Pengepungan Kaffa, Saat Mayat Berjatuhan dari Langit



Ilustrasi trebuchet, senjata yang digunakan oleh pasukan Gerombolan Emas saat menyerang kota Kaffa. (thefactsource.com)

Feodosiya adalah nama dari sebuah kota yang terletak di pantai selatan Crimea, semenanjung kecil di Eropa Timur yang sejak tahun 2014 menjadi arena sengketa antara Ukraina & Rusia. Sebelum tahun 1802, Feodosiya dikenal dengan nama Kaffa / Caffa. Di kota inilah, pernah terjadi konflik bersenjata yang kelak menjadi cikal bakal munculnya salah satu wabah paling mengerikan dalam sejarah Eropa.

Pengepungan Kaffa (Siege of Caffa) adalah sebutan untuk invasi militer yang dilakukan oleh negara Gerombolan Emas ke kota Kaffa pada tahun 1343 hingga 1347. Saat pengepungan terjadi, kota Kaffa sedang berada di bawah kendali Republik Genoa, negara yang pusat pemerintahannya berada di Semenanjung Italia. Pengepungan itu sendiri terjadi karena kota Kaffa menolak menyerahkan buronan yang sedang dicari-cari oleh Gerombolan Emas.

Meskipun Pengepungan Kaffa berlangsung dalam skala pertempuran & ruang lingkup yang terbatas, peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Abad Pertengahan. Pasalnya akibat peristiwa ini, wabah penyakit Black Death yang tadinya hanya muncul di Asia kelak turut menjalar hingga ke Eropa & Afrika.

Pengepungan Kaffa juga dikenang sebagai contoh peristiwa di mana senjata biologis pernah digunakan pada era pra-modern. Senjata biologis yang dimaksud di sini adalah mayat-mayat manusia yang tewas akibat wabah. Supaya penduduk di kota Kaffa juga tertular oleh penyakit yang diidap oleh mayat tersebut, pasukan Gerombolan Emas pun kemudian melontarkan mayat-mayat tadi ke dalam kota dengan memakai alat pelontar raksasa (trebuchet).


Peta lokasi Kaffa / Feodosiya. (britannica.com)


LATAR BELAKANG

Sejak dipimpin oleh Genghis Khan & para penerusnya, bangsa Mongol yang awalnya hidup terkotak-kotak & kerap berkonflik 1 sama lain kini bersatu padu untuk menaklukkan bangsa-bangsa di sekitarnya. Kerajaan-kerajaan megah di Cina, Persia, hingga Irak semuanya bertumbangan usai diinvasi oleh pasukan Mongol.

Saat melakukan penaklukan ke wilayah-wilayah yang dijamahnya, pasukan Mongol bukan hanya diperkuat oleh suku Mongol, tapi juga oleh suku-suku pengembara lainnya yang kebetulan tinggal di wilayah taklukan Mongol. Tatar / Tartar adalah 1 dari sekian banyak suku pengembara tersebut. Mereka awalnya tinggal di Asia bagian utara, namun kemudian turut bermigrasi ke Eropa Timur saat pasukan Mongol melakukan invasi ke arah sana.

Memasuki abad ke-13, Semenanjung Crimea yang terletak di tepi Laut Hitam akhirnya turut jatuh ke tangan pasukan Mongol. Dikuasainya Crimea oleh Mongol kemudian diikuti dengan masuknya orang-orang Tatar ke Crimea untuk bermukim di sana.

Saat Kekaisaran Mongol mengalami keruntuhan & terpecah menjadi negara-negara yang lebih kecil, wilayah Crimea nantinya berada di bawah kendali Gerombolan Emas (Golden Horde), negara pecahan Kekaisaran Mongol yang wilayahnya mencakup Eropa Timur & sebagian Asia Tengah.

Tahun 1266 alias tidak lama setelah Crimea mulai dikuasai oleh bangsa Mongol & Tatar, kota pelabuhan Kaffa yang terletak di Crimea dikuasai oleh Republik Genoa, negara maritim di Italia utara. Genoa ingin memanfaatkan lokasi Kaffa yang strategis sebagai jalur dagang karena kota tersebut terletak di persimpangan Benua Eropa & Asia.

Peta lokasi ibukota Genoa & Kaffa.

