Perang ISIS-Taliban, Duel Bendera Hitam versus Bendera Putih



Pasukan Taliban di Provinsi Nangarhar, Afganistan timur. (Sumber)

Jika bicara soal Taliban, maka yang terbayang di benak banyak orang adalah kelompok yang belum lama ini berhasil menguasai kembali ibukota Afganistan setelah mengangkat senjata selama puluhan tahun. Taliban sendiri pada awalnya merupakan kelompok penguasa Afganistan. Namun sejak tahun 2001, kelompok ini terpaksa menyingkir ke kawasan pelosok Afganistan & melanjutkan perlawanannya dari sana akibat invasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat & sekutunya.

Selama melakukan perlawanan bersenjata, Taliban bukan hanya harus bertempur melawan pasukan koalisi asing & pemerintah Afganistan, tetapi juga melawan sesama kelompok militan. Sejak tahun 2015, Taliban diketahui terlibat konflik melawan ISIS Khorasan, kelompok cabang ISIS yang beroperasi di Afganistan. Konflik ini sendiri terjadi karena Taliban tidak mau berada di bawah kendali ISIS.

Sembari bertempur 1 sama lain, ISIS & Taliban juga sama-sama terlibat konflik melawan pasukan pemerintah Afganistan & pasukan koalisi asing. Perang antara ISIS & Taliban sekaligus menunjukkan kalau perang di Afganistan bukan hanya sebatas konflik antara pemerintah versus pemberontak, tetapi juga konflik antara sesama pemberontak.



LATAR BELAKANG

Sejak tahun 1996, Afganistan merupakan negara dengan bentuk pemerintahan berbasis agama yang diperintah oleh Taliban. Namun status Taliban sebagai penguasa Afganistan tidak berlanjut lebih lama lagi setelah pada tahun 2001, pasukan koalisi pimpinan AS melancarkan invasi ke Afganistan. Invasi itu sendiri terjadi karena AS menuduh kelompok Al-Qaeda yang bermarkas di Afganistan sebagai pelaku tragedi 11 September, peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS, akibat ditabrak oleh pesawat.

Taliban menolak menuruti perintah AS untuk menyerahkan anggota Al-Qaeda yang terlibat dalam insiden 11 September karena Al-Qaeda merupakan kelompok sekutu Taliban & AS dianggap hanya melontarkan tuduhan secara sepihak. Maka, AS & negara-negara sekutunya pun kemudian mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Afganistan. Karena Taliban kalah jauh dalam hal kualitas persenjataan, invasi tersebut berakhir dengan keberhasilan AS menggulingkan rezim Taliban.

Afganistan seperti yang terlihat pada peta. (Sumber)

Sesudah invasi tersebut, sebuah rezim baru yang tunduk pada AS kemudian didirikan di Afganistan. AS & negara-negara sekutunya juga tetap menempatkan pasukannya di Afganistan untuk membantu melindungi rezim baru tadi. Pasalnya meskipun sudah tidak lagi menjadi penguasa Afganistan, Taliban masih tetap aktif & kini melanjutkan perlawanannya dari kawasan pelosok. Lewat taktik perang gerilya, Taliban berharap bisa mengenyahkan pasukan asing keluar Afganistan & kembali menjadi penguasa Afganistan.

Taliban bukanlah satu-satunya kelompok militan yang aktif melakukan pemberontak di Afganistan. Selain Taliban, ada pula kelompok ekstrimis bernama Islamic Movement of Uzbekistan (IMU; Gerakan Islam Uzbekistan) yang beranggotakan orang-orang Asia Tengah & berambisi mengubah Uzbekistan menjadi negara Islam. Dengan memanfaatkan kondisi Afganistan yang kini kacau balau akibat invasi pasukan koalisi, IMU memanfaatkan wilayah Afganistan sebagai markasnya.

