FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Bosnia, Banjir Darah di Jantung Yugoslavia




Menara kembar di Sarajevo yang sedang terbakar. (Sumber)

Bosnia, atau lengkapnya Bosnia & Herzegovina, adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di Semenanjung Balkan. Negara yang beribukota di Sarajevo ini dikenal sebagai 1 dari sedikit negara Eropa yang memiliki populasi penduduk Muslim dominan. Bosnia juga dikenal sebagai salah satu negara termuda di Eropa karena negara ini baru mendapatkan kemerdekaannya pada dekade 90-an. Upaya Bosnia untuk mendapatkan kemerdekaan sendiri sama sekali tidak mudah karena dalam prosesnya, Bosnia sempat menjadi arena dari salah satu konflik bersenjata paling mengerikan di abad ke-20 : Perang Bosnia.

Perang Bosnia (Bosnian War; Rat u Bosni) adalah sebutan untuk perang yang terjadi di wilayah Bosnia-Herzegovina (saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Yugoslavia) antara tahun 1992 hingga 1995. Secara garis besar, perang ini merupakan konflik bersenjata antara etnis Bosniak, etnis Kroasia / Kroat, & etnis Serbia / Serb yang memiliki kepentingannya masing-masing. Etnis Bosniak ingin menjadikan Bosnia sebagai negara merdeka. Etnis Kroasia ingin menggabungkan sebagian wilayah Bosnia dengan wilayah negara Kroasia. Sementara etnis Serbia yang sedang mendominasi pemerintahan Yugoslavia ingin mempertahankan keutuhan sisa-sisa wilayah Yugoslavia.

Perang Bosnia merupakan konflik terbesar & terparah dalam periode disintegrasi Yugoslavia yang berlangsung selama dekade 90-an. Selama perang, banyak terjadi aksi pembantaian antar etnis di mana aksi-aksi tadi didominasi oleh pasukan dari etnis Serbia. Penyebab utama mengapa intensitas perang di Bosnia bisa sedemikian parah adalah karena Bosnia merupakan negara bagian Yugoslavia yang komposisi penduduknya paling beragam & lokasinya tepat berada di tengah-tengah Yugoslavia. Ketika perang berakhir, Bosnia menjadi negara merdeka dengan sistem pemerintahan yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk mencegah dominasi etnis tertentu dalam pemerintahan Bosnia.

Mujahidin Bosnia yang sedang
melakukan parade. (Sumber)
Karena etnis-etnis yang terlibat dalam Perang Bosnia memiliki komposisi agama mayoritas yang berbeda 1 sama lain, Perang Bosnia lantas menjadi magnet bagi relawan-relawan asing untuk ikut berperang di Bosnia atas dasar solidaritas agama & etnis. Sebagai contoh, etnis Bosniak yang mayoritasnya beragama Islam dibanjiri oleh milisi-milisi mujahidin yang datang dari Timur Tengah & minoritas Muslim di negara-negara Barat. Sementara etnis Kroasia yang mayoritasnya Katolik mendapat bantuan dari para anggota Neo-Nazi di negara-negara Eropa Barat & Utara. Etnis Serbia yang mayoritasnya Kristen Ortodoks sendiri mendapat bantuan dari para relawan Yunani & negara-negara pecahan Uni Soviet



LATAR BELAKANG

1. Beragamnya Komposisi Etnis & Agama di Bosnia

Yugoslavia adalah negara di Semenanjung Balkan yang sudah lama terkenal akan komposisi penduduknya yang beragam. Maka, bukan hal yang aneh kalau kemudian Bosnia sebagai salah satu negara bagian Yugoslavia juga memiliki komposisi penduduk yang beragam. Ada 3 etnis utama yang menyusun Bosnia, yaitu etnis Bosniak (sebutan lain untuk Muslim Bosnia), Kroasia, & Serbia. Kalau berdasarkan jumlahnya, etnis-etnis dengan jumlah penduduk terbanyak berturut-turut adalah Bosniak (populasinya mencapai 44% berdasarkan sensus tahun 1991), Serbia (32,5%), & Kroasia (17%).

