The Anarchy, Saat Inggris Menolak Dipimpin oleh Wanita



Matilda & pasukannya saat meninggalkan kastil. (James W.E. Doyle / wikimedia.org)

Melihat wanita menjadi kepala negara Inggris sekarang bukanlah hal yang aneh. Pasalnya yang sekarang yang menjadi kepala negara Inggris adalah ratu Elizabeth II. Namun lain halnya jika kita mundur ke masa beberapa abad sebelumnya. Pada masa itu, Kerajaan Inggris sempat terjerumus ke dalam perang saudara akibat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya wanita menjadi ratu.

"The Anarchy" (Anarki) adalah nama dari perang saudara yang dimaksud di sini. Perang tersebut berlangsung dari tahun 1135 hingga 1153 antara aliansi bangsawan pendukung Stephen (raja Inggris sejak tahun 1135) melawan aliansi bangsawan pendukung Matilda (putri kandung raja Inggris sebelumnya). Dalam perang ini, negara-negara luar seperti Skotlandia & Anjou (Perancis) juga ikut terlibat.

Perang antara Stephen & Matilda dikenal dengan sebutan "The Anarchy" karena selama berlangsungnya perang, bangsawan-bangsawan setempat terbelah menjadi kubu pendukung Stephen & kubu pendukung Matilda. Sebagai akibatnya, para bangsawan tersebut cenderung bertindak semaunya sendiri di wilayah kekuasaannya masing-masing akibat tidak adanya pemerintahan pusat yang jelas.



LATAR BELAKANG

Henry I adalah nama dari raja Inggris yang bertahta sejak tahun 1100. Semasa hidupnya, ia memiliki 2 orang anak kandung, yaitu William Adelin & Matilda. Karena sistem pewarisan tahta Inggris memprioritaskan laki-laki sebagai pemimpin, Henry pun menyiapkan William sebagai penerusnya jika Henry nantinya tidak bisa lagi memimpin Inggris.

Rencana Henry tersebut pada akhirnya tidak pernah terwujud setelah pada tahun 1120, William meninggal saat kapal yang dinaikinya tenggelam di Selat Inggris. Situasi makin runyam setelah pada tahun 1135, Henry turut meninggal dunia. Pasca meninggalnya Henry, ada 2 orang yang mengklaim dirinya sebagai pewaris tahta Henry. Kedua orang tersebut adalah Matilda (putri kandung Henry) & Stephen (keponakan laki-laki Henry).

Stephen & Matilda.

Baik Matilda maupun Stephen sama-sama sedang berada di luar Inggris saat Henry menghembuskan nafas terakhirnya. Begitu mereka menerima kabar kalau Henry meninggal dunia, keduanya bergegas pergi menuju Inggris dengan harapan bisa sampai lebih dulu & meresmikan statusnya sebagai pemimpin baru Inggris.

Secara teoritis, Matilda memiliki peluang lebih besar untuk pemimpin baru Inggris karena ia merupakan anak kandung dari raja terdahulu. Namun sejumlah bangsawan Inggris merasa keberatan jika yang menjadi pemimpin Inggris berikutnya adalah Matilda. Pasalnya Matilda berjenis kelamin perempuan, sementara masyarakat Inggris pada masa itu masih banyak yang berpandangan kalau perempuan tidak pantas menjadi pemimpin kerajaan.

Alasan lain kenapa mereka enggan dipimpin oleh Matilda adalah karena Matilda saat itu berstatus sebagai istri dari Geoffrey Plantagenet, bangsawan penguasa wilayah Anjou (Perancis). Mereka khawatir bahwa jika Matilda kelak benar-benar menjadi ratu Inggris, Inggris nantinya hanya akan menjadi negara bawahan Anjou.

Oleh karena itulah, saat Stephen berhasil tiba lebih dulu di Inggris, para bangsawan & pemuka agama Inggris sepakat untuk melantik Stephen menjadi raja baru Inggris. Peristiwa tersebut tak pelak mengundang rasa tidak suka dari Matilda & orang-orang yang mendukung klaim tahtanya. Sebagai akibatnya, Inggris pun kemudian terjerumus dalam periode penuh kekacauan yang kelak dikenal dengan sebutan "The Anarchy".



BERJALANNYA PERANG

Datangnya Ancaman dari Utara & Selatan

Satu dari sekian banyak orang yang menolak naiknya Stephen menjadi raja baru Inggris adalah David I, raja Skotlandia sekaligus paman dari Matilda. Untuk menunjukkan keseriusan atas sikapnya tersebut, David langsung memerintahkan pasukannya untuk menginvasi Inggris utara pada akhir tahun 1135. Karena Inggris diserang dalam kondisi tidak siap, pasukan Skotlandia dengan cepat berhasil menguasai kota-kota penting di perbatasan utara Inggris.

