Perang Toyota, Saat Tank Dikalahkan Mobil Bak Terbuka



Pasukan Chad semasa berlangsungnya Perang Toyota. (unav.edu)

Toyota adalah nama dari perusahaan otomotif yang berasal dari Jepang. Sepanjang perjalanan sejarahnya, sudah tidak terhitung banyaknya mobil & kendaraan bermotor yang diproduksi oleh perusahaan ini. Namun selain terkenal sebagai produsen mobil, nama Toyota juga pernah digunakan untuk menyebut konflik bersenjata yang pernah terjadi di Afrika.

Konflik yang dimaksud di sini adalah Perang Toyota yang terjadi pada tahun 1986 hingga 1987 di wilayah Chad, sebuah negara tanpa wilayah laut yang terletak di tengah-tengah Gurun Sahara, Afrika. Dalam Perang Toyota, pasukan Chad terlibat konflik melawan pasukan Libya akibat memperebutkan wilayah Jalur Aouzou yang terletak di perbatasan Chad & Libya.

Nama "Perang Toyota" (Toyota War) digunakan karena dalam perang ini, pasukan Chad menggunakan mobil bak terbuka / pick up truck buatan Toyota sebagai sarana transportasi utamanya. Karena terbukti efektif, di kemudian hari semakin banyak kelompok bersenjata di berbagai belahan dunia yang menggunakan mobil bak terbuka sebagai kendaraan tempurnya.



LATAR BELAKANG

Libya merupakan negara Afrika Utara yang sejak tahun 1969 dipimpin oleh Muammar Qaddafi. Sejak menjadi pemimpin Libya, Qaddafi berambisi mengubah Libya menjadi negara paling dominan di kawasan setempat. Negara Chad yang berada tepat di sebelah selatan Libya dipandang sebagai salah satu negara yang paling mungkin dikuasai oleh rezim Qaddafi.

Alasan kenapa Chad dipandang sebagai sasaran empuk adalah karena Libya merupakan salah satu negara terkaya di Afrika berkat cadangan minyaknya yang melimpah, sementara Chad hanyalah negara miskin yang tidak memiliki wilayah laut. Chad juga memiliki lokasi yang cukup strategis karena dikelilingi oleh banyak negara & bisa dimanfaatkan sebagai batu loncatan oleh Qaddafi untuk menyebarkan pengaruhnya lebih jauh.

Peta lokasi Libya & Chad. (aljazeera.com)

Selain karena faktor ambisi regional, alasan lain mengapa Libya ingin menjadikan Chad berada di bawah kendalinya adalah karena adanya dugaan kalau wilayah Chad memiliki cadangan uranium, barang tambang yang dibutuhkan untuk menjalankan reaktor nuklir.

Jika Libya sampai berhasil menguasai wilayah Chad yang mengandung uranium, maka Libya diharapkan bakal memiliki senjata nuklirnya sendiri & Libya bakal semakin disegani oleh negara-negara lain.

Wilayah Chad yang diduga mengandung uranium adalah wilayah Jalur Aouzou (Aozou Strip) yang berada tepat di sebelah selatan Libya. Untuk mewujudkan ambisinya tersebut, Qaddafi pun mengeluarkan klaim kalau Jalur Aozou aslinya termasuk dalam wilayah Libya. Sejak tahun 1973, Libya bahkan mengirimkan pasukannya untuk menguasai Jalur Aouzou.

Peta lokasi Jalur Aouzou (Aozou Strip). (Magnus Manske / commons.wikimedia.org)

Chad sendiri pada waktu itu sedang dilanda perang saudara antara faksi pimpinan Goukouni Oueddei (FAP) melawan faksi pimpinan Hissene Habre (FANT). Melihat situasi tersebut, Qaddafi lantas memberikan dukungannya pada Goukouni. Ia berharap jika Goukouni kelak berhasil keluar sebagai pemenang, maka Chad sesudah itu bakal menjadi negara boneka Libya.

Upaya FAP & Libya untuk memenangkan perang tidak bisa dibilang mudah karena di pihak yang berseberangan, FANT mendapat dukungan dari Perancis karena Chad kebetulan merupakan negara bekas jajahan Perancis.