Beragamnya komposisi penduduk Bosnia pada gilirannya membuat wilayah tersebut rentan terkena konflik antar etnis. Di masa Perang Dunia II contohnya, ketika Bosnia dikuasai oleh kelompok Ustasa yang bersekutu dengan Blok Poros, terjadi aksi saling bantai antara etnis Kroasia (dilakukan oleh Ustasa) dengan etnis Serbia (dilakukan oleh Chetnik). Ketika PDII berakhir & wilayah Yugoslavia bertransformasi menjadi negara komunis, Josip Broz Tito selaku Presiden Yugoslavia membungkan kebebasan berekspresi masing-masing etnis & mencitrakan Yugoslavia sebagai negara multietnis yang rakyatnya bisa hidup berdampingan 1 sama lain.

Peta lokasi dari Bosnia. (Sumber)
Upaya Tito untuk menjaga perdamaian di wilayah Yugoslavia yang beragam terbantu oleh statusnya sebagai pemimpin pasukan pembebasan Yugoslavia dari pendudukan negara-negara Blok Poros, sehingga ia dianggap bak pahlawan oleh rakyatnya sendiri. Tito juga mencitrakan dirinya sebagai contoh toleransi antar etnis karena dia lahir dari ayah berdarah Kroasia, ibu berdarah Slovenia, & memiliki istri berdarah Serbia. Ketika Tito meninggal, tidak ada lagi sosok di Yugoslavia yang cukup kharismatik untuk menjembatani hubungan antar etnis. Buntutnya, ide kemerdekaan di masing-masing negara bagian pun mulai timbul ke permukaan seiring dengan semakin memanasnya hubungan antar etnis di pemerintahan.


2. Lokasi Bosnia yang Strategis & Dipenuhi Gudang Senjata

Bosnia di era Yugoslavia merupakan salah satu kawasan yang amat vital sebagai akibat dari letaknya yang berada tepat di tengah-tengah Yugoslavia. Di sebelah utara, barat, & selatan, wilayah Bosnia dikelilingi oleh Kroasia. Sementara di sebelah timur, Bosnia berbatasan langsung dengan Serbia & Montenegro. Ketika Perang Bosnia meletus, etnis-etnis non-Bosniak yang ada di Bosnia memanfaatkan lokasi Bosnia yang diapit oleh negara-negara bagian tadi untuk mendapatkan bantuan logistik & tentara.

Ketika Perang Dingin masih berlangsung, Yugoslavia adalah 1 dari 3 negara di Semenanjung Balkan yang tidak tergabung dalam Blok Timur (2 negara lainnya adalah Yunani & Turki). Hal tersebut lantas memunculkan kekhawatiran dari Tito kalau negaranya mungkin akan diinvasi oleh negara-negara Blok Timur suatu hari nanti. Untuk mengantisipasinya, Tito lalu memerintahkan pembangunan gudang senjata dalam jumlah besar di Bosnia untuk keperluan perang gerilya. Ketika Yugoslavia pecah & Perang Bosnia meletus, gudang-gudang senjata tadi lantas dimanfaatkan oleh para tentara & milisi Serbia untuk mempersenjatai diri.


3. Semakin Dominannya Etnis Serbia dalam Pemerintahan Yugoslavia

Slobodan Milosevic. (Sumber)
Di era kerajaan, Serbia merupakan etnis terbanyak sekaligus paling dominan di Yugoslavia. Maka, untuk mencegah dominasi etnis Serbia & menarik simpati etnis-etnis non-Serbia di Yugoslavia, Tito selaku pendiri Republik Yugoslavia menerapkan kebijakan-kebijakan yang cenderung mengorbankan etnis Serbia. Sebagai contoh, wilayah Makedonia & Montenegro yang awalnya merupakan bagian dari Serbia dipisah dari Serbia & dijadikan negara bagian sendiri. Lalu provinsi Kosovo & Vojvodina yang juga berlokasi di wilayah Serbia diberikan otonomi khusus. Etnis Serbia makin kecewa pada Tito karena wilayah Bosnia timur (cikal bakal Republik Srpska) yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Serbia malah tidak diberikan otonomi apa-apa.

