SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Perang Cina-Soviet, Saat Beruang Ditantang Naga



Pasukan perbatasan Cina & Uni Soviet ketika saling berhadapan. (Sumber)

Cina & Uni Soviet merupakan 2 negara komunis terbesar di dunia semasa Perang Dingin. Begitu besarnya wilayah & penduduk yang dimiliki oleh kedua negara tersebut bakal membuat negara manapun merasa gentar saat harus berhadapan dengan keduanya sekaligus. Namun realita menunjukkan kalau kesamaan ideologi tidak lantas membuat hubungan antara keduanya pasti baik-baik saja. Perang Cina-Soviet adalah contoh dari konflik yang pernah terjadi di antara kedua negara.

Perang Cina-Soviet / Perang Perbatasan Cina-Soviet (Sino-Soviet Border War) adalah konflik bersenjata yang terjadi di perbatasan Cina & Uni Soviet pada tahun 1969. Kendati perang ini berlangsung kurang dari setahun dengan skala pertempuran yang tidak begitu besar, perang ini memiliki dampak jangka panjang yang begitu besar. Pasalnya seusai perang, negara-negara komunis di berbagai belahan dunia terbelah menjadi kubu pro-Soviet & kubu pro-Cina.



LATAR BELAKANG

1. Perbedaan Pandangan Pasca Meninggalnya Stalin

Karena sama-sama menganut ideologi komunis, bukan hal yang aneh jika kemudian Cina & Uni Soviet memiliki hubungan yang dekat. Sejak permulaan dekade 1950-an, Uni Soviet mengirimkan ribuan tenaga ahlinya ke Cina & memberikan uang pinjaman lunak senilai 300 juta dollar AS kepada Cina. Kemudian untuk membantu memodernisasi sektor militer Cina, Uni Soviet membantu memasok perlengkapan & teknologi terkini ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

Tahun 1953, Joseph Stalin selaku pemimpin Uni Soviet meninggal dunia. Nikita Khrushchev kemudian naik menjadi pemimpin Uni Soviet yang baru. Sejak masa pemerintahan Khrushchev inilah, hubungan Cina & Uni Soviet secara berangsur-angsur meregang. Memburuknya hubungan kedua negara bermula ketika pada tahun 1956, Khrushchev dalam pidatonya mengkritik hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh Stalin.

Peta Uni Soviet & Cina. (Sumber)

Pidato Khrushchev tersebut ganti menuai rasa tidak suka dari Mao Zedong - pemimpin Cina - karena ia selama ini menjadikan Stalin sebagai panutannya. Mao lantas menuding kalau Soviet di masa pemerintahan Khrushchev sudah menyimpang dari ajaran komunis Marxisme-Leninisme yang sesungguhnya. Rasa tidak suka Mao kepada Khrushchev semakin menjadi setelah pada tahun 1959, Uni Soviet tidak mau lagi membantu Cina mengembangkan senjata nuklirnya

Soviet sendiri melakukan hal tersebut karena pada saat itu, mereka sedang terlibat perundingan dengan AS mengenai pembatasan senjata nuklir. Kemudian pada tahun 1960, Uni Soviet menarik mundur seluruh tenaga ahlinya dari Cina tanpa memberitahu pihak Cina terlebih dahulu. Tahun 1962, saat terjadi Krisis Misil Kuba, Soviet ternyata lebih memilih untuk mundur daripada melanjutkan pengiriman misil ke Kuba.

Keputusan Soviet di Kuba membuat Mao beranggapan kalau Soviet di bawah Khruschev bersikap terlalu lembek di hadapan Blok Barat. Khrushchev sendiri memang memiliki kebijakan luar negeri "peaceful coexistence" (hidup berdampingan secara damai) di mana menurutnya, Blok Barat & Timur bisa tetap bersama-sama tanpa terlibat konflik. Justru Khruschev menaruh kecurigaan kepada Cina karena menurutnya, Cina secara diam-diam memiliki ambisi untuk menggeser posisi Soviet sebagai negara paling dominan di Blok Timur.