Saat pasukan gabungan Libya & FAP tidak kunjung berhasil mengalahkan pasukan FANT, hubungan antara Qaddafi dengan Goukouni pun mulai memburuk. Goukouni bahkan sempat dijatuhi hukuman tahanan rumah oleh otoritas Libya sebelum kemudian melarikan diri ke Aljazair.

Begitu pasukan FAP mendengar kabar kalau pemimpinnya diperlakukan bak tahanan di Libya, mereka beramai-ramai membelot ke kubu lawan pada tahun 1986. Dampaknya, alur perang di Chad pun mengalami perubahan. Jika pada awalnya perang di Chad didominasi oleh konflik antara sesama pasukan Chad, maka sekarang perang ini menjadi konflik antara pasukan Chad melawan pasukan Libya.


Pemimpin Libya, Muammar Qaddafi. (bbc.com)


PERBANDINGAN KEKUATAN

Libya

Sebelum tahun 1986, pasukan Libya di Chad mengandalkan pasukan FAP sebagai mata & telinganya karena para personil FAP adalah penduduk asli Chad yang notabene sudah sangat paham dengan kondisi wilayah Chad.

Namun setelah pasukan FAP tidak mau lagi bekerja sama dengan Libya, pasukan Libya di Chad kini bak ikan yang berada di luar air karena mereka sama sekali tidak familiar dengan wilayah yang menjadi medan tempur mereka. Bukan hanya itu, karena para tentara Libya bertempur di luar tanah airnya, mereka pun tidak memiliki semangat tempur yang menggebu-gebu.

Kendala lain bagi Libya adalah negara tersebut memiliki struktur militer yang cenderung terkotak-kotak supaya faksi-faksi dalam militer Libya lebih sibuk bersaing 1 sama lain alih-alih kompak dalam menyatukan kekuatan. Dengan begitu, jika ada faksi dalam militer Libya yang mencoba memberontak atau melakukan kudeta, maka faksi tersebut bakal langsung dijegal oleh faksi militer yang lain.

Kondisi tersebut menyebabkan Qaddafi bisa berkuasa demikian lama karena ia relatif aman dari ancaman kudeta. Namun sebagai akibatnya, militer Libya jadi cenderung bertindak kurang kompak saat harus berjibaku dalam medan perang yang sesungguhnya. Termasuk dalam Perang Toyota ini.

Lepas dari semua hal negatif tersebut, bukan berarti militer Libya sama sekali tidak memiliki taji. Karena Libya merupakan negara kaya, Libya pun bisa membeli aneka macam persenjataan mutakhir buatan Uni Soviet seperti tank T-55, meriam artileri, helikopter Mi-24, hingga pesawat tempur MiG-23. Dengan melihat hal tersebut, pasukan Libya secara teoritis masih jauh lebih kuat dibandingkan pasukan Chad yang tidak memiliki stok alutsista serupa.

Tank T-55. (military-today.com)

Pasukan Libya di Chad juga sama sekali tidak sendirian karena mereka masih memiliki sekutu dari golongan warga lokal. Sekutu yang dimaksud di sini adalah Conseil Democratique Revolutionnaire (CDR; Dewan Revolusioner Demokratik), kelompok bersenjata yang beranggotakan penduduk asli Chad dari etnis Arab.

CDR awalnya diperkuat oleh 3.000 personil. Namun saat Perang Toyota meletus, jumlah anggota CDR yang masih tersisa hanya tinggal 1.000 personil. Selama Perang Toyota berlangsung, CDR lebih banyak ditugaskan untuk membantu melindungi pangkalan militer milik Libya di Chad.


Chad

Sudah disinggung sebelumnya kalau Chad hanyalah negara miskin. Hal tersebut lantas turut tercermin pada kualitas alutsista yang dimiliki oleh pasukan Chad (FANT & FAP). Untuk keperluan transportasi misalnya, pasukan Chad mengandalkan mobil bak terbuka yang notabene jauh lebih rapuh jika dibandingkan dengan kendaraan lapis baja.

Mobil-mobil bak terbuka yang digunakan oleh pasukan Chad umumnya merupakan mobil jenis Toyota Land Cruiser & Toyota Hilux. Dalam kondisi damai, mobil-mobil tersebut biasanya digunakan untuk mengangkut orang & aneka macam barang, misalnya hasil panen.