Tahun 1980, Tito meninggal sehingga terbukalah peluang bagi orang-orang Serbia untuk mengupayakan perubahan. 9 tahun kemudian, Slobodan Milosevic yang berhaluan ultranasionalis terpilih menjadi presiden negara bagian Serbia di mana ia berhasrat mengubah Yugoslavia menjadi "Serbia Raya", sebuah negara yang penduduknya hanya diisi oleh etnis Serbia. Sebagai langkah awal, Milosevic berniat menghapus praktik rotasi presiden antar wakil-wakil negara bagian & menggantinya dengan pemilu presiden berskala nasional yang bisa diikuti oleh setiap individu. Rencana yang jika diterapkan akan membuat kandidat dari etnis Serbia bakal memenangi pemilu karena Serbia adalah etnis dengan populasi terbanyak di Yugoslavia.

Selain reformasi dalam hal pemilu, Milosevic juga berencana menghapus otonomi negara bagian & memperkuat sentralisasi pemerintahan dengan Beograd - ibukota Yugoslavia merangkap Serbia - sebagai pusatnya. Ambisi Milosevic tersebut nampak semakin mendekati kenyataan setelah ia berhasil menempatkan sekutu-sekutunya menjadi wakil daerah Kosovo, Vojvodina, & Montenegro dalam lembaga Kepresidenan yang menangani masalah-masalah kebijakan nasional. Namun di lain pihak, rencana Milosevic ganti menuai rasa tidak suka dari negara-negara bagian Yugoslavia yang lain (salah satunya Bosnia) sehingga hubungan antara etnis Serbia dengan etnis non-Serbia pun mulai memburuk.

Milisi Serbia yang sedang menendang
warga sipil Bosniak. (Sumber)
Tahun 1991, Slovenia, Kroasia, & Makedonia memerdekakan diri dari Yugoslavia. Bosnia tidak mau ketinggalan & setahun kemudian, Bosnia menggelar referendum yang berhasil dimenangkan golongan pendukung kemerdekaan. Namun referendum tersebut dianggap bermasalah karena tidak mendapat izin dari pemerintah Yugoslavia & referendumnya diboikot oleh etnis Serbia di Bosnia. Lepas dari fakta tersebut, Parlemen Bosnia yang didominasi oleh Bosniak menganggap kalau hasil referendum tetap sah & mereka pun mendeklarasikan kemerdekaan Bosnia pada tanggal 3 Maret 1992. Pemerintah Yugoslavia lantas meresponnya dengan cara mempersenjatai orang-orang Serbia di Bosnia, sekaligus mengawali dimulainya salah satu konflik paling berdarah di Eropa semenjak berakhirnya Perang Dunia II.



BERJALANNYA PERANG

Penembakan Dibalas Penembakan

Tanggal 9 Januari 1992, etnis Serbia di Bosnia mendeklarasikan pendirian "Republik Srpska" sebagai pemerintahan tandingan dari parlemen negara bagian Bosnia yang keanggotaannya didominasi oleh etnis non-Serbia. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 Maret 1992, seorang ekstrimis Bosniak melakukan penembakan ke sebuah parade pernikahan di ibukota Sarajevo & menewaskan 1 orang yang berasal dari etnis Serbia. Sebulan kemudian, ketika ribuan orang yang berasal dari beragam etnis menggelar parade damai di Sarajevo, seorang ekstrimis Serbia menembaki parade tersebut & menewaskan 6 orang dalam prosesnya.

Tanggal 6 April 1992, organisasi Uni Eropa menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan Bosnia. Sehari kemudian, giliran Amerika Serikat yang menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan Bosnia. Merasa geram karena dunia internasional memilih untuk mengakui Bosnia sebagai negara merdeka alih-alih bagian dari wilayah Yugoslavia, militer Yugoslavia (Serbia) yang dibantu oleh milisi-milisi Serbia memulai invasinya ke ibukota Sarajevo & sekitarnya. Karena pasukan Serbia memiliki keunggulan dalam hal persenjataan, mereka sukses menduduki area di sekitar Sarajevo dalam waktu relatif singkat. Di wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan oleh pasukan Serbia, banyak warga sipil Bosniak & Kroasia yang menjadi sasaran pembunuhan, penyiksaan, & pemerkosaan massal.