Sementara itu di luar Afganistan, muncul kelompok ekstrimis baru yang bernama Islamic State of Iraq & Al-Sham (ISIS; Negara Islam Irak & Syam). Kelompok tersebut aktif di wilayah Irak & Suriah dengan memanfaatkan kacaunya kondisi domestik masing-masing negara akibat perang saudara.

Tidak seperti Taliban yang ambisi utamanya hanyalah mendirikan negara Islam di Afganistan, ISIS memiliki ambisi untuk mendirikan negara kekhalifahan yang wilayahnya mencakup seluruh dunia. Atas dasar itulah, ISIS pun mulai menjajaki kemungkinan untuk melebarkan sayapnya ke wilayah Afganistan.

Rahim Muslim Dost menjadi tokoh Afganistan pertama yang menyatakan kesetiannya pada ISIS. Sejak bulan November 2014, Dost & para pengikutnya mengedarkan selebaran-selebaran yang menyanjung ISIS di Provinsi Kunar & Nangarhar, Afganistan timur.

Peta lokasi Provinsi Kunar & Nangarhar.

Memasuki bulan bulan Januari 2015, ISIS akhirnya mengumumkan berdirinya kelompok cabang baru di Afganistan dengan nama ISIS Khorasan (Khorasan adalah sebutan untuk wilayah Afganistan & Asia Tengah di Abad Pertengahan). Di bulan yang sama, untuk pertama kalinya bendera hitam ISIS terlihat berkibar di Afganistan. Tepatnya di distrik Achin, Provinsi Nangarhar.

Kemunculan ISIS Khorasan terjadi bersamaan dengan munculnya konflik internal di dalam tubuh Taliban. Perang melawan pasukan asing yang tidak kunjung usai menyebabkan sejumlah anggota Taliban merasa tidak lagi percaya dengan kemampuan tempur para komandannya sendiri. Karena mereka merasa terkesan dengan kemampuan ISIS menguasai wilayah Suriah timur & Irak utara dalam waktu singkat, mereka pun beramai-ramai membelot ke ISIS.

Memasuki bulan Agustus 2015, ISIS Khorasan mengalami pertambahan kekuatan yang pesat setelah kelompok IMU menggabungkan diri ke ISIS Khorasan. IMU bersedia untuk bergabung dengan ISIS Khorasan karena ISIS juga memiliki ambisi untuk mengubah Uzbekistan menjadi wilayah dengan sistem pemerintahan berbasis agama.

Alasan lain kenapa IMU setuju untuk melebur dengan ISIS Khorasan adalah karena seperti halnya ISIS, IMU juga memiliki komposisi keanggotaan yang majemuk & terdiri dari banyak etnis. Berbeda dengan Taliban yang komposisi keanggotaannya didominasi oleh etnis Pashtun, etnis terbesar di Afganistan.

Perkembangan situasi ini ganti mengundang rasa tidak suka dari Taliban. Pasalnya jika ISIS Khorasan dibiarkan tumbuh terlalu kuat, ambisi Taliban untuk kembali menjadi penguasa Afganistan terancam gagal terwujud. Saat ISIS menolak perintah dari Taliban supaya berhenti merekrut anggota baru di Afganistan, konflik antara Taliban dengan ISIS Khorasan pun akhirnya benar-benar pecah.


Pasukan ISIS Khorasan. (Sumber)

Pasukan Taliban saat berkumpul bersama warga lokal Afganistan. (Sumber)


BERJALANNYA PERANG

Musuh Baru di Timur & Selatan

Bulan Januari 2015, pasukan ISIS yang dipimpin oleh Abdul Rauf Khadim membunuh seorang komandan Taliban di Provinsi Helmand, Afganistan selatan. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya konflik antara ISIS & Taliban. Khadim sendiri akhirnya tewas pada bulan Februari 2015 - bukan karena dibunuh oleh Taliban, melainkan karena dibunuh oleh drone militer AS. Pasca tewasnya Khadim, para pengikut Khadim yang masih hidup menyingkir ke Provinsi Farah, provinsi yang berbatasan dengan Helmand di sebelah barat.

