Faktor-Faktor Penyebab Invasi Militer Rusia ke Ukraina



Kendaraan lapis baja yang terbakar di kota Kharkiv, Ukraina timur. (AP / english.aawsat.com)

Rusia & Ukraina adalah 2 negara yang saling bertetangga di Eropa Timur. Selama beberapa hari terakhir, kedua negara tersebut secara mendadak mendominasi pemberitaan di media-media internasional. Invasi pasukan Rusia ke Ukraina pada akhir bulan Februari 2022 menjadi penyebabnya.

Rusia & Ukraina memang sudah lama memiliki hubungan yang kurang baik akibat masalah sengketa wilayah. Namun, baru kali ini Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah negara tetangganya tersebut. Jumlah tentara Rusia yang dikerahkan untuk keperluan invasi ini dilaporkan mencapai lebih dari 100.000 personil.

Lantas, mengapa Rusia nekat melakukan hal tersebut? Jika Rusia sudah lama memiliki hubungan kurang baik dengan Ukraina, kenapa baru sekarang mereka melakukan invasi total? Berikut ini adalah faktor-faktor yang diyakini menjadi penyebab mengapa Rusia nekat menginvasi Ukraina.



BANYAKNYA PENDUDUK UKRAINA YANG BERBAHASA RUSIA

Dari segi bahasa mayoritas, penduduk Ukraina terbagi ke dalam 2 kelompok utama : kelompok etnis yang berbahasa Ukraina & kelompok etnis berbahasa Rusia (Russophone). Jika wilayah Ukraina barat didominasi oleh pengguna bahasa Ukraina, maka wilayah Ukraina timur umumnya dihuni oleh penduduk berbahasa Rusia.

Banyaknya penduduk Ukraina dari golongan berbahasa Rusia tidak lepas dari fakta bahwa wilayah Ukraina memang berbatasan langsung dengan Rusia di sebelah timur. Kemudian hingga tahun 1991, Ukraina & Rusia sama-sama pernah menyatu sebagai bagian dari negara Uni Soviet yang sekarang sudah bubar.

Peta Ukraina berdasarkan bahasa mayoritas penduduknya. (oneeurope / pinterest.com)

Dengan memanfaatkan faktor kedekatan sosial budaya itulah, Rusia pun mencoba menjadikan Ukraina berada di bawah pengaruhnya. Pada tahun 2010, Viktor Yanukovych terpilih menjadi presiden baru Ukraina. Yanukovych berasal dari golongan berbahasa Rusia.

Saat Yanukovych menjabat sebagai presiden, Yanukovych membatalkan perjanjian ekonomi Ukraina dengan organisasi Uni Eropa supaya Ukraina bisa menjalin hubungan ekonomi lebih dekat dengan Rusia. Sebagai balas jasa atas sikap Yanukovych tersebut, Ukraina diperbolehkan membeli gas alam dari Rusia dengan harga yang lebih murah. Rusia juga memberikan bantuan uang kepada Ukraina pada akhir tahun 2013.

Tindakan Yanukovych membatalkan perjanjian ekonomi dengan Uni Eropa ternyata tidak bisa diterima oleh sejumlah penduduk Ukraina. Pasalnya mereka berharap perjanjian tersebut bisa menjadi langkah awal supaya Ukraina kelak bisa benar-benar menjadi anggota Uni Eropa. Jika Ukraina menjadi negara anggota Uni Eropa, penduduk Ukraina bisa bepergian & mencari pekerjaan di negara-negara Eropa Barat dengan lebih mudah.

Sejak bulan November 2013 alias tidak lama setelah Ukraina membatalkan perjanjian ekonomi dengan Uni Eropa, penduduk Ukraina yang pro Uni Eropa beramai-ramai menggelar aksi protes. Para peserta aksi protes tersebut dikenal dengan sebutan "Euromaidan". Pada puncaknya, jumlah peserta aksi protes di ibukota Kiev dikabarkan mencapai 800.000 orang.