Tank pasukan PBB. (Sumber)
Bulan Juni 1992, pasukan Bosniak & Kroasia yang awalnya bersekutu terlibat konflik satu sama lain karena negara Kroasia berniat mencaplok wilayah Bosnia selatan yang populasinya didominasi oleh etnis Kroasia. Bosnia pun kini menjadi arena konflik segitiga antara etnis Bosniak, Kroasia, & Serbia. Seperti nasib saudara-saudaranya di Bosnia timur, orang-orang Bosniak yang berada di wilayah taklukan pasukan Kroasia juga menjadi sasaran pembantaian & pemerkosaan massal. Memasuki akhir tahun 1992, seluruh wilayah Bosnia selatan sudah berada di tangan pasukan Kroasia. Sementara wilayah Bosnia utara & timur berada di bawah kendali pasukan Serbia. Wilayah sisanya yang mencakup Bosnia tengah & barat laut merupakan wilayah yang masih berada di bawah kekuasaan pasukan Bosniak.

Dunia internasional sendiri bukannya diam saja melihat situasi di Bosnia yang semakin berlarut-larut. Bulan Mei 1992, PBB menjatuhkan sanksi & pengucilan internasional kepada pemerintah pusat Yugoslavia. Sebulan kemudian, pasukan perdamaian PBB (UNPROFOR) diterjunkan ke Bosnia. Lalu pada bulan April 1993, NATO atas izin PBB menerapkan zona larangan terbang di atas wilayah Yugoslavia. Di bulan berikutnya, PBB mengumumkan pendirian "zona aman PBB" sebagai daerah penampungan warga sipil Bosnia yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang bersenjata (dengan pengecualian untuk tentara PBB tentunya). Ada 6 daerah yang dijadikan zona aman PBB, yaitu Sarajevo, Srebrenica, Gorazde, Tuzla, Zepa, & Bihac.


Kawan jadi Lawan, Lawan jadi Kawan

Sudah disinggung sebelumnya kalau wilayah yang masih berada di bawah kendali Bosniak adalah wilayah Bosnia barat laut & tengah, dengan wilayah Srpska milik etnis Serbia membentang di antara kedua wilayah tadi. Terisolasinya wilayah Bosnia barat laut lantas dimanfaatkan oleh Fikret Abdic untuk mendeklarasikan berdirinya "Provinsi Otonomi Bosnia Barat" (POBB) yang wilayahnya mencakup kota Velika Kladusa & sekitarnya. Kemunculan POBB menjadi kontroversi karena POBB enggan mengakui dirinya sebagai bagian dari pemerintahan Bosniak pimpinan Alija Izetbegovic. Sebagai akibatnya, timbullah konflik antara sesama Bosniak dengan pasukan pro-Fikret di 1 sisi & pasukan pro-Alija di sisi yang berseberangan. Perpecahan internal di kubu Bosniak tersebut lantas dimanfaatkan oleh etnis Serbia dengan cara mendukung POBB.

Milisi Bosniak & Kroasia di Mostar,
Bosnia selatan. (Sumber)
Bulan Maret 1994, via perundingan yang difasilitasi oleh AS di ibukota Washington, perwakilan Kroasia-Bosnia & Bosniak sepakat untuk berhenti memerangi satu sama lain. Kedua belah pihak juga sepakat menyatukan wilayah kekuasaannya masing-masing menjadi "Federasi Bosnia & Herzegovina". Dengan dicapainya kesepakatan ini, konflik di Bosnia pun kembali mengerecut menjadi konflik 2 sisi antara pasukan etnis Kroasia & Bosniak melawan pasukan etnis Serbia. Dikombinasikan dengan bantuan persenjataan & serangan udara pasukan NATO, pasukan koalisi Bosniak-Kroasia sukses menaklukkan wilayah demi wilayah yang awalnya dikuasai oleh pasukan etnis Serbia. Situasi makin runyam bagi etnis Serbia karena sanksi embargo yang dijatuhkan PBB atas Yugoslavia membuat Yugoslavia dilanda krisis ekonomi.

Memasuki tahun 1995, ketika situasi di medan perang semakin tidak menguntungkan bagi etnis Serbia, mereka semakin berani menargetkan zona-zona aman yang dijaga oleh pasukan UNPROFOR. Tuzla menjadi zona aman pertama yang jatuh ke tangan pasukan Srpska (Serbia) pada bulan Mei 1995. 2 bulan kemudian, giliran Srebrenica yang direbut oleh pasukan Srpska. Di Srebrenica pulalah, terjadi peristiwa pembantaian terbesar dalam Perang Bosnia di mana lebih dari 8.000 warga sipil Bosniak dilaporkan tewas. Pasukan PBB asal Belanda yang sedang berada di lokasi Pembantaian Srebrenica tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka kalah jumlah personil & persenjataan.

