SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Makna Lirik Lagu Coldplay - Viva La Vida



Cuplikan dari video klip "Viva La Vida".


Coldplay adalah nama dari grup musik / band asal Inggris. Band yang terbentuk pada tahun 1996 ini seharusnya bukanlah nama yang asing bagi mereka yang menyukai musik-musik Barat yang bergenre rock. Dari sekian banyak lagu yang pernah dibuat oleh band ini, salah satu lagu buatan mereka yang paling terkenal sekaligus fenomenal adalah "Viva La Vida".

"Viva La Vida" (VLV) adalah lagu buatan Coldplay yang dirilis pada tahun 2008 dalam album "Viva la Vida or Death and All His Friends" (Viva La Vida atau Kematian & Semua Sahabatnya). Lagu VLV tergolong sebagai lagu yang unik karena meskipun lagu ini menggunakan judul berbahasa Spanyol, lirik lagu ini justru sama sekali tidak menggunakan bahasa Spanyol. Kata "viva la vida" sendiri jika diterjemahkan kurang lebih memiliki arti "jayalah kehidupan".

Menurut vokalis Chris Martin, alasan mengapa bandnya menggunakan judul VLV untuk lagu ini adalah karena mereka terinspirasi dari lukisan berjudul serupa yang dibuat oleh pelukis terkenal Meksiko, Frida Kahlo, pada tahun 1954. Lukisan tersebut menampilkan beberapa buah semangka, di mana semangka yang terletak di barisan depan nampak menampilkan tulisan "Viva La Vida" beserta nama sang pelukis.

Kahlo digambarkan membuat lukisan tersebut tidak lama setelah ia menjalani amputasi pada kakinya. Karena Martin merasa terkesan atas kisah di balik terciptanya lukisan tersebut & pesan yang terukir pada lukisannya, Martin pun memutuskan untuk mengadopsi nama tersebut sebagai judul lagu terbaru untuk bandnya.

Guy Berryman selaku pemain bass Coldplay menjelaskan kalau lagu VLV pada intinya ingin bercerita soal raja yang baru saja terguling dari tahtanya & jalan hidup manusia yang tidak akan pernah luput dari kesalahan. Martin menambahkan bahwa saat bandnya membuat lagu ini, ia berandai-andai bagaimana jadinya jika seseorang bunuh diri karena ingin cepat masuk surga, tapi kemudian malah dihukum oleh penjaga alam kematian karena arwah orang tersebut semasa hidupnya banyak melakukan kesalahan.

Begitu lagu ini dirilis ke pasaran, respon yang ditunjukkan oleh penggemar musik sungguh luar biasa. Di tangga lagu Billboard Hot 100, lagu VLV sempat menduduki posisi pertama. Kemudian di ajang penghargaan musik Grammy Awards, lagu ini berhasil memenangkan penghargaan "Song of the Year" (lagu tahun ini) untuk edisi tahun 2009. Jadi dalam kesempatan kali ini, pihak Republik akan membahas makna dari lagu VLV & pesan yang dikandungnya.


Lukisan "Viva La Vida" buatan Frida Kahlo. (Sumber)


ANALISA LIRIK

Bagian I

I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning, I sleep alone
Sweep the streets I used to own


Bagian ini ingin menggambarkan kondisi sang pelantun lagu. Dia awalnya berposisi sebagai raja yang wilayah kekuasaannya membentang hingga ke benua lain, sehingga kerajaannya seolah-olah memiliki wilayah kekuasaan yang mencakup seluruh dunia (I used to rule the world). Kemudian setiap kali ia berpidato di balkon istananya sendiri, lautan manusia akan berkumpul sambil bersorak sorai (seas would rise when I gave the word).

Namun sejak ia turun dari tahtanya, kehidupannya seketika berubah drastis. Kini setiap hari ia tidur seorang diri tanpa ada pelayan yang mendampinginya (I sleep alone). Kemudian saat pagi tiba (now in the morning), ia harus bersusah payah menyapu jalanan supaya nampak bersih. Padahal saat ia dulunya masih menjadi raja, sudah ada orang lain yang membersihkan jalan untuknya (sweep the streets I used to own).