2. Sengketa Garis Batas Kedua Negara

Sebelum Cina menjadi negara republik, Cina awalnya merupakan negara kekaisaran yang diperintah oleh Dinasti Qing. Pada tahun 1860 melalui Traktat Beijing / Peking, pemerintah Rusia berhasil memaksa Cina / Qing menyerahkan wilayah seluas 400.000 km persegi kepada Rusia. Qing sendiri terpaksa menyerahkan sebagian wilayahnya karena militer mereka pada waktu itu sedang berada dalam kondisi lemah akibat meletusnya Perang Candu & Pemberontakan Taiping.

Berdasarkan traktat yang sama, Sungai Amur & Ussuri yang terletak di Asia bagian timur ditetapkan sebagai perbatasan baru kedua negara. Namun masalah baru kemudian timbul setelah rezim komunis Cina mempermasalahkan isi traktat tersebut lebih dari seabad kemudian. Menurut Cina, yang menjadi batas antara Cina & Rusia (saat itu Uni Soviet) adalah bagian pertengahan Sungai Amur & Ussuri.

Peta Sungai Amur & Sungai Ussuri. (Sumber)

Klaim Cina tersebut ditolak oleh Uni Soviet yang berpendapat kalau seluruh bagian sungai beserta pulau-pulau kecil di dalamnya adalah wilayah milik Soviet. Untuk memperkuat klaimnya tersebut, Uni Soviet menunjukkan peta perbatasan Cina & Rusia yang dibuat pada tahun 1861. Namun kali ini giliran Cina yang menolak mengakui klaim Uni Soviet.

Menurut pihak Cina, karena peta tersebut menggunakan skala yang lebih kecil dari 1 : 1.000.000, maka informasi akurat mengenai garis perbatasan kedua negara menjadi samar-samar. Kedua negara sebenarnya sempat melakukan perundingan di Beijing, Cina, pada tahun 1964 untuk membahas masalah sengketa perbatasan ini. Namun karena kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah, perundingan itu pun berakhir tanpa hasil & hubungan antar negara terus memanas.



MENINGKATNYA KETEGANGAN DI PERBATASAN (1965 - 1968)

Tahun 1964, Khrushchev mundur dari posisinya sebagai pemimpin Uni Soviet. Leonid Brezhnev kemudian naik menjadi pemimpin baru Negeri Beruang Merah. Mao awalnya berharap kalau lengsernya Khrushchev bisa membantu memperbaiki hubungan Cina & Uni Soviet. Namun impian tersebut seketika sirna begitu ia melihat kalau Brezhnev ternyata tidak memiliki niat mengubah cara pandang negaranya terhadap Cina.

Pada tahun 1966 misalnya, Uni Soviet meresmikan perjanjian baru dengan Mongolia. Via perjanjian baru ini, Uni Soviet diperbolehkan menempatkan pasukannya di Mongolia. Di perbatasan Uni Soviet dengan Cina sendiri, pada tahun 1965 Soviet awalnya hanya menempatkan 14 divisi pasukan. Namun memasuki tahun 1969, jumlah pasukan Uni Soviet sudah membengkak menjadi 34 divisi dengan jumlah total tentara mencapai hampir 300.000 personil.

Cina di lain pihak memiliki 59 divisi pasukan di perbatasan utara negaranya. Namun pasukan tersebut hanya dilengkapi dengan persenjataan seadanya & tidak didukung dengan kendaraan tempur yang memadai. Berbeda jauh dari pasukan perbatasan Uni Soviet yang turut dilengkapi dengan tank, kendaraan pengangkut tentara (APC), meriam artileri, helikopter, & pesawat. Singkatnya, jika pasukan Cina unggul dalam hal jumlah tentara, maka Uni Soviet unggul dalam hal kualitas persenjataan.

