SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Luddite, Saat Pekerja Menolak Digantikan Mesin



(Sumber)

Kemajuan teknologi kerap dianalogikan sebagai pisau bermata 2. Sebabnya adalah kendati di satu sisi teknologi membantu meningkatkan kepraktisan & taraf hidup masyarakat, kemajuan teknologi juga berpotensi membuat orang-orang dari golongan profesi tertentu kehilangan sumber pemasukannya. Pemberontakan Luddite yang pernah terjadi pada tahun 1811 hingga 1816 adalah contoh dari dampak negatif yang bisa timbul akibat kemajuan teknologi.

Luddite adalah sebutan untuk kelompok penjahit & penenun tradisional di Inggris yang beramai-ramai melakukan pemberontakan sebagai respon atas semakin banyaknya pabrik tekstil yang menggunakan mesin tenun. Atas sebab itulah, kata "Luddite" sekarang kerap digunakan di negara-negara berbahasa Inggris untuk menyebut orang-orang yang kolot & tidak mau beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Kaum Luddite sendiri aslinya tidak sepenuhnya menolak kemajuan teknologi & tidak keberatan untuk beralih menggunakan mesin tenun. Namun karena banyak pebisnis yang beramai-ramai menggunakan mesin tenun supaya mereka bisa menghemat biaya pengeluaran & membayar pekerja dengan gaji yang lebih rendah, pemberontakan pun timbul. Pemberontakan Luddite sekaligus menjadi bukti bahwa selain membawa dampak positif, Revolusi Industri ternyata juga turut membawa dampak negatif.



LATAR BELAKANG

Industri tekstil Inggris pada awalnya dikerjakan oleh para penjahit tradisional yang menggunakan alat tenun manual. Namun menyusul ditemukannya mesin tenun (power loom) pada akhir abad ke-18, kondisi tersebut secara berangsur-angsur mulai berubah. Berkat mesin tenun, suatu pabrik bisa memproduksi tekstil dalam jumlah lebih banyak tanpa harus bergantung pada orang-orang yang memiliki keahlian menjahit.

Dampak paling terasa dari ditemukannya mesin tenun adalah pemilik pabrik bisa memperkerjakan orang-orang yang sebenarnya tidak pandai menjahit, namun bersedia digaji jauh lebih rendah & menjalani jam kerja yang lebih padat. Tidak jarang mereka yang bekerja di pabrik tenun aslinya masih berusia anak-anak. Sebagai akibatnya, pabrik-pabrik tekstil tersebut kini bisa menjual sandang dengan harga yang lebih rendah sambil tetap meraup keuntungan.

Ilustrasi penenun tradisional. (Sumber)

Kendati tekstil buatan para penjahit manual masih lebih baik dari segi kualitas, para konsumen kini lebih menyukai tekstil yang dibuat memakai mesin karena harganya lebih murah.
Kebetulan pada periode tersebut, kondisi perekonomian rakyat Inggris sedang berada dalam kondisi lemah akibat dampak dari Perang Napoleon. Sebagai akibatnya, para penjahit & penenun tradisional terancam menganggur akibat kesulitan bersaing dengan pabrik-pabrik tekstil yang menggunakan mesin & tenaga kerja murah.

Para penenun tradisional tadi sebenarnya sempat mencoba mencari jalan tengah dengan cara mengajukan sejumlah usulan kepada pemilik pabrik tenun & pemerintah. Mereka meminta supaya majikan mereka membayar para pekerja dengan upah minimum & menerapkan standar keamanan yang layak di tempat kerja. Mereka juga mengusulkan adanya pajak khusus untuk menyantuni penenun yang sudah pensiun. Saat usulan mereka ditolak, para penenun tradisional tadi lantas memutuskan untuk beralih ke metode yang lebih keras.