Konflik antara Inggris dengan Skotlandia pada akhirnya tidak berlangsung lebih jauh setelah David & Stephen melakukan perundingan. Dalam perundingan tersebut, David setuju untuk menarik mundur pasukan Skotlandia dari Inggris. Namun wilayah Cumberland di Inggris barat laut tetap menjadi wilayah milik Skotlandia lewat perantaraan putra David yang bernama Henry, Earl of Northumbria (tidak ada hubungannya dengan Henry ayah Matilda).

Sukses menyelesaikan masalah sengketa dengan raja Skotlandia di sebelah utara, masalah baru langsung menghantui Stephen di sebelah selatan. Sejak permulaan tahun 1136, penduduk Gwynedd & Deheubarth (wilayah cikal bakal Wales) beramai-ramai melakukan pemberontakan supaya wilayah mereka tidak lagi berada di bawah kendali Inggris. Stephen lantas menanggapi pemberontakan tersebut dengan cara mengirimkan pasukan berkekuatan 10.000 orang prajurit ke wilayah Wales.

Upaya tersebut pada akhirnya malah berujung bencana setelah pada musim gugur waktu setempat (sekitar bulan September atau Oktober), pasukan Wales berhasil mengalahkan pasukan Inggris di Crug Mawr, Wales barat. Dalam pertempuran ini, pasukan Wales yang dilengkapi dengan busur longbow berhasil mengalahkan pasukan Inggris yang pada waktu itu masih didominasi oleh infantri & pasukan berkuda.

Peta yang menampilkan kerajaan-kerajaan di Pulau Britania & Perancis utara pada abad ke-12. (globalsecurity.org)

Jika masalah di Wales masih belum cukup, negara Anjou yang dipimpin oleh suami Matilda juga melakukan invasi ke wilayah Normandy (daerah sekutu Inggris yang terletak di Perancis utara). Stephen pada awalnya mencoba menghentikan invasi tersebut dengan memakai taktik militer. Namun perpecahan di antara sesama prajuritnya menyebabkan Stephen terpaksa beralih ke jalur perundingan.

Dalam perundingan tersebut, Geoffrey selaku pemimpin wilayah Anjou setuju untuk menghentikan invasinya ke wilayah Normandy. Namun sebagai gantinya, Inggris harus membayar uang sebesar 2.000 mark per tahunnya kepada Anjou.

Kegagalan Stephen mengakhiri konflik di Wales & Normandy secara meyakinkan menyebabkan jatuhnya pamor Stephen di mata rakyat & bangsawan Inggris. Untuk mengatasinya, Stephen pun menggelar pesta-pesta mewah yang dihadiri oleh para bangsawan & tokoh agama Inggris.

Stephen juga memberikan kelonggaran & hak istimewa kepada para bangsawan supaya mereka bersedia mengakui kepemimpinan Stephen. Para bangsawan tersebut kemudian memanfaatkan momen ini untuk membangun istana & kastil baru di wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun tindakan Stephen tersebut ganti menuai rasa tidak suka dari tokoh-tokoh di pemerintahan Inggris yang merasa kalau Stephen bersikap terlalu lunak kepada para bawahannya sendiri.

Di tengah situasi tersebut, bangsawan Robert of Gloucester secara tiba-tiba menyatakan perang kepada raja Stephen pada tahun 1138. Robert adalah saudara Matilda sekaligus putra tidak sah dari almarhum raja Henry I. Keluarnya deklarasi tersebut langsung diikuti dengan munculnya pemberontakan di wilayah Inggris barat.

Pada periode yang bersamaan, Geoffrey memutuskan untuk membatalkan kesepakatan damainya dengan Inggris & memerintahkan pasukannya di Anjou untuk kembali menyerang perbatasan wilayah Normandy, Perancis utara. Seolah tidak ingin ketinggalan, David I selaku raja Skotlandia memerintahkan pasukannya untuk kembali menginvasi Inggris utara. Wilayah Inggris kini diserbu dari segala penjuru!


Dari Kawan Jadi Lawan

Pasukan Skotlandia melancarkan invasinya ke wilayah Inggris pada pertengahan tahun 1138 & melanjutkan perjalanannya menuju kota York. Namun sebelum berhasil mencapai kota York, mereka keburu dicegat oleh pasukan Inggris di Northallerton pada tanggal bulan Agustus. Pertempuran antara keduanya pun terjadi pada tanggal 22 Agustus pagi.