Pemerintah Gerombolan Emas membiarkan Genoa menguasai Kaffa karena mereka juga memanfaatkan kota tersebut sebagai tempat untuk berdagang. Hubungan antara Genoa & Gerombolan Emas nampak baik-baik saja hingga kemudian pada tahun 1343, terjadi peristiwa besar di kota Tana, kota milik Gerombolan Emas yang terletak tidak jauh dari Laut Hitam & sekarang bernama Azov.

Dalam peristiwa tersebut, sejumlah pedagang Genoa yang beragama Kristen terlibat perkelahian dengan warga lokal yang kebetulan beragama Islam. Akibat perkelahian tersebut, seorang warga Muslim harus kehilangan nyawanya. Karena Gerombolan Emas merupakan negara yang dipimpin oleh penguasa Muslim, para pedagang Genoa yang terlibat dalam peristiwa ini merasa panik & bergegas pergi meninggalkan Tana.

Mereka kemudian bertolak menuju Kaffa untuk bersembunyi di sana. Karena Kaffa merupakan kota milik Genoa, mereka berharap kalau penguasa kota tersebut bersedia melindungi mereka. Dan memang begitulah kenyataannya. Saat perwakilan Gerombolan Emas meminta supaya pelaku pembunuhan di Tana segera diserahkan, pemerintah Kaffa menolak menuruti keinginan Gerombolan Emas.

Jani Beg selaku khan / pemimpin Gerombolan Emas merasa tersinggung karena kota sekecil Kaffa ternyata berani menolak keinginan Gerombolan Emas. Maka, ia pun memerintahkan pasukannya untuk melakukan pengepungan ke sekeliling kota Kaffa. Peristiwa ini sekaligus menandai dimulainya masa-masa mencekam di kota Kaffa yang dampaknya kelak bakal turut dirasakan oleh mereka yang tinggal di luar Kaffa.


Jani Beg. (O.Mustafin / wikipedia.org)


BERJALANNYA PENGEPUNGAN

Pengepungan Pertama (1343)

Untuk menaklukkan kota Kaffa, Gerombolan Emas mengerahkan ribuan tentaranya. Mereka juga dilengkapi dengan mesin-mesin perang semisal alat pelontar raksasa (trebuchet). Namun Kaffa bukanlah kota yang dapat ditaklukkan dengan mudah. Kota tersebut dilindungi oleh menara & barisan tembok rasasa yang sulit ditembus.

Jumlah penduduk di kota Kaffa dikabarkan mencapai 80.000 jiwa. Dampaknya, saat kota mereka diserang & dikepung oleh pasukan Gerombolan Emas, penduduk di kota tersebut bisa turut diberdayakan untuk membantu melindungi kota. Dan karena Kaffa merupakan kota pelabuhan, kota tersebut bisa menerima bantuan logistik & tentara dari Genoa secara berkala.

Kombinasi dari hal-hal tadi menyebabkan kota Kaffa menjadi benteng yang amat sulit ditembus oleh pasukan Gerombolan Emas. Setiap kali pasukan Gerombolan Emas mencoba menjebol tembok Kaffa, pasukan Genoa yang terkenal dengan kehebatan pasukan pemanahnya selalu berhasil memukul mundur pasukan musuh. Penggunaan trebuchet tidak banyak membantu karena senjata tersebut memiliki daya rusak yang terbatas & akurasi yang rendah.

Waktu berlalu, jumlah prajurit Gerombolan Emas yang tewas sudah mencapai 15.000 orang. Sejumlah mesin perang milik Gerombolan Emas juga berada dalam kondisi rusak berat. Akibatnya, Jani Beg terpaksa menarik mundur pasukannya sehingga pengepungan tersebut berakhir dengan kegagalan menaklukkan Kaffa. Meskipun kalah, Jani Beg masih menyimpan dendam & berencana kembali menginvasi Kaffa di kemudian hari.


Lukisan mengenai pasukan Gerombolan Emas saat menyerang Kaffa. (contagions.wordpress.com)


Pengepungan Kedua (1345 - 1347)

Momen yang ditunggu oleh Jani Beg akhirnya tiba di tahun 1345. Di tahun tersebut, pasukan Gerombolan Emas kembali melakukan pengepungan di sekeliling Kaffa. Namun kali ini, pasukan yang menjaga Kaffa bukanlah satu-satunya musuh yang harus mereka hadapi. Pasukan Gerombolan Emas juga harus bergulat dengan wabah penyakit Black Death yang menjangkiti para prajuritnya.