Dalam konteks yang lebih umum, bagian ini juga bisa dimaknai sebagai penggambaran kondisi seseorang yang dulunya hidup dalam kondisi penuh kenyamanan, namun sekarang harus berjuang dari bawah. Misalnya orang yang dulunya kaya, namun kini jatuh miskin & harus hidup terlunta-lunta. Atau orang yang dulunya hidup nyaman bersama keluarganya, namun kemudian pergi merantau & harus melakukan semuanya sendiri di tempat tinggal barunya.


I used to roll the dice
Feel the fear in my enemy's eyes
Listen as the crowd would sing
Now the old king is dead! Long live the king!


Bagian ini ingin menggambarkan kondisi sang pelantun lagu ketika sedang memainkan permainan di atas papan (board game). Entah itu monopoli, ular tangga, atau bahkan judi memakai dadu. Setiap kali ia melempar dadunya (roll the dice), pemain lawan bakal bakal senantiasa menunjukkan ekspresi khawatir (feel the fear in my enemy's eyes).

Pasalnya jika sang pelantun lagu mendapatkan angka dadu yang bagus, maka ia bisa menyelesaikan permainan dengan lebih cepat & keluar sebagai pemenang. Ketika sang pelantun lagu akhirnya keluar sebagai pemenang, mereka yang menyaksikan permainan ini pun beramai-ramai menyanjung sang pelantun lagu dengan penuh gegap gempita (listen as the crowd would sing).

Namun apakah bagian ini hanya semata ingin bercerita soal permainan di atas papan? Tentu tidak. Jika kita melihat permainan papan sebagai analogi dari peperangan yang sesungguhnya, maka dadu bisa dianggap sebagai bentuk pengandaian / analogi dari kondisi-kondisi yang muncul di medan perang. Misalnya kondisi cuaca, kelancaran logistik, kondisi permukaan tanah, & lain sebagainya.

Jika kondisi-kondisi yang muncul semuanya menguntungkan pasukan milik sang pelantun lagu, maka ia pun berpeluang memenangkan perang & membunuh raja yang menjadi lawannya (the old king is dead). Jika perang ini terjadi akibat masalah perebutan tahta, maka sang pelantun lagu kini menjadi raja yang baru menggantikan raja sekaligus lawannya yang sudah gugur. Dampaknya, rakyat pun kini beramai-ramai menyoraki sang pelantun lagu sebagai raja baru mereka (long live the king).


One minute I held the key
Next the walls were closed on me
And I discovered that my castles stand
Upon pillars of salt and pillars of sand


Bagian ini ingin menggambarkan sang pelantun lagu saat membayangkan masa-masa sebelum ia terpuruk seperti sekarang. Saat ia masih menjadi raja, sang pelantun lagu bisa keluar masuk istananya sendiri dengan bebas karena ia memiliki kunci (I held the key). Namun sejak ia sudah tidak lagi menjadi raja, ia tidak bisa lagi masuk ke istananya sendiri sehingga bisa dibilang ia terkunci di luar (the walls were closed on me).

Saat sang pelantun lagu melihat kembali istananya secara seksama (I discovered that my castles), ia menyadari kalau istananya ternyata dibangun di atas pilar-pilar yang terbuat dari garam & pasir (pillars of salt and pillars of sand). Seperti yang kita tahu, pasir & garam merupakan komponen yang rapuh sehingga benda-benda yang terbuat dari kedua komponen tadi bakal hancur dengan lebih cepat.

