SEJARAH        FAUNA         HIBURAN          Cari Artikel  →


Mothra, Ngengat Raksasa Pelindung Dunia



Mothra seperti yang terlihat di film tahun 1961.

Kaiju adalah sebutan untuk monster fiktif berukuran raksasa yang kerap muncul dalam film-film fiksi ilmiah buatan Jepang. Ada begitu banyak kaiju yang pernah muncul dalam film-film Jepang, di mana Godzilla adalah salah satu yang paling terkenal. Kaiju yang muncul dalam film-film Jepang umumnya memiliki penampilan yang menyerupai reptil. Namun tidak demikian halnya dengan Mothra. Pasalnya alih-alih menyerupai reptil, Mothra justru ditampilkan sebagai monster ngengat raksasa yang berasal dari suatu pulau terpencil bernama Pulau Infant.

Mothra / Mosura pertama kali muncul dalam film Jepang berjudul sama di tahun 1961. Sejak kemunculan perdananya tersebut, monster serangga tersebut kemudian menjadi salah satu kaiju yang paling sering dimunculkan di media film Jepang. Tidak seperti kaiju pada umumnya yang dipandang sebagai momok bagi manusia, Mothra justru memiliki sifat yang cukup bersahabat & enggan mengusik manusia jika tidak diganggu terlebih dahulu. Namun keunikan Mothra masih belum berhenti sampai di sana. Mothra diperlihatkan menjalani metamorfosis layaknya serangga & dikultuskan layaknya dewa oleh penduduk di pulau asalnya.



SEJARAH (VERSI DUNIA NYATA)

Pada dekade 1950-an, perusahaan film Toho banyak merilis film-film bertema kaiju seperti "Godzilla" (1954), "Godzilla Rides Again" (1955), & "Rodan" (1956). Karena film-film tersebut memperoleh tanggapan positif dari penonton Jepang & bahkan sempat diputar di bioskop-bioskop AS, pihak Toho pun merasa tergiur untuk menciptakan karakter kaiju baru supaya bisa dibuat filmnya. Dan karakter kaiju baru tersebut tidak lain adalah Mothra, di mana namanya berasal dari kata "moth" (ngengat).

Shinichi Sekizawa. (Sumber)
Karakter Mothra sendiri merupakan hasil kolaborasi dari penulis Shinichiro Nakamura, Takehiko Fukunaga, & Yoshie Hotta. Atas permintaan dari Toho, mereka menulis cerita bersambung dengan judul "Peri Bercahaya & Mothra" yang kemudian diterbitkan di surat kabar Asahi pada bulan Januari 1961. Merasa puas dengan hasil karya mereka bertiga, pihak Toho kemudian menunjuk penulis naskah Shinichi Sekizawa untuk menulis ulang cerita tadi supaya bisa diadaptasi ke media film.

Sekizawa memodifikasi hasil karya 3 penulis tadi sambil menyisipkan elemen baru yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya sendiri. Saat ia masih bertugas sebagai tentara di masa Perang Dunia II, Sekizawa sempat terjebak di sebuah pulau terpencil di tengah-tengah Samudera Pasifik. Pengalaman pahit tersebut lantas menginspirasi Sekizawa untuk menciptakan Pulau Infant, pulau yang diceritakan sebagai tanah asal Mothra. Sekizawa diperkirakan juga terinspirasi dari penampakan geografis Indonesia saat menuliskan konsep Pulau Infant & penghuninya karena di dalam filmnya, Mothra memiliki lagu pemujaan yang liriknya menggunakan bahasa Melayu / Indonesia.

Sutradara Ishiro Honda kemudian ditunjuk oleh pihak Toho untuk menggarap film ini. Alih-alih menampilkan Mothra sebagai monster raksasa penebar teror layaknya Godzilla, Honda justru menampilkan Mothra sebagai makhluk yang tidak bermaksud membahayakan manusia, namun kerap meninggalkan kerusakan di tempat-tempat yang dilaluinya semata-mata karena ukurannya yang amat besar. Dengan begitu, alih-alih memandang Mothra sebagai makhluk yang pantas dibinasakan, penonton justru merasa bersimpati dengan Mothra & berharap Mothra bisa terus hidup hingga akhir film.