Pemerintah Ukraina awalnya mencoba membubarkan aksi protes Euromaidan secara paksa. Namun nyatanya, aksi protes mereka tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda bakal surut. Dampaknya, Yanukovych pun dipaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden pada bulan Februari 2014.

Lengsernya Yanukovych langsung membuat Rusia merasa tersengat. Pasalnya presiden Ukraina yang baru dikhawatirkan tidak akan mau lagi mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang memihak kepentingan Rusia. Maka, Rusia pun memanfaatkan golongan berbahasa Rusia di Ukraina untuk melemahkan Ukraina dari dalam.

Viktor Yanukovych & Vladimir Putin. (TASS / rferl.org)

Pada bulan Februari 2014, orang-orang bersenjata yang dicurigai sebagai tentara Rusia menguasai gedung-gedung pemerintahan di Crimea, Ukraina selatan. Sebulan kemudian, wilayah Crimea menggabungkan diri ke Rusia usai menggelar referendum yang tidak diakui oleh pemerintah pusat Ukraina.

Memasuki bulan Mei 2014, giliran provinsi Donetsk & Luhansk yang memerdekakan diri secara sepihak dari Ukraina. Kedua provinsi tersebut secara geografis berlokasi tepat di perbatasan Ukraina & Rusia. Lepasnya Donetsk & Luhansk kemudian diikuti dengan timbulnya perang antara militer Ukraina melawan milisi-milisi separatis Donetsk & Luhansk.

Bulan Januari 2022, pemerintah Ukraina mengeluarkan peraturan baru terkait bahasa. Menurut peraturan baru ini, setiap media cetak yang menerbitkan pemberitaan dalam bahasa non-Ukraina harus turut menyertakan terjemahan versi bahasa Ukrainanya juga.

Peraturan tersebut memang tidak melarang penggunaan bahasa Rusia secara eksplisit. Namun peraturan tersebut diyakini bakal menggerus keberadaan media berbahasa Rusia secara perlahan. Pasalnya demi menghemat pengeluaran, media yang bersangkutan kini bakal lebih suka menerbitkan publikasi dalam bahasa Ukraina saja, ketimbang harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengeluarkan publikasi dalam 2 bahasa sekaligus.

Pemerintah Rusia lantas mengklaim kalau pemerintah Ukraina sedang melakukan penindasan kepada penduduk berbahasa Rusia di Ukraina. Pemerintah Rusia juga menuding kalau pasukan Ukraina melakukan genosida / pembersihan etnis saat melakukan operasi militer di Donetsk & Luhansk. Hal-hal tersebut lantas dijadikan alasan oleh Rusia untuk melakukan invasi militer ke Ukraina pada bulan Februari 2022.



PERAN STRATEGIS UKRAINA & CRIMEA BAGI RUSIA

Rusia merupakan negara terbesar di dunia dengan garis pantai yang amat panjang. Meskipun Rusia memiliki garis pantai yang amat panjang, tidak semua wilayah pantai Rusia bisa digunakan untuk berlayar tanpa gangguan. Pasalnya sebagian besar wilayah pantai Rusia berlokasi dekat dengan Kutub Utara. Setiap kali musim dingin tiba, wilayah pantai Rusia bakal langsung dipenuhi oleh bongkahan es.

Satu dari sedikit wilayah pantai Rusia yang airnya tidak pernah membeku adalah wilayah pantai di Laut Hitam. Wilayah pantai tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Ukraina. Selain memiliki wilayah pantai di Laut Hitam, Rusia juga memiliki pelabuhan militer Sevastopol di Crimea, wilayah di Ukraina selatan yang juga berbatasan dengan Laut Hitam.

Peta lokasi Crimea. (bbc.com)

Crimea secara politis berstatus sebagai wilayah milik Ukraina. Namun Rusia sejak tahun 1997 diperbolehkan menggunakan pelabuhan militer di wilayah Crimea lewat kebijakan sewa lahan yang harus diperbarui secara berkala. Lewat pelabuhan militer itulah, Rusia bisa mengerahkan armada lautnya untuk membantu negara-negara sekutu Rusia, misalnya Suriah.

