Crvena Zvezda, Klub Serbia Warisan Keberagaman Yugoslavia



Para pendukung Crvena Zvezda yang sedang beramai-ramai membentangkan logo klubnya. (worldfootball.net)

Yugoslavia adalah nama dari sebuah negara Eropa yang sekarang sudah runtuh. Saat Yugoslavia masih berdiri, negara tersebut terkenal dengan komposisi penduduknya yang beragam & keberaniannya mengambil posisi netral dalam panggung politik internasional. Bersama dengan Indonesia, Yugoslavia di masa lampau merupakan pelopor dari Gerakan Non Blok.

Yugoslavia juga terkenal sebagai salah satu negara tangguh di bidang sepak bola. Saat Yugoslavia runtuh, sisa-sisa kehebatan Yugoslavia masih dapat dijumpai pada negara-negara pecahannya. Pada Piala Dunia 2018 lalu contohnya, Kroasia selaku salah satu negara pecahan Yugoslavia berhasil mencapai babak final sebelum dikalahkan oleh Perancis.

Kehebatan Yugoslavia di bidang sepak bola juga dapat dijumpai dalam turnamen antar klub. Pada tahun 1991 lalu, salah satu klub asal Yugoslavia yang bernama Crvena Zvezda berhasil memenangkan turnamen Piala Champions, kompetisi antar klub paling bergengsi di Eropa. Nah, klub Crvena Zvezda inilah yang bakal menjadi topik bahasan dalam artikel kali ini.

Crvena Zvezda adalah nama dari klub sepak bola yang berasal dari kota Beograd, Serbia. Karena di masa lampau kota Beograd beroperasi sebagai ibukota Yugoslavia, Crvena Zvezda pun di masa lampau bertindak sebagai wakil dari Yugoslavia dalam turnamen klub antar negara.

Di masa kini, Crvena Zvezda dikenal sebagai klub paling sukses di Serbia berkat jumlah trofinya yang tidak bisa ditandingi oleh klub-klub Serbia lainnya. Crvena Zvezda juga dikenal dengan basis suporternya yang amat militan & kerap menyisipkan hal-hal berbau politik saat mendukung klubnya.

Para suporter Crvena Zvezda saat menyalakan kembang api di dalam stadion. (the18.com)

Nama "Crvena Zvezda" dalam bahasa Serbia memiliki arti "bintang merah". Nama itu sendiri digunakan karena klub ini memang menggunakan simbol bintang berwarna merah sebagai logo klubnya. Kalau dalam bahasa Inggris, Crvena Zvezda lebih dikenal dengan nama "Red Star Belgrade" (Belgrade adalah sebutan untuk kota Beograd dalam bahasa Inggris).

Crvena Zvezda menggunakan seragam berwarna garis-garis vertikal merah & putih sebagai warna utamanya. Sejak tahun 1963, klub ini menggunakan Stadion Rajko Mitic sebagai stadion kandangnya. Stadion tersebut juga dikenal dengan nama lain "Marakana", di mana nama yang bersangkutan terinspirasi dari Stadion Maracana di Brazil yang terkenal berkapasitas amat besar.

Stadion Marakana yang digunakan oleh Crvena Zvezda memiliki daya tampung 53.000 penonton. Namun di masa lampau, stadion tersebut aslinya memiliki kapasitas yang jauh lebih besar karena pernah dipadati hingga 100.000 orang penonton.



BINTANG YANG LAHIR DI PENGHUJUNG PERANG

Kisah terbentuknya Crvena Zvezda dapat ditelusuri sejak masa Perang Dunia II. Pada masa itu, wilayah Yugoslavia sedang menjadi arena konflik antara pasukan negara-negara fasis (salah satunya Jerman) melawan pasukan gerilyawan komunis.

Menjelang berakhirnya perang, kelompok pejuang komunis yang bernama United Association of Anti-Fascist Youth (Serikat Asosiasi Muda Anti Fasis) mendirikan tim sepak bolanya sendiri supaya para anggota kelompok tersebut memiliki wadah untuk menyalurkan hobi olah raganya. Dan tim sepak bola tersebut adalah Crvena Zvezda.