Tentara Uni Soviet. (Sumber)

Meningkatnya jumlah tentara di perbatasan kedua negara lantas berdampak pada semakin seringnya terjadi insiden di perbatasan. Pada tanggal 5 Januari 1968, sebanyak 4 orang di kubu Cina bahkan sampai meninggal akibat kontak senjata antara pasukan perbatasan Cina & Uni Soviet di Pulau Qiliqin, Sungai Ussuri. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi insiden pertama di perbatasan Cina & Uni Soviet yang merenggut korban jiwa.

Bulan Agustus 1968, pasukan Uni Soviet yang dibantu oleh negara-negara Eropa Timur anggota Pakta Warsawa beramai-ramai menginvasi Cekoslovakia. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi contoh dari kebijakan luar negeri baru Uni Soviet yang bernama "Doktrin Brezhnev". Berdasarkan doktrin tersebut, Uni Soviet merasa memiliki hak untuk menginvasi negara komunis lain jika dirasa perlu. Doktrin tersebut ganti menuai kekhawatiran dari Cina yang merasa kalau negaranya kelak bakal menjadi sasaran berikutnya.



MELETUSNYA PERANG (1969)

Saat Dua Raksasa Berebut Pulau Kecil

Pada awal bulan Maret 1969, sebanyak 300 tentara Cina secara diam-diam menyelinap masuk ke Pulau Zhenbao, Sungai Ussuri. Kemudian pada tanggal 2 Maret, sebanyak puluhan tentara Cina berparade ke Pulau Zhenbao / Damansky dengan melintasi lapisan es sungai sambil menyanyikan lagu yang mengagung-agungkan pemimpin Cina. Karena peserta parade tersebut nampak sebagai rombongan yang tidak bersenjata, pasukan Uni Soviet yang sedang menjaga perbatasan pada awalnya hanya sebatas mencegat & menegur para peserta parade.

Tanpa diduga-duga oleh pasukan perbatasan Soviet, mereka langsung ditembaki oleh barisan belakang parade yang ternyata membawa senjata secara diam-diam. Tidak lama kemudian, sebanyak 300 tentara Cina yang sudah menyusup lebih dulu beramai-ramai keluar dari persembunyiannya & menyerang pasukan Uni Soviet. Baku tembak pun berlangsung selama 2 jam & baru berakhir setelah pasukan Cina mundur kembali ke negaranya.

Tidak diketahui secara pasti apa alasan Cina nekat menyusupkan tentaranya ke balik perbatasan Uni Soviet hingga memicu insiden baku tembak. Namun para pengamat meyakini kalau tindakan tersebut merupakan cara dari pemerintah pusat Cina untuk memberikan peringatan tidak tertulis kepada Uni Soviet. Jika kelak Uni Soviet nekat menginvasi Cina, maka Cina tidak akan segan-segan melawan balik.

Foto Pulau Zhenbao di musim semi tahun 2016. (Sumber)

Jika Cina berharap kalau tindakan mereka menyerang pasukan Uni Soviet di Zhenbao bakal membuat pasukan Soviet mengurungkan niatnya untuk menginvasi Cina, maka realita di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Alih-alih merasa takut, tindakan Cina tadi justru malah membuat Uni Soviet bersikap semakin agresif kepada Cina. Sebabnya adalah Uni Soviet merasa curiga kalau Cina bakal kembali menginvasi Uni Soviet saat Soviet sedang berada dalam kondisi tidak siap.

Tanggal 15 Maret, pasukan kedua negara kembali terlibat bentrokan di Zhenbao. Dalam pertempuran yang berlangsung selama 9 jam ini, Cina menerjunkan lebih dari 2.000 tentaranya. Pasukan Uni Soviet di lain pihak mengerahkan 50 tank miliknya & menembakkan lebih dari 10.000 peluru artileri. Dalam pertempuran ini, pasukan Cina berhasil merampas tank T-62 milik Uni Soviet & kemudian membawanya ke ibukota Beijing untuk dipamerkan.