Tahun 2010, Viktor Yanukovych selaku presiden Ukraina memberikan izin kepada Rusia untuk menggunakan pelabuhan militer Sevastopol hingga tahun 2042. Namun menyusul tergulingnya Yanukovych pada tahun 2014, muncul kekhawatiran kalau presiden Ukraina yang baru akan membatalkan kesepakatan sewa lahan di Crimea. Atas dasar itulah, Rusia pada tahun 2014 mencaplok wilayah Crimea tanpa seizin Ukraina.

Tindakan Rusia tersebut pada gilirannya ganti menuai aksi protes dari pemerintah Ukraina & negara-negara Barat. Maka, supaya masalah sengketa terkait kepemilikan Crimea bisa diakhiri sesegera mungkin, Rusia memutuskan untuk sekalian menginvasi wilayah inti Ukraina pada tahun 2022 supaya pemerintah Ukraina bersedia melepas klaimnya atas Crimea.



KEINGINAN UKRAINA UNTUK BERGABUNG DENGAN NATO

NATO atau lengkapnya North Atlantic Treaty Organization (Organisasi Traktat Atlantik Utara) adalah aliansi militer yang beranggotakan Amerika Serikat (AS) & negara-negara sekutunya di Eropa serta Amerika Utara.

NATO awalnya dibentuk supaya Uni Soviet tidak bisa memperluas pengaruhnya lebih jauh di wilayah Eropa. Saat NATO dibentuk, negara-negara Eropa Timur sedang dikuasai oleh rezim komunis yang tunduk pada Uni Soviet.

Memasuki akhir dekade 1980-an, rezim komunis di Eropa Timur bertumbangan satu demi satu. Kemudian memasuki tahun 1991, giliran Uni Soviet yang mengalami keruntuhan. Pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara Eropa Timur yang tadinya tunduk kepada Uni Soviet beramai-ramai bergabung dengan NATO.

Peta lokasi Crimea, Donetsk, & Luhansk (Lugansk). (afp.com)

Ukraina bukanlah negara anggota NATO. Namun menyusul timbulnya konflik di Crimea, Donetsk, & Luhansk, wacana supaya Ukraina segera bergabung dengan NATO semakin menguat. Ukraina berharap negara-negara anggota NATO bersedia membantu Ukraina dalam mendapatkan kembali wilayahnya yang lepas di tahun 2014.

Sedikit informasi, NATO memiliki prinsip "serangan ke 1 negara adalah serangan ke semua negara anggota". Jadi jika suatu hari nanti Ukraina benar-benar menjadi anggota NATO, negara-negara anggota NATO yang lain harus ikut membantu Ukraina jika Ukraina kelak terlibat perang dengan Rusia. Terlebih lagi, negara-negara anggota NATO secara resmi masih mengakui Crimea, Donetsk, & Luhansk sebagai wilayah sah milik Ukraina.

Rusia merupakan negara terbesar di dunia & salah satu negara dengan militer terkuat di dunia. Namun jika semua negara anggota NATO menggabungkan kekuatannya, mereka secara teoritis bisa mengimbangi kekuatan militer Rusia. Sejumlah negara anggota NATO seperti AS, Inggris, & Perancis juga dilengkapi dengan senjata nuklir.

Alasan lain mengapa Rusia merasa khawatir akan wacana keanggotaan Ukraina di NATO adalah karena faktor geografis. Ukraina berbatasan langsung dengan Rusia & berlokasi tidak jauh dari Moskow, ibukota Rusia.

Dengan melihat hal tersebut, NATO secara teoritis bisa memanfaatkan wilayah Ukraina untuk memata-matai Rusia dari dekat. NATO juga bisa memanfaatkan wilayah Ukraina untuk menembakkan rudal jarak jauh ke ibukota Rusia secara langsung.

Ketakutan Rusia tersebut nampak semakin mendekati kenyataan saat Volodymyr Zelenskyy terpilih menjadi presiden Ukraina pada tahun 2019. Kendati Zelenskyy ingin memperbaiki hubungan Ukraina dengan Rusia, Zelenskyy juga giat melobi negara-negara Barat supaya Ukraina segera diperbolehkan menjadi anggota NATO. Supaya Ukraina tidak keburu bergabung dengan NATO, Rusia pun nekat menginvasi Ukraina lebih dulu.