Ada alasan khusus mengapa pasukan Chad menggunakan mobil bak terbuka buatan Toyota sebagai kendaraan militer andalannya. Alasan pertama adalah karena dalam hal biaya, mobil bak terbuka harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan tank atau kendaraan angkut personil (APC).

Mobil bak terbuka Toyota Land Cruiser. (autoevolution.com)

Alasan kedua, mobil bak terbuka memang bisa mengalami kerusakan jika terkena tembakan musuh atau sebab-sebab lainnya. Namun selama kerusakannya tidak terlampau berat, mobil tersebut bisa diperbaiki dengan mudah. Tidak seperti kendaraan militer yang memerlukan suku cadang khusus & tidak bisa diperbaiki oleh sembarang orang.

Alasan ketiga, mobil bak terbuka relatif awet untuk dipakai melaju kencang di segala macam medan. Entah itu jalanan aspal, kubangan berlumpur, hingga padang pasir. Alasan keempat & yang paling penting, mobil bak terbuka merupakan kendaraan serba guna yang bisa dimodifikasi untuk beragam tujuan.

Mobil bak terbuka yang tidak dimodifikasi bisa digunakan untuk mengangkut tentara & perbekalan. Jika mobil bak terbuka dipasangi turet / menara kecil pada bagian baknya, mobil tersebut bisa dioperasikan layaknya tank mini.

Jika yang dipasang pada turet adalah senapan mesin, maka mobil tersebut bakal menjelma menjadi kendaraan pembunuh kerumunan manusia. Jika yang dipasang adalah meriam anti udara (flak), maka mobil tersebut bakal menjadi momok bagi helikopter musuh. Kalau yang dipasang pada turet adalah peluncur roket, maka mobil tersebut bisa digunakan untuk menghancurkan tank & pesawat musuh.

Ilustrasi mobil bak terbuka yang sudah dipasangi dengan turet & senapan mesin. (reddit.com)

Ilustrasi mobil bak terbuka yang sudah dipasangi dengan turet & senjata peluncur roket. (theatlantic.com)

Kombinasikan hal tadi dengan fakta bahwa mobil bak terbuka bisa melaju amat kencang & kerap melakukan serangan secara bersama-sama dalam jumlah besar, mobil bak terbuka yang dilengkapi dengan senjata pun bakal menjadi mimpi buruk bagi pasukan musuh. Bak nyamuk yang mengerubungi korbannya & senantiasa menghindar saat coba dibunuh.

Di luar Chad, pemerintah Perancis & AS sadar akan potensi yang dimiliki oleh pasukan Chad beserta mobil bak terbuka yang mereka naiki. Oleh karena itulah, supaya pasukan Chad memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan perang, pemerintah Perancis & AS memberikan bantuan senjata kepada pasukan Chad.

Keunggulan utama pasukan Chad sendiri bukanlah pada kualitas senjatanya, melainkan pada semangat juang & keterampilan para personilnya. Karena pasukan Chad bertempur di tanah airnya sendiri, mereka pun memiliki motivasi lebih untuk berjuang habis-habisan. Mereka juga memiliki pemahaman lebih akan medan konflik, sehingga mereka bisa melancarkan serangan tiba-tiba dari lokasi yang tidak diduga oleh pasukan Libya.



BERJALANNYA PERANG

Saat Fada Jadi Kuburan Tank


Tanggal 20 Desember 1986, pasukan Libya yang diperkuat oleh tank & pesawat melakukan invasi ke kota Bardai, Wour, & Zouar yang terletak di Chad barat laut. Meskipun jauh lebih unggul dalam hal alutsista / persenjataan, pasukan Libya merasa kewalahan untuk menguasai kota-kota tadi karena lokasinya yang berada di kawasan Tibesti yang bergunung-gunung.

Saat pertempuran di sebelah barat masih berlangsung sengit, pada tanggal 2 Januari 1987 pasukan Chad melancarkan serangan tiba-tiba ke Fada, kota di Chad timur laut yang sudah dikuasai oleh pasukan Libya sejak tahun 1984. Dalam pertempuran itulah, mobil bak terbuka menunjukkan kehebatannya.

