Pertempuran Tondibi, Saat Rombongan Sapi Jadi Senjata Makan Tuan



Ilustrasi gerombolan sapi Afrika. (cgiar.org)

Sahara merupakan padang pasir yang terletak di Benua Afrika bagian utara. Kendati Sahara nampaknya tidak ideal untuk dihuni oleh manusia, nyatanya kawasan tersebut di masa lampau pernah menjadi arena perebutan yang sengit. Pasalnya di Gurun Sahara, terdapat sumber daya bernilai tinggi semisal emas.

Sahara juga memiliki nilai strategis yang tinggi karena menjadi jalur penghubung antara Eropa dengan kawasan subur di Afrika bagian tengah. Oleh karena itulah, meskipun Sahara memiliki kondisi yang begitu gersang, Sahara dalam sejarahnya kerap menjadi arena konflik bersenjata.

Pertempuran Tondibi yang terjadi pada tanggal 12 Maret 1591 (atau 13 Maret, kalau menurut sumber lain) adalah contoh dari konflik tersebut. Pertempuran Tondibi mengambil tempat di Tondibi yang sekarang termasuk dalam wilayah negara Mali, Afrika Barat.

Pertempuran Tondibi merupakan peristiwa yang relatif jarang dibahas. Padahal pertempuran ini memiliki dampak & skala pertempuran yang tidak kalah dibandingkan pertempuran-pertempuran bersejarah lainnya. Sebagai contoh, pertempuran ini membenturkan pasukan Kesultanan Maroko dengan pasukan Kekaisaran Songhai, 2 negara Islam terkuat di kawasan barat Gurun Sahara pada masanya.

Pertempuran Tondibi juga memiliki alur pertempuran yang unik karena dalam pertempuran ini, rombongan sapi / lembu memiliki peran penting dalam menentukan jalannya pertempuran. Dan akibat Pertempuran Tondibi pulalah, Kekaisaran Songhai yang sudah berdiri selama 1 abad lebih mengalami penurunan kekuatan hingga akhirnya benar-benar runtuh tak lama kemudian.



LATAR BELAKANG

Kekaisan Songhai pada awalnya merupakan salah satu negara adidaya di kawasan Gurun Sahara, Afrika. Pada puncak kekuasaannya, wilayah Songhai membentang mulai dari wilayah modern Senegal di sebelah barat hingga Niger di sebelah timur.

Namun memasuki abad ke-16, kondisi Songhai secara berangsur-angsur melemah akibat konflik internal. Jika itu masih belum cukup, Songhai juga menghadapi ancaman dari luar dalam wujud Kesultanan Maroko yang pusat pemerintahannya berada di Afrika Utara.

Peta Kekaisaran Songhai. (Astrokey44 / wikimedia.org)

Peta lokasi Maroko (Morocco). Lokasi wilayah Kesultanan Maroko di abad ke-16 tidak berbeda jauh dari lokasi negara Maroko di masa kini. (voanews.com)

Maroko merasa tertarik untuk menguasai wilayah Songhai karena di wilayah Songhai terdapat tambang emas & garam yang amat berharga pada masa itu. Songhai juga memiliki wilayah yang strategis karena terletak di antara jalur dagang yang menghubungkan pantai utara Afrika dengan kawasan pedalaman Afrika.

Tahun 1589, seorang tokoh Songhai yang bernama Wuld Kirinfil melarikan diri ke wilayah Maroko. Wuld mengklaim dirinya sebagai pemimpin Songhai yang sah, namun terpaksa melarikan diri ke luar Songhai karena tahtanya direnggut oleh saudaranya, Askia Ishaq II.

Ahmad Al-Mansur selaku sultan Maroko lantas memanfaatkan peristiwa tersebut sebagai alasan untuk menekan Songhai. Awalnya ia meminta kepada Songhai supaya menyerahkan wilayah Taghaza yang kaya akan garam. Saat Songhai menolak, Ahmad kemudian menyiapkan pasukannya untuk menginvasi Songhai. Ia menunjuk Judar Pasha untuk memimpin rombongan pasukan tersebut.



