Unta Kharai, Unta yang Gemar Berenang Melintasi Lautan



Kawanan unta kharai yang sedang berenang. (Azera Parveen Rahman / mongabay.com)

Unta terkenal sebagai hewan yang amat tangguh. Pasalnya hewan ini bisa hidup tanpa makan & minum hingga berbulan-bulan namanya. Unta juga memiliki ketahanan tinggi terhadap iklim padang pasir yang terkenal amat gersang & panas. Karena aneka kehebatannya itulah, unta pun kerap dimanfaatkan oleh manusia sebagai hewan transportasi & pengangkut barang di kawasan gurun.

Unta sendiri ternyata bukan hanya terlatih untuk hidup di kawasan kering macam gurun. Di Gujarat, India barat, terdapat sejenis unta yang diketahui bisa hidup di lingkungan kering & basah sama baiknya.

Unta dengan sifat mengagumkan tersebut adalah unta kharai, jenis keturunan unta yang hanya dapat ditemukan di kawasan pantai Gujarat. Dalam klasifikasi ilmiah, unta kharai masih tergolong sebagai bagian dari spesies unta dromedari (Camelus dromedarius) karena baik unta kharai maupun unta dromedari sama-sama memiliki punuk berjumlah 1 di punggungnya.

Namun berbeda halnya dengan unta dromedari biasa, unta kharai juga memiliki kemampuan unik lain yang tidak dimiliki oleh unta dromedari pada umumnya. Kemampuan unik tersebut adalah berenang melintasi selat & lautan sempit. Unta kharai memiliki kebiasaan untuk berenang karena di habitatnya, lokasi dengan makanan melimpah terletak di seberang lautan.

Di lepas pantai Gujarat, terdapat pulau-pulau kecil yang bakal dipenuhi oleh pohon bakau (mangrove) & kolam air tawar setiap kali musim hujan tiba. Daun tanaman bakau itulah yang menjadi makanan utama unta kharai. Sementara kolam air tawar yang ada di sana menyediakan sumber air minum bagi unta kharai.

Peta lokasi negara bagian Gujarat di India. (mapsopensource.com)

Supaya bisa mencapai pulau yang dimaksud, unta kharai akan berenang menyeberangi selat secara beramai-ramai. Unta kharai berenang dengan cara menggerak-gerakkan keempat kakinya sambil menempatkan kepala & punggungnya di atas air. Sekali berenang, unta kharai bisa menempuh jarak hingga sejauh 4 km.

Karena kebiasaannya untuk berenang melintasi air asin pulalah, unta kharai diberi nama demikian. Dalam bahasa lokal Gujarat, kata "kharai" berarti "asin". Kemudian menurut kesaksian penduduk setempat, unta kharai juga memiliki kebiasaan meminum air laut untuk menghilangkan dahaga saat sedang berenang melintasi laut.

Air asin normalnya bakal menyebabkan hewan yang meminumnya merasa semakin haus karena air garam memiliki sifat menarik keluar air dari sel-sel tubuh lewat proses osmosis. Itulah sebabnya ketika unta kharai sudah tiba di darat, mereka akan mengisi kembali persediaan cairan tubuhnya dengan cara meminum air dari kolam air tawar & memakan dedaunan yang mengandung air.

Semua unta kharai adalah hewan hasil domestikasi yang berarti mereka hidup sebagai hewan ternak manusia & tidak hidup sebagai hewan liar. Unta kharai dipelihara sebagai hewan gembala tradisional. Dengan kata lain, unta-unta tersebut akan dibiarkan berkeliaran & mencari makan sendiri di suatu lokasi, sementara pemiliknya akan mengawasi unta-unta miliknya dari kejauhan.

Saat persediaan makanan di suatu lokasi sudah menipis, sang penggembala / maldharis akan menggiring unta-unta miliknya ke lokasi lain yang makanannya masih melimpah. Jika lokasi yang dimaksud berada di pulau lain, ia akan menggiring unta-unta miliknya untuk berenang menuju pulau tersebut, sementara sang penggembala bakal berenang atau menaiki perahu di samping kawanan untanya.