Peta lokasi Fada. (reliefweb.int)

Pasukan Libya yang ditempatkan di Fada berjumlah kurang lebih 5.000 personil & diperkuat oleh tank serta kendaraan lapis baja. Untuk mengalahkan pasukan Libya, pasukan Chad yang menaiki mobil bak terbuka melaju kencang ke arah formasi pasukan musuhnya.

Pasukan tank Libya mencoba melawan. Namun karena meriam tank memiliki waktu pengisian ulang yang lumayan lama & tidak bisa mengubah arah tembaknya dengan cepat, mobil-mobil pasukan Chad bisa menghindari tembakan tank Libya dengan mudah. Akibatnya, hanya dalam rentang waktu sehari, kota Fada berhasil ditaklukkan oleh pasukan Chad.

Dalam pertempuran di Fada, pasukan Chad berhasil menewaskan hampir 800 tentara Libya & menghancurkan 92 unit tank milik Libya. Hebatnya, Chad hanya kehilangan 3 mobil bak terbuka & 18 orang prajuritnya dalam pertempuran yang sama.


Dibalas dari Langit

Pasukan Libya mencoba membalas dengan cara mengirimkan pesawat MiG-23 miliknya ke Fada. Namun pasukan Chad sekali lagi menunjukkan kehebatannya. Saat pesawat tadi melintas di atas kota Fada, pasukan Chad berhasil menembak jatuh pesawat tersebut dengan memakai rudal anti-pesawat.

Hal tersebut toh tetap tidak membuat pasukan Libya merasa kapok. Mereka tetap giat melancarkan serangan udara ke lokasi-lokasi yang dihuni oleh pasukan Chad. Sebagai akibatnya, pasukan Chad kini tidak bisa lagi bergerak secara leluasa.

Pesawat MiG-23 Libya. (militarywatchmagazine.com)

Saat sedang berada di hutan oasis atau di pemukiman padat penduduk, pasukan Chad bisa menembak jatuh pesawat Libya dengan aman karena pasukan Chad bisa menyembunyikan keberadaannya sendiri dengan cara berkamuflase di lokasi-lokasi tadi.

Namun saat sedang berada di tengah-tengah gurun pasir, pasukan Chad bakal menjadi sasaran empuk karena pesawat Libya bisa menyerang pasukan Chad lebih dulu & kemudian pergi secepat mungkin sebelum pasukan Chad sempat menembakkan senjatanya.

Di luar Chad, aksi-aksi serangan udara yang dilancarkan oleh Libya ganti mengundang kegeraman dari Perancis. Pasalnya dalam perundingan di tahun 1984, Libya sudah berjanji kepada Perancis untuk menarik mundur semua pasukan Libya dari Chad. Namun ternyata Libya sesudah itu masih menempatkan pasukannya di Chad secara diam-diam.

Libya sendiri pada awalnya masih bisa mengelak dengan berdalih kalau pasukan darat yang bertempur di Chad bukanlah pasukannya, melainkan relawan atau milisi yang bertindak di luar kendali pemerintah Libya. Namun ikut terlibatnya pesawat tempur Libya menyebabkan pemerintah Libya tidak bisa lagi menyembunyikan keterlibatannya.

Atas sebab itulah, pada bulan Januari 1987 pasukan Perancis melakukan serangan udara ke sejumlah pangkalan udara milik Libya di Chad. Karena Perancis tidak ingin melibatkan diri terlalu jauh dalam konflik di Chad, yang diserang oleh pesawat Perancis bukanlah pesawat Libya, melainkan menara radar milik Libya supaya pesawat Libya tidak bisa lagi melakukan penerbangan secara akurat.


Pesawat Mirage F.1CR Perancis. (Yvon Goutx / medium.com)


Menjadi Bulan-Bulanan di Bir Kora

Ikut campurnya angkatan udara Perancis menyebabkan pasukan Libya tidak bisa lagi menerbangkan pesawat tempurnya secara leluasa. Dampaknya, pasukan Chad pun kini mulai berani untuk kembali melakukan taktik agresif.