Uni Soviet tidak mau kalah. Pasca pertempuran yang terjadi pada tanggal 15 Maret, beredar siaran radio dari kota Moskow yang dikumandangkan dalam bahasa Mandarin. Siaran tersebut berisi peringatan kalau Uni Soviet tidak segan-segan menembakkan senjata nuklirnya ke Cina. Kemudian pada bulan Juni, pasukan Uni Soviet menggelar latihan perang di Mongolia & Siberia timur. Dalam latihan tersebut, pasukan Uni Soviet berpura-pura sedang menyerang fasilitas militer milik Cina.

Selama ini konflik perbatasan antara pasukan Cina & Uni Soviet berlangsung di perbatasan timur kedua negara. Namun pada tanggal 13 Agustus, konflik akhirnya melebar ke perbatasan barat atau tepatnya di sebelah utara Xinjiang. Pada tanggal tersebut, pasukan Soviet yang dilengkapi dengan APC, tank, & 2 helikopter melakukan serangan tiba-tiba ke Tielieketi & berhasil menewaskan 38 tentara Cina.

Pertempuran di Tielieketi menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Cina karena mereka selama ini memanfaatkan wilayah Xinjiang untuk menguji coba senjata nuklirnya. Ditambah lagi, karena Xinjiang terletak jauh dari kota-kota besar Cina yang umumnya terletak di sebelah timur, pemerintah Cina merasa khawatir kalau pihaknya tidak bisa mengirimkan pasukan ke garis depan tepat waktu jika konflik melawan pasukan Soviet di Xinjiang terus berlanjut.


Peta lokasi Xinjiang di masa sekarang.


Ancaman Nuklir oleh Soviet

Perang yang terjadi antara Cina & Soviet akhirnya turut menarik perhatian Amerika Serikat (AS) setelah pada tanggal 18 Agustus, anggota Kedutaan Besar Uni Soviet di Washington bertanya kepada pejabat AS mengenai apa reaksi AS jika Uni Soviet kelak benar-benar menembakkan senjata nuklirnya ke Cina. Perdebatan pun muncul di lingkungan pemerintah pusat AS mengenai bagaimana mereka sebaiknya menyikapi Perang Cina-Soviet ini.

Jika AS mendukung Cina secara terang-terangan, AS khawatir kalau hubungan AS dengan Uni Soviet bakal semakin memburuk & Uni Soviet tidak akan mau lagi mematuhi kesepakatannya dengan AS mengenai pembatasan senjata pemusnah massal. Namun jika AS mendukung Uni Soviet, AS khawatir kalau Cina kemudian malah bertindak semakin agresif & membahayakan keberadaan pasukan AS di Asia Tenggara. Kebetulan saat Perang Cina-Soviet ini meletus, Perang Vietnam juga masih berlangsung.

Atas pertimbangan tersebut, AS pun memutuskan untuk tetap mengambil sikap netral selama berlangsungnya Perang Cina-Soviet. Sementara itu di Cina, begitu pemerintah Cina mendengar kabar kalau Uni Soviet sempat membocorkan niatnya ke sejumlah pejabat AS & Eropa Timur untuk menyerang Cina dengan senjata nuklir, para petinggi Cina kini menganggap kalau ancaman Soviet untuk menuklir Cina bukanlah gertak sambal semata, melainkan ancaman yang benar-benar nyata.

Sebagai antisipasi kalau Soviet kelak bakal benar-benar meluncurkan senjata nuklirnya, Cina membentuk lembaga khusus untuk mempersiapkan evakuasi warga sipil & pemindahan alat-alat industri berat. Pemerintah Cina juga menginstruksikan warga sipil di sebelah utara untuk bersiap-siap mengangkat senjata jika pasukan Soviet kelak benar-benar melakukan invasi besar-besaran. Cina juga memperingatkan kalau pihaknya siap mengerahkan ratusan juta rakyatnya untuk menginvasi Uni Soviet jika wilayah Cina diserang lebih dulu.