Film "Mothra" juga dimaksudkan sebagai bentuk sindiran terselubung terhadap arogansi Amerika Serikat (AS) & dampak negatif kepitalisme. Di film ini, tokoh antagonis utamanya adalah seorang pebisnis bernama Nelson yang berasal dari negara Rolisika, parodi dari negara Amerika. Nelson diceritakan melakukan tindakan egois yang membahayakan nyawa ribuan orang, namun pemerintah Rolisika justru memilih untuk berpihak kepada Nelson. Semacam sindiran kepada oknum pemerintah di dunia nyata yang lebih memilih untuk melindungi kaum pebisnis kelas kakap kendati pebisnis yang bersangkutan sudah merugikan orang banyak & lingkungan.

Tim efek khusus saat menyiapkan boneka larva Mothra
untuk keperluan pengambilan gambar. (Sumber)

Dengan melihat penjelasan di atas, maka Mothra bisa dipandang sebagai personifikasi mengenai apa jadinya jika alam merasa marah & kemudian mencoba menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Jika manusia tidak melakukan tindakan yang merugikan alam, maka manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa masalah. Namun ketika alam sudah menurunkan bencananya, manusia yang tidak bersalah & tidak ada sangkut pautnya pun bakal ikut menjadi korbannya. Persis seperti adegan di dalam film "Mothra", di mana warga sipil terpaksa mengungsi setelah Mothra mendatangi kota mereka untuk mencari penghuni pulaunya yang diculik oleh Nelson.

Film "Mothra" akhirnya dirilis di bioskop-bioskop Jepang pada tahun 1961. Begitu dirilis, film tersebut langsung menuai tanggapan yang amat positif sehingga Mothra kemudian dimunculkan kembali sebagai lawan dari Godzilla dalam film "Mothra vs. Godzilla" (1964). Tanggapan positif & simpati yang ditunjukkan oleh publik terhadap karakter Mothra juga membantu mengubah cara Toho dalam menampilkan karakter-karakter kaijunya. Godzilla contohnya, jika monster reptil tersebut awalnya ditampilkan sebagai monster tanpa akal yang hanya bisa membuat kekacauan, film-film Godzilla yang dirilis kemudian sesekali menampilkan Godzilla sebagai makhluk yang bersedia membahayakan dirinya untuk melindungi Bumi.

Mothra dalam cuplikan trailer
film "Godzilla King of the
Monsters". (Sumber)
Hingga tahun 2019, total sudah ada 16 film Jepang yang menampilkan karakter Mothra di dalamnya. Selama periode tersebut, Mothra beberapa kali mengalami perubahan karakteristik & latar belakang demi menyesuaikan selera terkini penonton. Awalnya Mothra ditampilkan sebagai monster dari pulau terpencil yang keberadaannya baru diketahui oleh manusia di era modern. Namun dalam film "Godzilla vs. Mothra" (1992) & "Godzilla, Mothra, and King Ghidorah" (2001), Mothra diceritakan sudah bertindak sebagai makhluk pelindung Bumi sejak ribuan tahun yang lalu. Kalau dalam film trilogi "Rebirth of Mothra" (1996 - 98), Mothra diceritakan sebagai 1 dari sekian banyak ngengat raksasa yang sudah menghuni Bumi sejak jutaan tahun silam.

Popularitas luar biasa yang dimiliki oleh Mothra di dalam & luar Jepang pada gilirannya menarik minat perusahaan film Legendary Pictures yang berbasis di AS untuk mengadaptasi ulang kisah Mothra. Rencananya, Mothra bakal muncul dalam film buatan Legendary yang berjudul "Godzilla King of the Monster" yang bakal dirilis pada bulan Mei 2019 mendatang. Supaya sesuai dengan atmosfer filmnya yang megah sekaligus kelam, pihak Legendary juga memodifikasi penampilan Mothra supaya terlihat lebih menakutkan. Mengenai apakah Mothra versi Legendary ini bisa menyamai atau bahkan melampaui reputasi yang dimiliki oleh Mothra versi Jepang, kita tunggu saja nanti saat filmnya sudah benar-benar dirilis.



