Pertempuran Gaugamela, Puncak Permusuhan Makedonia & Persia



Delman pasukan Persia (kanan) saat berhadapan dengan pasukan infantri Makedonia.

Jika bicara soal tokoh penakluk yang hidup pada masa Sebelum Masehi, maka nama Aleksander Agung (Alexander the Great) bakal menjadi nama yang muncul di benak banyak orang. Aleksander Agung (356 - 323 SM) adalah pemimpin Kekaisaran Makedonia Kuno, kekaisaran yang pusat pemerintahannya berada di Yunani utara.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah Makedonia pernah membentang hingga mencakup 3 benua berbeda. Mulai dari Semenanjung Balkan (Eropa Timur) hingga ke Afrika Utara & Iran. Sebelum Aleksander Agung berkuasa, wilayah Makedonia pada awalnya hanya mencakup Semenanjung Balkan bagian selatan. Namun hanya dalam rentang waktu kurang dari 20 tahun, wilayah Makedonia dengan cepat meluas hingga mencakup sebagian Benua Afrika & Asia.

Sebelum diserap menjadi wilayah baru Makedonia, wilayah-wilayah tadi pada awalnya termasuk dalam wilayah kekuasaan Kekaisaran Achaemenid Persia, kekaisaran yang pusat pemerintahannya berada di Iran. Wilayah yang tadinya dikuasai oleh Achaemenid bisa berpindah tangan ke Makedonia akibat timbulnya rangkaian konflik bersenjata di antara keduanya.

Dari sekian banyak konflik tersebut, Pertempuran Gaugamela adalah yang paling menentukan. Pasalnya dalam pertempuran yang berlangsung pada tanggal 1 Oktober 331 SM tersebut, pasukan Achaemenid mengalami kekalahan telak sehingga upaya Aleksander untuk menguasai sisa-sisa wilayah Achaemenid menjadi tidak terbendung lagi.


Peta wilayah Kekaisaran Achaemenid sebelum ditaklukkan oleh Makedonia. (iranpoliticsclub.net)


LATAR BELAKANG

Makedonia Kuno pada awalnya hanyalah negara kecil di Semenanjung Balkan. Namun sejak dipimpin oleh Aleksander III / Aleksander Agung pada tahun 336 SM, Makedonia dengan cepat bertransformasi menjadi salah satu negara terkuat di kawasan setempat.

Setelah berhasil menundukkan pemberontakan di Yunani, Aleksander kemudian memerintahkan pasukannya untuk menaklukkan wilayah-wilayah milik Kekaisaran Achaemenid, kekaisaran asal Persia yang wilayahnya membentang hingga ke Afrika Utara & Asia Barat.

Aleksander berambisi menaklukkan Achaemenid supaya semua wilayah & kekayaan milik Achaemenid menjadi miliknya. Alasan lain kenapa Aleksander nekat ingin berperang melawan Achaemenid adalah karena kekaisaran tersebut di masa lampau kerap menginvasi wilayah Yunani. Jika Achaemenid berhasil ditaklukkan, maka Aleksander tidak perlu lagi khawatir akan nasib Makedonia & Yunani.

Aleksander beserta pasukannya kemudian menyeberang ke Anatolia (Turki) untuk memulai ekspedisi militernya melawan Achaemenid. Sebelum pergi, Aleksander menunjuk Antipater untuk menjadi pemimpin sementara Makedonia selama Aleksander masih sibuk melakukan ekspedisi militer.

Peta wilayah Makedonia di bawah kekuasaan Aleksander. Lokasi Gaugamela berada di bagian tengah peta. (manchestertwp.org)

Setelah berhasil mengalahkan pasukan Achaemenid di Issus (sekarang terletak di Turki selatan) pada tahun 333 SM, Aleksander & pasukannya kemudian melanjutkan perjalanannya untuk menaklukkan wilayah-wilayah Achaemenid yang terletak di Afrika Utara & Levant. Dengan jatuhnya wilayah-wilayah tadi ke tangan Aleksander, Achaemenid pun tidak bisa lagi menginvasi wilayah inti Makedonia lewat jalur laut.

Di pihak yang berseberangan, Darius III selaku kaisar Achaemenid sebenarnya sempat mengirimkan tawaran untuk berdamai kepada Aleksander. Namun balasan yang diterimanya sama sekali bukanlah balasan yang ia harapkan.

Aleksander bersikeras kalau dirinya tidak akan mau berhenti sebelum berhasil menjadi penguasa Asia. Maka, Darius pun menyiapkan pasukannya untuk mencegat pasukan Aleksander di Gaugamela / Arbela (sekarang terletak di Irak utara).