Penggembala unta kharai yang sedang menaiki perahu. (dailytimes.com.pk)


PEKERJAAN TRADISIONAL YANG TERANCAM MUSNAH

Praktik menggembalakan unta kharai merupakan bagian dari budaya tradisional penduduk di distrik Kutch, Gujarat. Tujuan mereka memelihara unta kharai bukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan mereka, tapi juga sebagai bagian dari kepercayaan turun temurun.

Menurut keyakinan mereka, unta kharai merupakan hewan ciptaan Dewi Parvati, dewi dalam agama Hindu yang diceritakan sebagai istri Dewa Siwa / Shiva. Siwa diceritakan menggunakan keringat & kotoran unta tersebut untuk menciptakan manusia.

Penduduk tradisional Kutch meyakini kalau manusia tersebut adalah nenek moyang mereka. Untuk menghormati dewa & nenek moyang mereka, penduduk tradisional Kutch pun memiliki tradisi menggembalakan unta kharai secara turun temurun hingga sekarang.

Penggembala unta kharai biasanya memanfaatkan unta peliharaan mereka sebagai hewan pengangkut barang & penghasil susu. Mereka tidak pernah memakan daging unta, namun mereka kerap menjual unta milik mereka supaya bisa mendapatkan pemasukan.

Layaknya pekerjaan tradisional lainnya, jumlah penggembala tradisional unta kharai belakangan ini semakin berkurang akibat perkembangan zaman. Banyak penduduk setempat yang berhenti menggembalakan unta kharai karena mereka lebih suka menjalani profesi lain yang pemasukannya lebih tinggi.

Kawanan unta kharai yang sedang makan sambil diawasi oleh penggembala. (civilsocietyonline.com)

Bagi mereka yang tetap ingin melanjutkan hidup sebagai penggembala unta kharai, mereka juga masih harus menemui aneka macam batu sandungan. Akibat semakin banyaknya pabrik garam & semen yang bermunculan di tepi pantai, jumlah lahan yang ditempati oleh hutan bakau menjadi semakin terbatas. Dampaknya, unta kharai semakin sulit mendapatkan makanan & mereka harus berenang lebih jauh untuk sekedar menuju pulau yang masih ada pohon bakaunya.

Kombinasi dari hal-hal di atas lantas berdampak pada semakin menurunnya jumlah unta kharai. Jika puluhan tahun silam jumlah unta kharai mencapai 10.000 ekor, pada tahun 2012 jumlahnya dilaporkan menurun hingga tinggal 4.000 ekor. Supaya populasi unta kharai tidak sampai lenyap, para penggembala setempat sudah beberapa kali menggelar aksi protes supaya lahan bakau yang masih tersisa tidak ikut menghilang akibat berubah menjadi lahan pabrik.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI UNTA KHARAI

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Camelidae
Genus : Camelus
Spesies : Camelus dromedarius



REFERENSI

Baker, S.. 2020. "Where Camels Take to the Sea".
(hakaimagazine.com/features/where-camels-take-to-the-sea/)

Conger, C.. "How long can a camel go without water?".
(animals.howstuffworks.com/mammals/camel-go-without-water1.htm)

Kusmer, A.. 2018. "The Fight to Save the Last Swimming Camels on Earth".
(gizmodo.com/the-fight-to-save-the-last-swimming-camels-on-earth-1829654888)

Moudgil, M.. 2020. "Camel milk inspires hope for herders".
(india.mongabay.com/2020/10/camel-milk-inspires-hope-for-herders/)

Naumann, R.. 1999. "Camelus dromedarius".
(animaldiversity.org/accounts/Camelus_dromedarius/)

Saluja, R.. 2020. "High and dry: will India's swimming camels be the last of their kind?".
(www.theguardian.com/environment/2020/oct/03/high-and-dry-will-india-swimming-camels-be-the-last-of-their-kind-aoe)

Trivedi, K.. 2020. "Swimming camels".
(www.thehindu.com/children/swimming-camels/article31038076.ece)
   





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak mengandung iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Setiap komentar yang baru masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi jangan panik jika komentar anda tidak langsung muncul.

Diberdayakan oleh Blogger.