juga untuk mengangkut stok persenjataan (misalnya anak panah). Suku-suku pengembara semisal suku Hun bertempur dengan cara memanah sambil menunggang kuda. Namun mereka selalu menyiapkan delman yang mengangkut anak panah di dekat lokasi pertempuran.

Pasukan pemanah berkuda bertarung dengan cara mendekat ke arah pasukan musuh, menembakkan panahnya ke arah pasukan musuh, & kemudian mundur kembali supaya musuh tidak bisa menyerang balik.

Taktik ini terus diulangi hingga prajurit berkuda tersebut kehabisan anak panah. Kalau sudah begitu, prajurit berkuda tadi akan pergi menuju delman yang mengangkut anak panah untuk mengisi ulang persediaan anak panahnya. Sesudah itu, prajurit berkuda tadi akan bergegas kembali ke garis depan untuk melanjutkan perang.



SEBAGAI PRAJURIT JARAK JAUH YANG LINCAH

Delman bisa bergerak lebih cepat dibandingkan manusia. Hal itulah yang menjadi penyebab delman akhirnya turut dilibatkan untuk bertempur langsung di garis depan. Karena biaya untuk merawat kuda & gerbong delman tidak sedikit, delman yang digunakan untuk bertempur di medan perang harus dijaga supaya tidak sampai rusak / hancur.

Delman pemanah (chariot archer) lantas diciptakan sebagai jawaban untuk situasi tersebut. Supaya delman pemanah bisa bergerak lebih lincah dibandingkan delman biasa, gerbong delman pemanah hanya dilengkapi dengan 2 buah roda. Sementara gerbong delmannya hanya dinaiki oleh 1 orang kusir & 1 orang pemanah / pelempar tombak.

Mainan yang menampilkan delman & prajurit pelempar tombak. (zinnfigur.com)

Saat pertempuran berlangsung, delman pemanah akan melaju ke arah prajurit musuh & menembakkan panah / tombaknya secara beramai-ramai. Saat prajurit musuh sedang berada dalam kondisi kacau usai dihujani oleh senjata jarak jauh, delman tadi akan langsung menabrak kawanan prajurit musuh supaya mereka tewas / lumpuh di tempat.

Dalam taktik lain, delman pemanah akan melaju ke arah prajurit musuh & menembakkan panah / tombaknya. Namun bukannya terus melaju hingga menabrak prajurit musuh, delman tersebut justru malah memutar balik & kemudian pergi menjauhi pasukan musuh.

Jika prajurit musuh nekat mengejar delman tersebut, prajurit jarak jauh yang sedang menaiki delman hanya perlu menembakkan senjatanya ke arah prajurit yang mengejar. Kalaupun musuh mencoba menggunakan senjata jarah jauh untuk menyerang delman, serangan tersebut tidak akan melukai penumpang delman karena bagian belakang delman kerap dilengkapi dengan tameng.

Jika delman pemanah sudah berada cukup jauh dari pasukan musuh, delman tersebut akan kembali memutar balik untuk pergi ke arah pasukan musuh. Saat sudah berada dalam jarak yang cukup dekat, delman tersebut akan melepaskan serangan jarak jauh ke arah musuh & kemudian mengubah arahnya untuk pergi menjauhi pasukan musuh.

Ilustrasi taktik caracole. Gambar di atas menampilkan sosok prajurit penunggang kuda, namun taktik serupa juga pernah digunakan oleh delman pemanah. (discovermongolia.mn)

Manuver ini dilakukan secara berulang-ulang hingga formasi pasukan musuh tercerai berai. Berkat manuver tersebut, pasukan delman pemanah bisa menyerang musuhnya sambil menghindari serangan balik musuh. Taktik menyerang sambil menghindar ini dikenal dengan sebutan "caracole" atau "tembakan Parthia" (Parthia adalah sebutan untuk wilayah Asia Tengah & Iran di masa Sebelum Masehi).

Meskipun terlihat efektif, delman pemanah juga memiliki kelemahan besar. Delman pemanah hanya bisa melaju di atas tanah yang permukaannya datar & bebas dari benda-benda besar yang bisa menghambat laju delman (misalnya pohon). Sebagai akibatnya, delman pemanah tidak bisa digunakan untuk bertempur di kawasan yang berbukit-bukit & dipenuhi oleh tanaman rimbun.

Saat jumlah kuda yang dibiakkan & dipelihara oleh manusia semakin melimpah, penggunaan delman pemanah secara berangsur-angsur ditinggalkan & digantikan oleh prajurit pemanah berkuda (cavalry archer). Namun saat perkembangan teknologi senjata api semakin maju, delman sempat kembali digunakan sebagai prajurit jarak jauh dengan mobilitas tinggi.