Tank T-62 Soviet di Museum Beijing, Cina. (Sumber)

Uni Soviet sendiri bukannya tidak mau berdamai dengan Cina sama sekali. Mereka sudah berulang kali mengajak Cina untuk berunding, namun tawaran Soviet tersebut selalu ditolak oleh Cina yang menolak untuk berunding selama Uni Soviet masih mengakui keberadaraan Traktat Beijing (1860) yang menurut Cina terlalu mengistimewakan pihak Rusia / Soviet. Namun seiring dengan semakin kuatnya ancaman serangan nuklir oleh pihak Soviet, Cina akhirnya berubah pikiran & bersedia melakukan perundingan dengan perwakilan Soviet

Perundingan damai antara Cina & Soviet dilangsungkan pada tanggal 20 Oktober di kota Beijing, Cina. Karena Cina merasa curiga kalau Soviet mungkin bakal memanfaatkan momen tersebut untuk membawa pasukannya secara diam-diam & melumpuhkan Cina dari dalam, Mao sempat mengungsi ke kota Wuhan, Cina tengah, beberapa hari sebelum perundingan berlangsung. Namun ketakutan tersebut nyatanya tak terbukti karena pesawat Uni Soviet yang datang ke bandara kota Beijing ternyata memang hanya mengangkut delegasi Uni Soviet.



KONDISI PASCA PERANG

Pasca perundingan damai di bulan Oktober, pertemuan-pertemuan lanjutan antara Cina & Uni Soviet mengenai perbatasan kedua negara terus berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Tahun 1977, keduanya akhirnya sepakat mengenai batas-batas yang boleh dilayari di Sungai Ussuri. Kendati Cina & Uni Soviet tidak pernah lagi terlibat perang sesudah tahun 1969 (kecuali sejumlah insiden kecil di perbatasan), hubungan Cina & Uni Soviet sudah terlanjur mengalami keretakan & tidak pernah membaik hingga runtuhnya Uni Soviet di tahun 1991.

Retaknya hubungan Cina & Uni Soviet pasca perang di tahun 1969 dikenal dengan sebutan "Perpecahan Cina-Soviet" (Sino-Soviet Split). Dampak paling terasa dari perpecahan ini adalah terbelahnya Blok Timur menjadi kubu pro-Soviet & kubu pro-Cina. Di Asia Tenggara misanya, sempat terjadi perang antara Vietnam melawan Kamboja / Kampuchea pada tahun 1977 hingga 1979. Jika Vietnam didukung oleh Uni Soviet, maka Kampuchea didukung oleh Cina.

Untuk memperkuat posisi tawarnya di dunia internasional sambil membatasi pengaruh Uni Soviet di luar negeri, Cina juga mulai membuka diri kepada negara-negara lain, termasuk Blok Barat. Pada tahun 1971 misalnya, Cina membuka hubungan dagang dengan AS & memperbolehkan warga negara AS berkunjung ke Cina. Karena sejumlah atlet tenis meja AS sempat melakukan pertandingan persahabatan di Cina pada tahun 1971, periode membaiknya hubungan Cina & AS sejak awal dekade 1970-an juga dikenal dengan sebutan "Diplomasi Ping Pong".

Mao Zedong (kiri) saat bersalaman dengan presiden AS, Richard Nixon. (Sumber)

Selain dengan AS, Cina juga membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara non-komunis seperti Inggris (1972), Malaysia (1974), serta Filipina & Thailand (1975). Cina juga kembali menjalin hubungan diplomatik dengan India pada tahun 1976 setelah sempat terputus sejak tahun 1962 akibat meletusnya Perang Cina-India. Dalam ranah organisasi internasional, rezim komunis Cina sejak tahun 1971 diakui sebagai pemegang hak veto PBB menggantikan Republik Cina / Taiwan.