Tergusur di selatan, ISIS menunjukkan geliatnya di Afganistan timur. Sejak bulan Maret, para anggota ISIS menyerang para anggota Taliban di Provinsi Nangarhar, Afganistan timur. Taliban mencoba melawan balik, namun karena ISIS yang ada di Nangarhar sudah terlanjur merekrut begitu banyak anggota, pasukan Taliban yang ada di Nangarhar selatan berhasil dikalahkan & terpaksa menyingkir ke daerah lain.

Pasca mundurnya Taliban dari Nangarhar selatan, ISIS kemudian memanfaatkan wilayah Nangarhar yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Pakistan untuk menyelundupkan logistik & anggota baru ke dalam wilayah kekuasaannya. Mereka juga membunuh 12 orang ulama & tetua di wilayah kekuasaannya sepanjang bulan April 2015 hingga Januari 2016.

Bulan Juli 2015, pasukan ISIS melebarkan daerah operasinya ke wilayah Pakistan setelah mereka membunuh tokoh Taliban yang bernama Mawlawi Mir Ahmad Gul di Peshawar, Pakistan utara. Kemudian pada bulan Agustus 2015, sebanyak 10 tetua Afganistan dieksekusi sambil direkam oleh ISIS atas tuduhan membantu Taliban.

Peta lokasi Peshawar. (Sumber)

Saat pasukan ISIS semakin sering melakukan eksekusi kepada mereka yang tidak sejalan, banyak tokoh agama & tetua di wilayah kekuasaan ISIS yang terpaksa mengungsi ke kota Jalalabad, Afganistan timur. Sementara pesantren-pesantren yang ada di wilayah kekuasaan ISIS beramai-ramai tutup atau terpaksa membiarkan para muridnya direkrut oleh ISIS untuk dijadikan prajurit baru. Pada puncak kekuatannya, jumlah pejuang ISIS di Afganistan dilaporkan mencapai 5.000 personil.

Penduduk di Nangarhar sendiri pada awalnya menyambut hangat kedatangan ISIS karena tidak seperti Taliban, para anggota ISIS jarang meminta pungutan uang & makanan secara paksa kepada warga setempat. Namun saat ISIS sudah berhasil memantapkan kedudukannya di Nangarhar, simpati warga lokal kepada ISIS secara berangsur-angsur memudar.

Menurunnya simpati warga lokal kepada ISIS tidak lepas dari aksi-aksi kontroversial yang dilakukan oleh ISIS. Para anggota ISIS kerap menghancurkan makam tokoh-tokoh Sufi setempat, melarang warga lokal menanam candu / opium (tanaman berharga tinggi yang banyak ditanam oleh penduduk di Nangarhar), serta menghukum mati para tetua yang dihormati oleh warga lokal.


Pasukan ISIS Khorasan yang sedang berlatih. (Sumber)


Diburu oleh Taliban, Digempur oleh Pesawat Amerika

Taliban sendiri bukannya diam saja melihat ISIS bertindak semakin membabi buta di wilayah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Taliban. Pada bulan Oktober 2015, Taliban mendirikan pasukan khusus yang beranggotakan 1.000 prajurit terbaiknya. Pasukan khusus tersebut kemudian dikirim ke wilayah kekuasaan ISIS supaya mereka bisa fokus menumpas ISIS di saat pasukan Taliban yang lain masih terlibat konflik melawan pasukan koalisi asing & pasukan pemerintah Afganistan.

Pasukan ISIS di Nangarhar bukan hanya harus bertempur melawan Taliban. Semakin berbahayanya sepak terjang ISIS di Afganistan menyebabkan pasukan udara AS & Afganistan kini semakin sering melakukan pemboman ke wilayah kekuasaan ISIS. Dampaknya, memasuki bulan Maret 2016, banyak prajurit ISIS & keluarganya yang terpaksa menyingkir ke luar Nangarhar. Kemudian memasuki bulan April 2016, sejumlah anggota ISIS yang masih berada di Nangarhar beramai-ramai membelot ke Taliban.