Dalam pertempuran tersebut, pasukan Inggris yang dilengkapi dengan pemanah berhasil memukul mundur pasukan Skotlandia yang diperkuat oleh infantri & pasukan berkuda. Pertempuran ini juga dikenal dengan nama "Pertempuran Umbul-Umbul" (Battle of the Standard) karena pasukan Inggris pergi ke medan tempur sambil membawa bendera yang mewakili gereja kotanya masing-masing.

Kendati pertempuran di Northallerton berakhir dengan kemenangan Inggris, Stephen sadar kalau terlibat konflik berkepanjangan di banyak front sekaligus hanya akan menyulitkan Inggris sendiri. Oleh karena itulah, ia berusaha mengakhiri konflik dengan Skotlandia sesegera mungkin.

Peta wilayah kekuasaan faksi Matilda & Stephen di tahun 1140. (Hchc2009 / wikipedia.org)

Tidak lama setelah berakhirnya Pertempuran Umbul-Umbul, Stephen & David berhasil meresmikan kesepakatan damai dalam wujud Traktat Durham. Berdasarkan traktat ini, Skotlandia tidak akan melanjutkan invasinya ke wilayah Inggris. Namun sebagai gantinya, wilayah Northumbria & Cumbria di Inggris utara bakal diserahkan ke pihak Skotlandia.

Dicapainya Traktat Durham ganti mengundang rasa tidak suka dari bangsawan Inggris yang bernama Ranulf, Earl of Chester. Ranulf merasa kalau wilayah yang diserahkan Stephen ke Skotlandia merupakan wilayah yang seharusnya berada di bawah kendalinya. Dampaknya, Ranulf pun memutuskan untuk membelot & bergabung dengan kubu Matilda.

Tahun 1140, Ranulf & pasukannya menduduki kota Lincoln, Inggris timur. Stephen lantas menanggapi peristiwa tersebut dengan cara pergi menuju Lincoln bersama dengan pasukannya. Hasilnya, Stephen & pasukannya berhasil menguasai Lincoln pada awal tahun 1141. Namun Stephen tidak tahu kalau Ranulf aslinya sedang memancing Stephen supaya pergi meninggalkan ibukota London.

Begitu Stephen berhasil menguasai Lincoln, kota tersebut langsung dikepung oleh pasukan gabungan Robert & Ranulf. Namun Stephen lebih memilih untuk melawan ketimbang bernegosiasi. Pertempuran sengit pun pecah hingga menjalar ke dalam kota Lincoln. Kendati Stephen & para prajuritnya sudah melawan sekuat tenaga, mereka pada akhirnya harus mengakui keunggulan pasukan musuh.


Matilda Gagal Jadi Ratu

Seusai pertempuran, Stephen dibawa ke hadapan Matilda & kemudian dipenjara di Istana Bristol, Inggris barat. Dengan ditangkapnya Stephen, maka upaya Matilda untuk menjadi ratu pertama Inggris dalam sejarah nampaknya tidak bisa dicegah lagi. Namun realita di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Saat Matilda tiba di London pada bulan Juni 1141, penduduk setempat justru malah beramai-ramai mencemooh Matilda.

Akibat gencarnya penolakan yang ditunjukkan oleh penduduk setempat kepada Matilda, Matilda pun tidak pernah dilantik menjadi ratu Inggris. Sebagai gantinya, ia hanya dilantik dengan gelar "Putri Inggris" (Lady of the English). Masih kuatnya gelombang penolakan terhadap Matilda lantas dimanfaatkan oleh sisa-sisa pengikut Stephen untuk melanjutkan perlawanan.

Bulan September 1141, pasukan pimpinan Matilda melakukan pengepungan ke kota Winchester di sebelah selatan London karena pemimpin kota tersebut menolak mengakui kepemimpinan Matilda. Namun di tengah-tengah berlangsungnya pengepungan, pasukan pengikut Matilda justru malah ganti dikepung oleh pasukan pengikut Stephen yang datang dari belakang.

Terkepung dari arah depan & belakang, Matilda & pasukannya terpaksa melarikan diri. Matilda berhasil kabur dengan selamat, namun tidak demikian halnya dengan Robert yang berhasil ditangkap oleh pasukan musuh. Supaya Robert bisa kembali dengan selamat, Matilda terpaksa menukar Robert dengan Stephen. Bebasnya kembali Stephen secara otomatis menyebabkan konflik perebutan tahta antara Matilda & Stephen kembali berkecamuk.