Rentetan aksi serangan & pembantaian yang dilakukan pasukan etnis Serbia di zona-zona aman PBB pada akhirnya membuat PBB & NATO kehilangan kesabaran. Sejak bulan Agustus 1995, pasukan udara NATO & pasukan darat PBB melakukan operasi militer gabungan untuk menghancurkan basis-basis militer etnis Serbia di Bosnia. Tempat-tempat di Serbia (termasuk ibukota Beograd) juga mulai dihujani oleh serangan udara pasukan NATO. Dikombinasikan dengan makin anjloknya popularitas Milosevic di mata rakyatnya sendiri, pemerintah Serbia akhirnya mengibarkan bendera putih & bersedia mengikuti perundingan damai di kota Dayton, Ohio, AS, bersama-sama dengan perwakilan Kroasia & Bosniak.



KONDISI PASCA PERANG

Suasana dalam peresmian
Perjanjian Dayton. (Sumber)
Tanggal 14 Desember 1995, pihak-pihak yang terlibat dalam perundingan damai akhirnya berhasil mencapai kesepakatan dalam wujud Perjanjian Dalton. Via perjanjian damai ini, pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Bosnia akan berhenti mengangkat senjata. Sebuah badan yang dipimpin oleh orang luar Bosnia dibentuk oleh PBB untuk membantu mengawasi jalannya pemerintahan & perdamaian. Lalu untuk urusan keamanan, NATO menerjunkan puluhan ribut tentaranya di wilayah Bosnia. Dicapainya Perjanjian Dayton sekaligus menandai berakhirnya Perang Bosnia secara resmi.

Perang Bosnia merupakan konflik paling berdarah dalam periode perpecahan Yugoslavia. Jumlah korban tewas akibat perang ini dilaporkan mencapai lebih dari 100.000 jiwa. Selain korban jiwa, Perang Bosnia juga membuat lebih dari 2 juta orang kehilangan tempat tinggal. Tingginya korban dalam Perang Bosnia tidak lepas dari kebijakan pihak-pihak yang bertikai untuk membantai & menggusur paksa penduduk dari etnis rivalnya, supaya wilayah yang baru saja dikuasai nantinya bisa ditempati oleh penduduk etnisnya sendiri. Pasca perang, sebuah komisi khusus dibentuk oleh PBB untuk mengadili orang-orang yang diduga ikut terlibat dalam kegiatan genosida & kejahatan kemanusiaan di Bosnia.

Perjanjian Dayton menjamin status Bosnia sebagai negara merdeka, namun dengan perombakan signifikan dalam sistem politik & administrasinya. Bosnia dijadikan negara republik federasi yang terdiri dari 2 negara bagian utama : Federasi Bosnia-Herzegovina yang berpenduduk mayoritas Bosniak & Kroasia, serta Republik Sprska yang berpenduduk mayoritas Serbia. Masing-masing negara bagian diberi kebebasan luas dalam hal pengelolaan urusan internalnya. Khusus untuk daerah Brcko yang terletak di perbatasan Federasi BH & Srpska bagian utara, daerah tersebut dianggap sebagai daerah yang terpisah dari 2 negara bagian tadi & berada langsung di bawah kendali pemerintah pusat.

Peta Bosnia berikut negara-negara
bagian yang menyusunnya.
Untuk mencegah terjadinya dominasi etnis tertentu, Bosnia menerapkan kebijakan penjatahan berbasis etnis di institusi pemerintahan pusatnya. Etnis Bosniak, Kroasia, & Serbia diberi jatah jumlah kursi parlemen yang sama. Konsep serupa juga dipraktikkan Bosnia untuk menentukan presidennya. Masing-masing etnis akan menggelar pemilu presiden yang berarti setiap kali pemilu presiden selesai digelar, Bosnia akan memiliki 3 presiden baru. Pemegang jabatan presiden lalu dirotasi setiap 8 bulan di antara mereka bertiga. Terkesan rumit memang, namun sistem ini dianggap efektif dalam mencegah konflik antar etnis.

