SEJARAH        FAUNA         HIBURAN          Cari Artikel  →

Sejarah Penyebaran Bangsa Viking di Eropa & Amerika



(Sumber)

Viking adalah sebutan untuk bangsa asal Skandkinavia / Eropa Utara yang terkenal akan keahliannya dalam melaut & bertarung. Pada masa jayanya, bangsa Viking begitu ditakuti oleh penduduk Inggris & Eropa bagian utara karena mereka memiliki kebiasaan mendatangi pemukiman padat penduduk yang terletak di tepi pantai untuk melakukan penjarahan membabi buta & kemudian pergi melarikan diri memakai kapal sebelum pasukan penguasa daerah tersebut tiba di lokasi penjarahan.

Tidak diketahui asal-usul pasti dari nama "Viking". Menurut salah satu teori, nama "Viking" mungkin berasal dari bahasa Skandinavia Kuno yang berarti "bajak laut". Ada pula pendapat yang menyatakan kalau kata "Viking" berasal dari Viken, suatu daerah yang terletak di sekitar Teluk Oslo, Norwegia. Nama Viking lazimnya hanya digunakan untuk menyebut orang-orang asal Skandinavia yang melakukan kegiatan penjarahan, sementara penduduk Skandinavia secara umum dikenal dengan nama Norse, Norsemen, atau Northmen (orang-orang yang berasal dari utara).

Kapal longship. (Sumber)
Supaya para pelaut Viking bisa melakukan penjarahan dengan leluasa, mereka berlayar dengan memakai kapal layar khusus yang bernama "longship" (kapal panjang). Sesuai dengan namanya, longship memang memiliki bentuk yang panjang, sempit, & dilengkapi dengan layar berbentuk persegi. Selain bergerak dengan bantuan angin, longship juga dilengkapi dengan beberapa buah dayung. Karena bentuknya yang panjang & sempit, longship bisa digunakan untuk memasuki teluk sempit & muara sungai. Kebetulan pantai Skandinavia memang terkenal akan garis pantainya yang berbentuk "keriting" akibat banyaknya teluk & semenanjung kecil yang berada di sana.

Reputasi bangsa Viking sebagai bangsa yang gemar bertarung sedikit banyak dipengaruhi oleh kepercayaan yang mereka anut. Menurut keyakinan bangsa Viking, mereka yang gugur dalam perang jiwanya akan dipungut oleh Dewi Valkyrie & kemudian dibawa ke surga Valhalla untuk menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan di sana. Di luar masalah kepercayaan, kebiasaan bangsa Viking untuk melakukan penjarahan juga dipengaruhi oleh kondisi Skandinavia yang beriklim dingin sehingga penduduknya mau tidak mau harus mencari kebutuhan pokok di luar Skandinavia saat kondisi di tanah tinggalnya sedang tidak bersahabat.

Meskipun bangsa Viking kerap digambarkan sebagai bangsa petarung & penjarah, bukan berarti aktivitas mereka hanya diisi oleh pertumpahan darah semata. Dalam kondisi damai, orang-orang Viking umumnya berprofesi sebagai petani, peternak, nelayan, pengrajin, & bahkan melakukan hubungan dagang dengan bangsa-bangsa di luar Skandinavia. Komoditas dagang utama yang kerap ditawarkan oleh bangsa Viking kepada bangsa asing adalah amber, sejenis batu berwarna kekuningan yang aslinya merupakan getah pohon purba yang membeku & kemudian memfosil. Pada masa itu, amber banyak dicari karena bisa diolah menjadi perhiasan.

Bangsa Viking hidup dalam perkampungan-perkampungan independen yang masing-masingnya dipimpin oleh kepala suku (chieftain). Mereka juga mengenal sistem pengkastaan sosial di mana masyarakat Viking secara umum terbagi ke dalam 3 kelas utama : Jarl (golongan penguasa), Karl (golongan kelas bawah), & Thrall (golongan budak). Berkebalikan dengan reputasinya sebagai bangsa yang gemar berperang, bangsa Viking dalam keadaan biasa justru dikenal sangat memperhatikan kebersihan & kerapian. Prajurit Viking aslinya juga tidak mengenakan helm bertanduk saat berperang karena memakai helm hanya akan menyulitkan pergerakan mereka sendiri di medan perang.