PERBANDINGAN KEKUATAN MAROKO & SONGHAI

Songhai selama ini bisa mempertahankan wilayahnya dari ancaman bangsa-bangsa luar karena wilayah kekuasaan Songhai didominasi oleh padang pasir yang amat luas. Jika ada pasukan dari luar yang mencoba mencaplok wilayah Songhai, pasukan Songhai akan menyerang pasukan musuh secara mendadak & kemudian melarikan diri ke tengah-tengah gurun.

Pasukan Songhai bisa melakukan taktik tersebut secara leluasa karena mereka memiliki pemahaman lebih mengenai lokasi-lokasi oasis / mata air di wilayah kekuasaan mereka. Di pihak lawan, jika mereka nekat mengejar pasukan Songhai yang menyerang mereka, mereka bakal menghadapi resiko tersesat & mati kehausan di tengah-tengah gurun.

Pasukan berkuda Songhai. (bingteam / pinterest.com)

Pasukan Songhai juga tangguh saat harus melakukan perang terbuka. Saat menjalani perang terbuka, Songhai biasanya akan menerjunkan pasukan berkuda & pasukan infantri yang dilengkapi oleh tombak, gada, & panah.

Saat pertempuran berlangsung, pasukan Songhai mula-mula akan menghujani pasukan musuh dengan panah & tombak lempar. Sesudah itu, pasukan Songhai akan beramai-ramai maju ke depan & melakukan pertempuran jarak dekat dengan pasukan musuh.

Jika pasukan Songhai masih mengandalkan persenjataan tradisional, maka pasukan Maroko selaku lawan utama Songhai sudah dilengkapi dengan senjata api seperti meriam & senapan. Penggunaan senjata api terbukti memiliki dampak yang begitu besar bagi pasukan Maroko. Pasalnya sebelum ini, pasukan Songhai belum pernah menghadapi pasukan yang dilengkapi dengan senjata api.

Kendala lain bagi Songhai adalah negara tersebut masih dalam proses memulihkan diri usai dilanda perang saudara setahun sebelumnya. Karena pemimpin Songhai pada waktu itu terlalu fokus mencoba menstabilkan kekuasaannya, ia menjadi lengah & tidak sadar kalau Maroko sudah mengirimkan pasukan berjumlah besar ke wilayah Songhai.

Saat pemimpin Songhai akhirnya menyadari kedatangan pasukan Maroko, ia menyiapkan pasukannya secara tergesa-gesa. Ia juga menyiapkan ribuan ekor hewan ternak sapi di depan pasukannya supaya bisa digunakan sebagai tembok berjalan - tanpa tahu kalau tindakannya tersebut kelak malah bakal menjadi senjata makan tuan.


Rombongan sapi Afrika. (unitednations / pinterest.com)


BERJALANNYA PERTEMPURAN

Pasukan Maroko pergi menuju kota Gao - ibukota Songhai - dengan cara menyusuri tepi Sungai Nigeri. Memasuki tanggal 12 Maret 1591 pada siang hari, pasukan Maroko akhirnya berpapasan dengan pasukan Songhai di Tondibi (sekarang terletak di negara Mali).

Kendati pasukan Songhai hanya dilengkapi dengan persenjataan tradisional, pasukan Songhai unggul jauh dalam hal jumlah. Pasukan Songhai diperkuat oleh setidaknya 28.000 prajurit, di mana 18.000 di antaranya merupakan prajurit berkuda. Mereka juga ditemani oleh ribuan ekor sapi yang berfungsi sebagai sumber makanan sekaligus tembok berjalan.

Di pihak yang berseberangan, pasukan Maroko hanya diperkuat oleh sekitar 4.000 prajurit. Selain prajurit, pasukan Maroko dalam pertempuran tersebut juga ditemani oleh 10.000 ekor unta & 1.000 ekor kuda pembawa perbekalan.