SEJARAH (VERSI FIKSI / FILM)

Catatan :

Sejarah Mothra versi fiksi bisa dibagi menjadi 3 periode : Mothra era Showa (1954 - 1968), Mothra era Heisei (1992 - 1998), & Mothra era Milenium (2001 - 2004). Karena film-film yang muncul di era Heisei & Milenium menampilkan latar belakang Mothra secara tidak konsisten, bagian ini hanya akan membahas Mothra dari era Showa.


Pulau Infant adalah nama dari sebuah pulau terpencil yang terletak di Samudera Pasifik. Karena pulau ini memiliki tingkat radiasi yang amat tinggi, pulau ini awalnya dikira sebagai pulau yang tidak berpenghuni. Kenyataannya, pulau ini juga dihuni oleh manusia yang tingkat peradabannya masih setara dengan manusia Zaman Batu. Mereka diketahui bisa hidup dalam radiasi tinggi karena mengkonsumsi ramuan khusus berwarna merah yang bisa menghilangkan efek radiasi pada manusia. Selain mereka, di Pulau Infant juga terdapat sepasang peri berwujud manusia kecil yang bernama Shobijin.

Suatu hari, rombongan manusia yang berasal dari Jepang & Rolisika melakukan ekspedisi ke pulau ini untuk mempelajari Pulau Infant & penghuninya lebih jauh. Sesampainya di sana, salah seorang anggota rombongan yang bernama Nelson nekat menculik Shobijin secara diam-diam karena ia ingin menjadikan Shobijin sebagai objek pertunjukan. Karena penduduk asli Pulau Infant tidak berhasil menghentikan Nelson, mereka kemudian pergi menuju tebing untuk melakukan ritual pemanggilan Mothra. Dari balik tebing tersebut, muncullah telur raksasa yang kemudian menetas menjadi larva Mothra.

Nelson (baju hitam) saat menyekap
Shobijin di dalam sangkar.
Sementara itu di Jepang, Nelson memamerkan Shobijin yang ditangkapnya di teater & membiarkan mereka bernyanyi di hadapan para penonton. Namun Nelson tidak tahu kalau Shobijin tersebut bernyanyi karena mereka sedang memanggil-manggil Mothra. Begitu mendengar nyanyian tersebut, larva Mothra berenang mengarungi lautan menuju Jepang. Militer Jepang langsung menyerang larva tersebut dengan semua kendaraan tempur miliknya, namun hasilnya nihil. Justru larva tersebut kemudian malah berubah menjadi kepompong sebelum akhirnya keluar sebagai Mothra dewasa yang bentuknya menyerupai ngengat.

Saat kondisi di Jepang sedang kacau balau akibat serangan Mothra, Nelson malah melarikan diri ke kota New Kirk City, Rolisika, sambil membawa Shobijin bersamanya. Namun Mothra tidak mau menyerah & kini terbang menuju New Kirk. Merasa khawatir kalau kota yang mereka tinggali bakal porak poranda akibat serangan Mothra, penduduk New Kirk kemudian mengeroyok Nelson & mengambil paksa Shobijin yang dikurungnya. Setelah kedua Shobijin tersebut dibebaskan & dipertemukan kembali dengan Mothra, Mothra kemudian terbang kembali ke Pulau Infant sambil membawa Shobijin bersamanya.

Pasca peristiwa di Rolisika, Mothra sempat menghasilkan telur yang kemudian hanyut terbawa badai hingga akhirnya terdampar di Jepang. Namun telur Mothra tersebut bukanlah satu-satunya makhluk raksasa yang menampakkan diri di Jepang. Pada periode yang bersamaan, Godzilla yang awalnya tidak sadarkan diri usai terhempas badai mendadak bangkit kembali & memporak porandakan Jepang. Demi melindungi telurnya yang masih berada di Jepang, Mothra pun terbang meninggalkan Pulau Infant untuk berhadap-hadapan langsung dengan Godzilla.