Pada tanggal 18 Maret 1987, iring-iringan pasukan Libya yang berkekuatan 600 personil melintasi jalur bernama Bir Kora untuk pergi menuju Fada. Saat malam sudah tiba, mereka kemudian beristirahat sambil menata tank-tanknya dalam formasi melingkar layaknya barikade. Karena mereka mengira kalau formasi ini sudah cukup memberikan perlindungan, para tentara Libya kemudian pergi tidur tanpa ada yang melakukan patroli malam.

Saat pasukan Libya tengah terlelap, pasukan Chad yang berkekuatan 2.500 tentara & menaiki mobil bak terbuka menempatkan diri mereka di sekeliling formasi pasukan Libya. Ketika fajar tiba, barulah mereka melancarkan serangannya. Pasukan Libya lantas menanggapi serangan tersebut dengan cara berlindung di sisi belakang barikade tank sambil menembakkan senjatanya.

Pasukan Chad lantas menanggapi taktik pasukan Libya dengan cara mengkonsentrasikan serangannya ke 1 titik. Mengira kalau pasukan Chad sedang mencoba menjebol barikade pasukan Libya dari titik tersebut, pasukan Libya yang lain lantas digerakkan ke titik tersebut.

Pada saat itulah, tercipta celah pada formasi pasukan Libya. Dengan memanfaatkan kecepatan mobil bak terbuka yang mereka naiki, pasukan Chad yang lain spontan langsung menyelinap masuk ke dalam celah tersebut. Akibatnya, pasukan Libya kini terjepit dari arah depan sekaligus belakang. Pertempuran di Bir Kora pun berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Chad.

Bangkai tank Libya yang teronggok di tengah-tengah padang pasir Chad. (David Stanley / flickr.com)

Tidak jauh dari sana di sebelah utara, ada pasukan Libya lainnya yang berkekuatan 800 personil. Seperti halnya pertempuran yang terjadi di sebelah selatan, pertempuran ini juga berakhir dengan kemenangan pasukan Chad.

Namun dalam pertempuran yang 1 ini, pasukan Chad tidak perlu bersusah payah. Pasalnya karena pasukan Libya keburu panik saat dicegat secara tiba-tiba oleh pasukan Chad, mereka lebih memilih untuk melarikan diri ketimbang melawan balik.

Dampaknya, kendaraan-kendaraan tempur Libya pun masih berada dalam kondisi amat baik seusai pertempuran. Dan sekarang kendaraan-kendaraan tempur ini menjadi milik pasukan Chad. Sebuah berkah melimpah bagi Chad, namun petaka bagi Libya.


Jatuhnya Pangkalan Udara Libya

Sukses mengalahkan pasukan Libya di Bir Kora, pasukan Chad kini bisa fokus melancarkan serangan pamungkas ke pangkalan militer Ouadi Doum / Wadi Doum yang terletak tidak jauh dari Bir Kora. Sebelum serangan dilakukan, para prajurit Chad sudah melakukan pengintaian secara seksama ke Ouadi Doum & sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan yang mereka lakukan, pasukan Chad tahu kalau wilayah sekitar Ouadi Doum dipenuhi oleh ranjau darat. Supaya Libya tidak memiliki cukup personil untuk melindungi Ouadi Doum, pasukan Chad baru melancarkan serangan ke Ouadi Doum tepat setelah mereka berhasil mengalahkan pasukan Libya di Bir Kora.

Serangan ke Ouadi Doum akhirnya benar-benar dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 1987. Kendati Ouadi Doum dilindungi oleh ranjau darat, pasukan Chad ternyata bisa melewati padang ranjau tersebut tanpa meledak. Pasalnya jika mobil yang dinaiki pasukan Chad melaju dalam kecepatan tinggi, ranjaunya tidak akan aktif sehingga pasukan Chad bisa melewati padang ranjau dengan selamat.

Pasukan Chad yang sedang menaiki mobil bak terbuka. (libyaherald.com)

Pasukan Libya merasa panik bukan main saat melihat markas mereka diserbu oleh pasukan Chad dari segala arah. Akibatnya, begitu pasukan Chad berhasil menerobos masuk ke dalam Ouadi Doum, pasukan Libya beramai-ramai menyerah atau melarikan diri meninggalkan Ouadi Doum. Para prajurit Libya yang kini menjadi tawanan kemudian diperintahkan untuk membersihkan ranjau darat di sekeliling Ouadi Doum.