Jika kita melihat penjelasan soal istana tadi sebagai pengandaian semata, maka sang pelantun lagu pada dasarnya ingin mengatakan bahwa kerajaan yang selama ini ia pimpin ternyata selama ini memiliki masalah internal yang tidak kunjung diatasi. Entah itu korupsi, kesenjangan sosial, terlalu bergantungnya kerajaan pada satu sumber pendapatan, & lain sebagainya. Akibatnya, ketika masalahnya sudah semakin parah, kerajaan itu pun dilanda kekacauan & sang pelantun lagu terguling dari tahtanya.


Sampul album "Viva la Vida or Death and All His Friends".


Reffrain I

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can't explain
Once you go there was never
Never an honest word
And that was when I ruled the world


Bagian ini ingin menggambarkan bagaimana sang pelantun lagu menggunakan dalih agama untuk memuaskan ambisi pribadinya. Ia meminta para pengikutnya untuk berperang dengan dalih membebaskan Yerusalem yang dari penguasa agama lain supaya lonceng gereja di Yerusalem bisa kembali berdentang dengan bebas (Jerusalem bells are ringing) & nyanyian gereja yang menyanjung pasukan Romawi Suci bisa kembali terdengar (Roman Cavalry choirs are singing).

Namun apakah sang pelantun lagu benar-benar berperang untuk kepentingan agama? Jika kita melihat kelanjutan dari bagian ini, ternyata tidak. Itulah sebabnya ia sengaja merahasiakan alasan asli ia menyerukan peperangan (for some reason I can't explain) dari para pemuka agama yang menjadi pengikutnya saat mereka sudah tiba di wilayah yang menjadi arena konflik (my missionaries in a foreign field).

Mungkin sang pelantun lagu aslinya berperang hanya untuk memperluas wilayah kekuasaannya sendiri. Mungkin ia sedang mencari harta berharga yang ada di wilayah konflik. Atau mungkin juga dia hanya ingin membuat bangsawan & penguasa lain merasa terkesan. Namun supaya para pengikutnya bersedia mengikuti perintahnya untuk berperang & membahayakan keselamatan mereka sendiri, sang pelantun lagu pun mengarang alasan kalau perang ini memiliki tujuan yang suci meskipun sebenarnya tidak (never an honest word).

Meskipun tindakannya tersebut nampak sebagai tindakan yang kurang terpuji & penuh tipu daya, ia tetap memandang hal tersebut perlu dilakukan demi kejayaan dirinya & kerajaannya. Kerajaannya bisa sehebat sekarang melalui jalur perang. Itulah sebabnya ia menganggap pedang & tamengnya sebagai cermin sekaligus pengingat mengenai bagaimana ia berjuang hingga ia bisa menduduki tahtanya (be my mirror, my sword and shield).

Namun seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, masa di mana ia memegang kekuasaan & bertahta sebagai raja sudah lama berlalu (that was when I ruled the world). Akibat terlalu banyak mengorbankan nyawa & menggunakan tipu daya untuk memuaskan ambisi kekuasaannya, mereka yang dulunya menyanjung sang pelantun lagu kini berbalik memberontak & beramai-ramai mengucilkannya.

Di luar konteks kerajaan, bagian ini juga bisa dimaknai sebagai seseorang yang sudah menyalahgunakan kepercayaan publik & mencatut agama untuk kepentinganya sendiri. Sebagai contoh, ada politikus yang semasa berkampanye giat mencitrakan dirinya sebagai pembela agama. Namun saat sudah memperoleh jabatan, ia malah terlibat dalam hal-hal yang dilarang dalam agamanya semisal korupsi & memfitnah orang-orang yang tidak disukainya.


Bagian II

It was a wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People couldn't believe what I'd become


Bagian ini ingin merefleksikan kondisi sang pelantun lagu saat sudah turun dari tahtanya. Ia kini hanya tinggal di gubuk atau kamar reyot yang pintu & daun jendelanya sudah begitu rapuh. Saking rapuhnya, hembusan angin saja sudah membuat pintunya membuka sendiri (wicked and wild wind, blew down the doors). Saat anginnya mengenai jendela, hembusan angin membuat jendela bergetar & menimbulkan suara berisik (shattered windows and the sound of drums).