Tentara Ukraina di Kharkiv, Ukraina timur. (Tyler Hicks / nytimes.com)

Di lain pihak, ada pula yang beranggapan kalau ketakutan Rusia akan wacana keanggotaan Ukraina di NATO sebagai hal yang berlebihan. Pasalnya NATO sejak awal sadar kalau Ukraina akan memanfaatkan keanggotaannya di NATO untuk merebut kembali wilayah-wilayahnya yang lepas lewat jalur militer. Padahal perang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Terlebih lagi, banyak negara anggota NATO yang perekonomiannya sedang melemah akibat dampak dari wabah penyakit COVID-19. Jadi supaya negara-negara anggota NATO tidak ikut terlibat jika perang antara Ukraina & Rusia benar-benar meletus, NATO belum mengabulkan keinginan Ukraina untuk menjadi anggota baru.

Alasan lain kenapa sikap paranoid Rusia terkait Ukraina & NATO dianggap berlebihan adalah karena situasi serupa juga sedang dialami oleh Georgia, negara tetangga Rusia di sebelah selatan.

Seperti halnya Ukraina, Georgia juga ingin bergabung dengan NATO supaya memiliki sekutu untuk mendapatkan kembali wilayahnya yang hilang. Pasalnya di wilayah Georgia utara, terdapat wilayah Abkhazia & Ossetia Selatan yang oleh dunia internasional diakui sebagai wilayah Georgia. Namun dalam praktiknya, kedua wilayah tersebut adalah negara merdeka yang didukung oleh Rusia.

Pada tahun 2008, Georgia juga sempat terlibat perang dengan Rusia akibat masalah sengketa Abkhazia & Ossetia Selatan. Perang tersebut diyakini menjadi penyebab mengapa NATO enggan menerima Georgia menjadi anggota baru hingga sekarang. Pasalnya NATO khawatir masuknya Georgia menjadi anggota baru bakal langsung diikuti dengan perang antara Rusia melawan Georgia (beserta NATO).


Peta Georgia beserta daerah-daerah sengketanya. (bbc.com)


BEREDARNYA TUDUHAN KALAU UKRAINA SEDANG DIKUASAI NAZI

Tanggal 23 Februari 2022, Vladimir Putin selaku presiden Rusia mengumumkan kalau pasukannya bakal melakukan operasi militer di wilayah Ukraina. Menurut klaim Putin, Ukraina sekarang sedang dikuasai oleh neo-Nazi (sebutan untuk para pendukung ideologi Nazi sesudah Perang Dunia II).

Atas dasar itulah, Rusia pun melancarkan invasi ke wilayah Ukraina untuk melumpuhkan militer negara tersebut & membersihkan Ukraina dari antek-antek neo-Nazi. Putin juga menegaskan kalau Rusia tidak memiliki niat untuk menjajah Ukraina.

Klaim Putin tersebut nampak berlebihan & mengada-ada. Pasalnya sejak berakhirnya Perang Dunia II dengan kekalahan rezim Nazi Jerman, Nazi sekarang sudah dibubarkan & dilarang di banyak negara.

Namun jika kita melihat perkembangan situasi di Ukraina selama 1 dekade terakhir, gerakan neo-Nazi & nasionalis ekstrim memang cenderung menunjukkan tren kebangkitkan di Ukraina.

Sebagai contoh, yang menjabat sebagai juru bicara parlemen Ukraina hingga tahun 2019 adalah Andriy Parubiy, tokoh yang di masa lampau pernah merintis berdirinya organisasi Patriot of Ukraine (Patriot Ukraina) & partai politik Svoboda. Kedua organisasi tersebut sama-sama berhaluan nasionalis ekstrim.

Di sektor penegakan hukum, yang menempati jabatan tinggi dalam lembaga kepolisian Ukraina adalah Vadim Troyan, bekas anggota Patriot of Ukraine. Masuknya Troyan dalam lembaga kepolisian Ukraina lantas diikuti dengan menjamurnya geng-geng jalanan berhaluan nasionalis ekstrim yang kerap melakukan penganiayaan kepada etnis-etnis minoritas Ukraina.