Jatuhnya Ouadi Doum ke tangan pasukan Chad menyebabkan kendaraan-kendaraan militer seperti tank & pesawat kini menjadi milik pasukan Chad. Namun karena pasukan Chad tidak bisa mengoperasikan pesawat, mereka membiarkan pesawat-pesawat di Ouadi Doum teronggok begitu saja.

Pasca kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh pasukan Libya di Chad, pesawat-pesawat tempur Libya kembali beterbangan di wilayah Chad. Bukan untuk menggempur pasukan Chad, melainkan untuk menghancurkan kendaraan-kendaraan militer milik Libya yang masih tertinggal di wilayah Chad supaya tidak bisa digunakan oleh pasukan musuh.

Seolah ingin ikut mempermalukan Libya & Uni Soviet lebih jauh, AS kemudian mengirimkan militernya ke Chad pada bulan Mei 1987. Tujuan mereka bukan untuk ikut berperang, tetapi untuk mengumpulkan pesawat serta helikopter milik Libya yang masih tertinggal di Chad & kondisinya masih utuh.

Sesudah membongkar badan pesawat dengan hati-hati, potongan pesawat tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam pesawat kargo & diterbangkan ke wilayah AS supaya bisa dipelajari. Karena pesawat & helikopter yang digunakan oleh Libya umumnya merupakan pesawat buatan Uni Soviet, AS ingin memanfaatkan momen ini untuk mempelajari teknologi pesawat milik negara saingannya.


Personil militer AS saat memasukkan helikopter Mi-25 ke dalam pesawat kargo. (U.S. Army / warisboring.com)


Menjalarnya Perang ke Wilayah Libya

Kembali ke medan perang. Meskipun sejauh ini pasukan Libya terus mengalami kekalahan beruntun, pasukan Libya masih belum sepenuhnya tergusur keluar dari Chad. Pada tanggal 28 Agustus 1987, pasukan Libya akhirnya berhasil menunjukkan hasil positif di medan perang setelah mereka berhasil merebut desa Aouzou di Chad utara.

Untuk merebut desa tersebut, mula-mula pasukan Libya mengerahkan pesawat untuk melakukan pemboman. Sesudah itu, pasukan darat Libya kemudian digerakkan ke arah Aouzou. Pasukan Chad mencoba melawan. Namun sesudah 2 jam berlalu, pasukan Chad memutuskan untuk mundur & membiarkan pasukan Libya menguasai Aouzou.

Keberhasilan merebut desa Aouzou ditanggapi dengan penuh kegembiraan oleh Qaddafi. Hanya berselang 2 hari setelah pasukan Libya berhasil menduduki Aouzou, sebanyak 6 orang wartawan dari negara-negara Barat langsung diterbangkan ke Aouzou supaya mereka bisa melihat kondisi di garis depan & membantu menyebarkan berita kemenangan Libya di Chad.

Terjungkal di Aouzou, pasukan Chad berkesimpulan kalau mereka tidak akan bisa memenangkan perang ini selama Libya masih memiliki pesawat. Maka, pasukan Chad pun kini merancang strategi untuk menyerang pangkalan udara Maaten Al-Sarra yang terletak di wilayah Libya selatan. Jika pangkalan udara tersebut berhasil dihancurkan, maka Libya diharapkan tidak akan bisa lagi melancarkan serangan udara ke wilayah Chad.

Tanggal 5 September 1987, pasukan Chad akhirnya benar-benar menerobos masuk ke wilayah Libya & kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju Maaten Al-Sarra. Supaya laju pasukan Chad tidak terendus oleh pasukan Libya, pasukan Chad melancarkan serangannya pada malam hari.

Peta lokasi pangkalan udara Maaten Al-Sarra.

Pasukan Libya sama sekali tidak menyangka kalau pasukan Chad bakal nekat memasuki wilayah Libya. Karena diserang dalam kondisi tidak siap, sebanyak lebih dari 1.700 tentara Libya tewas dalam pertempuran di Maaten Al-Sarra. Dalam pertempuran yang sama, pasukan Chad juga berhasil menghancurkan 22 pesawat, 70 tank, 22 truk peluncur roket, & 30 kendaraan APC milik Libya.