Sedikit informasi, Black Death adalah wabah penyakit yang pertama kali muncul di Cina & kemudian menyebar ke arah barat melalui jalur dagang & transportasi. Sebutan "Black Death" (Kematian Hitam) diberikan karena mereka yang terjangkit penyakit ini bakal menampakkan gejala berupa munculnya noda berwarna hitam di sekujur tubuh. Selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang hewan mamalia, khususnya tikus.

Di masa kini, ilmuwan meyakini kalau apa yang disebut oleh Black Death aslinya adalah penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Mereka yang sehat bisa terkena penyakit ini jika berada di dekat penderita pes yang sedang batuk / bersin. Jika penderita pes meninggal dunia, mayatnya masih dapat menyebarkan penyakit jika mayat tersebut disentuh / dimandikan oleh orang yang masih sehat.

Selain menular lewat udara & sentuhan, penyakit pes juga bisa menyebar lewat perantaraaan kutu pinjal (flea). Jika kutu tersebut menggigit penderita pes & kemudian ganti menggigit orang yang sehat, maka orang yang sehat tadi bakal ikut jatuh sakit. Akibatnya, mereka yang tidak pernah berada di dekat penderita pes tetap bisa ikut tertular lewat metode penyebaran yang satu ini.

Kembali ke soal wabah Black Death. Wabah ini diketahui mulai timbul di Asia Tengah pada tahun 1331. Sesudah itu, hanya masalah waktu sebelum wabah ini turut menjangkiti penduduk di wilayah Gerombolan Emas. Saat pasukan Gerombolan Emas melakukan pengepungan ke kota Kaffa untuk kedua kalinya, banyak tentara Gerombolan Emas yang jatuh sakit & meninggal di tengah-tengah berlangsungnya pengepungan.

Peta wilayah kekuasaan Gerombolan Emas. (Joe Roe / commons.wikimedia.org)

Semakin banyaknya tentara Gerombolan Emas yang jatuh sakit akibat wabah menyebabkan para tentara yang masih hidup merasa gelisah. Mereka khawatir bakal menjadi korban berikutnya akibat wabah ini. Jani Beg jelas merasa frustrasi dengan situasi ini karena yang melemahkan mereka justru bukanlah pasukan musuh, melainkan wabah penyakit. Namun ia ngotot memerintahkan pasukannya supaya tetap bersiaga di sekeliling Kaffa.

Seolah tidak ingin menderita sendirian, Jani Beg memerintahkan kepada pasukannya untuk menaruh mayat-mayat korban Black Death di trebuchet. Mayat-mayat tersebut kemudian dilontarkan ke arah Kaffa. Akibatnya, tersajilah pemandangan yang membuat penduduk Kaffa merasa tertegun sekaligus ketakutan. Mayat-mayat manusia berjatuhan dari langit & kemudian hancur saat menghantam tanah.

Karena potongan mayat tersebut menimbulkan bau yang amat menyengat ke seantero kota, penduduk kota Kaffa bergegas mengumpulkan potongan-potongan mayat tadi & kemudian membuangnya ke laut. Saat mereka menyentuh mayat tersebut, mereka tanpa sengaja terpapar oleh bakteri yang ada pada mayat. Akibatnya, wabah Black Death pun kini mulai menjangkiti penduduk Kaffa secara perlahan.

Saat mayat yang menghujani kota Kaffa jumlahnya semakin lama semakin banyak, sejumlah warga Genoa yang sedang berada di Kaffa pergi meninggalkan kota tersebut dengan memakai kapal. Mereka tidak sadar bahwa ketika mereka pergi meninggalkan Kaffa, mereka turut membawa wabah tersebut bersama mereka.

Armada laut Genoa. (Quinto Cenni / wikipedia.org)

Semakin berlarut-larutnya kondisi di kota Kaffa menyebabkan angkatan laut Genoa memutuskan untuk bertindak lebih aktif. Mereka balas melakukan blokade ke pelabuhan-pelabuhan milik Gerombolan Emas. Akibatnya, Gerombolan Emas tidak bisa lagi mendapatkan komoditas yang mereka butuhkan lewat jalur laut sehingga Jani Beg terpaksa melakukan perundingan dengan perwakilan Genoa.