Satu dari sekian banyak geng jalanan tersebut adalah Azov Battalion (AB). AB didirikan oleh politikus Andriy Biletsky saat ia masih menjadi anggota parlemen Ukraina. Awalnya merupakan geng jalanan, AB kemudian diserap ke dalam struktur angkatan bersenjata Ukraina.

Pasukan Azov Battalion saat berpose di depan bendera NATO, bendera kelompoknya, & bendera swastika Nazi. (GianlucaAgostini / wikimedia.org)

AB dibentuk untuk menampung relawan-relawan lokal yang ingin bertempur melawan pasukan separatis di Ukraina timur. Namun dalam perkembangannya, AB juga kerap melakukan penyerangan kepada para aktivis pejuang hak-hak kaum minoritas. Para anggota AB juga sangat mengagumi hal-hal yang berbau Nazi.

Lepas dari segala hal tersebut, klaim kalau Ukraina sedang dikuasai oleh neo-Nazi tetap dianggap sebagai tuduhan yang berlebihan. Pasalnya kendati kelompok-kelompok nasionalis ekstrim memang aktif di Ukraina, kelompok-kelompok tersebut dalam hal jumlah & popularitas tetaplah berstatus sebagai kelompok kecil.

Contoh paling mudah bisa dilihat di pemerintahan Ukraina sekarang. Svoboda selaku partai nasionalis ekstrim terbesar di Ukraina hanya berhasil meraih 1 jatah kursi di parlemen. Kemudian yang menempati jabatan presiden Ukraina sekarang adalah orang berdarah Yahudi, Volodymyr Zelenskyy. Ukraina juga memiliki iklim politik & kebebasan berpendapat yang cukup terbuka untuk semua golongan.



WABAH COVID-19 & MEROSOTNYA PAMOR VLADIMIR PUTIN DI RUSIA

Vladimir Putin merupakan salah satu pemimpin dengan durasi kepemimpinan terpanjang di Eropa. Pasalnya Putin sudah menjabat menjadi presiden Rusia sejak tahun 2000 hingga sekarang.

Putin memang sempat tidak menjabat sebagai presiden pada tahun 2008 hingga 2012 akibat terbentur peraturan mengenai durasi maksimum jabatan presiden. Namun ia secara de facto tetap memiliki kekuasaan pada periode tersebut karena yang menempati jabatan presiden adalah sekutunya, Dmitry Medvedev. Saat masa jabatan Medvedev berakhir, Putin kembali menjadi presiden.

Di bawah kepemimpinan Putin, Rusia yang awalnya berada dalam pincang seusai runtuhnya Uni Soviet secara perlahan berhasil memulihkan diri. Dampaknya, Putin pun memiliki pamor yang tinggi di mata rakyat Rusia & ia selalu berhasil keluar sebagai pemenang dalam pemilu-pemilu presiden yang diikutinya.

Vladimir Putin saat berpidato di Sevastopol, Crimea. (Konstantin Zavrazhin / russia-direct.org)

Puncak dari popularitas Putin adalah pada tahun 2015, di mana berdasarkan jajak pendapat yang digelar oleh lembaga survei Levada Center, sebanyak 80 persen orang yang disurvei mengaku mendukung Putin. Tingginya popularitas Putin pada tahun tersebut tidak lepas dari fakta bahwa setahun sebelumnya, Putin berhasil membawa Rusia menyerap wilayah Crimea tanpa harus melalui jalur perang.

Namun dalam jangka panjang, tindakan Rusia menyerap Crimea juga membawa dampak negatif. Karena negara-negara Barat menolak mengakui kepemilikan Rusia atas Crimea, negara-negara Barat pun beramai-ramai menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia.

Pandangan negatif negara-negara Barat kepada Rusia hanya semakin menguat menyusul maraknya tuduhan kalau Rusia mengerahkan akun-akun palsu di media sosial untuk memecah belah rakyat di negara-negara rival Rusia.