Qaddafi merasa begitu terkejut sekaligus geram begitu mengetahui kalau pasukan Chad berani memasuki wilayah Libya. Maka, Qaddafi pun meresponnya dengan cara mengirimkan pesawat tempurnya ke ibukota Chad, N'djamena. Namun sebelum pesawat Libya berhasil mencapai sasarannya, pesawat tersebut keburu ditembak jatuh oleh pasukan Perancis yang masih berada di wilayah Chad selatan.

Kendati Perancis masih berkomitmen melindungi wilayah Chad selatan, Perancis berharap kalau perang ini tidak berkembang lebih jauh menjadi perang skala besar antar negara. Di lain pihak, AS justru berharap kalau perang ini terus berlanjut hingga pasukan Chad mencapai ibukota Libya. Pasalnya AS berharap kalau pasukan Chad bisa sekalian menggulingkan rezim Qaddafi.

Harapan AS tersebut pada akhirnya tidak terwujud. Karena setelah serangan yang dilancarkan oleh pasukan Chad ke pangkalan udara Maaten Al-Sarra, pasukan Chad tidak melakukan serangan susulan ke wilayah Libya. Libya di lain pihak juga tidak mau lagi memperpanjang konflik ini setelah mereka kehilangan begitu banyak kendaraan tempur. Pada tanggal 11 September 1987, kedua belah pihak akhirnya setuju untuk melakukan gencatan senjata.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Toyota merupakan aib besar bagi rezim Qaddafi. Pasalnya kendati Libya merupakan negara kaya & memiliki stok alutsista yang megah, perang ini menunjukkan kalau Libya aslinya hanyalah negara dengan militer yang lemah. Jumlah korban tewas di pihak Libya berkisar antara 2.000 hingga 7.500 jiwa. Sementara di kubu Chad, jumlah korban tewasnya diperkirakan "hanya" sekitar 1.000 jiwa.

Selain korban jiwa, perang ini juga menyebabkan Libya harus mengalami kerugian material yang fantastis akibat banyaknya pangkalan militer & alutsista milik Libya yang hancur dalam perang ini. Jumlah kerugian material yang harus diderita Libya dalam perang ini ditaksir mencapai 1 milyar dollar AS.

Di pihak Chad, perang ini membantu menyatukan kembali rakyat Chad yang sebelum ini terpecah akibat masalah perang saudara. Hissene Habre kini menjadi presiden Chad yang diakui oleh semua rakyat Chad. Pada tahun 1988, Qaddafi akhirnya bersedia mengakui status Habre sebagai presiden Chad yang sah. Sejak tahun yang sama, Chad & Libya juga melakukan pemulihan hubungan diplomatik.

Hissene Habre. (bbc.com)

Sudah disinggung di bagian awal kalau salah satu faktor pemicu Perang Toyota adalah adanya masalah sengketa mengenai kepemilikan Jalur Aouzou. Maka, kedua negara pun sepakat untuk membawa masalah ini ke pengadilan internasional. Tahun 1994, Mahkamah Internasional yang bermarkas di Den Haag, Belanda, mengeluarkan keputusan kalau Jalur Aouzou adalah wilayah sah milik Chad.

Libya pada awalnya enggan menerima keputusan dari Mahkamah Internasional. Namun Libya akhirnya melunak setelah pemerintah Chad & Libya setuju untuk melakukan pertukaran tahanan perang. Tahun 1997, masalah sengketa Jalur Aouzou kembali memanas setelah Libya mengeluarkan peta yang menunjukkan kalau Jalur Aouzou adalah wilayah milik Libya. Untungnya kali ini masalah sengketanya tidak sampai berujung pada timbulnya konflik bersenjata.