Crvena Zvezda dibentuk pada tanggal 4 Maret 1945. Nama & simbol bintang merah digunakan pada klub ini karena kebetulan bintang merah juga menjadi simbol gerakan komunis Yugoslavia.

Crvena Zvezda memainkan pertandingan perdananya melawan tim yang beranggotakan para personil Batalion Pertama militer Yugoslavia. Dalam pertandingan tersebut, Crvena Zveda berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor meyakinkan 3-0.

Para pemain Crvena Zvezda pada dekade 1940-an. (crvenazvezdafk.com)

Tahun 1948, Crvena Zvezda berhasil meraih trofi pertamanya usai mengalahkan Partizan Beograd dengan skor 3-0 di babak final Piala Yugoslavia. Kemudian pada tahun 1951, Crvena Zvezda berhasil memenangkan liga Yugoslavia.

Dekade 1950-an sekaligus menjadi salah satu periode keemasan Crvena Zvezda. Pasalnya sepanjang periode tersebut, Crvena Zvezda berhasil memenangkan 6 trofi liga & 2 piala Yugoslavia.



PETUALANGAN SI BINTANG MERAH DI BENUA BIRU

Kesuksesan menjuarai liga dalam sejumlah kesempatan menyebabkan Crvena Zvezda berhak mewakili Yugoslavia dalam turnamen Piala Champions yang mempertemukan tim-tim juara dari liga-liga Eropa.

Pada Piala Champions musim 1956/57, Crvena Zvezda berhasil mencapai babak semifinal. Namun mereka gagal melaju ke babak final usai disingkirkan oleh wakil Italia, Fiorentina. Kemudian pada musim 1957/58, Crvena Zvezda harus tersingkir lebih dini usai dikalahkan oleh wakil Inggris, Manchester United, pada babak perempat final.

Pertandingan antara Crvena Zvezda & MU juga dikenang akibat peristiwa tragis yang terjadi di luar pertandingan. Setelah berhasil menahan imbang Crvena Zvezda di Yugoslavia & memastikan diri lolos ke babak semi final, para pemain & staf MU kembali ke Inggris dengan menaiki pesawat.

Namun saat sedang transit di bandara Muenchen, Jerman, pesawat yang mereka naiki tergelincir & mengalami kecelakaan fatal. Akibatnya, sebanyak 23 penumpang menjadi korban tewas, di mana 8 di antaranya merupakan pemain MU. Peristiwa kecelakaan tersebut sekarang dikenang sebagai salah satu peristiwa terkelam dalam sejarah sepak bola Eropa.

Kecelakaan pesawat yang menimpa para pemain MU di tahun 1958 terjadi sesudah pertandingan melawan Crvena Zvezda. (news.sky.com)

Kembali ke soal Crvena Zvezda. Kendati Crvena Zvezda merupakan salah satu tim paling dominan di Yugoslavia, mereka sejauh ini gagal mengulangi kesuksesan serupa di ranah Eropa. Hingga kemudian pada tahun 1979, Crvena Zvezda berhasil mencapai babak final Piala UEFA (sekarang bernama Liga Europa).

Tim yang menjadi lawan Crvena Zvezda di babak final tersebut adalah klub asal Jerman Barat, Borussia Moenchengladbach. Tidak seperti pertandingan Liga Europa, babak final Piala UEFA pada masa itu masih dimainkan dengan sistem kandang & tandang.

Dalam leg / pertandingan pertama, Crvena Zvezda hanya berhasil meraih hasil seri 1-1. Hasil tersebut terbukti berdampak begitu besar karena dalam leg kedua yang dimainkan di Jerman Barat, Gladbach berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 1-0. Kekalahan tersebut terasa sulit diterima oleh kubu Crvena Zvezda karena gol kemenangan Gladbach berasal dari tendangan penalti.



TERJEBAK PETAKA DI KROASIA

Tahun 1980, Josip Broz Tito selaku presiden Yugoslavia meninggal dunia. Seusai kematiannya, hubungan antar etnis di Yugoslavia mulai memburuk. Golongan ekstrimis & nasionalis di masing-masing negara bagian mulai bermunculan. Krisis ekonomi yang mendera Yugoslavia pada periode tersebut hanya semakin memperparah situasi.