KONDISI MENJELANG PERTEMPURAN

Untuk menyongsong pertempuran di Gaugamela, Darius mengumpulkan begitu banyak prajurit dari seluruh penjuru negeri. Selain diperkuat oleh tentara asli Persian, Darius merekrut sejumlah tentara bayaran asal India & Yunani.

Jumlah total prajurit Achemenid dalam pertempuran ini bervariasi, mulai dari 50.000 hingga 1 juta personil. Mereka terdiri dari pasukan infantri, pemanah, pasukan berkuda (kavaleri), pasukan gajah berkekuatan 15 ekor, serta pasukan delman perang berjumlah 200 unit.

Ilustrasi delman perang pasukan Achaemenid. (iranpoliticsclub.net)

Di pihak yang berseberangan, awalnya Aleksander & pasukannya berniat untuk langsung pergi menuju kota Babylon (sekarang terletak di Irak tengah). Namun saat ia mendengar kabar kalau Darius & pasukannya sedang berada di Gaugamela, Aleksander pun memerintahkan pasukannya untuk berbelok ke Gaugamela. Aleksander berharap jika ia berhasil menewaskan Darius di Gaugamela, maka seluruh wilayah kekuasaan Achaemenid bakal jatuh ke tangannya.

Di atas kertas, pasukan Aleksander nampak lebih lemah jika dibandingkan dengan pasukan Achaemenid karena pasukan Aleksander hanya diperkuat oleh sekitar 40.000 personil. Namun bukan Aleksander namanya kalau ia tidak merasa yakin akan kualitas pasukannya sendiri. Supaya ia bisa mendapatkan gambaran mengenai musuhnya secara akurat, Aleksander & sepasukan kecil tentaranya pergi menuju lokasi perkemahan pasukan Achemenid untuk melakukan pengintaian.

Tepat sehari sebelum hari pertempuran, jenderal bawahan Aleksander yang bernama Parmenion mengajukan usulan kepada Aleksander kalau pasukan Makedonia sebaiknya menyerang pasukan Achaemenid pada malam hari saat mereka tengah lelap beristirahat. Namun Aleksander menolak usulan tersebut karena menurutnya, menyerang musuh yang sedang berada dalam kondisi tidak siap bukanlah hal yang membanggakan.

Aleksander juga menduga kalau pasukan Achemenid tidak akan beristirahat tanpa mengambil sikap waspada. Dugaan yang terbukti benar karena pada malam sebelum berlangsungnya pertempuran, Darius memerintahkan semua tentaranya untuk tidak tidur supaya mereka tidak diserang oleh pasukan Makedonia saat sedang terlelap.

Aleksander Agung, pemimpin Makedonia. (worldhistory.org)

Darius III, pemimpin Achaemenid.

Serangan yang ditakutkan oleh Darius pada akhirnya tidak terjadi karena Aleksander justru memerintahkan para prajuritnya untuk tidur supaya bisa bertempur dalam kondisi bugar keesokan harinya.

Di lain pihak, karena Darius memerintahkan para prajuritnya untuk tetap terjaga pada malam hari, mereka harus mengikuti pertempuran dalam kondisi kelelahan & kurang tidur. Dampaknya, performa mereka di medan tempur jadi ikut terpengaruh.



BERJALANNYA PERTEMPURAN

Saat hari pertempuran akhirnya tiba, kedua belah pihak sama-sama menata pasukannya dalam formasi melintang. Formasi pasukan Achemenid secara garis besar terbagi menjadi 3 lapis, di mana lapisan terdepannya ditempati oleh pasukan delman & penunggang kuda. Darius berada di bagian tengah-tengah formasi dengan menaiki delman sambil dikawal oleh para infantri terbaiknya.

Di sisi yang berseberangan, terdapat pasukan Makedonia yang sudah bersiaga. Bagian tengah formasi pasukan Makedonia ditempati oleh pasukan infantri yang membawa tombak panjang & membentuk formasi phalanx (formasi berbaris yang rapat). Sementara di kedua sisi formasi pasukan phalanx tersebut, terdapat pasukan pemanah & infantri yang membawa pedang pendek.

Ilustrasi formasi phalanx. (militaer-wissen.de)

Bagian paling kiri & kanan pasukan Makedonia ditempati oleh pasukan berkuda. Jika pasukan Makedonia yang berada di bagian kiri dipimpin oleh Parmenion, maka pasukan Makedonia di bagian kanan dipimpin langsung oleh Aleksander.

