Project National Glory, Saat Taiwan Nyaris Menginvasi Cina



Foto satelit Selat Taiwan, selat yang memisahkan Cina daratan & Pulau Taiwan. (aspistrategist.org.au)

Taiwan /  Formosa adalah nama dari sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Cina & sebelah utara Filipina. Secara resmi, Taiwan berstatus sebagai wilayah milik Cina. Namun dalam praktiknya, Taiwan merupakan negara tersendiri yang pemerintahnya beroperasi di luar kendali pemerintah pusat Cina.

Akibat kuatnya tekanan dari Cina, tidak banyak negara berdaulat di dunia yang bersedia mengakui Taiwan sebagai negara tersendiri. Pemerintah Taiwan sendiri menyebut wilayah mereka dengan nama "Republik Cina" untuk menunjukkan kalau mereka adalah pemerintahan Cina yang sah, namun sedang tidak memiliki kendali atas wilayah Cina daratan akibat keberadaan kubu komunis di sana.

Atas dasar itulah, pemerintah Republik Cina / Taiwan pada tahun 1961 sempat mencetuskan rencana untuk menginvasi wilayah Cina daratan & menggulingkan rezim komunis setempat. Project National Glory adalah nama dari rencana tersebut. Namun akibat timbulnya sejumlah insiden mematikan di tengah jalan, Project National Glory pada akhirnya tidak pernah dilaksanakan sampai tuntas.


Bendera Cina & Taiwan. (scmp.com)


LATAR BELAKANG

Sejak tahun 1927, Cina dilanda perang saudara antara pasukan pendukung Partai Komunis Cina (PKC) melawan pasukan pendukung Kuomintang (KMT) yang berhaluan nasionalis. Awalnya, KMT berada di atas angin karena yang sedang menguasai pemerintahan pusat Cina pada waktu itu adalah KMT. KMT juga memiliki keunggulan dalam hal persenjataan.

Tahun 1937, Jepang menginvasi Cina sehingga KMT tidak bisa lagi mengkonsentrasikan kekuatannya untuk memerangi PKC. Terpecahnya konsentrasi KMT lalu dimanfaatkan oleh PKC untuk membangun kekuatan & mengumpulkan pengikut-pengikut baru di kawasan pelosok.

Tahun 1945, Jepang menarik mundur semua pasukannya dari Cina menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Pasukan PKC lantas memanfaatkan situasi tersebut dengan cara menguasai bekas wilayah kekuasaan Jepang di Cina utara & mengambil stok persenjataan yang tertinggal di sana.

Berkat tambahan persenjataan tersebut, PKC menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya. PKC juga lihai menarik simpati penduduk Cina dengan cara mencitrakan KMT sebagai kelompok yang korup & tidak bisa mensejahterakan rakyatnya sendiri. Hasilnya, pasukan PKC secara perlahan tapi pasti berhasil mendesak mundur pasukan KMT.

Tahun 1949, seluruh wilayah penting di Cina daratan akhirnya berhasil dikuasai oleh PKC. Momen tersebut lalu dimanfaatkan oleh Mao Zedong - pemimpin PKC - untuk memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Cina pada tanggal 1 Oktober 1949. Di pihak lawan, sisa-sisa anggota KMT terpaksa menyeberang ke Pulau Taiwan & mendirikan pemerintahan tandingan di sana.

Peta lokasi Cina & Taiwan. (yahoo.com)

Meskipun wilayah kekuasaan KMT kini tinggal mencakup Pulau Taiwan, Chiang Kai Shek selaku pemimpin KMT masih memendam ambisi untuk mengembalikan kekuasaan KMT di Cina daratan. Untuk keperluan tersebut, Chiang pun menggodok rencana untuk menginvasi Cina daratan suatu hari nanti. Rencana ini dikenal dengan nama "Project National Glory" (Proyek Kejayaan Nasional; Guogang Jihua).

Di atas kertas, rencana Chiang & Taiwan untuk menginvasi Cina nampak sebagai rencana yang mengada-ada kalau tidak mau dibilang konyol. Pasalnya dalam hal luas wilayah & jumlah penduduk, Cina jauh lebih besar dibandingkan Taiwan.

Namun Chiang memiliki dasarnya sendiri untuk berkeyakinan kalau Taiwan bisa mengalahkan Cina. Pada akhir dekade 1950-an, pamor pemerintah Cina sedang menurun akibat kegagalan proyek Great Leap Forward (GLF; Lompatan Jauh ke Depan), proyek ambisius untuk mengubah Cina menjadi negara yang maju & mandiri. Alih-alih berhasil, proyek GLF malah menyebabkan Cina dilanda bencana kelaparan hebat.

Di luar negeri, konsentrasi Cina juga sedang terpecah karena Cina sedang sibuk membantu Vietnam Utara dalam Perang Vietnam. Jika itu masih belum cukup, hubungan Cina dengan Uni Soviet juga sedang memburuk karena Cina tidak menyukai kebijakan-kebijakan baru Uni Soviet sejak dipimpin oleh Nikita Khruschev.

Dengan merujuk pada fakta-fakta di atas, Chiang pun berkesimpulan kalau sekaranglah waktu yang tepat untuk menginvasi Cina & mengembalikan status KMT sebagai penguasa seluruh wilayah Cina. Pada bulan April 1961, Chiang mengumumkan dimulainya Project National Glory.