Pertarungan antara Mothra & Godzilla berlangsung amat sengit. Namun setelah Mothra terkena semburan nafas atomik Godzilla, Mothra tidak sanggup lagi melanjutkan pertarungan & akhirnya tewas sambil bertengger di samping telurnya. Namun bak peribahasa "patah tumbuh hilang berganti", telur tadi menetas & sepasang larva Mothra muncul dari dalamnya. Kedua larva tersebut kemudian mengeroyok Godzilla untuk membalaskan kematian induknya. Hasilnya, Godzilla berhasil didesak mundur sehingga reptil raksasa tersebut terpaksa kembali ke laut.

Mothra saat menyeret ekor Godzilla.

Waktu berlalu, sebuah meteorit yang aslinya telur raksasa jatuh di Jepang. Makhluk raksasa berwujud naga berkepala 3 yang bernama King Ghidorah kemudian muncul dari dalamnya & meluluh lantakkan setiap tempat yang dilewatinya. Karena larva Mothra memandang King Ghidorah sebagai makhluk asing yang membawa ancaman bagi planet tempat tinggalnya, ia kemudian meminta bantuan Godzilla serta Rodan - makhluk raksasa yang bentuknya menyerupai dinosaurus terbang - supaya bersedia membantunya mengalahkan King Ghidorah. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Godzilla & Rodan karena keduanya saling membenci satu sama lain.

Gagal mengajak Godzilla & Rodan untuk bertarung bersamanya, larva Mothra kemudian nekat pergi untuk menantang King Ghidorah seorang diri. Karena King Ghidorah jauh lebih kuat, larva Mothra pada awalnya merasa kewalahan. Namun mendadak, Godzilla & Rodan muncul untuk membantu larva Mothra karena keduanya merasa kagum akan keberanian larva Mothra. Merasa terdesak karena diserang oleh 3 monster sekaligus, King Ghidorah kemudian terbang melarikan diri ke luar angkasa. Pasca keberhasilan tersebut, larva Mothra kemudian berenang kembali ke Pulau Infant untuk melanjutkan siklus hidupnya.



KARAKTERISTIK

(Atas-bawah) Fase telur, larva,
& kepompong Mothra.
Mothra pada dasarnya adalah sejenis ngengat raksasa sehingga makhluk ini pun mengalami metamorfosis sempurna dalam hidupnya. Ada 4 tahap metamorfosis yang dijalani oleh Mothra, yaitu fase telur, larva, pupa / kepompong, & ngengat dewasa. Mothra adalah makhluk berjenis kelamin betina dengan kemampuan parthenogesis yang berarti Mothra bisa menghasilkan telur tanpa harus melakukan perkawinan. Dan seperti halnya Godzilla, Mothra memiliki kadar radiasi yang amat tinggi. Mothra juga memiliki jangkauan pendengaran yang luar biasa jauh karena ia bisa mendengar nyanyian Shobijin kendati terpisah jarak hingga ratusan atau bahkan ribuan kilometer.

Larva Mothra bentuknya menyerupai ulat hijau tubuh yang beruas-ruas. Panjangnya kira-kira mencapai 200 meter lebih karena Mothra nampak berukuran lebih besar dibandingkan bagian tengah Menara Tokyo yang tinggi totalnya mencapai 333 meter. Matanya berjumlah sepasang & memancarkan cahaya kebiruan, sementara moncongnya berbentuk lonjong & berwarna hitam. Seperti halnya ulat, larva Mothra berjalan dengan cara mengerut-ngerutkan tubuhnya sambil bergerak ke depan. Larva Mothra juga bisa berenang dengan cara melompat keluar masuk air secara berulang-ulang.

Saat harus bertarung, larvaMothra bisa membela diri dengan cara menggigit memakai moncongnya yang berbentuk menyerupai paruh. Untuk pertarungan jarak jauh, larva Mothra bisa menyemburkan cairan putih lengket yang aslinya adalah benang dalam wujud cair. Dengan semprotan cairan ini, larva Mothra bisa menembak jatuh pesawat atau membuat musuhnya tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Larva Mothra juga menggunakan cairan ini saat ia harus melanjutkan daur hidupnya ke fase kepompong. Kepompong Mothra berbentuk lonjong seperti kacang tanah & berwarna pucat.