AKTIVITAS LUDDITE

Manusia Melawan Mesin

Pemberontakan Luddite pertama terjadi pada tahun 1811 oleh para penenun & penjahit tradisional di Arnold, Nottingham. Dalam pemberontakan ini, massa beramai-ramai menyerang pabrik tekstil & menghancurkan mesin-mesin yang ada di dalamnya. Karena pemberontakan tersebut konon dipimpin oleh seseorang yang bernama Ned Ludd, para pelaku pemberontakan ini kelak juga dikenal dengan nama "Luddite".

Perlu diperhatikan kalau sosok Ned Ludd sendiri diperkirakan aslinya hanyalah tokoh fiktif yang muncul dalam cerita rakyat setempat. Menurut kisahnya, Ned Ludd adalah seorang penjahit yang menghancurkan alat-alat milik majikannya sendiri karena majikannya tidak menyukai cara Ludd dalam merajut. Karena merasa memiliki kesamaan nasib, para pekerja yang terlibat dalam pemberontakan ini kemudian menyebut diri mereka sebagai pengikut Ludd / Luddite. Mereka juga menyebut pemimpin kelompok mereka sebagai "Jenderal Ludd" atau "Raja Ludd".

Setiap kali hendak beraksi, kaum Luddite akan mengirimkan surat ancaman kepada para pemilik pabrik yang menggunakan mesin tenun supaya berhenti menggunakan mesin-mesinnya. Jika ancaman mereka tidak diindahkan, kaum Luddite akan mendatangi pabrik tersebut & menghancurkan mesin-mesin yang ada di dalamnya. Dalam kasus-kasus tertentu, kaum Luddite juga membakar gedung pabrik hingga rata dengan tanah.

Kaum Luddite saat menghancurkan mesin tenun. (Sumber)

Supaya identitas asli mereka sulit diketahui, para anggota Luddite akan menghitamkan wajah mereka setiap kali beraksi pada malam hari. Seiring berjalannya waktu, aksi-aksi vandalisme yang dilakukan oleh kaum Luddite semakin lama semakin meluas & turut menyebar ke kota-kota lain. Pada tahun 1811, daerah operasi Luddite awalnya baru terbatas pada daerah Nottinghamshire. Namun memasuki tahun 1813, daerah operasi mereka sudah mencakup daerah Yorkshire & Lancashire.

Hanya dalam rentang waktu beberapa bulan sejak pertama kali beraksi, kaum Luddite diperkirakan sudah menghancurkan 800 mesin tekstil. Jika memakai standar moneter masa kini, kerugian finansial yang ditimbulkan oleh Luddite diperkirakan mencapai lebih dari 27 juta rupiah. Saat pemilik pabrik tekstil di suatu daerah mencoba memindahkan mesin-mesinnya ke daerah lain, kaum Luddite akan mencegat konvoi pengangkut mesin tersebut & menghancurkan isinya.

Saat sepak terjang yang ditunjukkan oleh kaum Luddite tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, para pebisnis & pemilik pabrik memutuskan kalau sudah waktunya mereka melawan balik. Pada bulan April 1812, sekawanan Luddite berjumlah 2.000 personil mencoba menyerang sebuah pabrik tekstil di dekat Manchester.

Sang pemilik pabrik ternyata sudah mengantisipasi kedatangan mereka. Saat massa Luddite tersebut sudah tiba di pabrik, mereka langsung ditembaki oleh orang-orang suruhan pemilik pabrik. Akibatnya, sebanyak 3 orang menjadi korban tewas & 18 lainnya mengalami luka-luka. Sebelumnya pada awal bulan yang sama, terjadi baku tembak antara petugas keamanan pabrik dengan massa Luddite di Yorkshire.

Alih-alih merasa jera akibat respon keras yang ditunjukkan oleh para pemilik pabrik, sepak terjang Luddite justru malah cenderung semakin membabi buta. Mereka kini mulai beraksi pada siang hari & tidak segan-segan membunuh pemilik pabrik. William Horsfall adalah contoh dari pemilik pabrik yang harus meregang nyawa di tangan Luddite. Para simpatisan Luddite kini juga melakukan penjarahan ke rumah-rumah warga sipil & mengambil segala macam perkakas yang ada di dalamnya untuk dijadikan senjata.