Matilda & sekutunya sendiri sekarang menjadikan kota Oxford sebagai markas baru mereka. Oxford dipandang sebagai tempat yang ideal untuk dijadikan markas karena kota tersebut dilindungi oleh sungai & tembok yang sulit ditembus. Oxford juga memiliki lokasi yang strategis karena kota tersebut berjarak tidak jauh dari ibukota London.

Peta lokasi Oxford & London. (lonelyplanet.com)

Bulan September 1142, Stephen & pasukannya melakukan serangan ke kota Oxford. Rencana Stephen adalah ia bakal menempatkan pasukannya di sekeliling Oxford selama berbulan-bulan. Saat persediaan makanan yang ada di Oxford semakin menipis, Matilda & pasukannya diharapkan akan menyerah dengan sendirinya.

Rencana Stephen tersebut pada awalnya berjalan lancar. Namun saat pengepungan memasuki bulan ketiga, Matilda secara diam-diam menyelinap keluar Oxford dengan cara berjalan kaki menyeberangi sungai yang sedang membeku. Saat melarikan diri keluar Oxford, Matilda mengenakan pakaian serba putih supaya sulit dibedakan dari es & timbunan salju.

Kendati gagal menangkap Matilda, pasukan bawahan Stephen berhasil menebus kegagalan tersebut dengan cara menangkap Ranulf pada tahun 1143. Stephen kemudian mengajukan tawaran kalau Ranulf bakal diampuni jika ia bersedia menyerahkan sejumlah istana miliknya.
 
Tawaran tersebut disetujui oleh Ranulf. Setelah berhasil mengambil alih istana-istana yang sebelumnya dikuasai oleh pengikut Ranulf, Stephen membiarkan Ranulf melenggang bebas. Ia merasa percaya diri dengan keputusannya ini karena tanpa keberadaan istana, Ranulf tidak akan bisa melanjutkan pemberontakan & membangun kekuatan.


Perlawanan Baru dari Putra Matilda

Pukulan bagi Matilda & sekutunya hanya semakin bertambah setelah pada tahun 1147, Robert meninggal dunia. Setahun kemudian, Matilda pergi meninggalkan Inggris setelah ia terlibat konflik dengan lembaga gereja setempat. Namun Matilda ternyata masih belum rela melepas Inggris sepenuhnya. Ia meminta kepada putranya yang bernama Henry Fitz Empress untuk melanjutkan perlawanan supaya Henry bisa menjadi raja Inggris yang berikutnya.

Tahun 1153, Henry akhirnya benar-benar melakukan invasi militer ke Inggris. Setibanya di sana, ia menjalin aliansi dengan Ranulf yang dulu pernah menjadi sekutu ibunya. Kekuatan Henry di Inggris hanya semakin bertambah setelah Robert of Leicester - bangsawan penguasa wilayah Inggris barat laut - menyatakan dukungannya kepada Henry.

Namun pada tahap ini, para bangsawan & pemuka agama Inggris sudah terlanjur dilanda kejenuhan akibat konflik yang tidak kunjung berakhir. Mereka kini mencoba menjadi penengah antara Henry dengan Stephen supaya konflik antara keduanya bisa berakhir tanpa harus melalui peperangan.

Henry II, putra Matilda sekaligus penerus raja Stephen. (dulwichpicturegallery.org.uk)

Upaya tersebut akhirnya berhasil mereka wujudkan lewat kesepakatan damai bernama Traktat Wallingford yang diresmikan pada pertengahan tahun 1153. Dalam traktat tersebut, Stephen akan tetap menjadi raja Inggris hingga akhir hayatnya. Namun sebagai gantinya, jika Stephen kelak meninggal dunia, maka Henry secara otomatis akan menjadi penerusnya.

Stephen sendiri pada awalnya ingin menjadikan putra kandungnya yang bernama Eustace sebagai penerusnya kelak. Namun menyusul wafatnya Eustace pada tahun 1153, Stephen pun terpaksa mengubah pikirannya. Ia kini setuju untuk menjadikan Henry putra Matilda sebagai penerus tahtanya. Dengan dicapainya Traktat Wallingford, berakhir pulalah The Anarchy yang sudah memporak porandakan Inggris selama hampir 2 dekade.



KONDISI PASCA PERANG

Bulan Oktober 1154, Stephen meninggal dunia. Sesuai dengan poin kesepakatan dalam Traktat Wallingford, kursi tahta Inggris kemudian ditempati oleh Henry yang kini menjadi raja baru Inggris dengan gelar Henry II.