Di luar Chad & Libya, Perang Toyota membantu melambungkan pamor mobil bak terbuka sebagai kendaraan serba guna untuk pasukan milisi & pemberontak. Sejak dekade 90-an, mobil bak terbuka menjadi kendaraan yang banyak dijumpai di lokasi-lokasi konflik seperti Somalia, Irak, Meksiko, Suriah, Irlandia Utara, & masih banyak lagi. Sejak periode itu pula, muncul istilah "technical" untuk menyebut mobil bak terbuka yang digunakan untuk keperluan militer.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 1986 - 1987
-  Lokasi : (mayoritasnya di) Chad

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Chad, Perancis
       melawan
(Negara)  -  Libya
(Grup)  -  CDR

Hasil Akhir
-  Kemenangan pihak Chad
-  Wilayah Jalur Aouzou tetap menjadi milik Chad

Korban Jiwa
-  Chad : 1.000 jiwa
-  Libya : 2.000 - 7.500 jiwa



REFERENSI

Ali, H.. "Holding elections in Libya is not a solution to the country’s deep-seated problems".
(theloop.ecpr.eu/holding-elections-in-libya-is-not-a-solution-to-the-countrys-deep-seated-problems/)

AP. 1987. "Chadian Forces Claim They Captured Major Libyan Base".
(apnews.com/article/a9a115af7c9476a14b5f52493adb0cef)

AP. 1987. "Rebel Leader Arrives Unannounced iIn Algiers".
(apnews.com/article/65732a4fb7b725f825e2dcdaf6357982)

Cody, E.. 1987. "French Warplanes Hit Libyan Base in Northern Chad".
(www.washingtonpost.com/archive/politics/1987/01/08/french-warplanes-hit-libyan-base-in-northern-chad/417ef2a0-e5d7-4e6e-878e-cd1aef93812d/)

Cordesman, A.H.. 2002. "A Tragedy of Arms: Military and Security Developments in the Maghreb" (hal. 184). Praeger Publishers, AS.

Delalande, A.. 2018. "The Pentagon Scooped Up Soviet Weapons in Chad in 1987 and ’88".
(warisboring.com/49425-2/)

Ellmer, M.. 2021. "The Great Toyota War: Birthplace of the Technical".
(www.greydynamics.com/the-great-toyota-war-birthplace-of-the-technical/)

GlobalSecurity.org. "Chad Armed Factions".
(www.globalsecurity.org/military/world/para/chad-factions.htm)

GlobalSecurity.org. "Libyan Intervention in Chad, 1980-Mid-1987".
(www.globalsecurity.org/military/world/war/chad.htm)

Goupi, C.."People travelling over the load of a truck on a trail around N´djamena, Chad, Central Africa".
(alamy.com/stock-photo-people-travelling-over-the-load-of-a-truck-on-a-trail-around-ndjamena-75788626.html)

Gwertzman, B.. 1987. "Chadians Down A Libyan Jet Over Oasis".
(www.nytimes.com/1987/01/06/world/chadians-down-a-libyan-jet-over-oasis.html)

L.A. Times. 1988. "Former Foes Libya and Chad Restore Ties".
(www.latimes.com/archives/la-xpm-1988-10-04-mn-3497-story.html)

Lodi News-Sentinel. 1987. "How Libya lost the battle for Wadi Doum".
(news.google.com/newspapers?id=6xc0AAAAIBAJ&sjid=qDIHAAAAIBAJ&pg=7097%2C5869646)

Mulciare, J.. 2014. "The Pickup Truck Era of Warfare".
(warontherocks.com/2014/02/the-pickup-truck-era-of-warfare/)

OnWar.com. "The Toyota War 1987".
(www.onwar.com/data/198700tdly.html)

Parmelee, J.. 1987. "Libya Shows Booty It Says It Captured in Retaking Disputed Area".
(apnews.com/article/072cdf44e5f5e16944fa4b9d0a77e950)

Sciolino, E.. 1987. "U.S. Is Sending Stinger Missiles to Chad".
(www.nytimes.com/1987/11/06/world/us-is-sending-stinger-missiles-to-chad.html)

The New York Times. 1987. "The World: Chad; Ndjamena Sends Troops Into Libya".
(www.nytimes.com/1987/09/13/weekinreview/the-world-chad-ndjamena-sends-troops-into-libya.html)

Trainor, B.E.. 1987. "Desert Tactics of Chadians: Like Old West".
(www.nytimes.com/1987/04/05/world/desert-tactics-of-chadians-like-old-west.html)

Trainor, B.E.. 1987. "In The Desert, Chad Exhibits Spoils of War".
(www.nytimes.com/1987/04/13/world/in-the-desert-chad-exhibits-spoils-of-war.html)
 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.