Kondisi tersebut pada akhirnya turut menjalar ke ranah sepak bola. Pada tanggal 13 Mei 1990, Crvena Zvezda bertandang ke Stadion Maksimir di negara bagian Kroasia untuk berhadapan dengan Dinamo Zagreb.

Karena Crvena Zvezda merupakan klub asal ibukota Yugoslavia & negara bagian Serbia, pertandingan tersebut dengan cepat berubah menjadi arena permusuhan antara pemerintah pusat Yugoslavia & golongan separatis Kroasia.

Tepat sebelum pertandingan dimulai, suporter Dinamo Zagreb berhamburan masuk ke lapangan untuk menyerang suporter tim lawannya. Bentrokan hebat pun kemudian timbul antara polisi & suporter tim tuan rumah. Karena situasi di lapangan sudah tidak bisa lagi dikendalikan, pertandingan tidak bisa dilangsungkan & kondisi sosial politik di Kroasia sejak itu semakin memburuk.


Suasana dalam kerusuhan di Stadion Maksimir, Kroasia. (vecernji.hr)


MENJADI JUARA EROPA DI TENGAH PRAHARA

Di saat kondisi internal Yugoslavia sedang berada di titik nadir, Crvena Zvezda mencoba mencitrakan diri mereka sebagai pembawa api perdamaian di ajang internasional. Mereka ingin menorehkan prestasi di ranah Eropa sembari mencitrakan diri mereka sebagai simbol kekompakan bangsa Yugoslavia.

Dalam turnamen Piala Champions 1990/91, Crvena Zvezda berhasil mencapai babak final usai menyingkirkan Grasshopper (Swiss), Rangers (Skotlandia), Dynamo Dresden (Jerman Timur), & Bayern Muenchen (Jerman Barat).

Di babak final, Crvena Zvezda sudah ditunggu oleh wakil asal Perancis, Marseille. Karena pemain-pemain Marseille memiliki keunggulan dalam hal pengalaman & kualitas lini serang, Ljupko Petrovic selaku pelatih Crvena Zvezda memutuskan untuk menerapkan taktik bertahan total supaya bisa mengimbangi Marseille.

Taktik tersebut berjalan sesuai rencana. Dalam 90 menit waktu normal & 30 menit babak perpanjangan waktu, kedua tim sama-sama tidak berhasil mencetak gol. Pertandingan pun kemudian berlanjut ke babak adu penalti.

Di sinilah peraturan unik sepak bola Yugoslavia menunjukkan tuahnya. Sejak tahun 1988, Liga Yugoslavia menerapkan peraturan baru. Jika ada 2 tim yang bermain imbang, maka permainan akan dilanjutkan ke babak adu penalti untuk menemukan pemenangnya.

Sebagai akibat dari peraturan tersebut, pemain-pemain Crvena Zvezda pun menjadi jauh lebih terlatih saat harus melakukan adu penalti. Hasilnya, mereka berhasil memenangkan babak adu penalti dengan skor 5-3. Crvena Zvezda berhasil keluar sebagai pemenang Piala Champions!

Para pemain Crvena Zvezda saat mengangkat trofi Piala Champions. (thesrpskatimes.com)

Bagi Yugoslavia, keberhasilan Crvena Zvezda menjuarai Piala Champions ibarat oasis di tengah panasnya kondisi internal Yugoslavia yang sedang terpecah. Pasalnya kendati para pemain & staf klub ini berasal dari beragam suku & negara bagian, mereka tetap bisa kompak bekerja sama untuk memenangkan turnamen.

Sebagai contoh, pelatih Ljupko Petrovic berasal dari negara bagian Bosnia. Penyerang Darko Pancev berasal dari negara bagian Makedonia. Gelandang kreatif Robert Prosinekci adalah orang keturunan etnis Kroasia / Kroat.

Bek Sinisa Mihajlovic adalah pemain berdarah Serbia. Gelandang serang Dejan Savicevic berasal dari negara bagian Montenegro. Sementara bek Miodrag Belodedici adalah orang Rumania yang membelot ke Yugoslavia.

Keberhasilan memenangkan Piala Champions menyebabkan Crvena Zvezda berhak mewakili Eropa dalam turnamen Piala Interkontinental melawan juara Copa Libertadores Amerika Selatan, Colo Colo. Crvena Zvezda sekali lagi menunjukkan keperkasaannya. Mereka berhasil mengalahkan klub asal Chili tersebut dengan skor telak 3-0.