Membaiknya hubungan AS dengan Cina tidak lantas membuat hubungan AS dengan Uni Soviet meregang. Pada tahun 1972, Richard Nixon selaku presiden AS sempat melakukan kunjungan ke ibukota Moskow untuk menandatangani 10 perjanjian resmi. Salah satu perjanjian yang ditandatangani Nixon dalam kunjungannya tersebut adalah SALT I di mana dalam perjanjian tersebut, AS & Uni Soviet setuju untuk tidak menambah jumlah senjata roket lintas benua miliknya masing-masing hingga 5 tahun kemudian.

Dalam jangka panjang, Perang Cina-Soviet menjadi penyebab tidak langsung runtuhnya Uni Soviet. Pasalnya saat pasukan Uni Soviet menduduki Afganistan sejak tahun 1979, Cina - beserta AS & sejumlah negara Muslim - memberikan bantuan uang & persenjataan kepada para pejuang anti-Soviet di Afganistan. Saat perekonomian Uni Soviet kian melemah akibat terus berlanjutnya perang, Uni Soviet pun terpaksa menarik mundur tentaranya dari Afganistan pada tahun 1989. Lalu hanya berselang 2 tahun kemudian, Uni Soviet mengalami keruntuhan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 1979
- Lokasi : perbatasan Cina & Uni Soviet

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Cina
     melawan
(Negara)  -  Uni Soviet

Hasil Akhir
Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas

Korban Jiwa
Tidak jelas (sekitar ratusan jiwa)



REFERENSI

All About History - The Sino-Soviet Border War
China Daily - China, US celebrate 48th anniversary of....
GlobalSecurity.org - Chinese Invasion of Vietnam
GlobalSecurity.org - Compound War Case Study
Gerson, M.S.. 2010. "The Sino-Soviet Border Conflict". (file PDF)
 - . 2008. "Nixon, Richard M.." Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Ussuri River." Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
A. Henderson & I. Miller. 2001. "A Political ... East Asia" (hal. 37-40). Taylor & Francis, Inggris.

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Download PDF

8 komentar:

  1. Admin, Sebenarnya simbol tradisional China itu yang paling dominan Naga atau Panda ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dua-duanya bisa, karena keduanya sama-sama tergolong sebagai sesuatu yang khas dari Cina. Tapi kalau untuk simbol kenegaraan, naga lebih banyak dipilih sejak era kekaisaran karena naga menyimbolkan kekuatan & naga memiliki peran penting dalam mitologi Cina.

      Hapus
    2. min, mongolia itu sebenarnya pro ke soviet atau ke cina?

      Hapus
    3. Mongolia lebih condong ke Uni Soviet. Sejak tahun 1920-an, Mongolia sudah menjadi negara komunis berkat campur tangan Uni Soviet. Dan karena pengaruh Uni Soviet pada Mongolia begitu mengakar, Mongolia masih menggunakan aksara Cyrillic sebagai aksara resminya hingga sekarang, biarpun Mongolia sudah tidak lagi diperintah oleh rezim komunis.

      Hapus
  2. Bedanya sebutan "China" sama "Tiongkok" itu apa ya? Apa memang punya sejarah nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saja. Nama "Cina" (China) biasanya digunakan oleh kalangan berbahasa Inggris untuk menyebut negara yang bersangkutan. Sementara nama "Tiongkok" itu sebutan untuk negara Cina dalam bahasa Hokkien (semacam rumpun bahasa dari Cina selatan). Kalau orang Cina sendiri menyebut negaranya dengan nama "Zhongguo".

      Di Indonesia, awalnya nama Cina yang lebih sering digunakan. Namun karena nama tersebut juga kerap digunakan untuk ejekan berbau rasial, sejak tahun 2000-an nama Tiongkok mulai lebih sering digunakan oleh meda-media lokal.

      Hapus
    2. Terimakasih Penjelasannya

      Hapus
  3. Sayangnya uni sosial saat itu lebih sering dari Tiongkok karena sudah Menguasai Teknis Bom Hidrogen, sementara Tiongkok Baru dapat dasarnya!

    BalasHapus

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda ingin mencetak atau menyimpan artikel ini dalam format PDF, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.