Menjelang berakhirnya Perang Dunia I, wilayah Rusia dilanda perang saudara antara faksi komunis melawan faksi non-komunis. Di tengah-tengah situasi kacau tersebut, sejumlah milisi Ukraina yang dipimpin oleh Nestor Makhno mempersenjatai diri mereka dengan delman yang dilengkapi dengan senapan mesin. Delman dengan senapan mesin ini dikenal dengan nama "tachanka".

Tachanka beroperasi layaknya pasukan gerilya. Kendaraan ini akan diparkir di lokasi yang diduga bakal dilintasi oleh pasukan musuh. Saat musuh sudah menampakkan diri, prajurit tachanka akan langsung menembakkan senapan mesinnya ke arah pasukan musuh. Jika kondisi sudah tidak lagi menguntungkan, prajurit tachanka hanya perlu memacu kudanya untuk melarikan diri ke tempat lain.

Tachanka juga bisa bergerak sambil menembaki musuh yang sedang mengejarnya karena senapan mesin pada gerbong tachanka posisinya meghadap ke arah belakang. Karena terbukti efektif, penggunaan tachanka kemudian turut diadopsi oleh pasukan Polandia, Uni Soviet, & bahkan Nazi Jerman.


Tachanka, delman yang dilengkapi dengan senapan mesin.


SEBAGAI PENABRAK PASUKAN MUSUH

Dalam pertempuran yang terjadi sebelum era modern, "charging" merupakan taktik yang bisa mengubah alur peperangan secara instan. Charging adalah sebutan untuk taktik berlari secepat mungkin ke arah prajurit untuk menabraknya.

Taktik charging biasanya dilakukan oleh pasukan berkuda / kavaleri karena kuda yang melaju kencang bisa menimbulkan cedera serius pada orang yang ditabraknya. Jika taktik charging berhasil dilakukan, formasi pasukan musuh akan tercerai berai & prajurit musuh tidak bisa lagi bertempur secara kompak, sehingga mereka jadi lebih mudah untuk dihabisi.

Selain menggunakan pasukan berkuda, delman juga pernah digunakan untuk taktik charging pada masa Sebelum Masehi. Delman yang digunakan untuk taktik charging biasanya digolongkan sebagai delman kelas berat (heavy chariot). Pasalnya delman untuk taktik charging memiliki tameng & baju zirah yang lebih lengkap, serta prajurit yang jumlahnya lebih banyak.

Delman berat kadang-kadang juga dilengkapi dengan bilah pisau (scythe) pada bagian poros rodanya. Tujuannya supaya delman tersebut bisa tetap melukai orang di sekelilingnya saat orang tersebut tidak tertabrak oleh delman.

Delman yang dilengkapi dengan bilah pedang di bagian depan & rodanya. (Arturuiz / flickr.com)

Seperti halnya delman pemanah, delman berat juga mengangkut prajurit pemanah & pelempar tombak dalam gerbongnya. Namun berbeda dengan delman pemanah, prajurit yang menaiki gerbong delman berat juga dilengkapi dengan senjata jarak dekat seperti pedang, tombak, hingga gada. Tujuannya supaya delman tersebut bisa melawan balik saat sedang melaju lambat di tengah-tengah gerombolan prajurit musuh.

Karena delman berat memiliki perlengkapan yang lebih lengkap & prajurit yang jumlahnya lebih banyak, delman berat biasanya ditarik oleh setidaknya 2 ekor kuda. Delman berat juga tidak bisa melaju kencang dalam jarak yang terlalu jauh. Sebelum pertempuran dimulai, pasukan delman berat biasanya didampingi oleh prajurit infantri & penunggang kuda.

Delman berat tidak bisa berbelok terlalu tajam. Kuda yang menarik delman juga tidak akan mau melaju jika pasukan yang ada di hadapannya masih berada dalam formasi rapat & masih memegang senjata lengkap.

Untuk mengakalinya, sebelum pasukan delman berat memulai serangannya, pasukan musuh akan ditembaki terlebih dahulu memakai panah & batu kerikil. Di India, komandan pemilik pasukan delman berat akan memerintahkan pasukan gajah untuk melaju lebih dulu ke arah formasi pasukan musuh. Tujuannya supaya prajurit musuh merasa panik & meninggalkan formasinya.