Berdasarkan perundingan antara kedua belah pihak, pasukan Gerombolan Emas yang sedang mengepung Kaffa akan ditarik mundur. Sebagai gantinya, pasukan laut Genoa yang sedang mengepung pelabuhan-pelabuhan milik Gerombolan Emas juga bakal ditarik mundur.

Genoa juga diperbolehkan kembali menggunakan kota Tana sebagai pos dagang mereka. Tidak dijelaskan bagaimana kelanjutan nasib orang-orang Genoa yang dulu melakukan pembunuhan di Tana & menjadi penyebab timbulnya konflik ini.



KONDISI PASCA PENGEPUNGAN

Tahun 1453, Kekaisaran Byzantium / Romawi Timur runtuh setelah ibukota mereka, Konstantinopel, ditaklukkan oleh pasukan Ottoman. Karena selat yang ada di Konstantinopel menjadi jalur akses laut satu-satunya yang menghubungkan Laut Hitam dengan lautan lainnya, dikuasainya Konstantinopel oleh Ottoman menyebabkan terputusnya jalur transportasi laut antara Kaffa dengan Genoa.

Meskipun begitu, Kaffa tidak kehilangan statusnya sebagai kota pelabuhan yang ramai di Laut Hitam. Namun terputusnya akses antara Kaffa dengan Genoa menyebabkan kota tersebut menjadi jauh lebih rentan untuk ditaklukkan oleh pasukan asing. Hal tersebut akhirnya benar-benar terjadi pada tahun 1475. Di tahun tersebut, Kaffa berhasil ditaklukkan pasukan Khanat Crimea, negara Tatar yang memiliki hubungan dekat dengan Ottoman.

Peta penyebaran wabah Black Death dari Kaffa. (contagions.wordpress.com)

Sudah disinggung sebelumnya kalau di tengah-tengah berlangsungnya pengepungan Kaffa oleh pasukan Gerombolan Emas, ada sejumlah penduduk Genoa di Kaffa yang berlayar meninggalkan kota tersebut. Saat mereka singgah di Konstantinopel, penyakit yang ada di kapal mereka tanpa sengaja turut menjangkiti warga lokal. Karena Konstantinopel merupakan kota pelabuhan yang ramai, wabah yang menjangkiti Konstantinopel kemudian menyebar hingga ke Afrika & Asia.

Tahun 1348, orang-orang Genoa yang meninggalkan Kaffa akhirnya tiba di Genoa, Italia utara. Dari sana, wabah Black Death menyebar ke seantero Eropa Barat & Eropa Tengah tanpa bisa dicegah. Saat wabah Black Death akhirnya berhenti pada permulaan abad ke-15, jumlah penduduk Eropa & Asia yang meninggal akibat wabah ini diperkirakan mencapai 200 juta jiwa. Jumlah tersebut kurang lebih mencakup 60% populasi warga Eropa & 50% populasi warga Cina.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN KONFLIK

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 1343 - 1347
-  Lokasi : Kaffa / Feodosiya

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Gerombolan Emas
       melawan
(Daerah)  -  Kaffa
(Negara)  -  Republik Genoa

Hasil Akhir
Konflik berakhir tanpa pemenang yang jelas

Korban Jiwa
-  Gerombolan Emas : > 15.000 jiwa
-  Kaffa & Republik Genoa : tidak jelas



REFERENSI

 - . 2008. "Black Death". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 - . 2008. "Feodosiya". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Kalu, M.C.. 2018. "Birth of the Black Plague: The Mongol Siege on Caffa".
(www.warhistoryonline.com/instant-articles/mongol-siege-caffa-black-plague.html)

Wheelis, M.. 2002. " Biological Warfare at the 1346 Siege of Caffa".
(wwwnc.cdc.gov/eid/article/8/9/01-0536_article)

WHO. 2017. "Plague".
(www.who.int/news-room/q-a-detail/plague)

Wilde, R.. 2019. " The Symptoms of the Black Death".
(www.thoughtco.com/symptoms-of-the-black-death-1221214)

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. Wabah di zaman di abad pertengahan

    BalasHapus
  2. request min, bahas tentang militer myanmar yg saat ini kudeta, apa latar belakang nya militer myanmar ini dulu menguasai pemerintahan, sepertinya menarik untuk dibahas, Terima kasih min

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.