Saat pertempuran akhirnya dimulai, pasukan Makedonia di sisi kanan bergerak maju sambil mengubah formasinya menjadi agak menyerong sejauh 45 derajat ke arah kanan. Melihat pergerakan tersebut, pasukan Achaemenid mengira kalau pasukan Makedonia sedang mencoba melakukan taktik menjepit (pincer), taktik mengitari formasi pasukan musuh dari arah kiri & kanan supaya pasukan musuh terkepung & kemudian bisa diserang dari arah depan sekaligus belakang.

Supaya pasukan Makedonia di sisi kanan tidak bisa melanjutkan taktik menjepit, bagian kiri formasi pasukan Achaemenid (atau bagian kanan, kalau memakai sudut pandang pasukan Makedonia) memisahkan diri dari formasi pasukan Achaemenid yang lain. Semakin lama, pasukan Achaemenid di bagian kiri jaraknya semakin jauh dari pasukan Achaemenid yang lain.

Pasukan Achaemenid tersebut kemudian mencegat pasukan sisi kanan Makedonia. Sementara itu jauh di sisi sebaliknya, pasukan sisi kanan Achaemenid menyerang pasukan sisi kiri Makedonia yang dipimpin oleh Parmenion. Pasukan Makedonia kini berada dalam posisi terkepung!

Ilustrasi pergerakan pasukan Makedonia & Achaemenid (Persians). Dapat dilihat di sini kalau bagian sayap pasukan Makedonia nampak berada dalam posisi menyerong. (Kirill Lokshin / wikipedia.org)

Untuk memecah belah formasi pasukan Makedonia lebih jauh, Darius memerintahkan pasukan delman miliknya untuk menerjang pasukan phalanx Makedonia yang berada di bagian tengah. Pada masa itu, delman kerap digunakan untuk menabrak pasukan infantri musuh karena delman bisa melaju cepat sambil melindas banyak prajurit musuh.

Namun delman juga memiliki kelemahan fatal. Delman tidak bisa mengubah arahnya secara mendadak. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Makedonia. Saat pasukan delman Achaemenid melaju kencang ke arah mereka, pasukan Makedonia memecah formasi mereka sendiri supaya delman-delman tadi melaju di sela-sela formasi pasukan Makedonia.

Saat pasukan delman Achaemenid tengah melaju di antara barisan pasukan Makedeonia, pasukan Makedonia beramai-ramai menyerang delman tersebut dari arah kiri & kanan. Akibatnya, para penumpang delman tersebut tewas & pasukan Achaemenid tidak bisa lagi menggunakan delmannya untuk kembali menyerang pasukan Makedonia.

Sementara itu di sisi kanan, pasukan berkuda Makedonia secara tiba-tiba mengubah arahnya. Jika mereka pada awalnya nampak mencoba mengitari pasukan Achaemenid dari sisi kanan, maka kini mereka langsung membelok ke arah kiri - menuju bagian tengah formasi pasukan Achaemenid yang juga menjadi lokasi Darius.

Karena pasukan Achaemenid yang ada di sisi kiri sudah terlanjur berada terlalu jauh dari formasi pasukan Achaemenid yang lain, kini tidak ada lagi yang melindungi bagian formasi tengah pasukan Achaemenid. Saat mereka mencoba untuk kembali bergabung dengan pasukan di formasi tengah, mereka dicegat oleh pasukan sisi kanan Makedonia yang tidak ikut menyerbu posisi Darius.

Posisi pasukan Makedonia (biru) beserta Achaemenid (merah) dalam fase akhir Pertempuran Gaugamela. Pasukan sayap kiri Achaemenid sudah terpisah dari formasi intinya. Sementara pasukan Makedonia menyerbu posisi Darius dengan memanfaatkan celah yang tercipta di antara bagian tengah & sayap kiri pasukan Achaemenid. (theartofbattle.com)

Sebelum pertempuran ini dimulai, pasukan Achaemenid memang turut diperkuat oleh belasan ekor gajah. Namun karena sebab yang tidak begitu jelas, gajah-gajah tersebut tidak diikutkan dalam pertempuran ini & ditinggal di perkemahan pasukan Achaemenid. Saat pertempuran selesai, gajah-gajah tersebut diambil alih oleh pasukan Makedonia.