Jika mengingat kembali masa di mana sang pelantun lagu tinggal di istana yang kondisinya serba mewah, tidak mengherankan jika kemudian orang-orang yang melihat kondisi sang pelantun lagu merasa kasihan sekaligus setengah tidak percaya (people couldn't believe what I'd become).

Jika bagian ini dimaknai dalam konteks di luar kerajaan, bagian ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang dulunya hidup serba nyaman, namun kini harus hidup sendirian & terlunta-lunta akibat dikucilkan. Entah karena ia dulunya kayak raya & kini jatuh miskin, atau memang ia sendiri yang sengaja mengasingkan diri supaya bisa melarikan diri dari aib masa lalunya.


Band Coldplay saat tampil di Paris pada tahun 2012. (Sumber)


Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh, who would ever want to be king?


Sudah jatuh tertimpa tangga. Kurang lebih seperti itulah kondisi sang pelantun dalam bagian ini. Selain tergusur dari tahtanya & harus hidup dalam kondisi miskin, sang pelantun lagu kini terancam dipenggal oleh para pemberontak & pelaku revolusi (revolutionaries wait) yang berhasil meruntuhkan kerajaannya. Nasibnya kini tak ada bedanya dengan hewan sembelihan yang kepalanya bakal tersaji di atas piring (my head on a silver plate).

Sang pelantun lagu pun merenung kalau ternyata menjadi raja tidaklah senikmat kelihatannya (who would ever want to be king?) karena ia tidak lebih dari boneka tali yang dikendalikan oleh para bangsawan & tokoh berpengaruh di pemerintahan (just a puppet on a lonely string). Karena ia terlalu sibuk menyenangkan dirinya & para bangsawan pendukungnya, kesejahteraan rakyatnya menjadi terabaikan sehingga timbullah revolusi yang menamatkan riwayat kerajaannya.

Bagian ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan bahaya dari kolusi & nepotisme secara umum. Jika mereka yang kurang mahir di bidangnya terlalu sering diberikan keistimewaan, maka negara atau organisasi yang ia pimpin bakal langsung pincang & sulit bangkit begitu diterpa masalah. Dampaknya, organisasi yang dipimpinnya pun terancam ambruk & kehidupan orang banyak juga bakal ikut terdampak.


Reffrain II

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Calvary choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can't explain
I know Saint Peter won't call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world


Bagian ini menggunakan kalimat yang sama dengan reffrain pertama, kecuali pada bait keenamnya. Pada bait tersebut, sang pelantun lagu menjelaskan kalau Santo Petrus tidak akan memanggil nama sang pelantun lagu (I know Saint Peter won't call my name). Santo Petrus adalah rasul Yesus & tokoh suci dalam agama Kristen yang diceritakan disalib hingga tewas pada masa Romawi Kuno karena ia tidak mau melepas keyakinannya.

Pada bait tersebut, sang pelantun lagu membuat pengandaian mengenai bagaimana jadinya jika ia meninggal & kemudian diadili oleh Santo Petrus di alam sesudah kematian. Jika Santo Petrus bisa mengetahui isi hati dari sang pelantun lagu semasa hidupnya, maka sang pelantun lagu tidak akan diperbolehkan masuk ke surga karena saat masih hidup, ia membangun kerajaannya dengan cara memperdaya & mengorbankan orang lain demi ambisi sepihaknya.


Reffrain II

(lihat kembali bagian berjudul serupa)

© Rep. Eusosialis Tawon



SUMBER-SUMBER YANG MEMBANTU

Kahlo.org - Viva la Vida, Watermelons
Lyric Interpretations - Coldplay : Viva La Vida Meaning
Songfacts - Viva La Vida by Coldplay
Wikipedia - Coldplay

Lirik Lagu Coldplay - Viva La Vida
Video Klip Coldplay - Viva La Vida

   




Download PDF

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk menyimpan artikel ini, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.