Komodo, Kadal Raksasa yang Diam-Diam Mematikan



Seekor komodo yang sedang menjulurkan lidahnya. (AdamRiley / projectnoah.org)

Komodo atau biawak komodo (Varanus komodoensis) adalah nama dari sejenis reptil yang pastinya tidak asing bagi para pengunjung sekalian. Ya, itulah nama dari spesies kadal terbesar di dunia yang berasal dari Indonesia. Tepatnya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di daerah aslinya, penduduk setempat mengenal komodo dengan nama "ora".

Di Provinsi NTT, komodo hanya dapat ditemukan di Pulau Komodo, Padar, Nusa Kode, Rinca, Gili Motang, Longos, & Flores. Lima pulau yang disebut pertama sekarang berstatus sebagai kawasan lindung dengan nama Taman Nasional Pulau Komodo. Cukup luasnya persebaran komodo di NTT tidak lepas dari fakta bahwa komodo memang memiliki kemampuan untuk berenang menyeberangi selat kecil.

Peta lokasi Taman Nasional Pulau Komodo. (Tripcanvas Indonesia / pinterest.com)

Komodo dapat dibedakan dari spesies kadal lainnya dengan melihat ukurannya yang amat besar. Panjang totalnya jika diukur dari kepala sampai ujung ekor bisa mencapai 3 meter. Sementara beratnya bisa mencapai 165 kg. Karena ukurannya itu pula, hewan ini di luar negeri dikenal dengan nama "komodo dragon" (naga komodo).

Selain ukurannya, komodo memiliki ciri-ciri berupa tubuh yang gemuk, leher yang besar, ekor yang panjang, & moncong yang berukuran sedang. Di kedua sisi tubuh komodo, terdapat 4 buah kaki yang pendek & bercakar. Sekujur tubuhnya diselubungi oleh sisik yang berwarna cokelat atau kelabu. Kemudian seperti halnya ular, komodo memiliki lidah bercabang 2.



BERBURU MEMAKAI BAU

Komodo memiliki mata berukuran kecil & lubang telinga yang terlihat jelas di belakang matanya. Meskipun komodo memiliki indra penglihatan & pendengaran yang cukup baik, komodo lebih mengandalkan indra penciuman untuk mencari mangsa. Saat ingin mendeteksi bau, komodo akan menjulurkan lidahnya.

Saat senyawa bau sudah menempel di ujung lidah komodo, komodo akan menarik masuk lidahnya & kemudian menyentuhkan ujung lidahnya pada organ Jacobson, organ penciuman yang terletak di bagian atas rongga mulutnya. Dengan cara ini, komodo bisa mendeteksi bau mangsanya hingga jarak 9 km lebih. Adapun selain komodo, ular juga memiliki organ Jacobson di dalam kepalanya.

Bicara soal mangsa, komodo adalah hewan karnivora alias pemakan daging. Makanan utamanya terdiri kambing, babi, kerbau, rusa, & bahkan komodo lain yang ukurannya lebih kecil. Komodo paling suka memakan bangkai, namun mereka juga bisa menyerang & membunuh hewan yang masih hidup jika diperlukan.

Sepasang komodo yang sedang memakan kambing. (indoindians.com)

Saat ingin membunuh mangsa yang masih hidup, komodo akan mengendap-endap mendekati mangsanya. Begitu komodo sudah berada dalam jarak yang cukup dekat, komodo secara tiba-tiba akan berlari cepat ke arah mangsanya & kemudian menggigitnya. Hewan yang sudah digigit oleh komodo kemudian akan mati akibat infeksi atau kehabisan darah.

Komodo adalah hewan berdarah dingin (poikiloterm) yang berarti suhu tubuh hewan ini bergantung pada suhu lingkungan sekitarnya. Untuk menaikkan suhu tubuhnya, komodo memiliki kebiasaan untuk berjemur pada pagi hingga siang hari. Namun jika suhu lingkungan terlalu panas, komodo akan beristirahat di bawah tempat teduh atau bersembunyi di dalam liang yang digalinya.



MENCARI JODOH LEWAT KOTORAN

Musim kawin komodo biasanya terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Jika betina ingin kawin, betina akan mengeluarkan tinja yang berbau khusus. Saat pejantan mendeteksi bau tinja tersebut, pejantan akan segera pergi ke lokasi betina. Jika pejantan sudah menemukan betina, pejantan akan mengajak betina kawin dengan cara mencakar & menjilati tubuh betina.

Jika betina merasa tertarik dengan ajakan pejantan, betina akan menanggapinya dengan cara balik menjilati tubuh pejantan. Sesudah kawin, pejantan kadang-kadang akan tetap bersama betina hingga beberapa hari kemudian supaya betina tidak dikawini oleh pejantan lain.