Jika momen yang dinanti sudah tepat, pasukan delman berat kemudian akan melaju secepat mungkin ke arah pasukan musuh untuk menabrak mereka. Saat delman berat sudah berhasil menerobos formasi pasukan musuh, akan ada banyak prajurit musuh yang mati bergelimpangan akibat terlindas delman. Sesudah itu, prajurit pemanah di atas gerbong delman akan menembakkan senjatanya untuk menghabisi sisa-sisa prajurit musuh.

Delman yang hendak menabrak prajurit musuh. (realmofhistory.com)

Meskipun terlihat berbahaya, delman berat aslinya memiliki sejumlah kelemahan besar. Kelemahan pertama adalah delman berat hanya bisa melaju di atas tanah yang permukaannya datar. Jika delman tersebut dipaksa melaju di atas tanah yang permukaannya tidak rata, delman tersebut bisa tergelincir / mengalami kerusakan pada rodanya.

Kelemahan kedua, delman berat tidak bisa mengubah arahnya secara mendadak. Jadi ketika delman berat melaju sekencang mungkin ke arah formasi pasukan musuh, pasukan musuh hanya perlu membuka formasinya sendiri supaya delman tersebut melaju di sela-sela formasi tanpa melukai 1 orang pun. Taktik ini pernah digunakan oleh pasukan Makedonia saat menghadapi pasukan delman Persia dalam Pertempuran Gaugamela (331 SM).

Kelemahan ketiga, delman berat memiliki kecepatan yang lebih lambat dibandingkan dengan delman pemanah. Sebagai akibatnya, dalam pertempuran antar sesama delman, delman berat akan mengalami kekalahan karena tidak bisa mengimbangi kecepatan delman pemanah yang bisa bergerak lincah sambil menembakkan senjatanya.

Contoh dari peristiwa tersebut pernah terjadi dalam Pertempuran Kadesh (1288 / 1274 SM) antara pasukan Mesir Kuno melawan pasukan Hittite / Het (suku bangsa yang pernah mendiami wilayah Turki). Pertempuran ini juga dikenang sebagai pertempuran antar delman terbesar di era Sebelum Masehi.

Dalam pertempuran tersebut, pasukan delman Hittite pada awalnya berhasil mengalahkan pasukan infantri Mesir. Namun begitu Mesir mengerahkan pasukan delman pemanah miliknya, alur pertempuran berbalik & pasukan Mesir berhasil keluar sebagai pemenang.


Delman pemanah Mesir Kuno (depan) saat menyerang delman pasukan Hittite.


SEBAGAI BENTENG BERJALAN

Delman bukan hanya berguna dalam kondisi bergerak. Dalam kondisi diam, delman juga memiliki peran yang tak kalah penting. Jika gerbong delman dilepas dari kudanya, gerbong tersebut bisa dirangkaikan 1 sama lain hingga membentuk tembok / pagar raksasa. Para penumpang delman kemudian akan bersembunyi di balik barikade gerbong delman sambil menembaki musuhnya.

Taktik merangkaikan gerbong delman dikenal sebagai taktik "wagenburg" (benteng kereta; wagon fort) atau "laager" (bahasa Afrikaan untuk "perkemahan"). Gerbong delman yang digunakan untuk taktik ini biasanya berukuran besar & memiliki dinding gerbong yang tinggi. Bagian dinding gerbong juga dilengkapi dengan lubang-lubang kecil supaya bisa digunakan untuk menembakkan senjata jarak jauh.

Taktik serupa wagenburg pertama kali digunakan oleh pasukan Dinasti Han Cina di abad ke-2 SM dalam perang melawan suku pengembara Xiongnu. Kemudian pada abad ke-15, taktik wagenburg kemudian dihidupkan kembali oleh Hussite, gerakan keagamaan yang melakukan pemberontakan di wilayah Eropa Tengah.

Setiap kali hendak melakukan pertempuran, pasukan Hussite akan merangkaikan gerbong-gerbong delmannya dalam formasi melingkar. Sesudah itu, para milisi Hussite yang dipersenjatai dengan tombak, tongkat pecut (flail), panah, & meriam kecil akan bersembunyi di dalam & di balik gerbong.

Begitu pasukan musuh menampakkan diri, pasukan Hussite akan langsung menembaki mereka dengan meriam & panah. Jika pasukan musuh pada akhirnya berhasil mencapai dinding luar gerbong delman, pasukan Hussite yang dilengkapi dengan senjata jarak dekat akan langsung menyerang pasukan musuh bertubi-tubi.