Sisa-sisa anggota ISIS di Nangarhar menerima pukulan lebih jauh setelah pada tanggal 13 April 2017, pesawat AS menjatuhkan bom untuk menghancurkan jaringan terowongan ISIS di distrik Achin, Nangarhar selatan. Akibat serangan tersebut, sebanyak 96 anggota ISIS dilaporkan tewas. Peristiwa pemboman ini begitu menarik perhatian dunia karena bom yang dijatuhkan oleh AS dalam serangan ini adalah GBU-43, bom sepanjang 9 meter yang juga merupakan bom non-nuklir terbesar yang pernah digunakan oleh militer AS.

Lepas dari hal tersebut, keberadaan ISIS di Afganistan masih jauh dari kata tamat. Kelompok tersebut kini menampakkan aktivitasnya di Afganistan utara, khususnya di Provinsi Jowzjan & Sar-e Pol. ISIS berkeinginan menguasai Afganistan utara karena wilayah tersebut berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah. Jika ISIS berhasil menguasai Afganistan utara, maka mereka bisa menyelundupkan perbekalan & relawan asing dari wilayah Asia Tengah, Rusia, serta Cina.

Peta lokasi provinsi Jowzjan & Sar-e Pol.

Bulan April 2017, pasukan ISIS & Taliban terlibat pertempuran sengit di Provinsi Jowzjan. Akibat pertempuran tersebut, sebanyak 91 milisi ISIS & Taliban menjadi korban tewas, di mana mayoritasnya merupakan anggota Taliban. Setahun kemudian atau tepatnya pada bulan Juli 2018, para anggota ISIS membunuh seorang komandan Taliban & 14 orang lainnya saat mereka tengah melakukan shalat berjamaah di Provinsi Sar-e Pol.

Taliban lantas membalas serangan tersebut dengan cara melakukan serangan besar-besaran ke 3 lokasi sekaligus di Provinsi Jowzjan. Hasilnya, Taliban berhasil membunuh & menangkap ratusan milisi ISIS. Sementara sebanyak lebih dari 150 anggota ISIS lainnya berhasil meloloskan diri sebelum kemudian menyerahkan diri kepada pemerintah Afganistan.

Tahun 2019, konflik antara Taliban & ISIS kembali meletus di Provinsi Nangarhar, Afganistan timur. Konflik tersebut dipicu oleh keinginan masing-masing kelompok untuk menguasai wilayah yang kaya akan talc, sejenis mineral yang banyak dipakai dalam produk kosmetik.

Saat konflik antara keduanya berlangsung semakin sengit, sebanyak lebih dari 9.000 warga sipil setempat terpaksa mengungsi. Melihat situasi tersebut, militer Afganistan memutuskan untuk turun tangan dengan cara melakukan serangan udara ke daerah konflik pada akhir April 2019. Akibat serangan udara tersebut, sebanyak 22 anggota ISIS dilaporkan tewas.


Pesawat tempur AS saat melakukan serangan udara di Afganistan. (Sumber)


Melemahnya ISIS & Menguatnya Taliban

Waktu berlalu, kedudukan ISIS di Afganistan semakin melemah karena mereka harus bertarung melawan pasukan Taliban, pasukan AS, & pasukan pemerintah Afganistan sekaligus. Gaya pemerintahan mereka yang terlampau keras & kurang menghargai kultur warga lokal juga menyebabkan ISIS kian sulit mendapatkan simpati dari warga lokal. Sebagai akibatnya, saat makin banyak anggota ISIS yang gugur atau tertangkap, ISIS kesulitan merekrut anggota baru dari golongan warga lokal.

Meskipun begitu, bukan berarti ISIS sudah lenyap sepenuhnya di Afganistan. Pada bulan Mei 2021, ISIS menunjukkan kembali tajinya setelah kelompok tersebut meledakkan bom di masjid kota Kabul. Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 12 orang harus kehilangan nyawanya. ISIS diduga melakukan hal tersebut untuk memanaskan kembali situasi Afganistan karena saat insiden ledakan bom terjadi, pasukan Taliban & pemerintah Afganistan sedang berada dalam masa gencatan senjata.