Peta Skandinavia di masa sekarang. (Sumber)

Para sejarawan menyebut era di mana bangsa Viking aktif di Eropa sebagai "Zaman Viking" (Viking Age). Mereka diperkirakan mulai melakukan penjarahan ke kawasan Eropa sejak abad ke-8 sebagai akibat dari kian padatnya jumlah penduduk Skandinavia, adanya ancaman dari dinasti-dinasti Kristen, & masih belum stabilnya kondisi Eropa pasca runtuhnya Romawi Kuno. Akhir dari Zaman Viking dianggap terjadi pada abad ke-11 setelah raja-raja Viking (salah satunya Olaf II Haraldsson, raja Norwegia) mengadopsi agama Kristen sehingga bangsa Viking secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup lamanya.

Selain berlayar ke luar Skandinavia untuk berdagang & melakukan penjarahan, bangsa Viking juga melakukan perjalanan ke tempat yang jauh untuk menemukan daratan baru yang bisa dikuasai & dijadikan tempat hunian permanen. Selama berlangsungnya Zaman Viking, bangsa Viking diketahui sempat menyebar ke luar Skandinavia untuk mendirikan pemukiman-pemukiman baru. Segmen artikel di bawah ini bakal menjelaskan bagaimana bangsa Viking menyebar & mendirikan pemukiman permanen di kawasan-kawasan terkait.



KEPULAUAN BRITANIA (INGGRIS & IRLANDIA)

Serangan pertama bangsa Viking di tanah Inggris terjadi pada tahun 793 di biara Pulau Lindisfarne. Kemudian pada tahun 865, pasukan Viking yang datang dari Denmark melakukan invasi besar-besaran ke Pulau Britania sebagai tindakan balas dendam atas tewasnya salah seorang pemimpin mereka yang bernama Ragnar Lobrok. Dalam invasi tersebut, pasukan Viking berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil Britania seperti Anglia Timur & Northumbria, namun mereka gagal menaklukkan Kerajaan Wessex yang dipimpin oleh Alfred yang Agung.

Peta Inggris & Irlandia sebelum
invasi bangsa Viking.
Kendati gagal mengalahkan Wessex, Viking berhasil menguasai wilayah timur & utara Inggris usai meresmikan perjanjian damai dengan Wessex pada tahun 886. Kawasan yang dikuasai oleh Viking tersebut kemudian dikenal sebagai "Danelaw". Sukses menguasai sebagian pulau Britania, sebagian orang Viking kemudian menyeberang ke Pulau Irlandia di sebelah barat untuk bermukim di sana sejak tahun 900. Di sana, bangsa Viking kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru di Dublin, Limerick, & Waterford.

Hubungan antara bangsa Viking dengan penduduk asli Kepulauan Britania sayangnya tetap tidak membaik. Sejak akhir abad ke-9, Wessex & sekutunya kembali terlibat konflik dengan bangsa Viking. Kendati bangsa Viking mendapat bala bantuan dari Skandinavia & Irlandia, sejak tahun 954 seluruh kerajaan bentukan bangsa Viking di Pulau Britania berhasil ditaklukkan. Meskipun begitu, sisa-sisa penduduk keturunan Viking yang tinggal di Pulau Britania tetap dibiarkan hidup selama mereka menunjukkan kesetiaan pada raja.

Tahun 980 alias sekitar lebih dari setengah abad pasca wafatnya Alred, pasukan Viking kembali melakukan penyerangan & penjarahan di pantai-pantai Inggris. Tahun 1002, menyusul dibantainya orang-orang Viking Denmark yang tinggal di Inggris, pasukan Viking yang dipimpin oleh raja Sweyn Forkbeard melakukan invasi besar-besaran ke Inggris sehingga raja Inggris pada waktu itu (Aethelred II) terpaksa melarikan diri ke Eropa daratan. Pasca kaburnya Aethelred, kursi tahta Inggris sempat bergantian ditempati oleh keturunan Aethelred & Swen. Terhitung sejak tahun 1042, Inggris dipimpin oleh Edward, putra dari Aethelred.

Tahun 1066, Edward meninggal dunia & posisinya sebagai raja digantikan oleh putranya yang bernama Harold. Wafatnya Edward kemudian coba dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh keturunan Viking yang berkuasa di luar Inggris untuk menjadikan Inggris sebagai bagian dari kekuasaannya. Tokoh-tokoh tersebut adalah Harald Sigurdsson (raja Norwegia) & William (bangsawan Normandy, Perancis utara). Harald pada akhirnya gugur setelah pasukannya berhasil dikalahkan oleh pasukan Harold di Inggris utara.