Begitu berkuasa, Henry II berupaya memulihkan kembali wilayah-wilayah Inggris yang menghilang selama The Anarchy berlangsung. Hasilnya, Kerajaan Skotlandia setuju untuk menyerahkan kembali wilayah di Inggris utara yang sebelumnya mereka kuasai. Sementara itu di sebelah barat, Henry II berhasil memaksa wilayah Wales untuk tunduk kembali di bawah kekuasaan Inggris.

Sudah disinggung di bagian awal kalau salah satu faktor pemicu timbulnya The Anarchy adalah karena masih banyak rakyat Inggris yang tidak mau dipimpin oleh ratu. Namun tren tersebut pada akhirnya tidak berlanjut setelah pada tahun 1553, Mary Tudor dilantik menjadi ratu pertama Inggris dalam sejarah.

Masa pemerintahan Mary sayangnya lebih dikenang sebagai periode yang suram karena di masa pemerintahannya, banyak penduduk Inggris yang tewas dihukum gantung atau dibakar hidup-hidup akibat masalah perbedaan keyakinan. Sampai-sampai Mary memperoleh julukan "Bloody Mary" (Mary yang Berdarah).

Saat Mary akhirnya meninggal dunia pada tahun 1558, Inggris kembali dipimpin oleh sosok wanita. Kali ini yang menempati kursi tahta Inggris adalah saudari Mary yang bernama Elizabeth. Tidak seperti Mary yang memiliki gaya pemerintahan otoriter, Elizabeth I memiliki gaya pemerintahan yang jauh lebih toleran.

Di bawah kepemimpinan Elizabeth I, kondisi domestik Inggris yang pada awalnya kacau balau secara berangsur-angsur menjadi jauh lebih stabil. Ia bahkan berhasil membawa Inggris mengalahkan angkatan laut Spanyol yang pada masa itu masih menyandang reputasi sebagai negara adidaya Eropa.

Keberhasilan Elizabeth I dalam menstabilkan Inggris lantas diikuti dengan munculnya seniman-seniman terkenal seperti William Shakespeare. Fenomena tersebut lantas menjadi penyebab kenapa masa pemerintahan Elizabeth I kerap dijuluki sebagai "Golden Age" (Zaman Keemasan). Sementara Elizabeth I sendiri menyandang julukan "Gloriana" (Wanita Agung; Glorious Woman).  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 1135 - 1153
-  Lokasi : (mayoritasnya di) Inggris

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Inggris
(Grup)  -  aliansi bangsawan pendukung Stephen
       melawan
(Negara)  -  Skotlandia
(Daerah)  -  Anjou
(Grup)  -  aliansi bangsawan pendukung Matilda
       melawan
(Negara)  -  Gwynedd, Deheubarth

Hasil Akhir
-  Perang antara Stephen & Matilda berakhir tanpa pemenang
-  Kemenangan Gwynedd & Deheubarth atas Inggris
-  Stephen tetap menjadi raja Inggris
-  Stephen bersedia mengakui Henry, putra Matilda, sebagai penerusnya
-  Wilayah Inggris untuk sementara menjadi lebih sempit
-  Wilayah Skotlandia untuk sementara bertambah luas

Korban Jiwa
Tidak jelas



REFERENSI

BBC. "Elizabeth I - Consequences of Elizabeth I's reign".
(www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zcn4jxs/revision/4)

Brain, J.. "King Stephen and The Anarchy".
(www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofEngland/King-Stephen-Anarchy/)

Brown, S.. "The Battle of Crug Mawr".
(www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofWales/The-Battle-of-Crug-Mawr/)

English Monarchs. "The Battle of Lincoln 1141".
(www.englishmonarchs.co.uk/battle_of_lincoln.html)

English Monarchs. "The Battle of the Standard - 1138".
(www.englishmonarchs.co.uk/battle_of_the_standard.html)

Knowles, M.D.. 2008. "Henry II". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Simkin, J.. 1997. "King Stephen".
(spartacus-educational.com/MEDstephen.htm)

Simons, E.N.. 2008. "Mary I". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Wikipedia. "Rout of Winchester".
(en.wikipedia.org/wiki/Rout_of_Winchester)

Wikipedia. "The Anarchy".
(en.wikipedia.org/wiki/The_Anarchy)
  





ARTIKEL TERKAIT

1 komentar:

  1. Klo dijaman segitu mah enaknya jadi selir raja wkwkwk. Daripada perang takhta gak dapet apa-apa.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.