Pasukan Hussite (kiri) saat menyerang pasukan musuh dari balik gerbong delman. (historynet.com)

Mainan yang menampilkan sosok delman pasukan Hussite saat sedang tidak berperang. (blundersonthedanube.blogspot.com)

Saat makin banyak prajurit musuh yang berguguran sebelum berhasil menerobos barikade delman Hussite, pasukan musuh akan bergegas mundur dengan sendirinya. Jika momen tersebut sudah tiba, pasukan Hussite akan langsung pergi meninggalkan delmannya untuk mengejar sisa-sisa pasukan musuh & menghabisi mereka.

Taktik wagenburg terbukti sebagai taktik yang efektif karena pasukan yang kalah jauh dalam hal jumlah personil bisa tetap memenangkan pertempuran selama mereka tetap bersiaga di balik barikade delman tanpa meninggalkan celah.

Taktik wagenburg juga membantu melambungkan popularitas meriam di Eropa. Sebelum pasukan Hussite melakukan pemberontakan, meriam masih jarang digunakan sebagai senjata karena akurasinya masih buruk & waktu pengiasan ulangnya lama. Namun berkat keberadaan barikade delman, pasukan pengguna meriam bisa melakukan pengisian ulang meriam tanpa harus khawatir bakal diserang oleh pasukan musuh.

Saat Perang Hussite berakhir pada tahun 1434, taktik wagenburg kemudian menyebar hingga ke seantero Eropa. Di Rusia contohnya, pasukan Cossack diketahui kerap menggunakan taktik wagenburg saat bertempur melawan pasukan Ottoman & Polandia.

Di luar Eropa, saat orang-orang Eropa bermigrasi ke Benua Amerika & Afrika untuk memulai hidup baru, mereka juga menggunakan taktik wagenburg supaya bisa bertahan hidup dari ancaman hewan buas & suku-suku pribumi.

Rombongan delman kaum imigran Eropa di Amerika yang sedang membentuk formasi melingkar. (westerngames. wordpress.com)

Para imigran Eropa melakukan perjalanan panjang dengan memakai beberapa unit delman sekaligus. Saat mereka merasakan adanya bahaya, mereka akan langsung menata gerbong-gerbong delman miliknya dalam formasi melingkar. Sesudah itu, mereka akan menembaki musuh dari balik gerbong dengan memakai senapan.

Jika musuh sudah menyerah & mundur, para imigran tersebut kemudian akan melanjutkan perjalanan. Kemudian saat sudah tiba waktunya untuk beristirahat pada malam hari, mereka akan kembali menata delman-delman mereka dalam formasi melingkar, lalu melakukan jaga malam secara bergiliran.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Ali, A.. "The Wagenburg: How wagons became a medieval weapon of war".
(www.medievalists.net/2019/01/wagenberg-war-wagons/)

De Baker, F.. 2009. "Evolution of War Chariot Tactics in the Ancient Near East".
(https://www.academia.edu/768238/Evolution_of_War_Chariot_Tactics_in_the_Ancient_Near_East)

Fawcett, L.. "Under Siege: A Brief History of Afrikaners and Ulster Presbyterians".
(link.springer.com/chapter/10.1057/9780333983270_2)

Fleming, E.. 2020. "Why were wagons put in a circle after traveling each day?".
(www.sidmartinbio.org/why-were-wagons-put-in-a-circle-after-traveling-each-day/)

History on the Net. "The Wheels of War: Evolution of the Chariot".
(www.historyonthenet.com/the-wheels-of-war-evolution-of-the-chariot)

Kinnear, J.. 2022. "Red Army Tachanki".
(www.keymilitary.com/article/red-army-tachanki)

Lal, A.. 2018. "Chariots in Ancient Indian Warfare".
(www.worldhistory.org/article/1269/chariots-in-ancient-indian-warfare/)

Napoleon, His Army and Enemies. "Cossacks of the Napoleonic Wars".
(napoleonistyka.atspace.com/cossacks.htm)

Man, J.. 2010. "Attila the Hun" (hal. 128-131). Bantam Press, Inggris.

Mark, J.J.. 2012. "The Battle of Kadesh & the First Peace Treaty".
(www.worldhistory.org/article/78/the-battle-of-kadesh--the-first-peace-treaty/)

Plugins, R.Q.. 2013. "Chariot".
(www.worldhistory.org/chariot/)

Wasson, D.L.. 2012. "Battle of Gaugamela".
(www.worldhistory.org/Battle_of_Gaugamela/)

Wikipedia. "Battle of Mobei".
(en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Mobei)
  






COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.