Sebagai contoh, menjelang pemilu presiden AS di tahun 2016 yang berhasil dimenangkan oleh Donald Trump, akun-akun bot milik Rusia dilaporkan giat menyebar propaganda di internet supaya Trump bisa memenangkan pemilu. Rusia diyakini mendukung Trump dalam pemilu karena Trump dipandang sebagai tokoh yang mudah dipengaruhi & memiliki reputasi kontroversial di AS.

Memasuki tahun 2020, muncul wabah penyakit COVID-19 yang dampaknya turut dirasakan di Rusia. Dikombinasikan dengan masih berlanjutnya sanksi ekonomi dari negara-negara Barat, perekonomian Rusia pun mengalami kemerosotan & popularitas Putin secara perlahan mulai tergerus.

Berdasarkan survei yang digelar pada bulan Oktober 2021, hanya 53 persen peserta survei yang mengaku masih mendukung Putin. Sebagai perbandingan, pada tahun 2017 jumlah peserta survei yang mendukung Putin mencapai lebih dari 70 persen.

Wabah COVID-19 juga membawa dampak lain bagi Rusia. Demi membatasi penyebaran virus, Putin membatasi kontak dengan tokoh-tokoh penting di lingkungan pemerintahan. Sebagai akibatnya, Putin pun tidak bisa menerima informasi secara berimbang & merata dari para penasihatnya. Ia kini menjadi lebih nekat saat mengambil kebijakan.

Putin selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat cerdik & kalkulatif dalam hal hubungan luar negeri. Ia mahir memperluas pengaruh Rusia sambil mencitrakan negaranya sebagai negara yang enggan melibatkan diri dalam perang jika tidak diusik lebih dulu.

Dalam kasus Ukraina contohnya, Rusia mengklaim kalau orang-orang Rusia yang bertempur di Ukraina timur sejak tahun 2014 bukanlah tentara Rusia, melainkan relawan yang bertempur atas kemauan mereka sendiri. Sementara dalam Perang Rusia-Georgia di tahun 2008, Rusia baru melibatkan diri dalam perang setelah pasukan Georgia duluan yang melakukan invasi ke wilayah sengketa (Ossetia Selatan).

Pasukan Rusia dalam perang melawan Georgia. (voa.gov)

Di luar Eropa, tentara Rusia diketahui ikut terlibat dalam konflik di Yaman, Suriah, Libya, Mali, & Afrika Tengah. Namun pemerintah Rusia membantah kalau yang terlibat di sana adalah tentara nasional Rusia.

Supaya bisa mengirimkan prajuritnya ke negara-negara tadi sambil menghindari tuduhan kalau Rusia mencampuri urusan domestik negara lain, Rusia memanfaatkan jasa Wagner Group sebagai perantaranya. Wagner Group adalah perusahaan tentara bayaran yang diketahui memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh penting di pemerintahan Rusia.

Karena alasan-alasan di atas, banyak yang terkejut ketika Rusia benar-benar nekat menginvasi Ukraina secara terang-terangan pada bulan Februari 2022. Saat Rusia menambah pasukannya di dekat perbatasan Ukraina, para pengamat awalnya meyakini kalau Rusia tidak benar-benar berniat menginvasi Ukraina, namun hanya sebatas ingin menggertak Ukraina.

Dugaan pun merebak kalau invasi ini merupakan tindakan nekat Putin untuk mendongkrak pamornya sendiri & mengakhiri masalah sengketa dengan Ukraina sesegera mungkin. Apapun hasil akhir dari perang ini, Rusia hampir dipastikan bakal semakin dikucilkan oleh negara-negara Eropa lainnya. Putin sudah membuat pertaruhan besar saat ia memutuskan untuk menginvasi Ukraina.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

A. Paul & I. Maisuradze. 2021. "NATO and Georgia 13 years on: So close, yet so far".
(www.epc.eu/en/publications/NATO-and-Georgia-13-years-on-So-close-yet-so-far~3f974c)