Kemenangan Harold ternyata hanyalah kekalahan yang tertunda karena ia sendiri akhirnya juga tewas setelah pasukan William berhasil mengalahkan pasukannya dalam pertempuran lain yang mengambil tempat di Hastings, Inggris selatan, pada bulan Oktober 1066. Naiknya William sebagai penguasa baru Inggris kerap dianggap sebagai salah satu momen terpenting dalam sejarah Inggris karena besarnya dampak yang ia berikan pada perjalanan sejarah Inggris. Sebagai contoh, Perang 100 Tahun antara Inggris & Perancis terjadi akibat adanya sengketa wilayah yang asal muasalnya dapat ditelusuri sejak era William.



EROPA DARATAN

Peta lokasi Normandy. (Sumber)
Rollo adalah nama dari seorang panglima Viking asal Norwegia yang pada awalnya giat melakukan penjarahan di Kepulauan Britania & Perancis utara. Supaya Rollo bersedia menghentikan aktivitas penjarahannya, Charles III selaku raja Perancis memberikan tanah di Normandy, Perancis utara, kepada Rollo pada tahun 911. Peristiwa ini sekaligus menandai berdirinya negara kebangsawanan Normandy yang dipimpin & dihuni oleh orang-orang keturunan Viking, di mana para keturunan Viking ini kelak dikenal dengan nama "Norman". Dalam perkembangannya, bangsa Norman kemudian menyebar ke wilayah lain di Eropa semisal Italia.

Sementara itu nun jauh di sebelah timur, bangsa Viking juga melakukan penjelajahan hingga ke Eropa Timur untuk berdagang & mendirikan pemukiman tetap. Bangsa Yunani menyebut orang-orang Viking dengan nama "Varangia". Sementara bangsa Slavia Timur menyebut bangsa Viking dengan nama "Rus". Nama "Rus" kelak diadopsi menjadi cikal bakal dari nama Rusia, negara terbesar di dunia yang pada awalnya hanyalah kerajaan kecil di Eropa Timur. Kebetulan bangsa Viking yang merantau ke Eropa Timur memang sempat mendirikan kerajaannya sendiri di kawasan tersebut.

Kerajaan yang dimaksud di sini adalah Kerajaan Rus Kiev (Kievan Rus; Kyivan Rus) yang didirikan pada abad ke-9 & berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah selatan. Saat Rus Kiev tumbuh semakin besar, kerajaan tersebut kemudian terlibat konflik dengan Kekaisaran Byzantium / Romawi Timur akibat perebutan jalur dagang. Supaya Rus Kiev berhenti mengusik Byzanitum, pada abad ke-10 Byzantium sempat memiliki perjanjian dagang khusus dengan bangsa Rus.

Kendati hubungan antara Byzantium & Rus pada awalnya dipenuhi permusuhan, hubungan mereka mulai membaik sejak abad ke-11. Sejumlah orang Rus bahkan dipercaya menjadi pasukan khusus pelindung kaisar Byzantium dengan nama "Garda Varangia" (Varangian Guard). Namun kombinasi dari timbulnya konflik internal & datangnya bangsa-bangsa pengembara dari Asia menyebabkan Rus Kiev secara berangsur-angsur melemah hingga akhirnya benar-benar runtuh pada abad ke-13 akibat diinvasi oleh bangsa Mongol.



ISLANDIA, GREENLAND, & AMERIKA UTARA

Peta lokasi Nuuk. (Sumber)
Islandia awalnya merupakan pulau yang tidak berpenghuni sebagai akibat dari iklimnya yang dingin & lokasinya yang jauh dari Eropa daratan. Namun sejak abad ke-9, bangsa Viking mulai berdatangan ke Islandia untuk menetap di sana. Satu dari sekian banyak orang Viking yang menetap di Islandia adalah Erik the Red yang pada tahun 982 diusir keluar dari Islandia karena dianggap bersalah melakukan pembunuhan. Selama menjalani masa pengasingan, Erik kemudian berlayar menuju Pulau Greenland yang letaknya berada di sebelah utara Islandia.