Tentara & penjaga keamanan pabrik di masa pemberontakan Luddite. (Sumber)


Campur Tangan Aparat Inggris

Di tempat lain, sepak terjang Luddite kini juga mulai menyita perhatian pemerintah. Atas tekanan dari para pemilik pabrik tekstil yang notabene berasal dari golongan atas, pemerintah Inggris kini mencoba melakukan segala cara untuk menumpas Luddite. Pada bulan Maret 1812, parlemen Inggris mengeluarkan peraturan baru mengenai larangan menghancurkan mesin tenun pabrik. Jika ada yang ketahuan melanggar, maka pelakunya bakal dijatuhi hukuman mati.

Kebijakan pemerintah pusat Inggris belum sampai di situ. Mereka juga menerjunkan 14.000 tentara ke daerah-daerah yang menjadi lokasi pemberontakan Luddite. Sayembara digelar untuk mereka yang memiliki informasi mengenai keberadaan tokoh-tokoh Luddite. Sejumlah mata-mata juga disisipkan ke komunitas-komunitas Luddite untuk memantau aktivitas Luddite secara diam-diam.

Pemerintah Inggris pada awalnya kewalahan untuk meredam aktivitas Luddite karena komunitas Luddite cenderung beroperasi secara terpencar-pencar & tidak memiliki struktur kepemimpinan yang terpusat. Kaum Luddite juga mendapatkan dukungan dari sesama golongan menengah ke bawah karena mereka merasa bersimpati & bisa memahami alasan kaum Luddite melakukan pemberontakan.

Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu upaya aparat Inggris akhirnya mulai membuahkan hasil. Memasuki awal tahun 1813, sebanyak puluhan tokoh Luddite berhasil ditangkap untuk kemudian dihukum gantung atau dibuang ke Australia. Untuk memberikan efek gentar kepada mereka yang bersimpati terhadap Luddite, hukuman mati terhadap tokoh-tokoh Luddite dilakukan secara terbuka di hadapan orang banyak.

Anggota Luddite saat dihukum gantung. (Sumber)

Pasca eksekusi massal yang dilakukan di awal 1813, sepak terjang Luddite sempat tidak terdengar lagi. Namun pada bulan Juni 1816, gerakan ini mulai aktif kembali sebagai dampak dari timbulnya gagal panen & lesunya sektor perdagangan. Pada bulan tersebut, massa Luddite menghancurkan lebih dari 50 mesin tenun di Loughborough.

Seperti pemberontakan Luddite yang meletus beberapa tahun sebelumnya, militer Inggris kembali diterjunkan untuk meredam pemberontakan ini. Sebanyak 6 tokoh Luddite kemudian dijatuhi hukuman mati, sementara 3 orang lainnya diasingkan ke luar Inggris. Di masa kini, pemberontakan Luddite kerap dijadikan contoh mengenai bahaya apa yang bisa timbul jika modernisasi industri sampai bersinggungan dengan kesejahteraan kaum pekerja.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Historic UK - The Luddites
The Victorian Web - The Luddites 1811-1816
Smithsonian Magazine - What the Luddites Really....
Smithsonian Magazine - When Robots Take All of....

  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Download PDF

2 komentar:

  1. Sehat selalu min, gue salah satu pembaca setia artikel di web ini

    BalasHapus
  2. Saya buka situs ini tanpa sengaja. Awalnya cari sinopsisnya film psycho tahun 1960. Bnyk pilihan sinopsisnya, dan tanpa sengaja pilih yg disini. Kemudian saya baru tau kalau situs ini bnyak menyediakan info² penting dan yang belum banyak diketahui orang.
    Terus update tentang artikel² penting ya min..
    Sukses slalu buat situs ini.. 😊

    BalasHapus

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda ingin mencetak atau menyimpan artikel ini dalam format PDF, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.