Kembali ke medan tempur. Pertempuran antara pasukan sisi kanan Makedonia melawan pasukan sisi tengah Achaemenid umumnya berupa pertarungan jarak dekat antar infantri. Saat pertarungan tengah sengit-sengitnya berlangsung, Aleksander mencoba membunuh Darius dengan cara melemparkan tombaknya ke arah Darius.

Lemparan tombak tersebut tidak berhasil mengenai Darius. Namun saat Darius menyadari kalau ada prajurit Makedonia yang berjarak begitu dekat dengannya, Darius keburu panik sehingga ia pun bergegas melarikan diri meninggalkan medan tempur.

Saat tentara Achaemenid yang lain melihat kalau kaisar mereka pergi meninggalkan medan tempur, mereka beramai-ramai ikut melarikan diri. Dengan demikian, Pertempuran Gaugamela pun berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Makedonia.



KONDISI PASCA PERTEMPURAN

Akibat Pertempuran Gaugamela, Kekaisaran Achaemenid harus kehilangan begitu banyak prajurit terbaiknya. Namun Darius sendiri ternyata masih enggan menyerah. Ia melarikan diri ke Baktria di Asia Tengah & meminta bantuan kepada satrap / gubernur setempat untuk menyumbangkan pasukannya.

Darius berniat membangun ulang pasukannya supaya ia bisa membalas dendam kepada Makedonia & mengklaim kembali wilayah Achaemenid yang hilang. Namun ambisi Darius tersebut pada akhirnya tidak pernah terwujud. Pasalnya alih-alih berhasil membangun ulang pasukannya, Darius justru malah dikhianati oleh bawahannya sendiri.

Bessus selaku satrap wilayah Baktria membunuh Darius pada tahun 330 SM & kemudian mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar baru Achaemenid. Namun bak mendapat karma, Bessus sendiri pada akhirnya tewas dibunuh oleh pasukan Aleksander pada tahun 329 SM.

Peta lokasi Baktria, tempat di mana Darius tewas dibunuh. (wikipedia.org)

Sudah disinggung sebelumnya kalau Pertempuran Gaugamela menyebabkan Achaemenid kehilangan prajurit-prajurit terbaiknya. Dampaknya, saat Aleksander pasukannya pergi menuju ibukota Achaemenid, Babylon, Aleksander bisa memasuki kota tersebut tanpa mendapatkan perlawanan. Saat ia & pasukannya pergi dari 1 wilayah ke wilayah yang lain, para satrap di masing-masing wilayah beramai-ramai menyerah & mengakui Aleksander sebagai kaisar baru mereka.

Meskipun Darius berstatus sebagai musuh Aleksander, Aleksander ternyata menganggap Darius sebagai lawan yang sepadan & terhormat. Dampaknya, saat ia menemukan mayat Darius usai dibunuh oleh Bessus, Aleksander membawa mayat Darius ke kota Persepolis (sekarang terletak di Iran selatan) untuk dimakaman secara layak. Dengan tewasnya Darius & Bessus, Kekaisaran Achaemenid mengalami keruntuhan & seluruh wilayahnya diserap ke dalam wilayah Makedonia.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERTEMPURAN

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 1 Oktober 331 SM
-  Lokasi : Gaugamela (Irak utara)

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Makedonia
          melawan
(Negara)  -  Achaemenid

Hasil Akhir
Kemenangan pihak Makedonia

Korban Jiwa
-  Makedonia : 300 - 1.100 jiwa
-  Achaemenid : 40.000 - 90.000 jiwa



REFERENSI

 - . 2008. "Darius III". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Mark, J.J.. 2013. "Alexander the Great".
(www.worldhistory.org/Alexander_the_Great/)

Walbank, F.W.. 2008. "Alexander the Great". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Wasson, D.L.. 2012. "Battle of Gaugamela".
(www.worldhistory.org/Battle_of_Gaugamela/)

Wikipedia. "Battle of Gaugamela".
(en.wikipedia.org/w/index.php?title=Battle_of_Gaugamela&oldid=1030452935)

 






COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



1 komentar:

  1. sejarah negara2 pernah menjadi adidaya dunia di masa kejayaanya ribuan tahun lalu, tetapi masih eksis sampai sekarang walau sudah bukan adidaya mulai dari
    mesir -> asyur/syria -> babilon -> media-persia -> yunani -> roma -> anglo-america -> smell like teen spirit hahaa
    bahkan amerika mencoba menghapus syria dari peta dunia tetapi tidak berhasil. karena merupakan bukti sejarah dari autentikasi sebuah buku
    barang bukti tidak bisa dihilangkan hahaa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.