Ketika Bosnia pertama kali merdeka dengan Alija sebagai presidennya, Bosnia menggunakan bendera putih dengan logo tameng ungu di bagian tengahnya. Karena lambang tersebut dianggap terlalu berbau Bosniak, etnis Kroasia & Serbia di Bosnia enggan mengibarkan bendera tersebut & lebih memilih mengibarkan bendera negaranya masing-masing. Ketika Perang Bosnia berakhir, PBB terpaksa turun tangan untuk membuatkan desain bendera baru untuk Bosnia. Hasilnya, didapatlah desain bendera biru dengan motif segitiga kuning di mana bendera tersebut menjadi bendera nasional Bosnia hingga sekarang. PBB juga membuatkan lagu kebangsaan untuk Bosnia di mana lagunya tidak menggunakan lirik supaya terkesan netral.

Sekarang, Bosnia sudah tidak lagi dilanda perang. Dengan bantuan dunia internasional, negara tersebut mulai membangun dirinya kembali. Sektor pariwisata menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat Bosnia. Namun upaya Bosnia untuk bangkit masih terkendala oleh banyak hal. Masing-masing etnis masih dilanda sentimen fanatisme yang tinggi sehingga pemerintah pusat Bosnia kerap merasa kesulitan saat harus membuat kebijakan. Maraknya praktik korupsi juga menjadi masalah lain bagi Bosnia. Pada akhirnya, apapun rintangan yang masih harus dihadapi Bosnia, semoga penduduk negara tersebut bisa menemukan solusinya - demi masa depan Bosnia & demi kebaikan mereka bersama.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1992 - 1995
    - Lokasi : Bosnia & Herzegovina

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Bosnia & Herzegovina, Kroasia*, NATO*
    (Grup)  -  milisi pro-Bosniak
          melawan
    (Negara)  -  Kroasia**
    (Daerah)  -  Herzeg-Bosnia**
    (Grup)  -  milisi pro-Kroasia**
          melawan
    (Negara)  -  Yugoslavia
    (Daerah)  -  Srpska, POBB
    (Grup)  -  milisi pro-Serbia
          melawan
    (Negara)  -  UNPROFOR***, NATO***

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang
    - Yugoslavia mengakui kemerdekaan Bosnia
    - Bosnia berubah menjadi negara dengan sistem federal

4. Korban Jiwa
    Lebih dari 100.000 jiwa

Keterangan :
*   = 1994 - 1995
**  = 1992 - 1994
*** = 1993 - 1994



REFERENSI

BBC News - Tito's widow, Jovanka Broz, dies in Belgrade, aged 88
GlobalSecurity.org - War and Ethnic Cleansing in Yugoslavia
GlobalSecurity.org - The Road to Disintegration
GlobalSecurity.org - Tito's Yugoslavia
Reuters - Timeline : What happened during the war in Bosnia?
SETimes.com -  BiH Country Info
Wikipedia - Autonomous Province of Western Bosnia
Wikipedia - Bosnian War
Wikipedia - Dayton Agreement
 - . 2008. "Bosnia and Herzegovina". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Bosnia and Herzegovina, flag of". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS. 
 - . 2008. "Tito, Josip Broz". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Sell, L.. 2002. "Slobodan Milosevic and the Destruction of Yugoslavia". Duke University Press, AS.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

8 komentar:

  1. thanks broo... jadi mempunyai gambaran tentang situasi di bosnia... perang diamanapun yang paling kena akibat adalah orang2 yang tidak tahu dan tidak terlibat didalamnya...

    BalasHapus
  2. Salam peduli dan tanggap bencana

    BalasHapus
  3. Terima kasih artikelnya sangat bermafaat sekali

    BalasHapus
  4. lucu juga kalo pasukan UN takut.......tuh ysng dipimpin belanda.......PENGECUT or pembiaran atas pembantaian etnis

    BalasHapus
  5. jadi ingat kembali saat saya masih sekolah, tvri isisnya perang terrus dan kelapran.

    BalasHapus
  6. perang hanya menimbulkan penderitaan
    semoga tidak ada perang lagi atas nama ras manusia

    BalasHapus
  7. Memang memprihatinkan,sebetulnya ada skenario supaya Yugoslavia pecah,https://analisasejarah.wordpress.com/2016/10/21/cia-dan-pembantaian-di-bosnia/

    BalasHapus
  8. agak lucu juga di bagian ketika mendesain bendera dan lagu nasional PBB yng turun tngn.
    semoga aman damai selalu.

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.