Sementara itu di pihak lain, wacana supaya AS segera menarik mundur pasukannya dari Afganistan semakin menguat. Pasalnya AS sudah menempatkan pasukannya di Afganistan sejak tahun 2001. Selama periode panjang tersebut, banyak tentara AS yang tewas saat bertugas di Afganistan. AS juga harus mengeluarkan biaya & tenaga yang tidak sedikit untuk membantu menopang pemerintahan Afganistan pasca tumbangnya rezim Taliban.

Atas pertimbangan itulah, pemerintah AS pun mengumumkan kalau pasukan AS di Afganistan bakal ditarik mundur sepenuhnya pada tahun 2021. Momen tersebut langsung dimanfaatkan oleh Taliban dengan cara menggencarkan serangannya ke kota-kota penting Afganistan. Puncaknya adalah ketika pada tanggal 16 Agustus 2021, Taliban berhasil memasuki ibukota Kabul tanpa pertumpahan darah. Momen tersebut sekaligus menandai kembalinya Taliban sebagai penguasa de facto Afganistan.

Pasukan Taliban di depan Bandara Hamid Karzai, kota Kabul. (Sumber)

Tepat sebelum pasukan Taliban memasuki kota Kabul, Taliban juga sempat menyerbu pangkalan udara Bagram & membebaskan 5.000 tahanan di dalamnya. Sebagian dari tahanan tersebut diketahui berstatus sebagai anggota ISIS & Taliban. Namun tidak diketahui bagaimana kelanjutan nasib dari para anggota ISIS tersebut sesudah itu.

Meskipun Taliban kini sudah berhasil menjadi penguasa de facto Afganistan, jalan panjang masih harus dilakukan Taliban untuk memperoleh pengakuan dunia internasional & memperkuat kendalinya ke seantero wilayah Afganistan. Selama kondisi Afganistan masih belum menentu, selama ISIS masih belum berhasil ditumpas sepenuhnya, maka selama itu pula ISIS berpeluang untuk kembali bangkit & menjadi duri dalam daging bagi rezim Taliban.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG (HINGGA AGUSTUS 2021)

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 2015 - sekarang
- Lokasi : Afganistan

Pihak yang Bertempur
(Grup)  -  Taliban
       melawan
(Grup)  -  ISIS Khorasan
       melawan
(Negara)  -  Afganistan, Amerika Serikat

Hasil Akhir
- Kemenangan Taliban atas pemerintah Afganistan & sekutunya
- Konflik skala kecil antara Taliban & ISIS masih berlangsung
- Taliban menguasai sebagian besar bekas wilayah ISIS di Afganistan

Korban Jiwa
Tidak jelas



REFERENSI

Al Arabiya News - ISIS claims attack on Afghanistan mosque that....
Al Jazeera - Timeline : Taliban in Afghanistan
Anadolu Agency - Nearly 100 dead as Taliban, Daesh clash in Afghanistan
AP News - Taliban sweep into Afghan capital after government collapses
BBC News - Afghan conflict : US and Taliban sign deal to end 18-year war
BBC News - US military drops 'mother of all bombs on IS' in Afghanistan
BBC News - Why Taliban special forces are fighting Islamic State
Business Insider - Video shows thousands of prisoners, reportedly....
GlobalSecurity.org - Islamic State of Iraq and ash-Sham-Khorasan
Long War Journal - Taliban says Islamic State has been ‘completely....
Reuters - Afghan forces launch attacks to clear warring militants....
Reuters - Families flee as Taliban battle Islamic State in northern Afghanistan
RFE/RL - Massive Bomb In Afghanistan Killed Uzbeks, Tajiks, Russians, Pakistanis
University of Stanford - Islamic Movement of Uzbekistan
Johnson, C.G.. 2016. "The Rise and Stall of the Islamic State in Afghanistan". (file PDF)






COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.