Betina yang sudah kawin akan mengeluarkan telur-telurnya pada bulan September. Jumlah telur yang dikeluarkan oleh betina bisa mencapai 22 butir. Telur-telur tersebut diletakkan dalam liang yang sudah digali betina. Sesudah selesai mengeluarkan semua telurnya, betina akan menutupi liang tadi dengan tanah. Supaya telur-telurnya semakin aman, betina akan bersiaga di atas liangnya.

Seekor bayi komodo. (Bahnfrend / commons.wikimedia.org)

Komodo betina juga bisa bertelur tanpa melakukan perkawinan terlebih dahulu. Telur yang sudah dikeluarkan tersebut selanjutnya akan menetas menjadi bayi komodo yang tumbuh normal.

Dalam dunia biologi, kemampuan untuk menghasilkan keturunan tanpa kawin dikenal dengan sebutan "partenogenesis". Menurut dugaan ilmuwan, komodo betina akan melakukan partenogenesis jika komodo tersebut sedang berada di habitat baru & ia tidak bisa menemukan komodo jantan di habitatnya.

Telur komodo memerlukan waktu 8 bulan untuk menetas. Begitu keluar dari telurnya, bayi komodo sudah harus mencari makan sendiri. Karena masih berukuran kecil, makanan bayi komodo pun mencakup hewan-hewan kecil seperti serangga, telur, kadal, & mamalia kecil. Supaya aman dari terkaman komodo yang lebih besar, anak komodo memiliki kebiasaan untuk hidup di atas pohon hingga usia 8 bulan.

Anak komodo rentan dimakan oleh hewan predator yang berukuran lebih besar. Namun jika anak komodo berhasil mencapai kedewasaan dengan selamat, komodo tersebut bisa hidup panjang karena komodo dewasa tidak memiliki musuh alamiah di habitat aslinya. Seekor komodo mencapai kematangan seksual pada usia 9 tahun & bisa hidup hingga usia maksimum 50 tahun.



KOMODO & MANUSIA

Komodo nampak seperti hewan yang lamban & tidak berbahaya bagi manusia. Namun jangan sekali-kali memandang remeh komodo. Pasalnya meskipun perilakunya terlihat jinak & malas, komodo bisa bergerak cepat secara tiba-tiba untuk menyerang manusia.

Dalam kasus-kasus yang jarang, serangan komodo bahkan bisa menyebabkan korbannya meninggal dunia. Sementara mereka yang selamat usai terkena serangan komodo bisa menderita luka parah. Oleh karena itulah, orang yang belum berpengalaman sebaiknya tidak sembarangan mendekati komodo.

Perbandingan ukuran manusia dengan komodo. (Kelly Golightly / pinterest.com)

Lepas dari reputasinya sebagai hewan yang "diam-diam mematikan", komodo sejak dulu sudah lama menarik perhatian manusia. Berkat wujudnya yang terlihat menyerupai hewan purba raksasa, banyak wisatawan dari dalam & luar Indonesia yang bersedia datang jauh-jauh ke Pulau Komodo supaya bisa melihat komodo dari dekat.

Untuk menjaga kelestarian komodo, pemerintah Indonesia sudah menetapkan komodo sebagai hewan yang dilindungi. Namun hal tersebut tidak lantas membuat komodo benar-benar aman dari ancaman kepunahan.

Berdasarkan data tahun 2018, populasi komodo diketahui tidak sampai 3.000 ekor. Semakin menyempitnya habitat liar komodo & masih maraknya praktik perdagangan satwa ilegal diyakini menjadi penyebab kenapa komodo sekarang dikategorikan sebagai hewan yang terancam punah (endangered).   -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Varanidae
Genus : Varanus
Spesies : Varanus komodoensis



REFERENSI

Agmasari, S.. 2019. "Cerita Orang Pulau Komodo yang Percaya Satu Leluhur dengan Komodo".
(travel.kompas.com/read/2019/10/06/140000927/cerita-orang-pulau-komodo-yang-percaya-satu-leluhur-dengan-komodo)

Denver Zoo. "Komodo Dragon".
(denverzoo.org/animals/komodo-dragon/)

Lawwell, L. 2006. "Varanus komodoensis".
(animaldiversity.org/accounts/Varanus_komodoensis/)

Nuwer, R.. 2013. "The Most Infamous Komodo Dragon Attacks of the Past 10 Years".
(www.smithsonianmag.com/science-nature/the-most-infamous-komodo-dragon-attacks-of-the-past-10-years-5831048/)

Winata, D.K.. 2019. "Pengawasan Komodo Diperketat".
(mediaindonesia.com/humaniora/226159/pengawasan-komodo-diperketat)

Yam, P.. 2006. "Strange but True: Komodo Dragons Show that "Virgin Births" Are Possible".
(www.scientificamerican.com/article/strange-but-true-komodo-d/)

V. Setyorini & S. Haryati. 2020. "Ministry highlights rising Komodo dragon population in past few years".
(en.antaranews.com/news/159993/ministry-highlights-rising-komodo-dragon-population-in-past-few-years)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.