Saat masa hukumannya sudah berakhir, Erik kemudian kembali ke Islandia pada tahun 985 sambil menceritakan apa yang ia temukan di Pulau Greenland. Ia juga sengaja menamai pulau yang bersangkutan dengan nama "Greenland" (Tanah Hijau) dengan harapan orang-orang menjadi lebih tertarik untuk pindah & menetap di sana. Merasa tertarik akan cerita Erik, pada tahun 986 rombongan yang dipimpin oleh Erik kemudian berlayar menuju Greenland & mendirikan 2 perkampungan di sana :Perkampungan Timur (sekarang terletak di dekat Julianehab, ujung selatan Greenland) & Perkampungan Barat (sekarang terletak di dekat Nuuk, Greenland barat daya).

Seiring berjalannya waktu, kian banyak orang Viking yang bermigrasi ke Greenland. Pada puncaknya, jumlah orang Viking yang menetap di Greenland diperkirakan mencapai 3.000 orang. Bangsa Viking sendiri bukanlah satu-satunya manusia yang menghuni Greenland karena sebelum kedatangan mereka, suku Eskimo Inuit sudah lebih dulu tinggal di Greenland. Hubungan dagang pun berkembang di antara keduanya. Jika bangsa Viking menjual logam bahan pembuat senjata & perkakas kepada suku Inuit, maka suku Inuit menjual taring hewan laut hasil perburuan kepada bangsa Viking.

Hubungan harmonis antara penduduk Viking dengan Inuit sayangnya tidak berlanjut lebih jauh menyusul terjadinya perubahan iklim pada abad ke-14. Akibat menurunnya suhu rata-rata Greenland, suku Inuit kian sulit mendapatkan hewan buruan sehingga mereka semakin sering melakukan penyerangan ke perkampungan orang-orang Viking. Saat kondisi di Greenland semakin tidak bersahabat akibat faktor alam & manusia, pada abad ke-15 seluruh perkampungan bangsa Viking di Greenland ditinggalkan oleh penghuninya.

Patung Leif Erikson. (Sumber)
Bangsa Viking juga diketahui sebagai bangsa Eropa yang pertama yang mencapai Benua Amerika jauh sebelum rombongan pimpinan Christopher Columbus melakukan pelayaran ke Amerika pada abad ke-15. Pada tahun 1001, penjelajah Viking yang bernama Leif Erikson berlayar dari Greenland menuju daratan Amerika Utara yang kemudian ia beri nama "Vinland" (Wine Land; Tanah Anggur). Dua tahun kemudian, saudara Leif yang bernama Thorvald kemudian melakukan perjalanan ke Vinland & tinggal di sana bersama dengan rombongannya untuk mencari tahu apakah daratan baru tersebut menguntungkan untuk ditinggali.

Thorvald & para pengikutnya awalnya bisa tinggal di sana tanpa kendala. Namun sesudah 3 tahun, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Vinland akibat seringnya mereka terlibat konflik dengan Skraeling (sebutan orang Viking untuk penduduk asli Amerika). Tahun 1013, bangsa Viking kembali melakukan ekspedisi ke Vinland, namun ekspedisi tersebut harus berakhir dengan kegagalan. Pasca rentetan pengalaman buruk tersebut, bangsa Viking tidak pernah lagi mencoba bermigrasi ke Benua Amerika & benua tersebut tidak pernah lagi dijamah oleh bangsa Eropa hingga beberapa abad kemudian.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Ancient History Encyclopedia - Kievan Rus
Ancient History Encyclopedia - Vikings
BBC - Overview : The Vikings, 800 to 1066
BBC - The Hundred Years War
History on the Net - Vikings History
Smithsonian - Why Did Greenland’s Vikings Vanish?
 - . 2008. "Greenland". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Norman". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Viking". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Vinland". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Karlsson, G.. 2008. "Iceland". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Download PDF

2 komentar:

  1. Verarti itu hny propaganda amerika mengambarkan klo viking kejam, barbar, kotor, jorok dsb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih tepatnya propaganda bangsa Inggris yang kemudian diserap dalam budaya pop. Inggris di masa itu wilayahnya sering diserang bangsa Viking. Makanya kemudian literatur-literatur Inggris dari Abad Pertengahan ya lebih banyak menonjolkan sisi jeleknya bangsa Viking.

      Hapus


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.