Saat pasukan kedua belah pihak sudah berjarak cukup dekat, pemimpin pasukan Songhai memberi perintah supaya rombongan sapi yang mereka bawa segera dilepaskan ke arah pasukan Maroko.

Rencana pemimpin Songhai adalah gerombolan sapi tersebut bakal berlari sambil menerjang formasi pasukan Maroko. Saat pasukan Maroko sudah berada dalam kondisi tercerai berai, pasukan Songhai kemudian akan menghujani pasukan Maroko dengan anak panah. Baru sesudah itu, pasukan Songhai akan maju ke depan & menghabisi sisa-sisa prajurit Maroko.

Diorama mini yang menampilkan rombongan sapi Songhai saat melaju ke arah pasukan senapan Maroko. (Sean McLachlan / blackgate.com)

Rencana tersebut nyatanya malah berakhir berantakan. Saat rombongan hewan ternak tadi berlari ke arah pasukan Maroko, pasukan Maroko langsung menembaki gerombolan sapi tersebut dengan memakai senapan & meriam.

Karena merasa kaget begitu mendengar dentuman keras suara senjata api, kawanan sapi tersebut spontan langsung berlari ke arah sebaliknya. Menuju formasi pasukan Songhai yang berada tepat di belakang mereka. Akibatnya, pasukan Songhai kini malah ditabrak oleh rombongan sapi mereka sendiri.

Dengan memanfaatkan situasi kacau tersebut, pasukan Maroko kemudian menembaki formasi pasukan Songhai dengan senjata api. Namun pasukan Songhai enggan menyerah begitu saja. Mereka melawan balik dengan cara menembakkan panah mereka ke arah pasukan Maroko.

Pasukan berkuda Songhai kemudian dikerahkan untuk menerjang pasukan Maroko. Karena senapan yang digunakan oleh pasukan Maroko memiliki waktu pengiasan ulang yang lama, pasukan berkuda Maroko kemudian dikerahkan untuk mencegat pasukan berkuda Songhai. Hasilnya, pasukan berkuda Songhai berhasil dipukul mundur.

Ilustrasi pasukan berkuda Maroko. (yabiladi.com)

Sukses meredam serangan pasukan berkuda Songhai, pasukan infantri Maroko kembali beralih ke taktik menembaki pasukan Songhai secara bergiliran sambil maju setapak demi setapak. Satu demi satu, para prajurit Songhai tewas bergelimpangan.

Saat pasukan Maroko sudah berjarak cukup dekat dengan pasukan Songhai, mereka kemudian berlari menuju sisa-sisa pasukan Songhai untuk melanjutkan pertempuran dalam jarak dekat. Senapan yang tadinya digunakan sebagai senjata jarak jauh kini mereka gunakan sebagai senjata pukul layaknya gada. Mereka turut dibantu oleh prajurit infantri Maroko lain yang dilengkapi dengan senjata tradisional seperti pedang & tombak.

Peta lokasi Tondibi & Gao. (HowStuffWorks / pinterest.com)

Semakin memburuknya situasi pasukan Songhai menyebabkan Ishaq selaku pemimpin Songhai merasa khawatir akan keselamatannya sendiri. Maka, Ishaq pun langsung melarikan diri menuju ibukota Gao. Setibanya di Gao, Ishaq langsung memerintahkan keluarganya untuk segera berkemas & melarikan diri keluar Gao.

Begitu pasukan Songhai yang lain melihat kalau raja mereka sudah pergi meninggalkan mereka, pasukan Songhai langsung kehilangan tempurnya & beramai-ramai pergi meninggalkan medan perang. Dengan mundurnya pasukan Songhai tersebut, Pertempuran Tondibi pun berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Maroko.