DIKUCILKAN DUNIA AKIBAT PERANG SAUDARA

Rentetan keberhasilan Crvena Zvezda di turnamen internasional sayangnya gagal menghentikan ancaman perpecahan yang siap menimpa Yugoslavia. Pada bulan Juni 1991 alias hanya sebulan setelah Crvena Zvezda berhasil memenangkan Piala Champions, negara bagian Slovenia & Kroasia beramai-ramai memproklamasikan kemerdekaannya.

Pasca keluarnya proklamasi tersebut, wilayah Slovenia & Kroasia kemudian menjadi arena pertempuran hebat antara pasukan Yugoslavia melawan pasukan pejuang kemerdekaan di negara-negara tadi. Kemudian sesudah itu, konflik serupa juga timbul di negara bagian Bosnia & Kosovo.

Saat konflik yang terjadi di Yugoslavia semakin berlarut-larut, badan sepak bola UEFA & FIFA kemudian menjatuhkan sanksi pengucilan kepada Yugoslavia. Akibat sanksi tersebut, tim-tim sepak bola yang berasal dari Yugoslavia - termasuk Crvena Zvezda - tidak bisa lagi tampil di turnamen internasional. Sanksi tersebut baru dicabut pada tahun 1995.

Lepasnya sanksi menyebabkan Crvena Zvezda kini bisa tampil lagi di turnamen Eropa. Namun iklim sepak bola Eropa sekarang sudah jauh berubah. Akibat masih kacaunya kondisi ekonomi Serbia & hilangnya pemain-pemain berbakat mereka akibat dampak perang, Crvena Zvezda sekarang hanyalah tim anak bawang di kompetisi Eropa.

Selama ini, Crvena Zvezda selalu gagal melaju ke fase grup Liga Champions. Entah karena posisi mereka di liga yang terlalu rendah, atau karena mereka gagal mengalahkan lawannya di babak kualifikasi.



BANGKITNYA SANG BINTANG MERAH

Peruntungan Crvena Zvezda akhirnya berubah setelah pada tahun 2018, mereka berhasil melaju ke fase grup Liga Champions usai menyingkirkan Red Bull Salzburg di fase play off.

Kendati Crvena Zvezda hanya bisa bermain imbang 2 kali saat berhadapan dengan wakil Austria tersebut, Crvena Zvezda yang dinyatakan sebagai pemenang karena mereka memiliki catatan gol tandang yang lebih baik. Crvena Zvezda bermain imbang 0-0 di kandangnya sendiri & bermain imbang 2-2 saat bertandang ke Austria.

Di fase grup, Crvena Zvezda berada 1 grup dengan Napoli (Italia), tim super kaya Paris Saint-Germain (Perancis), serta Liverpool (Inggris) selaku finalis Liga Champion musim sebelumnya. Kalah jauh dalam hal kualitas pemain & kekuatan finansial, Crvena Zvezda tidak bisa berbuat banyak & harus menempati posisi terbawah di klasemen grup.

Crvena Zvezda (baju merah putih) saat bertanding melawan Liverpool di Liga Champions. (mirror.co.uk)

Namun Crvena Zvezda tetap bisa sedikit berbangga dalam petulangannya di Liga Champions musim tersebut. Pasalnya dalam salah satu pertandingan, mereka berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor 2-0. Kemenangan tersebut terasa begitu spesial karena Liverpool nantinya bakal keluar sebagai pemenang Liga Champions di akhir musim.

Tahun 2020, terjadi wabah COVID-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Serbia. Akibat wabah tersebut, sistem degradasi di Liga Serbia dihapuskan & jumlah peserta di Liga Serbia untuk musim 2020/21 membengkak menjadi 20 tim dari yang tadinya hanya 16 tim.

Bertambahnya jumlah peserta di Liga Serbia lantas dimanfaatkan oleh Crvena Zvezda untuk menorehkan catatan baru di liga domestik. Di musim kompetisi 2020/21, Crvena Zvezda secara mengesankan berhasil meraih 108 poin tanpa menelan kekalahan sama sekali. Jumlah poin tersebut sekaligus menjadi rekor jumlah poin terbanyak dalam sejarah liga sepak bola Serbia.