A. Yuhas & R. Jalabi. 2014. "Ukraine crisis: why Russia sees Crimea as its naval stronghold".
(www.theguardian.com/world/2014/mar/07/ukraine-russia-crimea-naval-base-tatars-explainer)

Al Jazeera. 2022. "Russian forces meeting ‘strong and wide’ Ukraine resistance".
(www.aljazeera.com/news/2022/2/26/russian-forces-meeting-strong-and-wide-ukraine-resistance)

BBC. 2014. "Ukraine crisis: Timeline".
(www.bbc.com/news/world-middle-east-26248275)

CNN. 2014. "2008 Georgia Russia Conflict Fast Facts".
(edition.cnn.com/2014/03/13/world/europe/2008-georgia-russia-conflict/index.html)

Current Time. 2021. "Poll: Trust In Putin Drops To Lowest Levels Since 2012".
(www.rferl.org/a/putin-poll-trust-lowest-levels/31497686.html)

Denber, R.. 2022. "New Language Requirement Raises Concerns in Ukraine".
(www.hrw.org/news/2022/01/19/new-language-requirement-raises-concerns-ukraine#)

DW. 2021. "Ukraine's Zelenskyy presses Biden on NATO membership".
(www.dw.com/en/ukraines-zelenskyy-presses-biden-on-nato-membership/a-59056776)

European Council. "Timeline - EU restrictive measures in response to the crisis in Ukraine".
(https://www.consilium.europa.eu/en/policies/sanctions/restrictive-measures-ukraine-crisis/history-ukraine-crisis/)

Fasanotti, F.S.. 2022. "Russia’s Wagner Group in Africa: Influence, commercial concessions, rights violations, and counterinsurgency failure".
(www.brookings.edu/blog/order-from-chaos/2022/02/08/russias-wagner-group-in-africa-influence-commercial-concessions-rights-violations-and-counterinsurgency-failure/)

Flintoff, C.. 2014. "Russia Reports Troop Deaths In Ukraine, But Calls Them 'Volunteers'".
(www.npr.org/sections/parallels/2014/09/08/346735504/some-in-russia-admit-their-troops-volunteer-in-ukraine)

Golinkin, L.. 2019. "Neo-Nazis and the Far Right Are On the March in Ukraine".
(www.thenation.com/article/archive/neo-nazis-far-right-ukraine/)

Gutterman, S.. 2022. "'He Has Changed': Putin's Words And Actions Raise Questions About His Rationality ".
(www.rferl.org/a/putin-ukraine-rationality-emotional-questions/31728952.html)

Shugerman, E.. 2018. "Russian bots retweeted Donald Trump 10 times more than Hillary Clinton in the last weeks of the campaign".
(www.independent.co.uk/news/world/americas/us-politics/trump-russia-twitter-bots-automated-accounts-congress-russia-investigation-latest-a8182626.html)

Troianovski, A.. 2022. "Putin announces a ‘military operation’ in Ukraine as the U.N. Security Council pleads with him to pull back.".
(www.nytimes.com/2022/02/23/world/europe/putin-announces-a-military-operation-in-ukraine-as-the-un-security-council-pleads-with-him-to-pull-back.html?searchResultPosition=1)

Veidlinger, J.. 2022. "Putin’s Claim to Rid Ukraine of Nazis is Patently Absurd".
(intpolicydigest.org/putin-s-claim-to-rid-ukraine-of-nazis-is-patently-absurd/)

Walker, S.. 2014. "Azov fighters are Ukraine's greatest weapon and may be its greatest threat".
(www.theguardian.com/world/2014/sep/10/azov-far-right-fighters-ukraine-neo-nazis)

Wikipedia. "2019 Ukrainian parliamentary election".
(en.wikipedia.org/wiki/2019_Ukrainian_parliamentary_election)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



4 komentar:

  1. Ini keren analisanya dan imbang
    Detil pula hebat bravo

    Mirip Bang enigma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :) Saya dulu juga sering baca-baca di blognya Enigma.

      Hapus

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak mengandung iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Setiap komentar yang baru masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi jangan panik jika komentar anda tidak langsung muncul.

Diberdayakan oleh Blogger.