Chiang Kai Shek. (Jilligate / wikipedia.org)


BERJALANNYA PROYEK & KELANJUTANNYA

Taiwan & Amerika Serikat (AS) memiliki hubungan yang dekat karena keduanya sama-sama memusuhi komunis. Itulah sebabnya Cina merasa ragu-ragu untuk menginvasi Taiwan dengan kekuatan penuh. Pasalnya jika Cina benar-benar menginvasi Taiwan, AS siap mengerahkan pasukannya untuk menggagalkan invasi tersebut.

Kendati begitu, AS pada dasarnya lebih suka jika perang antara Cina & Taiwan tidak sampai terjadi karena perang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ditambah lagi, Cina merupakan salah satu negara terbesar di dunia. Konflik melawan Cina juga dikhawatirkan bakal memancing campur tangan Uni Soviet yang wilayahnya bertetangga langsung dengan Cina.

Atas sebab itulah, saat Chiang mencetuskan Project National Glory, proyek tersebut awalnya dijalankan secara sembunyi-sembunyi supaya tidak dihentikan oleh AS. Rencana Chiang adalah pasukan Taiwan bakal menyelinap masuk ke dalam wilayah Fujian, wilayah di Cina tenggara yang berseberangan langsung dengan Taiwan.

Peta lokasi Fujian. (silverneedleteaco.com)

Jika pasukan Taiwan sudah berhasil masuk, pasukan Taiwan selanjutnya akan memprovokasi penduduk setempat supaya mereka bersedia melakukan pemberontakan. Pada tahap ini, AS diharapkan mau berubah pikiran & memberikan bantuan militernya supaya pasukan Taiwan & pasukan pemberontak Cina bisa menumbangkan pemerintahan komunis Cina.

Sebagai langkah awal untuk menunjang pelaksaan proyek tersebut, Chiang memerintahkan pembangunan sejumlah bunker perlindungan & markas militer baru di Tzuhu, distrik Taoyuan, Taiwan barat laut. Saat bangunan-bangunan tersebut selesai dibangun, Chiang kemudian menggunakan Tzuhu sebagai markas rahasianya sejak tahun 1964.

Rencana Taiwan menginvasi Cina akhirnya berhasil diketahui oleh AS. Maka, saat perwakilan AS & Taiwan bertemu di Polandia pada bulan Juni 1962, AS meminta supaya Taiwan membatalkan rencananya tersebut. Kemudian pada bulan Mei 1963, presiden John F. Kennedy meminta supaya Taiwan tidak melakukan operasi militer tanpa seizin AS.

Namun Chiang memilih untuk tetap bergeming. Ia bahkan memerintahkan pasukannya untuk melakukan latihan militer sebagai persiapan untuk invasi yang sesungguhnya. Pada tanggal 24 Juni 1965, pasukan Taiwan melakukan latihan untuk mensimulasikan serangan pasukan Cina ke pelabuhan militer di Taiwan selatan.

Latihan tersebut pada akhirnya malah berakhir maut setelah ombak tinggi menggulingkan 5 kendaraan amfibi milik pasukan Taiwan. Akibatnya, sebanyak 10 orang prajurit Taiwan kehilangan nyawanya dalam peristiwa tersebut.

Nasib sial pasukan Taiwan belum berhenti sampai di sana. Pada tanggal 6 Agustus 1965, Taiwan mengirimkan 2 kapal perangnya ke lepas pantai Cina untuk melakukan pengintaian. Namun keberadaan mereka ternyata berhasil dipergoki oleh Cina yang kemudian mengerahkan armadanya.

Kapal Taiwan yang tenggelam pada bulan Agustus 1965 merupakan tipe kapal yang serupa dengan kapal milik Filipina di atas (BRP Quezon). (1t0pe125 / wikipedia.org)

Kapal-kapal Taiwan sempat meminta bala bantuan kepada angkatan udara Taiwan. Namun akibat buruknya koordinasi sebelum misi pengintaian dilaksanakan, bala bantuan yang mereka minta tidak kunjung tiba. Akibatnya, kapal-kapal Cina berhasil menenggelamkan 2 kapal Taiwan tadi sembari menewaskan 200 orang awaknya.

Rentetan peristiwa tersebut menyebabkan Chiang merasa begitu terpukul. Dampaknya, Chiang pun memutuskan untuk membatalkan Project National Glory pada bulan Juli 1972. Kemudian pada tahun 1975, Chiang akhirnya meninggal dunia. Tahun 2009, detail informasi mengenai Project National Glory akhirnya terungkap ke publik setelah pemerintah Taiwan merilis dokumen-dokumen rahasia mengenai proyek tersebut.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

 - . 2008. "Chiang Kai-shek". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

C.M. Wilbur, dkk.. 2008. "China". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Cheng, I.. 2018. "Saving the Nation by Sacrificing Your Life: Authoritarianism and Chiang Kai-shek's War for the Retaking of China".
(journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/186810261804700203)

Cheung, H.. 2019. "Taiwan in Time: Spies, guerillas and the final counterattack".
(www.taipeitimes.com/News/feat/archives/2019/11/17/2003725988)

Chung, L.. 2009. "Details of Chiang Kai-shek's attempts to recapture mainland to be made public".
(www.scmp.com/article/677614/details-chiang-kai-sheks-attempts-recapture-mainland-be-made-public?module=perpetual_scroll_0&pgtype=article&campaign=677614)

Taiwan Panorama. " President Chiang Kai-shek Temporary Resting Place Tzuhu".
(www.taiwan-panorama.com/Articles/Details?Guid=b02a37e7-6d1a-46b9-bf3a-f7943df5efa9&langId=3&CatId=10)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak mengandung iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Setiap komentar yang baru masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi jangan panik jika komentar anda tidak langsung muncul.

Diberdayakan oleh Blogger.