Tahun 2022, Rusia melancarkan invasi militer ke Ukraina. Tindakan Rusia tersebut langsung mengundang banjir kecaman dari mayoritas negara Eropa. Namun bukannya ikut mengutuk tindakan Rusia, para suporter Crvena Zvezda justru malah mengambil sikap melawan arus.

Pada tanggal 18 Maret 2022, para suporter Crvena Zvezda beramai-ramai membentangkan spanduk yang menampilkan daftar tahun & negara-negara yang pernah diserang oleh militer Amerika Serikat (AS). Secara tidak langsung, para suporter tersebut ingin mengatakan bahwa AS sebaiknya melakukan introspeksi diri sebelum mencela Rusia karena AS sendiri sebelum ini sudah sering menginvasi negara lain.

Para suporter Crvena Zvezda saat membentangkan spanduk yang menyindir intervensi militer AS. (news18.com)

Dukungan yang ditunjukkan para pendukung Crvena Zvezda kepada Rusia tidak lepas dari fakta bahwa Rusia & Serbia memiliki hubungan sosial budaya yang amat dekat. Pasalnya kedua negara tersebut sama-sama berpenduduk mayoritas Kristen Ortodoks. Kemudian semasa Perang Dunia I, Rusia bisa ikut terlibat dalam perang karena Rusia ingin melindungi Serbia dari invasi Austria & sekutunya.

Faktor dendam menjadi alasan lain kenapa para suporter Crvena Zvezda membentangkan spanduk yang mengecam AS alih-alih Rusia. Pasalnya saat perang di Yugoslavia masih berlangsung, AS pernah melakukan pemboman ke wilayah Serbia. Kemudian akibat campur tangan AS & sekutunya pulalah, wilayah Kosovo yang tadinya termasuk dalam wilayah Serbia sekarang menjadi negara tersendiri.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Aspey, J.. 2015. "Red Star and the Immortal Triumph of 1991".
(thesefootballtimes.co/2015/08/17/red-star-triumph-of-1991/)

Budiman, R.. 2020. "A Flower of Manchester dan Kenangan Tragedi Munich 1958".
(sportfeat.bolasport.com/read/442014211/a-flower-of-manchester-dan-kenangan-tragedi-munich-1958?page=all)

Crowcroft, O.. 2020. "Red Star Belgrade vs Dinamo Zagreb: The football match that 'started a war'".
(www.euronews.com/2020/05/13/red-star-belgrade-vs-dinamo-zagreb-the-football-match-that-started-a-war)

FK Crvena Zvezda. "History of Crvena zvezda".
(www.crvenazvezdafk.com/en/pages/details/3/History)

FootballHistory.org. "Red Star Belgrade".
(www.footballhistory.org/club/red-star.html)

M. Zivanovic & S. Haxhiaj. 2019. "78 Days of Fear: Remembering NATO’s Bombing of Yugoslavia".
(balkaninsight.com/2019/03/22/78-days-of-fear-remembering-natos-bombing-of-yugoslavia/)

Sarkar, S.. 2022. "Red Star Belgrade Fans, Who Slammed US Military Campaigns, Were Part Of A Riot That Sparked A War In 1990".
(www.news18.com/news/world/war-in-ukraine-russia-updates-red-star-belgrade-fans-who-slammed-us-for-its-military-campaigns-were-part-of-a-riot-which-led-to-a-war-4891958.html)

Wikipedia. "1988–89 Yugoslav First League".
(en.wikipedia.org/wiki/1988–89_Yugoslav_First_League)

Wikipedia. "1991 European Cup Final".
(en.wikipedia.org/wiki/1991_European_Cup_Final)

Wikipedia. "1995–96 UEFA Cup".
(en.wikipedia.org/wiki/1995%E2%80%9396_UEFA_Cup)

Wikipedia. "2018–19 UEFA Champions League".
(en.wikipedia.org/wiki/2018%E2%80%9319_UEFA_Champions_League)

Wikipedia. "2020–21 Serbian SuperLig".
(en.wikipedia.org/wiki/2020–21_Serbian_SuperLiga)
  






COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.