KONDISI PASCA PERTEMPURAN

Begitu kabar mengenai kekalahan pasukan Songhai akhirnya tiba di ibukota Gao, kepanikan langsung pecah di kota tersebut. Penduduk setempat beramai-ramai mencoba melarikan diri dengan cara menaiki kapal-kapal di Sungai Niger. Padahal kapal-kapal yang tersedia di kota Gao jumlahnya tidak cukup untuk mengangkut mereka. Akibatnya, banyak dari mereka yang terjatuh ke sungai & kemudian tewas tenggelam.

Beberapa hari kemudian, pasukan Maroko yang berhasil memenangkan Pertempuran Tondibi akhirnya tiba di kota Gao. Sesampainya mereka di sana, kota tersebut ternyata sudah berada dalam kondisi nyaris kosong akibat ditinggalkan penghuninya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya ke Timbuktu, kota di sebelah barat Gao yang pada waktu itu berstatus sebagai kota dagang.

Peta lokasi Timbuktu & Gao. (Astrokey44 / wikimedia.org)

Judar selaku komandan Maroko kemudian menerima pesan dari Ishaq kalau Ishaq bersedia membayar emas & mengakui kekuasaan Maroko atas Songhai jika pasukan Maroko bersedia pergi dari Gao. Tawaran tersebut diterima oleh Judar & ia bersama pasukannya kemudian kembali ke Maroko sambil membawa emas berjumlah banyak.

Kemenangan dalam Pertempuran Tondibi ternyata masih belum membuat sultan Maroko merasa puas. Pasalnya ia ingin supaya Songhai diruntuhkan & ditumpas hingga ke akar-akarnya supaya ia memiliki kendali penuh atas wilayah Songhai. Maka, sultan Maroko pun kemudian memerintahkan pasukannya untuk kembali menginvasi Songhai.

Pasukan tersebut berhasil menewaskan pemimpin Songhai (Ishaq) sehingga tamatlah riwayat Kekaisaran Songhai yang sudah berdiri selama 1 abad lebih. Namun perang masih tetap berlanjut karena sisa-sisa pasukan Songhai yang dipimpin oleh Askia Nuh kini beralih ke taktik gerilya untuk mengusir pasukan Maroko dari tanah airnya.

Perjuangan Nuh & para pengikutnya akhirnya membuahkan hasil. Merasa frustrasi karena harus terus menerus berperang di tengah-tengah kawasan gurun yang asing & jauh dari dari wilayah intinya, Maroko akhirnya menarik mundur pasukannya dari wilayah Songhai pada tahun 1610.

Mundurnya pasukan Maroko kemudian dimanfaatkan oleh Nuh untuk mendirikan kerajaan baru yang bernama Kerajaan Dendi. Meskipun Kerajaan Dendi tidak pernah berhasil menyamai kejayaan Kekaisaran Songhai di masa lampau, Kerajaan Dendi sukses bertahan selama berabad-abad sebelum akhirnya dibubarkan oleh Perancis pada tahun 1901.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERTEMPURAN

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 12 Maret 1591
-  Lokasi : Tondibi (Mali)

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Maroko
     melawan
(Negara)  -  Songhai

Hasil Akhir
Kemenangan pihak Maroko

Korban Jiwa
Tidak jelas



REFERENSI

Kessler Associates. "African Kingdoms West Africa".
(www.historyfiles.co.uk/KingListsAfrica/AfricaNiger.htm)

Lyons, M.. 2021. "Fall of Africa’s Greatest Empire".
(www.historytoday.com/archive/months-past/fall-africas-greatest-empire)

Plummer III, C.. 2017. " The Battle of Tondibi: The Moroccan Conquest of the Songhay Empire".
(www.militaryhistoryonline.com/Medieval/BattleOfTondibi)
  






COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak mengandung iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Setiap komentar yang baru masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi jangan panik jika komentar anda tidak langsung muncul.

Diberdayakan oleh Blogger.