Kepompong Mothra hanya memerlukan waktu beberapa hari untuk menetas menjadi Mothra dewasa yang bentuknya menyerupai ngengat. Namun tidak seperti ngengat yang harus menunggu cukup lama supaya sayapnya mengembang sebelum bisa dipakai untuk terbang, Mothra yang baru keluar dari kepompongnya sudah bisa langsung mengembangkan sayapnya. Sayap Mothra berjumlah 4 helai, berwarna mencolok, & memiliki corak berbentuk menyerupai mata di bagian sayap depannya. Mothra terbang dengan cara mengepak-ngepakkan sayapnya secara lambat. Setiap kali sayapnya mengepak, Mothra bisa menciptakan hembusan angin yang amat kencang & cukup kuat untuk merobohkan bangunan serta menggulingkan kendaraan lapis baja.

Mothra yang baru keluar dari
kepompongnya.
Jika Mothra memiliki sayap yang besar, maka kakinya yang berjumlah 6 justru berukuran kecil. Jika serangga terbang pada umumnya memiliki kaki berbentuk panjang & ramping, maka kaki Mothra berbentuk pendek dengan jari-jari cakar di bagian ujung kakinya. Meskipun kecil, kaki Mothra cukup kuat untuk menyeret hewan sebesar Godzilla sekalipun. Kepala Mothra berbentuk bulat menyerupai kepala burung hantu dengan moncong berbentuk bulat & sepasang mata besar yang berwarna biru. Saat bersuara, suara Mothra terdengar seperti suara erangan burung gagak dalam nada tinggi

Mothra dewasa bertarung dengan cara mencakar & menyergap lawannya sambil terbang. Untuk pertarungan jarak jauh, Mothra bisa menciptakan angin kencang dari sayapnya & melepaskan serbuk beracun dari tubuhnya. Mothra yang muncul di film-film keluaran tahun 90-an ke atas memiliki kekuatan yang lebih beragam karena Mothra dari periode tersebut bisa menembakkan sinar perusak dari antenanya & melepaskan serbuk kuning dari sayapnya, di mana serbuk tersebut bisa memantulkan serangan jarak jauh musuh.

Mothra nampaknya merupakan makhluk yang abadi walaupun konsep keabadiannya tidak sama dengan konsep keabadian pada umumnya. Pasalnya setiap kali seekor Mothra dewasa mati, maka Mothra yang baru akan muncul dari telur & melanjutkan peran yang sebelumnya diemban oleh individu Mothra yang lama. Bisa dibilang Mothra mengalihkan jiwanya secara turun temurun setiap kali jasad fisiknya yang lama sudah tidak bisa lagi digunakan. Mothra juga memiliki sifat altruistik & rela berkorban karena Mothra tidak segan-segan mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi Bumi & penghuni Pulau Infant.

Mothra saat terbang di atas
Pulau Infant.
Mothra hampir selalu ditemani oleh sepasang manusia kecil bernama Shobijin yang masing-masingnya hanya memiliki tinggi kurang lebih 30 cm. Karena Shobijin memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa apapun, Shobijin kerap bertindak sebagai penyambung lidah saat Mothra harus berkomunikasi dengan manusia. Jika Shobijin ingin meminta bantuan kepada Mothra atau ingin membantu Mothra berubah ke fase metamorfosis berikutnya, Shobijin akan menyanyikan lagu pemujaan yang liriknya menggunakan bahasa Melayu / Indonesia. Berikut ini adalah lirik lagu yang dimaksud :

Mosura ya Mosura
Dengan kesaktian indukmu
Restuilah doa hamba-hambamu yang
Rendah bangunlah dan
Tunjukkanlah... kesaktian


© Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Polygon - Godzilla: King of the Monsters trailer....
SciFi Japan - Jerry Ito: A S’Wonderful Life
Wikipedia - Mothra - Character biography
Kalat, D.. 2010. "A Critical History ... Godzilla Series". McFarland & Co., AS.
(Film) 1961. Honda, I.. "Mothra".
(Film) 1964. Honda, I.. "Mothra vs. Godzilla".
(Film) 1964. Honda, I.. "Ghidorah, the Three-Headed Monster".
(Film) 2001. Kaneko, S.. "Godzilla, Mothra, and King Ghidorah".





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Download PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.